Couple In Love

Couple In Love
Episode 58


__ADS_3

                                                        



 


 “Mereka sangat jarang keluar bersama hanya untuk bersenang-senang. Mereka berdua adalah serius couple yang lebih sering belajar bersama dan saling mendukung mimpi dan cita-cita satu sama lain. Saat SMA karena keduanya adalah orang berbakat, mereka sering dikarantina untuk mengikuti berbagai olimpiade. Mereka hanya sesekali jalan keluar bersama, nonton dan berkunjung ke rumah sakit dan perusahaan untuk belajar ketertarikan masing-masing mereka. Daylan bukan tipe lelaki yang dengan mudah menyentuh wanita, meski mulutnya kadang ber-acting bicara macam-macam agar tak ada gadis lain yang menyukainya. Mereka serius memiliki hubungan untuk menikah. Tapi, itu dulu. Sejak dia menikah denganmu, dia selalu menghindari topik pernikahan saat sedang dengan Maura. Dia butuh waktu untuk memberitahu Maura dan membereskan semuanya… percayalah sedikit padanya… aku tahu aku tak bisa memaksamu, tapi jika kau pikir bahwa Daylan memiliki lebih banyak orang yang mencintainya dari pada Erlangga, kau salah besar, kau hanya tak tahu ada sangat banyak sosok yang mencintainya sama seperti dirimu… Daylan selalu berada di bawah banyak tekanan dari keluarga besarnya, tapi baru kali ini dia menangis seperti ini… aku tahu ini egois, tapi, aku mohon… jangan membuatnya menderita lebih dari ini…” mata Revan berkaca-kaca.


“Kau sangat menyangi Daylan, ya…?”


“Akira… aku mohon… jangan membuatnya berpikir untuk mengakhiri hidupnya lagi hanya untuk menyelamatkan orang lain…” mata Akira membesar tercekat.


“Apa maksudmu…?”


“Dia…pernah berusaha bunuh diri untuk menyelamatkan Erlangga dari masalah yang dihadapinya karena dia pikir itu cara terbaik untuk menyelamatkannya… tapi, setelah itu Erlangga diperalat untuk percaya pada cerita yang salah dan dipaksa untuk menimpakan tuduhan pada Daylan…sejak hari itu…dan karena itu…Daylan mulai menjauhi Erlangga… dan untuk masalah ini, jika dia mengakhiri hidupnya…maka…kau bisa bebas tanpa hukuman apapun untuk menikah dengan orang lain, begitu juga anakmu… dan kau tak perlu melihatnya menderita yang akan membuatmu juga tak bisa bahagia sepenuhnya…aku mohon… dia tidak pernah memperhitungkan apa yang harus dia lakukan untuk orang yang sangat dicintainya… karena itu… tolong Akira… maafkanlah dia dan kembali padanya…”


“Revan… bahkan setelah apa yang kau katakan… apa… apa yang harus ku lakukan…?”


 


*******


KLEK. Revan menutup pintu apartemen Daylan dari dalam pelan. Ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Perlahan namun pasti kakinya melemah hingga ia hampir terduduk.  –Aku melakukan hal yang benar,


kan?-  matanya berkaca-kaca. Dadanya sesak.


SRENG. Bunyi sesuatu digoreng membuat Revan segera mengembalikan kestabilannya dan melangkah ke dalam. “Kau sudah bangun?”


“Apa yang kau tanyakan saat kau melihat dengan mata kepalamu sendiri aku sedang masak begini?”


“Kau baik-baik saja?”


“Hmm. Aku baik-baik saja. Lagi pula ada tamu yang harus ku layani, aku tak bisa terus tidur dan membiarkannya tak terurus, kan?”


Revan tersenyum lalu berjalan mendekat ke Daylan. “Daylan… telpon Akira dan minta dia kembali padamu sekarang juga…!” Daylan mengangkat pandangannya menatap Revan dengan matanya yang melebar tersentak. “Tentu, kau tahu konsekuensi dari melakukannya, kan? Kemarin kau bilang kau mencintainya, kan? Kalau itu benar,


maka buktikan sekarang dan bersiaplah untuk menjalani konsekuensinya…! Kau tidak boleh serakah dengan niat untuk melindungi keduanya atau menginginkan keduanya… juga, jangan menyakiti Akira lagi setelah semua ini… jangan memberinya harapan dan ucapan kosong tentang cinta, buktikan bahwa apa yang kau katakan benar…!” Revan berbalik beranjak menuju kamar. Ia menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh. “… dan pastikan kau meminta maaf pada Maura setelahnya…” Daylan hanya terdiam tanpa kata. Revan melanjutkan langkahnya dan


memasuki kamar Daylan. Tubuhnya jatuh terduduk di balik pintu. Matanya kian berkaca-kaca. ia meringkuk menenggelamkan wajahnya. “Maafkan aku Maura! Maafkan aku…” air matanya ia biarkan mengalir membasahi wajahnya setelah sejak tadi ia tahan dalam-dalam.


“Hallo… Akira…” Daylan mulai berbicara dengan Akira melalui panggilannya yang baru saja Akira angkat. “…tak apa, kau tak perlu menjawab… cukup dengarkan aku…! Akira, mungkin aku egois, tapi inilah satu-satunya caraku menjagamu dengan mencoba mempertahankanmu di sisiku… jika kau tak keberatan, maafkan aku dan kembalilah padaku…! Aku akan memperbaiki semuanya… aku mohon… pertimbangkan ini baik-baik…! Terima kasih untuk mengangkat panggilan ini dan semuanya sebelumnya… pastikan kau istirahat dan makan yang cukup selama kau tak kembali kesini… aku menunggumu…” KLIK.


 


******


Revan keluar dari kamar Daylan untuk menuju kamar mandi dan bersiap menyambut hari yang baru. “Kau sudah bangun?” tanya Daylan yang telah rapi dengan sebuah koper di samping-nya. Revan mengangkat pandangannya menatap Daylan. Namun, bibirnya diam tanpa kata. “Aku sudah menyiapkan makanan di meja makan. Aku menyimpan makanan yang cukup kau panas-kan di microwave jika kau ingin makan di kulkas. Aku ada keperluan mendadak di perusahaan cabang Busan, aku harus ke sana pagi ini.”


“Berapa lama kau akan tinggal di sana?”


“Mungkin satu minggu.”


“Oh…lalu, bagaimana dengan Akira dan Maura?”


“Aku sudah menelpon Akira, dan jika aku beruntung dia mungkin akan kembali ke apartemen. Aku titipkan dia padamu jika dia kembali sebelum urusanku selesai.” Daylan berdiri beranjak untuk menuju pintu.


“Bagaimana dengan Maura?”


“Aku akan memikirkannya nanti.”  Daylan mengambil satu langkah maju.


“Daylan…!”


“Aku tak akan lari, tapi tolong beri aku waktu…”


“Bagaimana aku bisa percaya jika kau benar-benar akan melakukannya?! Jika kau terus menundanya… yang akan lebih terluka… bukan hanya Akira…”


“Hmm. Aku tahu, karena itu akan berusaha untuk melakukannya secepatnya.” Daylan terus melangkah tanpa menoleh. KLEK. Ia menutup pintu apartemennya dari luar. “Bodoh… dengan wajah seperti itu… tanpa kau menyebutkannya sebagai orang yang sebenarnya sangat kau khawatirkan di awal pertanyaanmu untuk menjaga perasaanku dan menyembunyikan semua itu… bagaimana bisa kau berpikir aku tak akan menyadarinya…? Sampai kapan kau pikir aku akan terus tak tahu tentang perasaanmu pada Maura…?” Daylan berucap lemah pada dirinya sendiri lalu menggigit bibir sejenak dan kembali melangkah menuju mobilnya di tempat parkir.


“Bos, kami sudah menemukannya…” suara seseorang dalam sebuah mobil hitam di sebrang kompleks apartemen Daylan pada seseorang di sebrang telpon.

__ADS_1


“Bagus. Sekarang cari wanita yang ia selamatkan waktu itu…!”


“Baik, Bos!” Klik. Sambungan diputus.


 


******


KLEK. Revan membuka pintu apartemen Daylan yang baru saja di ketuk setelah membunyikan bel. “Huh…Akira?”


“Hmm. Aku kembali.”


Revan tersenyum. Lalu maju sedikit mengeluarkan badannya. Matanya tercekat. “Tara?” mata Revan berbinar.


“Hey, Revan?! Apa yang kau lakukan di apartemen seorang lelaki yang ditinggal istrinya sendirian…? He…he…he…” Tara tertawa meledek.


“Kau masih tak berubah!”


“Benarkah? Aku penasaran tentang itu…”


“Hey, kalian saling kenal?”


“Hmm.”


“Kalau begitu jangan membuat seolah dunia hanya milik kalian berdua saat aku di sini!” Revan dan Tara tertawa bersama.


“Ah, aku sampai lupa! Ayo masuk!” ketiganya masuk bersama.


“Kau mempersilakan kami masuk seperti ini rumahmu sendiri! Padahal jelas pemiliknya di sini!”


“Ah, ya… ya… maaf untuk bersikap seperti tuan rumah!”


“Wah, kalian sangat akrab, ya?”


“Tidak sama sekali!” sahut Revan dan Tara serempak. “Pffftt…” Akira menahan tawanya.


“Buatkan minuman yang manis dan enak!” Revan dan Tara kembali serempak menjawab. Akira tersenyum senang.


“Baiklah, minuman yang manis dan enak…!” Akira mulai melangkah menuju dapur.


“Oh, Akira! Kau sudah tahu jika Daylan sedang ada urusan bisnis di Busan?”


“Ya, dia memberitahuku lewat SMS.”


“Syukurlah jika begitu!” Akira melanjutkan langkahnya ke belakang.


“Wah, kau diam-diam tambah cantik, ya!?” Revan memulai reuninya dengan Tara dengan pujiannya.


“Trima kasih, meski kau terdengar tak serius mengatakannya…”


Revan tertawa. “Kau masih jujur dan selalu mengatakan apa yang ada di pikiranmu seperti dulu!”


“Oh, benarkah?”


“Kecuali tentang satu hal itu…”


“Hah… satu hal? Hal apa? Kau tak perlu sok tahu tentang rahasiaku! Dan jangan bersikap sok tahu seperti itu!”


“Hey, aku benar-benar tahu! Kau ingin aku mengatakannya?”


“Hah?! Kau pasti bercanda lagi, kan…!” Tara bergerak mendekat untuk memukul Revan, namun pukulannya tertahan tangan Revan. Mata keduanya bertemu.


“Kau hanya tak jujur tentang perasaanmu pada Erlangga…” mata Tara melebar tercekat menatap Revan. “…tak pernah sekalipun kau mengatakannya dengan jujur pada orang lain…” Tara tertunduk melemas. Revan tersentak. “Yah, walaupun, sikap dan tindakanmu sangat jelas dan jujur…!” Revan mencoba tersenyum sembari bercanda dengan kalimat terakhirnya setelah merasa bersalah melihat ekspresi Tara. Deg. Hati Akira tiba-tiba berdetak kuat saat ia mendengar percakapan Revan dan Tara secara tak sengaja dengan niatan sebenarnya untuk mengambil sesuatu di kamarnya sebelum membuat jus. Mata Akira melebar. Apa yang baru saja ia dengar? -Aku salah dengar, kan?- Akira memutuskan untuk sejenak bersembunyi lebih dulu. Dan mengamati apa yang terjadi dari balik tembok.


Tara kian tertunduk di hadapan Revan . “Hey, Tara…”


“Jangan katakan apapun pada Akira…” ucap Tara memaksakan bibirnya bergetar seiring dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Revan kembali tercekat. “…aku mohon…” “Syuuut…” tangan Revan menarik Tara masuk ke dalam rengkuhannya refleks.


“Maaf… aku tak bermaksud…” tangis Tara kian tak tertahan. Revan mengelus Tara pelan. –Kau pasti sudah tahu apa yang terjadi dan menahan air matamu di depan Akira selama kau di sini, kan? Quite painful, huh?[1] Dasar gadis bodoh! Kau terlalu baik untuk terluka…- mata Revan turut berkaca-kaca di balik rengkuhannya.

__ADS_1


Akira tercekat. Kekuatan kakinya melemah. Ia jatuh bersandar tembok perlahan. –Tara mempunyai perasaan yang sama denganku pada Daniel?- “Jika kau pikir ada lebih banyak orang yang mencintai Daylan dari pada Erlangga, kau salah besar. Karena ada banyak orang yang memiliki perasaan sama sepertimu untuk Erlangga. Kau hanya tak mengerti mereka…”


“…Aku tak mengatakan jika kembali pada Daylan adalah hal yang salah. Tapi, lalu bagaimana dengan Daniel…? Apa yang akan terjadi padanya…?” Ucapan Revan dan Tara kembali terngiang di benak Akira. Juga tentang panggilan Daniel. Kebanyakan orang memanggilnya Erlangga, dan satu-satunya yang mengajarinya memanggilnya Daniel adalah Tara. -Tara… kenapa kau tak pernah mengatakannya…? Bagaimana perasaannya setelah mendengar semua cerita tentang aku dan Daniel…?- Akira menutup mulutnya menahan tangis.


******


Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan jumpa pers penanda tanganan perjanjian kerjasama antara perusahaan Daylan dan sebuah perusahaan besar Korea sesaat setelah Daylan dan utusan perusaah besar tersebut berdiri berjabat tangan tanda sepakat. Kilatan blitz turut membanjiri ruangan. Acara usai Daylan beranjak meninggalkan ruangan bersama beberapa bodyguardnya.


Seorang wanita berdiri manis dengan tangan terlipat di dadanya berada tepat di pintu keluar-masuk ruangan jumpa pers. Kedua bola mata indahnya memandang Daylan dengan sesungging senyum kagum bahagianya.


Daylan menyapukan visualnya ke seluruh arah dengan senyum yang tersungging di bibirnya sebelum akhirnya visualnya bertemu dengan pandangan sosok yang sangat dikenalnya. Sosok yang saat ini tengah mengukirkan senyum termanisnya. Daylan tersentak berhenti terdiam menatapnya.


Daylan menarik kakinya melangkah elegan mendekat  ke arah wanita itu. Daylan mengalihkan pandangannya menunduk sejenak berpikir. –Apa yang dia pikir dia lakukan di sini?!- Daylan kembali mengangkat pandangannya sembari tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Sosok itu mengangkat tangan kanannya lalu melambaikannya ke arah Daylan. Mata Daylan melebar sejenak. –Apa yang sedang dia lakukan?!- Daylan terus berjalan berusaha tak


memperdulikan dan seolah tak mengenalnya. SRET. Wanita itu menarik lengan Daylan.


“Hey, Daylan! Bagaimana bisa kau bertindak seperti ini padaku?!” Daylan memejam menggigit bibir. –Sial!- Daylan menoleh.


“Apa yang kau lakukan di sini?”


“Menurutmu apa yang ku lakukan di sini?”


“Jangan bercanda! Kau…” “Cpret…cpret…” suara dan cahaya blitz seorang wartawan memutus ucapan Daylan. Wartawan tersebut mendekat.


“Apakah gadis ini adalah kekasih Anda?” tanya wartawan ang baru saja memotretnya. Maura tersenyum. Sedang Daylan tercekat. Kumpulan wartawan lain menoleh dan menyusul mendekat dan serta merta mengambil gambar. Daylan menutup wajahnya dengan punggung telapak tangan kanannya refleks dan secepat kilat menarik lengan gadis di sampingnya lalu berlari cepat kabur dari kejaran wartawan. Bodyguards Daylan menghalangi kejaran para wartawan sedang Daylan dan gadis yang kini ia genggam lengannya terus berlari


Senyum bahagia gadis itu berubah tawa. Ia merasa tiba-tiba sangat bahagia dapat berlari dengan lelaki yang dicintainya seperti dalam movie. “Apa yang kau lakukan di sini?!” tanya Daylan sembari terus berlari.


“Aku hanya ingin bertemu kekasihku dan melihat kesuksesannya. Apa itu salah?”


“Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu dan malah melakukan hal yang tak seharusnya di depan para wartawan?!”


“Tidak memberitahumu kau bilang? Tentu saja aku tidak memberitahumu karena aku ingin memberi surprise.”


Daylan menoleh ke arah gadis yang tengah lari dari kejaran wartawa bersamanya. “Surprise?! Kau bukan anak kecil Maura! Kau tahu itu dapat menimbulkan masalah dan salah paham, kan?!” nada bicara Daylan meninggi begitu saja dan segera kembali berlari memandang ke depan. Lari ini mengingatkannya pada pelariannya dan Akira saat kabur dari pertunangan mereka. Memorinya terputar jelas. Dadanya sakit, sesak, perasaannya merasa benar-benar bersalah. –Apa yang telah ku lakukan…?-


Maura tertunduk. Hatinya tiba-tiba terasa sakit dan kecewa mendengar perkataan Daylan. Langkahnya menyusul itu terhenti setelah itu. Daylan turut berhenti menyadari pemilik pergelangan tangan yang sedari tadi di genggamnya berusaha melepaskan tangannya. Badan Daylan berputar ke arah Maura yang sejenak tertunduk lalu mengangkat kepalanya. “Salah paham? Kau bilang orang bisa salah paham? Kau pikir apa hubungan kita sampai orang lain akan salah paham?! Bukankah kita memang sepasang kekasih? Atau mungkin hanya aku seorang yang


berpikir seperti itu?” Maura melebarkan matanya dengan wajah kecewa dalam tanya. “Lupakan, aku kecewa padamu!” Maura melangkah meninggalkan Daylan.


Daylan terdiam sejenak dalam luapan perasaannya. –Hhh… ini hari ulang tahunnya… apa yang ku lakukan padanya…? Apa yang harus ku lakukan…?!- Daylan menggigit bibir. Ia menyerai rambutnya kesal lau berlari mengejar Maura. Ssssrreett. Pergelangan Maura tertarik ke belakang. Tubuhnya berputar. Mata keduanya bertemu. “Maafkan aku… aku mohon…” Daylan tertunduk air matanya menetes. Rasa bersalah menyeruak di dadanya. Seberapa banyak lagi ia akan membuat orang menangis seperti ini? Maura tersenyum dalam kecewanya.


“Kenapa justru kau yang menangis?” Daylan hanya terdiam tanpa jawaban. “Angkat kepalamu! Dan jangan menangis lagi!”


Daylan menahan tangisnya dengan senyum lalu mengangkat kepalanya. “Karena kau sudah di sini, kenapa kita tidak pergi jalan-jalan bersama? Kita sudah lama tidak jalan-jalan berdua, bagaimana menurutmu?” Maura tersenyum mengiyakan. Daylan kembali menarik tangan Maura berlari menyusuri Kawasan Seomyeon dengan berderet-deret took, restoran, dan café di sepanjang jalan. Mata Daylan tertuju pasti pada suatu tempat. Langkahnya terhenti.


 


_________________


[1] Cukup menyakitkan, kan?


 


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!


Love you,


Yurizhia Ninawa


 


 

__ADS_1


__ADS_2