
“Hmm…”Akira mengangguk. Daylan tersenyum. Apa yang terjadi pada pemuda ini dalam semalam? Kenapa ia berubah begitu drastis?” Maaf membuatmu repot melakukan semua ini…” senyum Daylan memudar. Ya, karena dialah yang seharusnya minta maaf. “Dan terima kasih sudah merawatku sampai sekarang…” Daylan kembali memandang Akira
lalu tersenyum. Ia lebih suka mendengarnya.
“Sekarang aku akan menyuapimu.”
“Hah? K-kau tidak perlu…”
“Sudahlah, kau belum bisa melakukannya sendiri! Biarkan aku melakukannya!”
“Tapi…”
“Tak ada tapi… cepat buka mulutmu…!”
“Aku sungguh bisa…” wajah Daylan berubah murung dan kecewa. “Hey, kenapa kau memasang wajah itu? Aku sungguh…”
“Aku membuatkan bubur dan sup ini khusus untukmu. Dan kau masih bersikap seperti itu
di depanku…”
“Apa maksudmu…”
Daylan meletakkan telapak tangannya di atas kening Akira. Akira tersentak. “Lihat! Kau
masih panas. Dan biar aku katakan sekali lagi padamu, jangan bersikap seolah kau kuat jika itu berat… Aku akan menyuapimu sekarang, titik.” Daylan tak terima kompromi dan langsung menyuapkan bubur buatannya ke mulut Akira. Akira yang sudah tak memiliki kata-kata lagi pun hanya menurut membuka mulutnya lalu mengunyah dan menelan sarapan paginya itu pelan.
********
“Hey, bukankah hari ini kau ada kuliah?” Akira bertanya pada Daylan yang sejak tadi duduk di kamarnya dengan sebuah buku di tangannya yang sedang ia baca.
“Ya. Kenapa?”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku…pergilah ke kam…”
“Aku malas. Aku tak ingin pergi ke sana. Jadi jangan memaksaku untuk pergi!”
Dua hari berikutnya….
“Hey, Daylan…”
“Hmm. Kau butuh sesuatu?”
“Hey, Daylan… kau harus pergi ke kampus! Kau sudah bolos dua hari hanya gara-gara aku…”
“Hanya gara-gara kau? Apa kau bercanda? Jangan pernah mengatakan jika dirimu hanya! Karena bahkan meski menurutmu kau tak berharga dan tak penting, kau tetap
berharga dan penting bagi seseorang tak peduli kapanpun dan dimanapun kau berada…”
__ADS_1
“Tapi, kau jadi ikut tidak masuk karena aku…”
“Jika kau ingin aku masuk seburuk itu, maka cepatlah sembuh dan pergi bersama ke kampus!” Akira memandang Daylan takjub dengan seulas senyum penuh arti.
Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Tapi, jika dengan sakit bisa membuatnya berubah sebaik ini, aku rasa aku tidak keberatan sakit berkali-kali. Pikir Akira.
*******
“Bagaimana rasanya?” Daylan bertantanya sembari duduk memandang Akira yang tengah memakan masakannya di hari ke empatnya sakit.
“Hmm…. rasanya… sangat-sangat enaakkk!”
“Benarkah?”
“Hmm. Kau harus mengajariku masak saat aku sudah benar-benar sembuh nanti!”
“Heeehh… kau mau masak? Aku tidak yakin soal itu…”
“Aku bilang aku minta kau mengajariku. Bukan masak sendiri… hemph…” Akira mengalihkan pandangannya dengan wajah sok sebalnya.
Daylan tersenyum lalu mengelus kepala Akira pelan. “Kalau begitu, cepatlah sembuh!”
Akira kembali meoleh ke arah Daylan. “Kau janji?”
“Ya, jika kau sudah benar-benar pulih.”
Akira tertawa senang. “Terima kasih, Daylan!”
“Terima kasih kembali! Cepatlah habiskan makanmu! Supnya tak akan enak jika sudah dingin…”
“Aku tidak lapar. Melihatmu makan sudah cukup membuatku kenyang.”
“Apa itu? Kau menyuruhku makan tapi kau sendiri tak mau makan…”
“Sudah ku bilang aku tidak lapar.”
“Tidak peduli. Cepat makan!”
“Akira…”
Akira menyendok makanannya lalu menyuapkannya ke arah Daylan. “Cepat buka mulutmu dan makan ini!”
“Hey, aku…” “Slluup…” sebuah sendok beserta isinya masuk tanpa permisi ke mulut Daylan.
Keduanya terdiam dengn jarak yang begitu dekat antara mereka. Daylan mematung
memandang Akira dan Akira mematung memegang sendok yang sedang berada dalam mulut Daylan.
“S-sampai kapan kau akan menahan sendok ini…” Akira berucap sembari menunduk nervous.
Daylan tersadar dan segera memasukkan makanan di sendok ke dalam mulutnya lalu melepaskan sendoknya. “Maaf…”
__ADS_1
“Hmm…”
“Ah, aku akan makan di ruang makan. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja aku…”
“Hmm…”
“Jangan lupa, selesaikan makanmu!” Daylan beranjak keluar kamar Akira. Ditutupnya pintu kamar dari luar. “Apa yang baru saja terjadi?” Tanya Daylan pada dirinya sendiri dengan beberapa jari menekan keningnya sembari berdiri membelakangi pintu. “Ini benar-benar buruk! Apa yang sebenarnya sedang aku lakukan? Hah… apa ini benar bersikap seperti ini padanya?” Daylan mulai melangkah ke meja makan.
Akira kembali meneruskan makannya. Namun, tiba-tiba ia tersadar. “Tunggu! Sendok ini… bukankah aku baru menyuapi Daylan dengan ini? Hah…?!” Akira menjerit dalam
hati. “Tapi, aku berpikir terlalu berlebihan! Apa yang salah dengan itu? Tidak ada masalah, kan? Lagi pula jika aku minta Daylan untuk mengambilkanku sendok lagi dia bisa tersinggung. Dan jika aku tidak menghabiskan makanku, dia akan marah.” Akira akhirnya pun kembali makan menggunakan sendok itu.
“Kalau dipikir-pikir, dia benar-benar sangat berbeda dari dirinya yang biasanya. Senyumnya bersama gadis itu waktu itu… aku juga melihatnya beberapa hari ini. Apa inilah dirinya yang sebenarnya? Seperti inikah ia pada wanita yang dicintainya? Ah, jika tahu begini, aku tak akan heran gadis bernama Maura itu rela LDR dengannya. Dia benar-benar sosok yang baik… Ah, tapi ini menyebalkan! Kenapa dia memperlakukan seperti itu di awal dan tiba-tiba berubah begini?”
“Jangan sampai kau menyukaiku…!” bisikkan Daylan saat menyelimutkan bed cover diam-diam malam itu tiba-tiba terputar di memori Akira.
Akira tersenyum. “Oh iya, bagaimana aku bisa lupa hal sesimpel itu? Dia melakukan semua itu agar aku tak menyukainya… tapi, sesekali sifat aslinya muncul dengan sangat menyebalkan seperti ini… Hhhh… aku tak mengerti dirinya yang mana yang lebih ku pilih. Yang menyebalkan seperti biasanya, atau sosoknya hari-hari ini?” Akira menghembuskan napas pelan. “Kanapa aku memikirkan hal-hal aneh begini? Dia sudah memiliki wanita lain… aku tidak mungkin mendapat tempat di hatinya… Hey, Akira! Ayo sadar dan bangunlah!”
“Aku sudah selesai makan. Aku akan melanjutkan belajarku disini.” Daylan kembali masuk ke kamar dan duduk di tempatnya menyudahi forum pembicaraan Akira pada dirinya sendiri.
“Ya, silakan.”
“Kau juga sudah selesai makan?” Daylan menengok ke dalam mangkuk.
“Ya. Aku juga sudah selesai.”
“Kau tak makan tomatnya lagi…”
“Aku sudah bilang aku tidak suka tomat…”
“Kau itu tau lebih baik dari aku jika tomat mengandung anti oksidan dan vitamin c yang baik untuk kesehatanmu. Dan kau masih tak mau memakannya…”
“Tapi…”
“Aku memasukkannya ke dalam sup khusus untukmu…”
-Ah, sial! Aku benar-benar tak berdaya jika dia sudah bilang begitu…- Akira bergerak
mengambil sendoklalu menyuapkan potongan tomat dimangkuk itu ke dalam mulutnya. Ia memejam menahan rasanya saat mengunyahnya.
“Maaf… aku tidak akan mencampurnya ke makananmu saat kau sehat nanti! Hanya makan itu supaya kau cepat baikkan!”
Akira membuka matanya mendengar ucapan itu. Kerjapan pertamanya disambut senyum tulus Daylan. Apa yang dia katakan? Di mana dia belajar meluluhkan hati orang seperti ini…
__________________
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. In sya Allah cerita kesayangan kita ini sebentar lagi akan dikontrak dan bila lulus proses kelanjutan kontrak kita akan bisa lebih sering update. So, buat teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^
__ADS_1
Love you,
Yurizhia Ninawa