
“Aku akan baik-baik saja setelah makan dan minum obat…”
“Kalau begitu, apa kau bawa obatnya?” Tuan Erlangga mengangguk. “ Lalu… tempat makan… ayo kita pergi ke tempat makan kecil di sana…!” ajak Nyonya Horison akhirnya sembari membangunkan Tuan Erlangga dan memapahnya menuju tempat makan terdekat.
“Tolong bawakan air putih dan…” pinta Nyonya Horison saat telah sampai di tempat makan lalu membuka buku list menu makanan di mejanya sedang Tuan Erlangga memperhatikannya sembari tersenyum bahagian bercampur sedih air matanya. “…nasi goreng saus kacang merah…” pilih Nyonya Horison akhirnya.
Air putih yang diminta segera datang. Nyonya Horison menyodorkan minuman itu pada Tuan Erlangga. “Keluarkan obatmu dan cepat minum…!” Tuan Erlangga menggerakkan tangannya untuk merogoh saku bajunya. Namun, rasa sakit yang sangat membuat tangannya sedikit sulit digerakkan. Nyonya Horison mendekat dan menolong Tuan Erlangga mengambil obatnya di sakunya. Jemari Nyonya Horison telah menyentuh sesuatu yang mungkin adalah tempat obat yang dimaksud Tuan Erlangga. Namun sebelum Nyonya Horison mengangkat tubuhnya yang menunduk sesuatu yang terasa berat bersandar di bahunya. Ya, kepala Tuan Erlangga. Nyonya Horison segera
bergerak mencoba menarik diri. “Erla…” panggilan itu segera terputus sesaat setelah Nyonya Horison merasakan bahwa bahunya basah. Erlangga menangis…?
“Maafkan aku… maafkan aku, Nina… aku tahu aku tak pantas mengatakannya… aku tak pantas… tapi, sungguh… maafkan aku karena aku… tak mampu menghilangkan perasaan ini bahkan setelah semua yang ku lakukan padamu… aku… masih mencintaimu, Nina…” ucapan terputus-putus di tengah tangis itu terdengar jelas di telinga Nyonya Horison. Bibirnya bergetar. Matanya memerah. Perasaannya…
“Bodoh… apa kau berbohong padaku saat kau menunjukkan rasa sakit itu…?” air mata Nyonya Horison menetes karena ia tahu Tuan Erlangga bukan tipe orang yang akan membohonginya.
“ Aku tak keberatan jika kau mengira aku berbohong… lagi pula… itu berat untuk percaya pada orang yang pernah mengkhianati kita, kan…?”
Mata Nyonya Horison kembali membelalak terkejut. “Bodoh…Kalau kau punya waktu untuk bicara macam-macam, sebaiknya kau segera minum obatmu…, kau bisa mati sebelum meminumnya, tahu…?”
“Aku tak keberatan mati setelah ini jika kau mengatakan kau memaafkanku… “
“Berhenti mengkhawatirkan hal seperti itu saat kau sedang sekarat, Bodoh!” jerit Nyonya Horison yang telah menarik tubuhnya kemudian berusaha menyetabilkan emosinya untuk membuka tutup tempat obat Tuan Erlangga. Ia segera mengambil beberapa butir obat dan menyodorkannya pada Tuan Erlangga. Tuan Erlangga melempar obat itu masuk ke dalam mulutnya pelan. Nyonya Horison menyodorkan minum. Sejenak hening. Keduanya menunggu obat itu bereaksi.
“Hhh... maaf merepotkanmu, Nina…terima kasih… aku sudah baik-baik saja…” ucap Tuan Erlangga beberapa menit kemudian. Nyonya Horison tersenyum.
“Syukurlah…”
Pesanan makanan Nyonya Horison datang. Tuan Erlangga tersenyum. “Kau bahkan masih ingat makanan kesukaanku… kau benar-benar seorang Dewi, ya…? Tetap luar biasa baik setelah semua itu…”
“Kelihatannya kau sudah bisa memenej semuanya sendiri, aku akan pamit untuk pergi sekarang.” Nyonya Horison beranjak lalu membalikan badannya membelakangi Tuan Erlangga.
“Katakan, Nina…! Kau mencintai William Horison?” tanya itu spontan membuat Nyonya Horison berdiri mematung di tempatnya.
“Ya…tentu saja aku mencintainya! Kami bahkan memiliki seorang putri yang sangat cantik dan luar biasa…”
“Hmm… tentu saja, dia itu kan anakmu. Aku tidak heran…dia pasti secantik dan sehebat dirimu… kau sangat hebat dalam apapun, Nina…!”
Hati Nyonya Horison serasa bergemuruh. Bukan itu yang ingin ia dengar. Bagaimana dengan dirinya? Dia juga mencintai… “Bagaimana deng….”
“Jangan tanyakan itu…” potong Tuan Erlangga cepat.
“Ahh… kau takut mengakuinya…?” Tuan Erlangga tersenyum tertunduk. “…kau bahkan memiliki seorang pangeran yang sangat luar biasa baik prestasi dan penampilannya. Mana mungkin kau tidak men-…”
“Hey, Nina…” Tuan Erlangga kembali memotong ucapan Nyonya Horison. “Itu tidak penting aku bahagia atau tidak… lagi pula aku pantas untuk tak bahagia setelah semua yang ku lakukan padamu…namun bahkan jika aku tak bahagia…” Tuan Erlangga mengangkat kepalanya sembari tersenyum. “…sepanjang kau bahagia…aku akan baik-baik saja… itu lebih dari cukup untukku…”
Tumpukan mutiara di pelupuk mata Nyonya Horison mengalir tanpa diminta Nyonya Horison menutupkan tangannya ke mulutnya menahan suara tangisnya. Bahkan meski ia benar mencintai William Horison yang kini menjadi suami sekaligus ayah dari anaknya, bagaimana bisa ia melihat kenyataan bahwa lelaki yang dulu sangat dicintainya begitu menderita dan masih merasa bersalah atas semua yang ia lakukan padanya. Dan di atas semua itu, bagaimana bisa dia mengatakan ia akan baik-baik saja sepanjang kekasih yang dikhianatinya bahagia? Apakah bahkan dia benar-benar mengkhianatinya…? Kenapa kita harus berakhir seperti ini…?
“Ssyuutt…Grab…” Tuan Erlangga kembali memeluk Nyonya Horison dari belakang. “Maafkan aku, Nina… aku membuatmu menangis lagi… aku benar-benar tak berguna…” ucapnya dengan air mata yang turut mengalir dari pelupuk matanya kemudian.
“Lepaskan aku… lepaskan aku… Bodoh!” pelukan Tuan Erlangga justru kian mengerat.
“Tidak. Aku tak akan melepaskanmu kali ini… tidak untuk saat ini…”
__ADS_1
“Aku bilang lepaskan!” tangis Nyonya Horison kian menjadi.
“Maaf… tapi, tolong biarkan sejenak…sejenak saja aku kembali egois sebelum aku menerima takdirku…” –Takdirmu ? Takdir apa yang kau maksud…?- tanya Nyonya Horison dalam tangisnya di hati. “…Nina…tak peduli sebanyak apa aku meminta maaf… tak peduli sebanyak apa aku berusaha… kenyataan bahwa aku telah meninggalkanmu dan luka yang ku goreskan itu akan tetap ada, bukan? Maafkan aku, Nina… kau mungkin sangat benci untuk sekedar bertemu dan berbicara denganku seperti ini… tapi, aku sungguh sangat bahagia… selain itu… mendengarmu mengatakan kau bisa mencintainya sebanyak itu… mendengarmu mengatakan bahwa kau bahagia… aku sudah cukup puas, Nina… Karena itu… aku tak akan mengganggu kebahagianmu… aku akan melepasmu… dan sekarang aku akan melakukan perpisahan yang dulu bahkan tak bisa ku lakukan dengan benar… maafkan aku… untuk mencintaimu seperti ini… ini yang terakhir… karena itu, bisakah kau membiarkanku memelukmu sedikit lebih lama, my lovely Ney[1]…..” mata Nyonya Horison melebar mereflekkan panggilan yang baru saja didengar telinganya. Kapan terakhir kali ia mendengarnya? Apakah ini benar-benar akan menjadi yang terakhir kalinya ia mendengar panggilan itu? Tuan Erlangga mempererat pelukannya. “…tak peduli apapun yang terjadi, kau harus bahagia…”
Nyonya Horison berbalik menghadap Tuan Erlangga lalu memukul-mukulnya pelan. “Bagaimana… bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?!” tangis Nyonya Horison kembali mengalirkan air matanya. Tuan Erlangga yang juga turut berlinang air mata itu segera merengkuh Nyonya Horison kembali. “…bagaimana bisa kau tidak bahagia setelah kau melakukan semuanya padaku…? Bagaimana bisa kau memintaku untuk bahagia dengan wajah dan kehidupanmu yang seperti itu…? Bahkan jika aku terluka… bagaimana bisa aku membiar-kanmu hidup dalam penyesalan dan penderitaan seperti itu…? Kau bahkan tahu lebih baik dari siapapun bahwa setidaknya dulu… aku pernah benar-benar mencintaimu…”
“Hhhh… aku benar-benar bahagia mendengarnya… aku tak menyesal untuk bahkan tetap mencintaimu hingga saat ini, Ney…”
“Jika begitu… jika kau benar-benar serius… berjanjilah satu hal padaku…”
“Hmm. Katakan, apa itu…?”
“Kau harus menjalani hidup dengan bahagia… kau juga harus bahagia…”
“Hmm. Aku akan berusaha untuk memenuhinya…”
“Mom...” “Papa…” panggilan yang terucap bersamaan dari bibir Daniel dan Akira dengan mata terbelalak dan kaget keduanya membuat baik Nyonya Horison maupun Tuan Erlangga turut kaget. Tas yang dibawa Akira terjatuh refleks dari tangannya. Daniel hanya mampu menatap tanpa kata. Tuan Erlangga segera melepas pelukannya.
“Akira… ini…”
“Ini tidak seperti yang mungkin kalian berdua pikirkan. Kami memiliki beberapa urusan yang harus kami selesaikan.” Sambung Tuan Erlangga cepat.
“Apa yang Papa lakukan disini?” Daniel memulai tanyanya.
“Papa diminta mengurus urusan di perusahaan cabang di Seoul. Ah, ada yang harus Papa bicarakan denganmu, ayo ikut Papa!” Daniel yang terbiasa menurut itu pun hanya menurut mengikuti papanya setelah menggenggam tangan Akira dan meyakinkannya semuanya akan baik-baik saja. “Terima kasih untuk hari ini, Nyonya Horison.
Juga, maaf telah merepotkanmu…” senyum Tuan Erlangga membawanya pergi bersama Daniel dari visual Nyonya Horison dan Akira.
*******
“Kenapa kau diam saja? Kau marah pada Papa?”
“Untuk apa aku marah?”
“Mungkin untuk mengecewakan ekspektasimu pada Papa yang sangat kau banggakan. Mungkin juga untuk membuatmu melihat berpikiran yang tidak seharusnya. Atau…”
“Apa Papa mencintai wanita itu…?” tanya tiba-tiba itu memotong ucapan Tuan Erlangga.
Tuan Erlangga tersenyum. “Hhh…kau tidak biasanya memanggilnya begitu… kau biasanya memanggilnya Nyonya Horison karena sangat mengagumi juga… kau mengatakannya sebagai wanita itu karena kau marah, kan?”
“Papa… aku butuh jawaban…”
“Kenapa kau ingin tahu?”
“Karena Papa tak pernah memiliki senyum seindah itu dalam wajah sesedih itu sebelumnya… Papa bahkan tak pernah menangis di depanku atau mama…”
“Hhh… apa hubungan semua itu dengan cinta? Apa bahkan kau tahu apa itu cinta, Daniel?”
“Bahkan meski aku tak tahu apa itu cinta… itu tak berarti aku tak bisa memahami apa yang terjadi, kan?”
Tuan Erlangga tersenyum. “Ahh, kau benar-benar mirip denganku…”
“Jangan samakan aku dengan Papa dalam hal ini!”
__ADS_1
“Tentu… tentu saja. Papa juga berharap kau tak memiliki akhir yang sama dengan Papa. Papa sangat tak berharap itu terjadi juga padamu…” mata Tuan Erlangga kembali memerah. Daniel tersentak melihatnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi…?”
“Hhhh… maafkan Papa, Daniel… Papa tak bermaksud menyembunyikannya darimu… lagi pula itu juga mengapa Papa berusaha sebisa mungkin mempengaruhi kakek agar tak menjodohkanmu dengan cucu dari teman dekatnya…”
“Tunggu… maksud Papa…?”
“Papa dan mama menikah karena dijodohkan oleh kakekmu. Dan saat itu Papa masih menjalin hubungan dengan Nyonya Horison. Singkatnya begitu. Karena Papa tahu seperti apa rasanya melakukan semua itu… Papa tak ingin kau mengalami nasib yang sama dengan Papa…”
“Hhhh… Papa berharap aku puas dan percaya pada semua itu hanya dengan begini? Papa tahu bahwa kakek bukan orang yang akan melanggar janjinya, bukan? Lalu, jika bukan aku yang dijodohkan dengan cucu dari teman dekatnya… siapa yang menjadi gantiku…?”
“Hhhh… kau akhirnya menanyakannya… aku sangat bingung dan merasa bersalah untuk penggantimu, tapi saat seorang ayah harus memilih untuk menyelamatkan antara anak kandungnya dan anak orang lain, ia pasti akan memilih untuk menyelamatkan anak kandungnya tak peduli anak siapa yang harus dia korbankan.”
Mata Daniel memerah menahan butir-butir air mata yang tiba-tiba menumpuk di ujung pelupuk matanya. Ia mulai membaca keadaan. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak dari dalam hatinya. Bayang-bayang Daylan bersama Maura di restoran saat ia bersama Akira malam itu, juga liburan yang ia manipulasi bersama Maura… alasan Daylan
melakukan semuanya bahkan setelah ia menikah… karena… dia jodohkan sebagai gantiku untuk gadis yang tak dicintainya…?
“Kau tetap perspektif seperti biasanya…! Kau bisa membaca dan memahami sesuatu yang terjadi dengan sangat cepat setelah mendapat suatu clue. Hhh… itu hebat dan menyenangkan memiliki kemampuan seperti itu… tapi, kadang itu justru terasa lebih menyakit-kan untuk menyadari semuanya sendiri sebelum kita mendapat penjelasan…”
“Kenapa… kenapa Papa melakukannya?!”
“Papa rasa Papa sudah mengatakan alasannya dengan cukup jelas tadi…”
“Jadi Papa ingin menyelamatkanku dengan mengorbankan orang lain? Bukankah Papa lebih tahu sendiri seperti apa rasanya dijodohkan saat Papa masih mencintai dan memiliki hubungan dengan orang lain?! Bagaimana Papa bisa…?” air mata Daniel menetes.
“Maaf Daniel, Papa tidak tahu tentang itu… tapi, itu hampir mustahil untuk menyelamatkan semua yang berharga bagi kita, karena itu kita harus memilih yang terbaik yang ingin dan mampu kita selamatkan…”
“Hhhh… Papa pernah melalui semua itu hingga hari ini… tapi melihat Papa memeluk wanita itu sembari menagis seperti tadi… aku rasa Papa sudah sangat lama tak bertemu dengan-nya… apa yang terjadi? Aku rasa Papa bukan orang yang akan berselingkuh di belakang Mama meski Papa tak mencintainya… ceritakan padaku apa yang terjadi…!” Tuan Erlangga terenyak. Matanya seketika melebar berkaca-kaca. Kenapa, kenapa… rasanya menyakitkan sekali. “Kenapa? Papa tak bisa mengatakannya…? Jika begitu kenapa Papa memilih mengorbankan Daylan untuk merasakannya?!”
“Maaf, Daniel… Papa tahu kau sangat menyayanginya… tapi, papa tidak bisa melindungi kalian berdua…” air mata Daniel menderas. “…dan bukanyya Papa tak berani mengatakannya atau berniat menyembunyikannya darimu… tentang masa lalu itu… Papa tak mengerti mengapa, setiap kali Papa mengingatnya, Papa selalu merasa menyesal... sedih… dan rasanya tiba saja dada Papa sesak dan Papa ingin menangis… karena itulah Papa berusaha tak mengingatnya apalagi membahasnya… tapi sebenarnya Daniel… itu cukup sulit untuk tak merasa bersalah dan menyesal saat kita mengorbankan orang lain tanpa meminta maaf padanya… itu bohong jika kita bisa hidup dengan tenang tanpa perasaan bersalah sama sekali setelah mengorbankannya…”
“Apa maksud Papa dengan mengorbankan seseorang? Apa yang Papa lakukan pada Nyonya Horison?!”
Tuan Erlangga menatap Daniel dalam dengan senyum penuh maknanya yang menyembunyikan luapan perasaannya serta kaca-kaca di matanya. “Jika Papa melihatmu sekarang, Papa merasa melihat diri Papa sendiri. Papa juga tipe orang yang tak bisa menolak dan mengatakan tidak pada orang tua… Papa selalu menurut. Hingga suatu hari… setelah Papa berpacaran dengan Nyonya Horison selama kurang lebih empat tahun sembari menjalani kuliah kami di Inggris, kakek tiba meminta Papa untuk pulang ke Indonesia, tapi bukan ke rumah, melainkan ke suatu hotel megah di Riau.
_____________________
[1] Panggilan kesayangan Tuan Erlangga untuk Nyonya Horison saat mereka dulu memiliki hubungan
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1