Couple In Love

Couple In Love
Episode 67


__ADS_3

                                                        



 


“Loe yakin loe nggak akan nyesel ninggalin Maura dan milih Akira?” Daylan tersenyum lalu menggeleng cepat.


“Aku nggak akan nyesel, Re. Aku udah ambil keputusan, dan apapun yang akan terjadi ke depannya aku akan tanggung jawab soal itu.” ujar Daylan mantap menyakinkan. Revan tersenyum tipis lalu menundukkan kepalamya. Tampaknya ada hal berat yang mengganggu dirinya. Bibirnya terasa begitu berat untuk berucap, namun masih


pula dengan bergetar ia berusaha mengatakannya.


“Is she Ok?”[1]tanya gemetar Revan akhirnya terlontar.


“I am so sorry, but I don’t think she is Ok…”[2]


“Dimana kau meninggalkannya?”


“Aku tidak yakin jika dia masih ada di sana…”


“Dia masih disana… dia selalu seperti itu… tetap tinggal saat ditinggalkan…” kalimat itu menusuk Daylan telak. Ia tersenyum berat. Kenapa segalanya semenyakitkan dan serumit ini…?


“Pantai… di dekat jembatan indah yang pernah ku ceritakan padamu…” Daylan memberi kode lalu melangkah membuka pintu dan meninggalkan Revan yang mengusap kasar rambut dan wajahnya. Berpikir akan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Tangan kanan Daylan melepas knop pintu yang otomatis tertutup. Air mata Daylan kembali lolos di balik pintu itu. Ya, dia telah membuat keputusan, siapapun yang tersakiti tak lagi bisa dicegahnya, dan apapun yang terjadi harus di tanggungnya. Bayangan wajah terluka Erlangga, Maura, Revan, dan bayangan wajah kecewa dan terluka Akira saat melihatnya bersama Maura membuatnya menahan sesak akan rasa bersalah yang dilakukannya. Wajah Akira membuatnya melangkah cepat untuk mencarinya. Batinnya hanya bisa meminta maaf berulang-ulang pada sosok-sosok itu, juga sosok yang mungkin tak dikenalinya namun turut terluka karena


ulahnya. Entah berapa banyak hati yang telah dilukainya… ia sendiri tak yakin ia pantas mendapatkn maaf karena telah melakukannya. Ia hanya ingin berusaha memperbaikinya.


********


Sebuah tangan kekar memeras handuk kecil yang ia gunakan untuk mengompres sosok yang kini terbaring di atas ranjang di hadapannya. Tangan besarnya menempel-nempelkan handuk itu di kening dan seputaran wajah sosok yang tak lain adalah gadis yang begitu didambanya. Ia melakukannya dengan menekan handuk itu pelan, hati-hati, dan penuh perhatian. Lelaki bertangan kekar itu kembali memasukkan handuk di tangannya ke dalam bejana dengan air dingin yang disiapkannya. Tangannya bergerak menyentuh kening gadis di hadapannya. Ia menghembuskan napas lega karena panas di tubuh gadis itu telah turun. Ditatapnya lagi gadis di hadapannya. Reka peristiwa yang terjadi setelah ia menyelamatkan gadis itu dari tertabrak mobil terulang dalam kepalanya.


Sesaat setelah ibu dan anak yang diselamatkannya berpelukan gadis itu tersenyum dan beranjak tanpa bahkan menunggu ungkapan terima kasih. Ia melanjutkan langkah setengah gontai dengan pandangan kosongnya. Lelaki yang masih terduduk usai menyelamatkannya itu pun turut berdiri dan mengambil langkah mengikutinya. Ia


berjalan beberapa langkah di belakang gadis itu. Namun, gadis itu seolah tak peduli atau mungkin tak sadar, atau justru malah tak peduli. Lelaki itu hanya mengikutinya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Hingga langit yang mendung itu menurunkan butir-butir yang ditakuti manusia. Ya, hujan.


Sejenak tersentak akan rintik yang turun, namun ia kembali mengarahkan visualnya pada gadis di hadapannya yang sedari tadi terus berjalan tanpa arah. Apa ia tahu kemana ia akan pergi? Dan lagi yang terpenting, apa yang akan gadis itu lakukan? Gadis itu menengadahkan wajahnya ke langit. Tangan kanannya ingin sekali meraih air hujan dengan rasa sedih yang seolah menggerogoti dirinya, seolah ia juga ingin sekali menggapai langit dan hujan yang dekat namun segera menghilang dan lepas begitu tersentuh tangannya.


Lelaki yang tak lain adalah dirinya itu membiarkan gadis dihadapannya menyuarakan jeritan hatinya yang tak terdengar oleh telinga siapapun. Namun, saat hujan menderas dan sosok itu masih berjalan di bawah hujan, ia mulai ragu. Ia tak ingin gadis itu sakit. Ia lalu melangkah mendekati gadis itu. Namun, selangkah sebelum ia

__ADS_1


menjajarinya, gadis itu meluruh dan terjatuh. Matanya seketika membulat, ia segera mengulurkan tangannya, namun gadis itu seolah tak melihatnya, atau apakah ia sengaja tak menghiraukannya? Tangannya masih terulur dengan badan setengah membungkuk mematung sembari berpikir, sedangkan sosok yang ingin ditolong-nya justru mencoba berdiri sendiri tertatih-tatih. Gadis itu berusaha menegakkan kakinya yang sepertinya memang tak lagi stabil lalu melangkah patah-patah sedikit terhuyung. Ya, jelas saja, entah sudah berapa lama ia berjalan dan berdiri di bawah hujan, mungkin tubuhnya sudah lelah sebagaimana hatinya. Baru beberapa langkah darinya, gadis itu terhuyung dan seketika kembali terjatuh. Ia segera berlari menghampiri gadis itu lalu meluruhkan dirinya untuk setengah duduk mengimbangi gadis itu. Tangan khawatirnya segera terulur refleks meraih bahu gadis itu sebelum otaknya bahkan sempat berpikir. Namun lagi, gadis itu segera menampik tangannya dan berusaha menopang dirinya yang sungguh sulit untuk kembali ia tegakkan.


Shit! Ia tak peduli lagi. Terserah bagaimana gadis itu akan menolaknya. Ia sudah benar-benar tak bisa menahan dirinya menyaksikan gadis yang dicintainya bertahun-tahun dan ia kira sudah mati ini lebih menderita lagi. Cukup sudah! Tangan kekarnya meraih bahu gadis itu setelah usahanya untuk bangkit sendiri beberapa kali sia-sia,  ia lalu mendekat pada gadis itu dan berbisik dalam hujan, “Hentikan…” gadis itu bergeming, tak sedikitpun bergerak. Seolah pikirannya entah ada di mana. “Aku mohon hentikan! Jangan seperti ini…!” jeritnya akhirnya. “Aku mohon…” lirihnya beriring setetes air mata yang tak disadarinya mengalir bersama hujan. Dan tanpa disangkanya pula gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang setelah menyentuh lengannya yang masih terletak di bahu gadis itu. gadis itu tersenyum menatapnya dalam. Terselip segenap kegetiran dalam senyumnya. “Kenapa k-kau selalu seperti ini…?” tanya gadis itu yang tentu saja tak ia pahami arah bicaranya. “Sudah ku bilang… jangan terlalu baik padaku… sudah ku bilang untuk tak bersikap seperti ini lagi… aku mohon… henti kan ini, Daylan… hatiku sak-kit… aku…” sret. Ucapan gadis itu terhenti bersamaan dengan tangannya yang terjatuh dan matanya yang terpejam. Matanya membulat melihat gadis itu terpejam. Sontak ia menarik tubuh gadis itu dalam rengkuhannya. Ia memeluknya erat beriring hujan dan air mata yang mengalir dari dua mata indahnya. “Aku tak akan memaafkannya…! Aku tak akan memaafkan siapapun orang yang membuatmu sampai terluka seperti ini!” janjinya  pada gadis dalam rengkuhannya yang kemudian dengan segera ia bawa pulang bersamanya.


Reka kejadian di kepalanya itu terhenti. Ia segera memusatkan visualnya pada sososk di hadapannya. “Kenapa kau harus menyukai lelaki seperti dirinya, Akira…?” tanyanya yang pasti tak mendapat jawaban karena sosok yang ditanyanya masih tak sadarkan diri. “Tenang saja… Aku akan membuatnya menyesal telah memperlakukannmu seperti itu.”


Drrrreeet….drreett….Drreeet…


Handphone lelaki itu bergetar. Sebuah panggilan masuk. Tangannya meraih handphone itu cepat lalu menekan layar hijau, menerima panggilan tersebut. “Halo, ada apa Jun?” ucapnya menyahut suara dari sebrang sembari beranjak dari samping tempat tidur karena takut meng-ganggu Akira.


“Maaf, Bos. Tuan Jaerim sepertinya mengetahui tentang rencana kita. Dia memaksa untuk bertemu dengan Anda. Saya sudah melarangnya, tapi Tuan Jaerim tetap melajukan mobilnya menuju rumah Anda. Saat ini saya sedang ,mengikutinya. Apa yang harus saya lakukan berikutnya, Bos?”


“Biarkan dia menemuiku.”


“Lalu bagaimana rencana kita tentang…”


“Kita akan tetap melakukannya. Dengan tambahan yang akan membuat ini lebih menarik tentunya. Aku akan menginformasikan detainya padamu nanti.”


“Baik Bos.” Klik. Lelaki yang sedari tadi disapa bos itu mengakhiri panggilannya. Ia kembali menoleh ke arah sosok Akira yang terbaring di atas ranjang.


Ia kembali duduk di samping ranjang. Ia menatap Akira dalam. Tangannya terangkat menuju pelipis Akira. Jemarinya menyeka rambut hitam indah yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Lelaki itu tersadar. Betapa cantiknya gadis di hadapannya ini. ia bahkan lebih cantik dari saat terakhir dulu mereka bertemu. “Aku akan memberi pelajaran pada laki-laki yang tidak mencintaimu tapi berani bermain dengan perasaanmu seperti ini, Akira. Aku akan memberinya shock terapi yang mungkin tak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Jadi, cepatlah bangun dan sembuh lalu tersenyum indah seperti dulu.” Tangan lelaki itu kembali tergerak. Namun, sebelum jemarinya mendarat di kulit putih wajah Akira, suara dering ponsel Akira menghenti-kannya. Ia mengalihkan visualnya pada sumber suara di atas meja di samping atas ranjang. Ia bergerak meraih telpon itu. Senyum smirk seketika menghias wajahnya saat sebuah nama di layar handphone itu terbaca visualnya. “Hhh…” ia mendengus lemah. “My Dear Day?” tanyanya pada dirinya sendiri dengan tawa mengejek. “Jadi kau menamainya seindah ini dan dia memperlakukanmu seburuk itu?” ia kembali mendengus lalu menekan bulatan hijau di layar menerima telpon tersebut sembari membatin, “Ini akan semakin menarik…”


“Ra… kamu denger aku, kan?” ucap suara dari sebrang setelah keduanya terdiam beberapa menit tanpa kata. Lelaki itu masih enggan memberi jawaban. “Halo, Ra… Akira… Ra, kamu baik-baik aja, kan? Ra…” suara kian khawatir dari sebrang telpon membuat lelaki yang memegang telpon Akira tersenyum.


“Aku rasa dia baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini.” ia menyahut kemudian. Hening. Sosok di seberang telpon sana seketika terdiam. Membayangkan ekspresi kaget di wajahnya saat yang mengangkat telpon istrinya adalah seorang lelaki sudah terasa cukup menyenangkan. Bagaimana jika ia melakukan hal lebih dari ini?


“Siapa ini?” suara dari seberang telpon berubah tegas. Membuat lelaki ini tertawa. Sepertinya rencananya cukup berhasil. “Maaf, tapi Anda tidak perlu tertawa seperti itu. Tidak ada yang lucu di sini. Tolong berikan telponnya pada Akira!” sentak suara dari sebrang kesal.


“Benarkah tak ada yang lucu di sini? Menurutku kau sendiri sudah lebih dari lucu. Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini saat kau sedang mengkhianatinya? Ini lucu.” Pria itu masih saja tertawa tanpa peduli gertakan kesal dari seberang telpon.


“Apa maksudmu?! Siapa yang kau bilang sedang berkhianat?!” suara penelpon itu terdengar kian geram.


“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan dengan senang hati membantumu membuatnya hilang dari kehidupanmu dan membuatmu hilang dari kehidupannya.” Ucapnya penuh pe-nekanan.


“Sialan, apa yang sednag kau katakan?! Berhenti bercanda dan berikan telponnya ke Akira. Aku bilang berikan telponnya pada Akira sekarang!” tekan pemilik suara itu yang sontak mengembangkan senyum lebar di bibir lelaki yang tadi menerima telpon.


“Apa kau tak pernah belajar sopan santun, Tuan Muda Marendra?” sindirnya telak. “Kau sedang meminta bantuan atau setidaknya pertolonganku, kan?” tak terdengar jawaban dari sebrang. “Ah, aku lupa jika kau bahkan belum mengenalku! Apakah aku seorang lelaki baik atau lelaki jahat yang sekarang juga tak punya hubungan apapun

__ADS_1


denganmu yang mengharuskanku untuk patuh padamu.”


“Hhh…” sosok diseberang terdengar membuang napas kasar. “Baiklah, Tuan Muda yang belum saya kenal namun saya hormati, tolong berikan handphone ini pada Akira. Saya harus berbicara dengannya sekarang, saya mohon!” lanjut suara itu akhirnya. Masih dalam senyum kemenangannya lelaki yang kini memegang telpon Akira itu kembali mengucapkan sesuatu.


“Kau tampak khawatir. Acting-mu sungguh hebat.”


“Hhhh…Apa lagi ini? Apa yang kau maksud dengan acting?”


“Kau baru saja memeluk gadis cantik yang seharusnya tak lebih penting dari istrimu tadi siang. Apa kau akan mengatakan padaku jika kau lupa telah melakukannya dan sekarang bersikap seolah khawatir dan kau tak melakukan kesalahan apapun?”


“I-itu… bagaimana kau bisa…” sebuah tawa terdengar tanpa peduli memutus kata yang akan dilanjutkannya.


“Tentu saja kau bisa melakukannya dengan gadis cantik itu mengabaikan fakta bahwa kau memiliki seorang istri. Bagaimanapun juga kau seorang lelaki normal yang bisa dengan mudah tergiur dengan kecantikan yang ditawarkan seorang gadis padamu. Ya, itu wajar.” Sosok di sebrang tampak terdiam. Senyum smirk kembali terukir di bibirnya. Ia akan memakai senjata pamungkasnya sekarang. “Ya, itu wajar mengingat kau tak pernah mengerti betapa cantiknya istrimu saat dia TIDUR.” Ucapnya menekan kata terakhirnya. Sembari menatap Akira dari kejauhan.


“A-apa..? Apa yang kau lakukan?! Apa yang kau lakukan pada Akira, Brengsek!” lelaki penerima telpon itu tersenyum penuh kemenangan. Ini belum seberapa –batinnya.


“Setidaknya aku tidak menyakitinya seperti yang kau lakukan padanya. Aku hanya menghangatkannya dan memberinya kenyamanan. Sesuatu yang tak pernah bisa kau berikan padanya. Karena aku bahkan cukup kaget mengetahuinya. Kalian telah menikah hampir setahun, tapi dia masih… hmm” ia berdehem menjeda kalimatnya


sedetik. “…perawan.” Ucapnya malu-malu namun penuh profokasi kemudian.


“Berengsek! Apa yang kau lakukan pada Akira?! Aku tak akan memaafkanmu! Sehelai rambutnya saja terluka, aku akan benar-benar mengejarmu hingga ujung dunia dan mengirimu ke neraka!” caci dan cecar suara dari seberang telpon berapi-api. Lelaki itu tertawa kencang dalam hati menertawakan sosok di sebrang telpon. Ia sendiri hanya berasumsi dengan informasi yang belum pasti benar dari bawahannya.


 


________________


[1] Apakah dia baik-baik saja?


[2] Maaf kan aku, tapi aku rasa dia tidak baik-baik saja…


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!

__ADS_1


Love you,


Yurizhia Ninawa


__ADS_2