
Keduanya menuju kamar masing-masing yang terletak cukup jauh satu sama lain. Akira masuk ke dalam kamarnya. “Hhhh… bagaimana aku harus mengakhirinya saat semuanya sudah sejauh ini?” tanyanya pada diri sendiri sesaat setelah melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.
Akira kembali memaksa matanya memejam. Namun lagi, usahanya gagal. Matanya tetap tak bisa memejam dengan segudang pikiran dan pertanyaan yang tak mampu dijawabnya. “Apakah sebaiknya aku dan Daylan saja yang berpisah? Sepertinya akan lebih mudah.”
“Tok… tok… tok…” pintu kamar Akira berbunyi terketuk.
Akira menoleh ke arah pintu. “Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?” Akira membatin. Ketukan pintu itu kembali berulang. Akira yakin ia tak salah dengar. Ia beranjak dari tempat tidurnya. Kakinya melangkah mendekat ke pintu. “Siapa?” tanya Akira kemudian.
“Aku…” sahut suara dari luar tanpa menyebut inisial. Mata Akira membulat. Ia jelas mengenal suara itu. Apa yang dia pikir sedang dia lakukan malam-malam begini di sini?!
“Akira… buka pintunya… aku mohon…!”
“Kembalilah ke tempatmu! Aku tak akan membuka pintu.”
“Oh, gawat! Sepertinya ada orang yang datang. Apa yang harus ku lakukan? Aku tak bisa bersembunyi atau lari…” Klek. Akira membuka pintu refleks yang segera dimasuki Daylan. Daylan segera mengunci pintu kembali.
“Apa yang kau pikir kau lakukan di sini?! Bagaimana jika kita ketahuan?!”
“Tenanglah, mereka semua sudah tidur.”
“Hah…?! Kau bilang ada yang datang. Jadi, kau bohong?”
“Aku tidak bilang begitu. Aku bilang sepertinya ada.”
“Hhhh… sekarang cepat keluar!”
“Tidak mau.”
“Apa?!”
“Aku bilang aku tidak mau. Aku sudah susah payah masuk ke sini, bagaimana bisa aku keluar tanpa melakukan apapun.”
“Hhhh… kau… aish! Jika ada yang ingin kau katakan cepat katakan!”
“Bagaimana jika kita jujur pada mereka besok?”
“Apa?”
“Bagaimana jika kita katakan semuanya pada mereka besok?” Akira menatap Daylan tak percaya. “Kau benar-benar… bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?! Kau bahkan bisa datang ke sini saat kekasihmu ada di bangunan yang sama, bagaimana kau bisa mengatakan jika selama ini kau mencintainya?! Apa kau tak berpikir bagaimana kagetnya mereka dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?! Apa kau benar-benar gila?!”
“Gila? Bagaimana aku bisa tak gila saat dua wanita yang sangat berharga bagiku ada di satu tempat di depan mataku?! Kau pikir aku sama sekali tak memikirkannya?”
“Bagaimana bisa kau mengatakan kau memiliki dua wanita yang berharga bagimu di depanku? Bagaimana kau bisa…”
“Karena aku tak ingin menyembunyikan apapun darimu…”
“Hhhh… aku tak tahan lagi. Sebaiknya kita henti…”
“Cukup! Aku tak ingin mendengarnya.”
“Apa maksudmu? Bahkan tanpa mendengarnya kau tahu jelas apa yang akan ku katakan. Kau juga masih mencintainya, kan? Kau juga tak bisa melepaskannya, kan? Kau juga dengar betapa seriusnya mereka membicarakan tentang pernikahan, kan? Bagaimana aku bisa…”
__ADS_1
“Kau benar. Itu bohong jika aku bilang aku sudah tak mencintainya sama sekali. Tapi, aku harus memilih seseorang untuk ku selamatkan dengan mengorbankan seorang yang lainnya. Karena jika tidak, bukan hanya aku dan kau, tapi semua orang yang ada di vila ini, tak ada satupun yang akan bahagia. Dan aku tak mungkin membiarkannya begitu saja.”
“Jadi kau memilih untuk menyelamatkanku?”
“Hmm…”
“Apa kau yakin? Bagaimana jika aku lebih memilih untuk bersama Daniel?”
Mata Daylan memerah tak menyangka mendengar kalimat itu dari Akira. “Hhhh… jangan bercanda! Itu satu-satunya pilihan yang tidak mungkin.”
“Apa kau bilang? Bercanda? Aku tidak bercanda! Aku lebih setuju jika kita yang bubar dan…”
“Kau mengatakannya… kau mengatakannya lagi semudah itu…” mata Daylan kian berkaca-kaca. Ia menatap Akira dalam. “Kau mencintainya sebanyak itu?” setetes air mata Daylan menetes bersamaan dengan langkahnya mendekat ke Akira. Daylan menggebrakkan tangan kanannya ke tembok memojokkan Akira.
“Daylan… apa yang kau laku-kan…?”
“Aku telah mengambil milikmu yang pertama tanpa izin, karena itu, aku juga akan memberikan milikku yang pertama untukmu…”
“Daylan, kita tidak boleh mela…” sebuah sentuhan lembut yang tak mampu dihindarinya memutus ucapan Akira. Suasana seketika hening. Mungkin sebagian dari dirinya sebenarnya juga mengharapkannya. Setetes air mata Daylan jatuh membasahi pipinya. Daylan mengambil satu langkah mundur. Disentuhnya pipi Akira pelan.
“Maaf membawamu masuk dalam masalah ini sampai sejauh ini… Maaf untuk membuatmu terluka seperti ini… aku berjanji tak akan membahas masalah ini lagi… kau bisa bersamanya seperti yang kau inginkan… sejenak… beri aku waktu sejenak untuk menyudahi urusanku dengan semua ini… sampai saat itu tiba… tetaplah tinggal bersama seperti biasanya… setelah itu… setelah itu… kau bisa melakukan yang kau inginkan bersamanya…” Daylan melepas sentuhan tangannya dari pipi Akira bersamaan dengan air mata yang mulai berjatuhan meski ia tahan. “selamat ulang tahun, Akira…” Daylan menarik langkahnya ke arah pintu lalu meletakkan sesuatu di atas meja di kamar Akira sebelum keluar. Sebuah kotak kecil dengan balutan kertas bercorak dan berwarna indah lengkap dengan pita di atasnya.
Klek. Tangan Daylan menggengam erat gagang pintu yang dipeganggnya menahan perasaannya serta air mata yang tak mampu ditahannya. Ia memaksa kakinya melangkah di tengah luka dan deraian air mata menuju kamarnya. Klek. Daylan menutup pintu kamarnya. Tubuhnya jatuh tersandar duduk di balik pintu. Senarai air matanya jatuh ke atas lantai. Apa ini? Perasaan apa yang membuatnya menangis seperti ini? Apakah ini sesuatu yang disebut cinta? Atau mungkin hanya karena dirinya merasa dibodohi karena percaya bahwa Akira mampu melihatnya sebagai dirinya sendiri dengan akhir justru lebih memilih Daniel dari pada dirinya? Tak satupun tanyanya
terjawab. Ia hanya meluapkannya dengan tangis sendirinya.
*******
Akira kembali membaca pesan itu setelah Daniel memberinya kejutan dan hadiah ulang tahun sesampainya mereka di Seoul. Hari telah menginjak malam, hampir memasuki tengah malam. Akira masih berdiri di ambang pintu masuk gerbang apartemennya. Haruskah ia pulang ke apartemen? Atau mungkinkah sebaiknya ia menginap di hotel saja untuk malam ini? Akira menghembuskan napas panjang lalu bertekad. Aku harus pulang dan menyelesaikan semuanya. Yakinnya sembari melangkah masuk area apartemen. Kakinya terus membawanya melangkah tegak menuju apartemennya. Ditekannya bel masuk tiga kali. Namun, tak ada jawaban. Jemarinya akhirnya mengetikkan password masuk.
Klek. Pintu terbuka. Akira mulai melangkah masuk ke dalam apartemen yang gelap tanpa penerangan. Ia berjalan mendekat ke arah saklar untuk menghidupkan lampu. Ctek. Lampu apartemennya hidup. Ia lalu menoleh. Matanya melebar. Apa ini? Aku pasti bermimpi. Akira mencubit pipinya meyakinkan diri. Ini nyata. Dilihatnya tatanan ruang dan tulisan indah di dinding dengan lampu kerlap-kerlip yang juga mulai hidup. Kue tar dan lilin yang belum dihidupkan turut menghiasi meja berisi berbagai macam makanan lain. Hanya ada satu yang aneh. Kepala Daylan juga turut tergeletak dimeja dengan dua telapak tangannya sebagai alas penopangnya. Akira mendekat ke arah Daylan lalu meletakkan tasnya dan duduk di sampingnya. Akira bertopang dagu dengan tangan kanannya sembari memandang Daylan.
Dia selalu bodoh seperti biasanya. Mengharapkan suatu hal namun bertindak kebalikannya untuk mendapatkannya. “Bagaimana bisa kau memintaku untuk tak menyukaimu dengan melakukan hal-hal ini, Bodoh?” Akira membatin. Aku bohong jika aku tak pernah memikirkanmu dan sama sekali tak punya perasaan padamu setelah semuanya. Karena itu, aku akan mengatakannya sekali, “Maaf, karena sepertinya… aku… tak bisa menepati janjiku…” jemari Akira tergerak menyeka rambut Daylan. “Maaf… karena aku… mungkin…” Akira melantunkan kata terakhir dari untaian terputusnya pelan di telinga Daylan. Ia lalu kembali menarik tubuhnya dengan seulas senyum di bibirnya dan beranjak untuk menuju kamarnya. Akira mengambil langkah pertamanya.
“Kau mau meningggalkanku begitu saja…?” tanya Daylan saat tangannya telah meraih lengan Akira. Mata Akira melebar kaget. Daylan mengangkat kepalanya. “Duduklah…! Aku telah menghabiskan banyak tenaga dan waktuku untuk membuat semua ini dan menunggumu. Jadi, bagaimanapun itu, setidaknya hargai dan makanlah sedikit bersamaku…” Akira tak mampu berkata-kata dan masih tetap terdiam dalam posisi setengah tegak karena lengannya ditarik Daylan ke arahnya. Hanya wajahnya yang tampak berubah kian gugup dan nervous mengingat kata-kata yang baru saja ia bisikkan ke telinga Daylan. Apakah ia mendengarnya…? Akira pun akhirnya hanya duduk perlahan menurut.
Daylan menyalakan korek api untuk menghidupkan lilin kue ulang tahun Akira dengan seulas senyum di bibirnya.
“Taraa… Kuemu sudah siap!” Daylan menyodorkan kue itu pada Akira. “Selamat ulang tahun, Akira!” Akira terdiam bengong terkesima dengan kegugupan rasa penasarannya apakah Daylan sungguh tak mendengar apa yang ia katakan sehingga ia tetap bersikap biasa. Daylan tertawa kecil melihat ekspresi Akira. “Bukankah seharusnya kau bertrimakasih di saat-saat seperti ini?” ucapnya meledek kemudian.
“Oh, tentu! Aku bertrimakasih padamu untuk semua ini…” ucap Akira akhirnya dengan senyum buatannya. Daylan tertawa.
“Ekspresimu itu lebih pantas dikatakan sebagai nervous dari pada ekspresi bertrima-kasih.”
“Ehh…? A-aku…”
“Cepatlah buat permintaan dan tiup lilinmu!” Daylan memotong ucapan nervous Akira yang disadarinya dengan seulas senyum tulusnya.
Akira terdiam sejenak kembali ke keadaan stabilnya. Ia tersenyum tipis. “ Tanpa lagu?”
“Merayakannya seperti itu hanya akan membuatnya seperti perayaan-perayaan orang lain yang tak spesial dan akan berujung membosankan. Sudah kubilang aku tidak suka itu, kan?”
Akira kembali mengukir senyum di ujung kedua bibirnya lalu bergerak mendorong tubuhnya ke depan sembari memejamkan kedua visualnya sejenak kemudian meniup lilin di atas kue ulang tahunnya. Ah, iya… Daylan pernah bilang dia tidak suka cara seperti itu…
__ADS_1
Akira menarik tubuhnya sedikit mundur lalu membuka visualnya. Matanya melebar terdiam dengan dentuman di hati dan jantung yang tak dimengertinya mendapati wajah Daylan yang tiba-tiba telah berada begitu dekat dengan wajahnya bertemankan senyum khas menghiasi wajah tampan Daylan.
“Apa yang baru saja kau minta…?” tanya Daylan masih dengan senyum mengembang berharap ingin tahunya. Akira masih terdiam tak mampu berkata-kata. “Hey, Akira…! Kau baik-baik saja?” Daylan menggerakkan telapak tangannya menyentuh kening Akira. Terlalu dekat. Akira memejamkan matanya refleks. “Hey, kau baik-baik saja! Apa kau mendengar apa yang ku katakan?” Daylan menarik tubuhnya sedikit mundur.
“Oh, maaf…! Apa yang tadi kau katakan?”
“Permintaanmu… apa itu?” ulang Daylan setelah memasang wajah tak menyangka Akira tak mendengarnya sejak tadi.
“Oh, itu… itu…”
“Ah, rahasia, ya?” tebak Daylan menyimpukan sendiri. “Baiklah. Kalau begitu…” Daylan bergerak mengangkat sesuatu. “…taraa….! Your special gift….!” Daylan tersenyum tulus sembari meletakkan sebuah kotak berukuran 50 cm berwarna biru dengan pita besar nan cantik menghiasnya di hadapan Akira. Akira kian tercekat diam. Bagaimana bisa dia bersikap seolah tak ada apa-apa setelah apa yang kemarin malam dia lakukan padaku?Setelah kata-kataku padanya, setelah aku menyakitinya, setelah kenyataan menyadarkanku bahwa ia hanya melakukan hal itu karena ingin menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat dan memberikan hadiah padaku, bagaimana dia bisa…?
Daylan bertopang dagu sembari menggenggamkan jemari tangannya dan tersenyum indah ke arah Akira. “Selamat… Akira…” ungkapnya kemudian.
Bibir Akira bergetar. Tak mampu berkata sembari menatap wajah Daylan. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah kotak hadiah Daylan untuknya. Jemari lentiknya menyentuh kotak itu pelan. “Tapi…, kau sudah memberikan hadiahmu unttukku kemarin, kan?”
“Hmm. Tapi, seperti yang ku bilang, ini hadiah spesialmu. Sebagai terima kasih juga maaf atas semuanya…” Akira menoleh ke arah Daylan yang memotong ucapannya sendiri. “…dan juga semua masakan ini… aku harap rasanya lebih baik dari perasaan dan perlakuanku… Aku harap moment ini bisa kembali memperbaiki hubungan kita… meski aku tahu, kau tak akan mungkin memaafkanku hanya dengan hadiah dan perlakuan seperti ini. Dan juga maaf karena memaksamu begitu keras untuk tetap tinggal di sampingku dan meninggalkannya setelah semuanya… Aku tak seharusnya melakukannya… sekali lagi maafkan aku… dan…mari hidup bersama seperti biasanya!”
“Ah, sepertinya kue dan makanannya enak! Ayo kita potong dan makan bersama!” Akira tersenyum mengalihkan pembicaraan sembari meraih pisau untuk memotong kue yang telah disediakan Daylan.
“Aku tak akan memaksamu untuk tinggal bersama dan memilihku lagi. Kau berhak menentukan pilihanmu. Dan ini hadiah special untuk kita!” Daylan tersenyum melanjutkan apa yang ingin diucapkannya tanpa terpengaruh pengalihan ucapan Akira sembari mengeluarkan sebuah kotak kecil. Akira kembali terperanjat. Lagi?
“Apa itu?”
“Berikan tanganmu!” Daylan mengulurkan tangan kirinya meminta tangan Akira. Akira terdiam memandang Daylan. Apa lagi sekarang ini? Bukannya tadi ia bilang untuk hidup bersama seperti biasanya? Daylan menggerakkan tangannya sembari tersenyum mengisyaratkan pada Akira untuk mengulurkan tangannya. Akira akhirnya mengulurkan tangannya pelan. Daylan kembali tersenyum dengan pergelangan tangan kiri yang digenggamnya dan tangan kanannya yang membuka kotak yang tadi dikeluarkannya. Pandangan Akira terkunci pada Daylan tanpa memperhatikan apa isi dari kotak yang dibukannya yang tiba-tiba telah melingkar di pergelangannya. Daylan tak langsung melepas tangan Akira. Sejenak ia memasang sesuatu pula di tangannya. “Selesai!” seru Daylan penuh senyum gembiranya sembari menunjukkan pergelangan tangannya dan tangan Akira yang kini terlingkari pasangan gelang yang sama.
“I-ni…”
“Gelang pengikat persahabatan antara kita. Mari menjadi sahabat yang baik mulai dari sekarang dan seterusnya!”
Akira tersenyum mengeratkan gigi-giginya dibalik ukiran kedua ujung bibirnya menyembunyikan air mata yang telah berada di ujung tanduknya. Daylan melakukan semuanya hanya untuk ini? Bahkan jika ia mengatakan untuk hanya menjadi sahabat, bukankah itu ia lakukan hanya untukku? Mungkinkah cinta berubah hanya sebatas menjadi persahabatan? Dan apa yang akan ku lakukan selanjutnya?
******
Mentari mulai meninggi menyebarkan cahaya-cahayanya ke seantero Negeri Gingseng. Daylan melangkah keluar kamar usai mandi dan bersiap. Langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya. Senyumnya mengembang menatap lurus ke depan. Sosok itu… ini menyenangkan untuk dapat bahkan hanya melihatnya ada di sisiku seperti ini setiap hari. Pikirnya.
________________
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1