
“Maaf, sepertinya aku salah jalan. Permisi…” Akira membalik badan khawatir lalu mulai melangkah cepat. Namun, terdengar jelas langkah-langkah dibelakangnya menyusul gegas. Akira berlari kian cepat. “Sial! Aku tak tahu arah!” Akira terus berlari tanpa mengetahui arah pasti yang ditujunya.
“Hey, Nona! Berhenti dan biarkanlah kami bergabung bersamamu!” seru suara dari belakangnya menambah ketakutan Akira.
“Benar, berbagilah kebahagiaan dengan kami!” sahut suara yang lain.
“Apa yang harus kulakukan? Arah mana yang harus ku ambil?” Akira membatin lalu akhirnya memilih berbelok ke kiri yang merupakan sebuah gang sempit. Ia terus berlari hingga akhirnya, “DEAD END”[1]“Tidak. Apa yang harus kulakukan sekarang?!” batin Akira yang sudah tak mampu lagi berlari karena tiga orang yang mengejarnya kini telah ada di hadapannya dengan tawa menjijikan mereka. Akira mundur teratur hingga menabrak dinding di
belakangnya.
“Tak usah ketakutan begitu, Nona! Kau membuat kami semakin menginginkanmu…”
“Hhhh…. hhhh… hhh…” Akira kian merasa takut. “Aku punya uang, kartu kredit… semuanya ambillah! Ambillah semua dan tinggalkan aku sendiri! Aku mohon!”
“A… ah… aku benci orang kaya yang selalu berlaku seperti ini! Kau pikir uang bisa memberikan kebahagiaan? Aku lebih senang jika kau menawarkan dirimu!” sahutan bagai sambaran petir itu tertutup dengan dengan senyum pemiliknya yang mengangkat ujung kanan bibirnya ke atas.
Kaki Akira melemas ia jatuh terduduk ketakutan. Ponselnya bordering. Akira segera bergerak mencoba mengangkatnya. Sejenak ketiga orang itu membiarkannya. “Daylan…!” jerit Akira penuh ketakutan menembus ambang telpon. Namun, salah seorang dari tiga orang tadi segera menyahut ponsel Akira dari tangannya.
“Heeeh… siapa ini, Nona? Pacarmu? Itu tidak baik untuk menghubungi di saat kau akan bersenang-senang dengan kami seperti ini…!”
“Kembalikan! Kembalikan…” Akira meronta berusaha meraih kembali ponselnya.
“Akira…! Dimana kau?!” jerit suara dari sebrang telpon panik dan khawatir.
Akira berusaha meraih kembali ponselnya dengan tangannya. Namun, gerakkannya segera terhenti saat sebuah tangan gegap mendarat dan mencengkram bahu kanannya. Ketakutan seketika mencekamnya. Ia tak berkutik.
“Bagaimana dengan diam dan membiarkan kami membuka bagian ini?” tanya pemilik tangan yang sedetik kemudian menyingkapkan baju dari bahu kanan Akira ke arah tangannya. Akira tersadar.
“Tidak…!!!!”
__ADS_1
******
Daylan melajukan mobilnya melewati daerah pasar sebelum ia pulang. Dilihatnya semburat sosok yang sangat dikenalnya dari samping kaca mobilnya. Daylan menoleh sejenak lalu mengembalikan lagi pandangannya ke depan.
“Itu seperti Akira. Tapi, tidak mungkin kan dia kesana? Aku sudah mengingatkannya waktu itu. Lagi pula untuk apa dia kesana? Aku pasti salah lihat. Hanya imajinasiku…” ucap Daylan pada dirinya sendiri.
Daylan menutup pintu mobil lalu menguncinya dengan kunci otomatis. Ia berjalan menuju apartemennya. “Aku akan mengejutkan Akira! Aku pulang lebih awal dari yang ku katakan… dia pasti kaget…” batin Daylan sembari tersenyum senang membayangkan reaksi wajah Akira yang belum menyiapkan apapun untuk makan malam dan lainnya. “Tenang saja! Jika berwajah masam, aku akan bilang aku yang akan masak untuk malam ini… dia pasti sudah baikkan lagi setelah itu….”
Daylan menekan bel. Ia sengaja membuat Akira membuka pintu untuknya lalu bersembunyi sejenak dan mengagetkannya. “Ting-tong….” Daylan memencet untuk yang ketiga kalinya.
“Dimana sebenarnya dia? Kenapa ia tak segera membuka pintu? Apa dia sedang mandi?!” telunjuk Daylan hampir bergerak lagi untuk memencet bel berulang-ulang hingga Akira terpaksa keluar dan membukakan pintu apapun keadaan dan kondisinya. Namun, otaknya segera menghentikannya sebelum ia sempat memencet. “Apa kau benar-benar seniat itu untuk mengerjainya? Itu keterlaluan!” pikirnya kemudian.
“Ahhh… can’t be helped…”[2] Daylan menggerakkan jemarinya menekan password lalu membuka kunci dan daun
pintu.
Klek. “Akira…” panggilan itu terhenti saat mata Daylan melihat penampakan di depan matanya. Matanya melebar terperangah, terkejut, dan kaget. Kakinya membawanya melangkah masuk pelan. Ditatapnya seluruh ruangan yang dipenuhi balon dan beberapa dekorasi unik lainnya dengan sebuah tulisan di atas sebuah kain putih yang terbentang dari ujung tembok kanan ke ujung tembok kiri “HAPPY BIRTHDAY DAYLAN” dengan tulisan tambahan di bawahnya, “Have a long life and be better man”. Daylan tersenyum membacanya. Ia lalu duduk mengimbangi meja tempat kue ulang tahunnya diletakkan.
kembali melangkah lalu duduk di kursi meja makan. Ia memandang menu. Tak ada sup rumput laut. Pikiranya tiba-tiba bergerak cepat. “Jangan katakan padaku…. Gadis tadi…” Daylan segera berlari menuju tempat parkir. Pikirannya kalut. Ia mengemudikan mobil dengan cepat dan khawatir. “Sial, apa yang dia pikir dia lakukan di sana?!”
Daylan sampai di tempat penjualan rumput laut kering terbaik. Ia segera berlari mencari Akira. Ia mengeluarkan ponsel menelpon Akira. “Daylan…!” jeritan itu mengawali panggilannya yang baru diangkat. Respon yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. Ya, jeritan penuh ketakutan dan cemas yang membuat Daylan turut takut
dan khawatir hingga ia tak mampu bicara.
Srett… “Heeeh… siapa ini, Nona? Pacarmu? Itu tidak baik untuk menghubungi di saat kau akan bersenang-senang dengan kami seperti ini…!” suara laki-laki yang muncul membuat Daylan kian gemetar. Apa yang sedang terjadi padanya?!
“Kembalikan! Kembalikan…” suara Akira meronta berusaha meraih kembali ponselnya.
“Akira…! Dimana kau?!” jerit Daylan panik dan khawatir sembari terus berjalan tanpa arah yang pasti.
Dilihatnya toko yang masih buka. Ia berlari menuju toko itu dan bertanya apakah pemilik toko itu melihat gadis dengan ciri-ciri Akira. Pemilik toko itu mengiyakan lalu mengatakan bahwa sebenarnya tadi ia melihat saat sedang pulang beberapa orang laki-laki menghadangnya lalu mengejarnya. Ia tidak berani menolong karena mereka adalah anggota geng yang berbahaya. Jadi ia memilih untuk diam.
“Katakan padaku dimana mereka!”
__ADS_1
“Sebaiknya kau tak usah mencari masalah! Mereka benar-benar berbahaya! Biarkan…”
“Apa kau akan membiarkan mereka menyentuh bahkan istrimu yang paling berharga untukmu?!” pemilik toko itu terdiam. “Aku tidak meminta tolong padamu untuk membantu mengatasinya. Aku akan mengatasinya sendiri. Hanya katakan dimana mereka membawa gadis itu!”
“Hhh… kau benar-benar keras kepala, ya… baiklah aku akan memberitahumu. Tapi, jika sampai sesuatu terjadi padamu, jangan salahkan aku!”
“Tentu! Aku justru akan sangat bertrimakasih pada Anda…”
“Larilah lurus hingga kau menemui pertigaan. Lalu beloklah ke kiri dan berlarilah hingga ujung. Lorong itu adalah jalan buntu dimana mereka biasa memancing mangsanya…”
“Terima kasih!”
Daylan segera berlari menuju tempat yang dia arahkan pemilik toko itu. Tunggu, tunggu aku Akira…! Daylan segera melanjutkan panggilan yang ia setting sebagai tunda panggilan.
“Bagaimana dengan diam dan membiarkan kami membuka bagian ini?”
“Tidak…!!!!”
________________
[1] Jalan buntu
[2] Apa boleh buat... ( Terpaksa, deh…:))
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : nabila ubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
__ADS_1
Yurizhia Ninawa