
Daylan tertawa kecil. “Saat ada seseorang yang memberikan sesuatu sebagai hadiah padamu, kau hanya perlu untuk tersenyum dan merasa bahagia menerimanya…”
Akira tersenyum. “Terima kasih!”
“Hmm. Aku harap kau suka!” Daylan lalu beranjak menuju kamarnya.
Akira terdiam berpikir, ”Dia benar, pasti membosankan jika hanya mendapat hadiah saat ulang tahun saja… tapi, sebentar lagi juga ulang tahunnya. Dan dia bahkan tak mengatakan apa-apa padaku tentang itu… Jika tadi aku tak melihat di KTP-nya mungkin aku juga tak akan tahu. Ah, Maura ternyata lebih beruntung dari yang aku kira! Daylan sebenarnya orang yang baik… mungkin…” Akira tersadar. “Apa yang aku pikirkan?! Aku sudah punya Daniel! Ah, ayolah, Akira! Daniel lebih baik, perhatian, dan dia juga sangat mencintaiku. Apa lagi yang aku harapkan? Ahhh, aku benci ini! Tapi, aku juga penasaran, sebenarnya apa ini? Aku harus membuatnya jelas!”
Akira beranjak ke kamar lalu membuka kotak hadiah yang diberikan Daylan kepadanya. Matanya melebar menatap isi kotak itu. Jemarinya meraih sebuah hairpin berbentuk kupu-kupu dengan warna biru toska mengkilap senada dengan dress dan gelang yang masih ada di dalam kotak. Akira tersenyum lalu beranjak menuju ke depan cermin memantaskan dress itu di depan tubuhnya. Ia kembali tersenyum. “Dia tak pernah salah memilih sesuatu untuk diberikan pada wanita…” komentarnya kemudian. Akira lalu meletakkan kembali dress itu dan meraih hairpin untuk
kemudian dipakainya. Akira kembali melihat dirinya di depan cermin lalu tersenyum. Kakinya membawanya melangkah berlari menuju kamar Daylan. Tangannya membuka pintu. Kepalanya melongok. “Day, boleh masuk?” tanyanya kemudian pada Daylan yang masih terlihat mengetik sesuatu di laptopnya.
“Hmm, tentu. Silakan masuk!”
Akira duduk di hadapan Daylan dengan senyumnya yang masih tak lekang dari kedua ujung bibirnya. Daylan memandanganya balik dengan senyum mengembang. “Kau memakainya?”
Senyum Akira kian mengembang. “Kau memperhatikannya?”
“Tentu saja. Lagi pula aku memberikan itu memang untuk kau pakai…”
“Apa aku terlihat cocok memakainya?”
“It suit you perfectly!” [1]
Akira tersenyum memerah. “Benarkah?”
“Hmm. Kau suka?”
“Tentu saja. Kau punya selera yang terlalu bagus untuk ditolak…”
“Benarkah? Aku senang mendengarnya.”
__ADS_1
“Hey Daylan!”
“Hmmm, kenapa?”
“A-aku ingin bertanya sesuatu…”
“Ya, silakan katakan…!”
“Tapi, ini agak sensitif…”
“Tak apa, katakanlah!”
“Baiklah, tapi kau janji tak akan tertawa atau marah!”
Daylan tertawa kecil. “Ya, aku tak akan tertawa atau marah. Sekarang katakanlah!”
“Sebenarnya… apa hubungan kita berdua?”
Jemari Daylan berhenti mengetik. Sebenarnya ia cukup kaget mendengar tanya itu, namun ia hanya berusaha tenang dengan berdiam sejenak. Ia kemudian kembali tersenyum dan menatap Akira dalam. “Kenapa kau menanyakannya?”
“Karena aku bingung… Jika aku mengatakan kita ini hanya teman, kita tak perlu tinggal bersama dan melakukan semua ini. Dan jika aku mengatakan bahwa hubungan kita adalah suami-istri kita juga hanya melakukannya sebagai sandiwara. Jadi, sebenarnya apa hubungan kita?”
“Sahabat?”
“Yah, seperti itulah. Mari terus menjadi sahabat yang baik!” Daylan mengulurkan tangannya untuk menyalami Akira.
Akira memandangnya ragu. Sahabat? Batinnya yang akhirnya tetap meraih tangan Daylan dan menjabatnya. “Hmm…” Akira mengiyakan dengan seulas senyum yang setengah dibuatnya.
********
“Ra, aku berangkat!” ucap Daylan sembari berjalan menuju pintu pada Akira yang tengah menyapu ruang tengah.
“Ya. Hati-hati, Day!” balas Akira kemudian.
__ADS_1
Usai menyapu Akira bergerak menuju kamarnya untuk mengambil handuk baru di lemari lalu mandi. Diambilnya handuk baru lalu ia melangkah menuju kamar mandi. Namun, langkahnya berhenti tepat di depan sebuah kalender harian, “Monday 8th May 2019”
Akira tersenyum. Sosok itu bahkan tak mengatakan apapun padanya dan hanya ngeloyor pergi. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Daylan. “Aku akan memberimu kejutan dan hadiah yang bagus nanti! Oh, juga makanan yang enak!” batin Akira yang kemudian melanjutkan langkahnya ke dalam kamar mandi.
Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 saat Akira telah usai membeli dan menyiapkan keperluan utama untuk ulang tahun Daylan. Cake, kado, serta berbagai pernak-pernik dekorasi ruangan yang akan ia pasang.
Dua jam berlalu dan selesailah Akira memasang semuanya. Ia lalu menyiapkan masakan yang akan ia sajikan di meja makan. Dan selesailah semuanya. “Yes, sempurna!” serunya senang. Namun, sedetik kemudian ia terdiam. Akira teringat bahwa masih tak ada sup rumput laut di atas meja. Ia telah mencari rumput laut kering sejak tadi pagi, namun entah mengapa semua tempat penjual yang ia kunjungi kehabisan stok untuk hari ini. Memorinya berputar, ia ingat ada satu tempat yang belum ia kunjungi. Ia memandang jam. 16.13. “Masih ada waktu. Daylan bilang dia akan pulang jam tujuh, kan? Aku masih bisa melakukannya!” batin Akira yang kemudian berlari menuju kamar dan segera membenarkan tampilannya lalu menyahut tas selempangnya dan menuju tempat yang ada dalam pikirannya.
Akira berjalan dengan wajah riang di sepanjang perjalanannya menuju tempat yang kemungkinan besar memiliki apa yang diinginkannya. “Aku akan membuatkan sup rumput yang terbaik dengan bahan terbaik untuk ulang tahun Daylan!” batinnya yakin dan senang.
Sampailah Akira di tempat tujuannya. Tempat yang menurutnya sedikit aneh sebagai tempat berjualan rumput laut kering terbaik karena cukup sepi. Namun, semua pikiran buruk dan ucapan Daylan, Yuri-ssi, serta pedagang di pasar tentang tempat ini lenyap seketika ketika ia melihat sebuah toko yang buka dengan pajangan banner
bergambar rumput laut kering dan rumput laut kering yang di pajang di etalase depan. Akira segera berlari ke arah toko itu lalu membeli rumput laut kering dengan kualitas terbaik dari yang terbaik menurut pemilik toko itu. Akira mulai melangkah pulang dengan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. Senang, puas, ia sangat bersyukur bisa mendapatkan bahan terbaik itu. Daylan pasti akan senang! Pikirnya.
“Sore, Nona! Sepertinya kau sedang bersenang-senang, boleh kami bergabung dan turut bersenang-senang?...” sebuah kalimat yang terlontar dari mulut seorang lelaki yang tengah bersandar di samping tembok dengan dua orang lain di belakangnya sontak menghancurkan pikiran Akira dan menghentikan langkahnya.
“Maaf, sepertinya aku salah jalan. Permisi…” Akira membalik badan khawatir lalu mulai melangkah cepat. Namun, terdengar jelas langkah-langkah dibelakangnya menyusul gegas. Akira berlari kian cepat. “Sial! Aku tak tahu arah!” Akira terus berlari tanpa mengetahui arah pasti yang ditujunya.
_________________
[1] Itu sangat cocok untukmu !
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, &
favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : nabila ubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
__ADS_1
Yurizhia Ninawa