Couple In Love

Couple In Love
Episode 62


__ADS_3

                                                    



 


*“Aku tahu ini berat, dan mungkin aku tidak berhak untuk berbicara disini, tapi Ra…” Revan memberi jeda panjang pada kalimatnya. “…kalau kau tak segera menjelaskan keputusanmu ke mereka… **tak peduli seberapa besar rasa takutmu melukai mereka, pada akhirnya justru kau benar-benar akan membuat mereka lebih terluka. Jadi tolong segera putuskan pilihanmu! Aku akan mendukungmu dan membantumu sebisaku… apapun keputusanmu…” Revan menatap Akira dalam meyakinkannya. Akira tersenyum mengangguk.*


“Sebelum aku memutuskannya, bisakah aku bertanya beberapa hal lagi padamu?” giliran Revan menganggukkan kepalanya. “Kau tahu tentang aku dan Daylan, tentang Maura dan Daylan, tentang aku dan Daniel, juga tentang Daniel dan Tara. Apa lagi yang kau tahu dank au rahasiakan sendiri selain semua itu?” mata Revan terbelalak. Ia


tak manjawab. “Pasti berat menyimpannya sendirian selama ini, bukan? Terima kasih untuk berusaha menyimpannya hingga saat ini. kau benar-benar baik dan tak ingin ada yang terluka karena mengetahui kenyataan itu sehingga kau memutuskan untuk diam, kan? Kau tak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin tahu dua hal, menurutmu siapa yang lebih Daylan cintai? Aku atau Maura? Dan apakah menurutmu Tara masih mencintai Daniel sebanyak ia mencintainya dulu?” bola mata Revan terangkat membulat tersentak akan tanya menusuk Akira. “Apa kau juga tak mau menjawabnya?” tanya penuh harap di ujung sebuah asa yang dimiliki Akira yang kembali berkaca-kaca setelah beberapa saat Revan hanya mampu menatapnya tanpa penjelasan.


“Haruskah kau mendengarnya?”


“Hmm. Aku harus tahu jawabannya untuk membulatkan keputusanku.”


“Kau yakin kau tak akan menyesal mendengarnya?” Akira menggeleng yakin. Revan menyunggingkan sebuah senyum berat di bibirnya.


“Baiklah. Aku akan menjawabnya murni menurutku, jadi sebaiknya kau memikirkannya lagi. Karena bahkan aku hanya manusia yang memiliki banyak sekali kesalahan.” Akira mengangguk. Revan melanjutkan ucapannya, “Untuk siapa yang lebih Daylan cintai, itu adalah pertanyaan yang hanya mampu dijawab oleh Daylan. Tapi sejauh yang ku


tahu, dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia mencintai Maura, sangat. Karena itulah dia tak pernah menomor duakannya. Dia bahkan sangat mempercayainya dan rela menjalin LDR dengannya selama kuliah. Tapi, baru kali


ini aku melihatnya menangis frustasi karena seorang wanita. Dia seperti hampir gila saat kau meninggalkannya. Dari awal perjodohan kalian aku tahu dia tidak mencitaimu, karena itu aku berpesan padamu di hari pernikahan kalian untuk menjaganya. Dan karena itu pula, begitu aku melihatnya terduduk dalam depresinya di apartemen kalian aku berucap refleks, ‘Jangan katakana padaku, kau…’ dia melanjukan kata-kataku dengan pengiya-an. Dia mencintaimu, Akira. Meski mungkin ia akan butuh waktu sedikit lebih lama untuk menghapus Maura.” Akira mendesah saat Revan sejenak menghentikan katanya.


“Kau tidak menjawabnya begitu karena kasihan padaku, kan?”


Revan tersenyum. “Hhh… utuk apa aku melakukannya? Kalau aku hanya ingin kau memilih Daylan, aku tak akan pernah bilang dan nyuruh mu untuk milih Daniel, kan?”


“Baiklah, aku percaya kau jujur. Lalu bagaimana dengan pertanyaanku yang berikutnya?”


“Menurutku Tara tidak mencintai Daniel sebanyak dia mencintai Daniel dulu.”


“Hah?! Apa yang membuatmu yakin dia sudah tidak cinta Daniel sebanyak dulu?”


“Karena sekarang dia jauh lebih mencintai Daniel. Dia lebih mencintai Daniel bahkan setelah semua itu. Ya, percaya atau nggak, aku udah bilang kalau kita mirip, jadi aku tahu banget dia. Denger, Ra… ketika seseorang bisa mencintai kamu dalam diam, melindungi kamu, merhatiin kamu, dan berusaha yang terbaik buat kamu di belakang kamu bahkan ketika kamu udah nyakitin dia, ditambah kenyataan bahwa semua yang dia lakuin tanpa sepengetahuan kamu, nurut kamu gimana rasanya? Saat seseorang mampu untuk bahkan lebih terluka demi kebahagiaan orang lain, saat itulah perasaan yang ada pantas disebut lebih. Itulah yang buat aku yakin kalau dia lebih sayang sama Daniel sekarang. Karena dia lebih memilih untuk tinggal sama kamu dan minta kamu sebisanya untuk tak menyakiti Daniel.” Akira tersenyum bersamaan dengan air mata yang menetes tanpa disadarinya karena


membayangkan perasaan Tara. Dia benar-benar wanita yang hebat. Akira tersenyum menatap Revan mantap.


“Aku akan segera memberitahu mereka akan keputusanku.”

__ADS_1


Revan turut tersenyum. Ia tahu benar ini bukan hal yang mudah. “Hmm. Hanya aku mohon, jangan melakukannya karena orang lain! Lakukan karena dirimu menginginkannya!” Akira mengangguk mantap masih dengan senyumnya. Ya, ia akan segera memberitahu Daniel dan Daylan atas keputusan finalnya.


*******


Suara lift berdenting dan sedetik kemudian pintu lift terbuka. Akira dan Revan yang baru saja pulang dari café segera masuk untuk menuju apartement Akira dan Daylan yang ada di lantai delapan.


“Aku akan menemanimu mengatakan keputusanmu jika kau takut mengatakannya sendirian.” Tawar Revan pada Akira sesaat setelah menekan tombol lantai tujuan mereka. Akira tersenyum.


“Hhh… kau benar-benar laki-laki yang baik! Istrimu nanti pasti akan sangat bahagia memiliki suami seperti dirimu!”


“Hhh…” Revan mendesah tak percaya. “Berhenti meberiku pujian yang terasa seperti fitnah seperti itu!”


“Hey, aku jujur, tulus, dan serius!”


“Sayang sekali, bahkan wanita yang ku cintai tak ingin melihatku berdekatan dengan dirinya bahkan hanya untuk sekedar melihatnya tersenyum.” Senyum  buatan  Revan menghias bibirnya yang membuatnya tampak lebih tampan, meski di mata Akira perrbuatannya itu sangat jelas terbaca. Akir terdiam sejenak.


“Aku tak tahu wanita bodoh mana yang menolakmu. Dia pasti akan menyesal karena melakukan semua ini padamu!” Revan hanya tersenyum tanpa menjawabnya. –Kau mungkin akan kaget dan menarik ucapanmu jika kau tahu bahwa wanita adalah wanita yang pertama kali menaklukkan hati pria yang mungkin juga telah menaklukkan hatimu. Kau bahkan mungkin akan mewajarinya memilih lelaki itu dari pada aku…- Akira menyadari senyum tanpa jawaban Revan dengan sebesit insting yang ada dalam sanubarinya. “Aku tahu kau jujur tentang kau tak mempunyai perasaan pada Tara. Tapi, aku sangat berharap kau akan menjadi pria yang kelak mendampingi Tara…” Akira berharap tulus tiba-tiba yang tentunya mengagetkan Revan.


“Hhh… Apa yang kau katakan, Akira? Kau tahu lebih dari wanita manapun bahwa dia masih sangat mencintai Daniel. Kecuali…” ucapan Revan diputusnya sejenak. “…kau telah memutuskan untuk memilihnya…” lanjut Revan enggan.


Akira tersenyum. “Aku tak keberatan kau berpikir seperti itu. tapi, jika aku boleh jujur, jika aku menjadi wanita yang kau sukai sejauh ini sebelum bertemu Daylan dan Daniel, aku tak akan menolakmu. Kau terlalu baik untuk disia-siakan, kau tahu?” tanya yang tak perlu jawaban itu mengakhiri percakapan keduanya dengan tawa ringan mereka.


Di sisi lain di apartemen Akira dan Daylan, Tara tengah memasang sebuah hairpin berbentuk bunga mawar putih di kanan rambut bergelombangnya yang panjang sepunggung dan ia biarkan urai indah. Ia tersenyum manis di depan cermin melihat penampilannya hari. Sebuah dress putih di bawah lutut membalut tubuhnya dengan sangat cantik


bertanya-tanya dimana keberadaan Revan dan sepupunya yang tak terdengar sejak satu jam lalu.


Ting tong. Bel apartemen berbunyi seolah menjawab tanyanya. Ia bergegas menuju pintu dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya yang membuat semakin elok dirinya. Rambutnya tergerak indah ke samping kanan tubuhnya yang membuka pintu menyamping sembari menyembulkan dirinya dari balik daun pintu.


Mata Tara melebar begitu maniknya bertemu manik sosok di balik pintu yang dibukanya. Tak urung sosok dihadapannya turut membulatkan matanya menunjukkan keterkejutannya mendapati sosok Tara. Pudar sudah senyum yang terukir di bibir Tara. Kaki kanannya mundur selangkah refleks. Dadanya tiba-tiba nyeri. Namun, ia berusaha sebisa mungkin kembali mengukirkan senyum di bibirnya dan mengatur balance emosinya yang sebenarnya sangat tak karuan itu seperti biasa setiap waktu mempertemukan mereka dalam scenario yang sebenarnya tak diinginkannya.


“Ah… Da…” ucap Tara salting yang segera dipotong sosok di hadapannya.


“Ngapain loe di sini?” tanya tak bersahabat dengan mode loe-gue yang terlontar dari bibir sosok di hadapannya sedikit mengagetkan Tara. Lidah Tara tiba-tiba terasa berat menjawab tanya yang begitu simple namun terasa menusuk itu. Ia hanya mampu tersenyum. Sosok itu bukan sosok yang dulu dikenalnya,  namun, bahkan setelah mengetahuinya, mengapa perasaan itu masih saja ada? Sosok itu mendesah. Mungkin ia kesal tak mendapat


jawaban. “Hey, Tara! Aku bertanya padamu…” ucap sosok itu lagi malas.


“Ah, maaf…! Kau pasti mencari A-…” sosok itu menatap Tara dalam lalu kembali memotong ucapannya.


“Aku bertanya apa yang kau lakukan disini?!” gertaknya tegas mengagetkan Tara. Ia tahu sosok di hadapannya sedang sangat tak stabil. Tapi, kenapa… dia menumpahkannya pada Tara seperti ini? mata itu masih menuntut jawaban.

__ADS_1


“Maaf…” hanya kalimat itu yang mampu lolos dari bibir manis Tara. Beberapa derap langkah mendekat menemani keheningan yang sontak tercipta. Namun, suara langkah yang mendekat itu tak mampu mengusik reuni kedua sosok yang akan sangat berbeda jika keduanya bertemu di tempat umum atau setidaknya saat ada orang lain di sekitar mereka. Tentu saja semua itu hanya acting belaka, dan beginilah ceritanya jika mereka hanya berdua.


“Hhh… lagi… dari dulu hanya itu yang mampu kau katakan. Aku lelah mendengarnya. Aku tahu perasaanmu padaku, tapi tolong jangan membuatku membencimu seumur hidupku seperti ini! Jangan bertindak seperti iblis dalam jubah malaikat!” Tara tercekat. Ia mengangkat visualnya menatap sosok di hadapannya tak mengerti. “Kau tak perlu menjelaskannya padaku. Kau tahu lebih dari siapapun bahwa aku orang yang perspektif, jadi kau cukup diam. Jangan berusaha mendapatkanku dengan cara selicik ini! Kau pasti sadar sepenuhnya, Akira itu sepupumu,  jadi hentikan ini! Dan satu lagi, berhenti mempengeruhi Akira untuk memilih Daylan dan meninggalkanku…!” mata Tara sontak melebar. Tangannya yang sedari tadi memegang knop pintu kini menggenggamnya erat untuk bertumpu karena kakinya telah gemetar menahan ucapan-ucapan sosok itu, hatinya nyeri, dan dadanya benar-benar sesak. Bibir indahnya yang biasanya selalu mengeluarkan banyak ucapan ceria mendadak hanya mampu terkatup tanpa kata sembari digigitnya pelan untuk menahan air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya meminta dikeluarkan. “Move!” ucap sosok itu dingin menerobos Tara yang seketika itu hampir ambruk tergesek bahu sosok itu. Air mata Tara menetes. Sosok itu terhenti sejenak tanpa Tara sadari. Ia menyadari perubahan wajah Tara dan reaksinya atas ucapannya. Gadis bodoh! Mengapa kau masih tak berubah…? Batin sosok itu tanpa menoleh. Ia mengumpat dalam diam. Terserahlah! Ia bertekad untuk hanya peduli pada dirinya. Ia mulai berteriak memanggil Akira, “Akira…! Akira…! Akira…” sosok itu terus masuk ke dalam meninggalkan Tara di depan pintu yang hancur berkeping-keping. Bulir air matanya jatuh satu-persatu. Hingga dua pasang kaki terhenti di depannya.


Pemilik kaki-kaki itu menatapnya heran. Apa yang terjadi…?


“Tara…” panggil kedua sosok di  depannya. Tara hanya menggigit bibir bawahnya menahan lagi bulir air matanya agar tak jatuh.


“Kalian… pu-lang…?” tanya terbata yang Tara akhiri dengan senyum palsu di bibirnya makin membuat dua sosok yang sedari tadi ditunggunya itu justru merasa khawatir. Keduanya tak bertanya. Namun, Revan yang merupakan salah satu sosok yang ditunggunya itu sontak mendekat lalu memeluknya. Mata Akira melebar refleks dari keterkejutannya menyaksikan impuls Revan pada Tara.


“Kau baik-baik saja?” tanya Revan kemudian. Tara hanya mengangguk tanpa kata, namun air matanya justru kembali menetes dalam anggukannya di bahu Revan. Revan tak bertanya lebih. Ia tahu gadis ini berbohong untuk menutupi lukanya. Ia mengelus rambut Tara pelan menenangkannya.


“Akira…!” panggilan itu menggema dari dalam apartemen, memperjelas semuanya bagi Revan dan Akira. Akira bersembunyi sejenak di balik tembok luar apartemennya. Revan melepaskan pelukannya. Pemilik suara itu tampak kaget melihat Revan berdiri di hadapannya. Namun ia segera mengembalikan keseimbangan emosinya. “Hhh… apa lagi ini? Apa penghuni apartemen ini berganti pasangan atau sesuatu?” mata Revan melebar. Namun, ia masih


berusaha sabar mendengar ucapan itu.


“Hhh… kau tak pantas menanyakannya. Apa yang orang terdidik sepertimu lakukan di rumah orang sekarang ini, huh? Menerobos masuk paksa seorang wanita lemah seperti itu… apa yang kau pikir sedang kau lakukan?”


“Hhh… aku rasa aku tak butuh izin darinya. Dia bukan pemilik rumah ini dan dia juga di sini bukan untuk tujuan yang baik-baik.  Jadi aku rasa aku bebas masuk  dan melewatinya.” Mata Revan mulai tersulut merah.


“Apa maksudmu?”


“Hhh… berhentilah pura-pura bodoh! Kau tahu lebih baik dari siapapun bahwa gadis di belakangmu itu mencintaiku, dan saat ini dia ada di sini berusaha untuk merusak hubunganku dan sepupunya untuk mendapatkanku!”


“Sialan kau, Daniel!” Revan bergerak maju dengan tangan kanan mengepal yang telah siap ia layangkan pada sosok yang tak lain adalah Daniel. Namun, sedetik sebelum pukulan itu menyentuh tubuh Daniel, Tara menarik Revan mundur dengan memeluknya dan menahan tangannya. Revan menoleh ke arah Tara. Ia tampak menggeleng dengan tetesan air matanya. Damn! Batin Revan menarik mundur tangannya. Daniel mendengus melihat drama di depan matanya.


“Kenapa kalian tak menikah saja? Kalian pasangan yang sangat serasi!” komentar Daniel kemudian.


 


____________________


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!

__ADS_1


Love you,


Yurizhia Ninawa


__ADS_2