
“**Yeah, aku tahu aku tak pantas berkomentar. Tapi, kau mempertaruhkan semuanya dengan
melakukan ini. Maksudku, kau tahu konsekuensi dari apa yang kau lakukan, kan?”
“Hhh… I don’t really have a chance with her to begin with.”[1**]
“Lalu kau mau membuangnya begitu saja saat kau sebenarnya mendapat kesempatan?”
“Ada apa ini? Biasanya kau sangat membenci orang ketiga, kenapa kau mendukungku? Dan lagi, dari mana kau tahu aku memiliki kesempatan?”
“Kau benar, aku benci orang ketiga, tapi karena dari caranya berbicaranya aku rasa dia tak begitu menyukai suaminya atau mungkin hubungan mereka sedang tidak baik, atau
justru memang tak pernah baik, jadi kau memiliki kesempatan.”
“Hmmm, begitukah?”
“Aku rasa dia bahkan tak percaya jika suaminya akan datang. Walaupun tentu saja itu menambah rate keberhasilanmu, tapi tampaknya ada sesuatu yang janggal. Apa kau tahu sesuatu tentang itu?”
“Itu tak penting, aku tak ingin membicarakan sesuatu yang merusak mood-ku.” Jawab
Ren malas. Ya, karena ada sesuatu yang hanya ia sendiri yang menyadarinya. Perasaan Daylan. Ren sebagai laki-laki tahu benar lewat percakapan di telpon itu. Itu bukan cara seorang lelai yang tidak mencintai seorang wanita bereaksi.
“Baiklah, aku tak akan membahasnya. Aku yakin kemungkinanmu untuk mempertahan-kannya lebih besar. Aku kenal dirimu. Kau tak akan bertaruh besar hanya untuk kemungkinan kemenangan yang tipis. Itu dirimu.” Tutup Sang paham sembari mengucapkan sesuatu tersirat yang mengganjal hatinya. Ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya di seberang telpon itu.
“Hmm. Persiapkan semua dengan matang. Kau tahu Geum adalah salah satu dari yang
terbaik dalam urusan berkelahi dan adu otot, dan dia saja bisa terkapar seperti itu di rumah sakit. Kita tak bisa meremehkannya.”
“Baiklah, aku akan menyiapkannya. Meski aku tidak yakin dia akan datang.”
“Hmmm.” Lagi-lagi hanya deheman malas itu yang terlontar dari mulut Ren sebelum
akhirnya ia mengakhiri telpon sembari tersenyum pahit. “Dia akan datang. Aku tahu pasti itu.” Ucapnya yakin sembari menertawakan dirinya sendiri dalam hati
setelah menutup telpon. Apakah ia siap untuk benar-benar kehilangan Akira sepenuhnya? Tanya Sang yang mengusiknya itu membuatnya mengukir senyum pedih di
wajah tampannya. Setelah bertahun-tahun ia mengira Akira mati karena ulahnya, merutuki diri sendiri dan tak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali keluarganya dan Hyeri sebagai hukuman yang ia beri untuk dirinya sendiri. Dan setelah semua itu, saat ia tak sengaja menemukan fakta mengejutkan bahwa istri dari seseorang yang telah membuat anak buah kesayangannya cidera parah adalah sosok gadis yang pernah melumpuhkan hatinya, yang pernah ia kira mati karena melindunginya. Akankah ia membuang kesempatan itu begitu saja?
Tentu saja tidak. Itulah alasan ia mengambil langkah ini. Mempertaruhkan segalanya di
titik ini. Walaupun kemungkinan ia akan menang dan mendapatkan Akira kecil, ia
tetap melakukannya. Ya, ini bukan seperti dirinya. Dirinya yang biasanya tak akan melakukan hal ini.
Lalu tentang apakah ia benar-benar siap dengan resiko kekalahannya. Mengetahuinya pergi itu pasti menyakitkan. Namun sungguh, itu akan lebih terasa pedih saat ia melihat
sosok yang begitu didambanya ada di dekatnya namun tak pernah bisa ia raih
dalam rengkuhannya. Ia melakukan semua ini untuk dirinya, juga untuk sosok yang sangat dicintainya itu. Bila memang Akira membencinya dan memutuskan kembali
pada suaminya itu, setidaknya sebuah kesalahpahaman akan tertuntaskan antara
mereka berdua, kembali memulai semua dari awal, meski tentu saja tak kan mudah, dan bila kemungkinan terburuk dan paling tak diharapkan olehnya itu terwujud nyata, maka ia akan menganggap itu sebagai hukuman terakhirnya. Ya, yang terakhir…
**************
BBBRRRAAKKK
Suara gebrakan pintu terdengar mengagetkan semua sosok dalam ruangan tertutup yang di
__ADS_1
klaim sebagai markas kecil oleh lelaki bernama Lee Ren yang mengangkat telpon
Akira malam itu. Namun, keterkejutan itu tak bertahan lama kecuali di wajah seorang wanita yang saat ini tengah terikat di atas sebuah kursi. Seketika itu sosok lelaki yang sempat duduk di depan Akira tersenyum menyeringai.
“Kau hebat juga bisa masuk ke dalam sini secepat ini. Aku harus memberimu pengharga-an.” Ucap sosok itu kemudian. Ia lalu berbalik menatap Akira yang tampak masih sangat shock lalu berkata, “Lihat Nona, dia datang. Tebakanku benar, jadi kau
harus memberiku hadiah dan tidak bertindak gegabah.” Akira segera tersadar dari
keterkejutannya. Daylan hendak membuka mulut untuk bicara.
“Apa yang kau lakukan di sini, Bodoh?!” jerit Akira memotong apapun kata yang telah sampai di tenggorokan Daylan sembari berusaha berontak dengan menggerakkan tangan dan kakinya kuat-kuat agar terlepas dari ikatan. Daylan tampak kaget sejenak. “Aku sudah bilang jangan datang dan kau tidak mendengarkanku!” semburnya lagi. Ini
bukan Akira yang biasanya, batin Daylan yang masih berusaha menormalkan napasnya. Tampak sisa-sisa peluh di pelipisnya, juga sebuah goresan di ujung bibir yang menodai wajah tampannya sebagai bukti ia baru saja berkelahi.
“Hey, kau seharusnya tetap diam dan tak berulah seperti yang sudah ku sarankan tadi,
Nona. Jangan memaksaku melakukan sesuatu yang tak kuinginkan. Kau tahu aku
tidak main-main dengan kata-kataku.” Tegas lelaki di depan Akira tadi sembari menoleh ke arah Akira dengan nada seolah candaan ringan berisi ancaman tegas. Akira mengangkat pandangannya menatap lelaki di depannya dan mengingat kejadian satu jam yang lalu.
“Hmmm… aku mulai bosan menunggu suamimu, Nona.” Adu Sang pada Akira yang sejak tadi hanya diam saja.
“Sudah ku bilang dia tak akan datang. Kenapa kau tak percaya dan harus lelah-lelah menunggu seperti ini?” Sang terdiam menatap lekat wanita di hadapannya. Ia bisa
merasakan sakit yang ia sendiri tak tahu mengapa hanya dari mendengar jawaban
gadis itu. Apa sebenarnya yang membuatnya sampai seperti ini? “Hhh… Aku benar-benar tak paham dengan jalan pikir laki-laki!” ucapan lanjutan itu seketika membuat Sang tergelak hingga menampilkan kebingung-an bawahannya
“Tentu saja kau tidak tahu, karena kau bukan laki-laki, Nona…” Akira melempar tatapan malas dan sebalnya pada Sang. “Aku tak mengerti masalah apa yang kau miliki dengan
suamimu. Tapi, jujur aku penasaran apa yang membuatmu begitu yakin dia tak akan datang menolongmu kemari. Apakah kau mengatakannya karena menurutmu dia tidak
mencintaimu?” Akira menajamkan tatapannya pada Sang. “Atau karena kau tahu dia memiliki wanita lain yang membuatnya tak mungkin datang kemari untukmu?” mata Akira melebar dengan kedua tangan terikat di lengan kursi yang tampak mengepal pasti menahan emosinya. Sang tersenyum penuh kemenangan merasa tebakannya pasti benar, bull’s eye! “Kenapa kau diam?” tanya Sang kemudian ingin memancing reaksi Akira. Akira mendengus pelan.
terukir di bibirnya.
“Baiklah, karena kau tak suka aku ikut campur urusanmu, aku tak akan ikut campur. Tapi,
sebagai gantinya…” Sang memutus ucapannya sejenak sembari mendekatkan kepalanya kearah telinga Akira. “… bagaimana jika kita bertaruh?” lanjutnya berbisik. Akira tertawa sumbang menanggapi ide konyol lelaki di hadapannya itu. Untuk apa bertaruh pada sesuatu yang sudah jelas akan kalah?
“Apa ang sebenarnya ada di kepalamu sampai kau sebegitu yakinnya membela suamiku yang jelas-jelas tak akan datang?”
“Dan apa yang membuatmu takut bertaruh saat kau tahu pasti kau yang akan menang? Apa kau diam-diam sebenarnya berharap dia akan datang di balik kenyataan yang kau tau
itu?”
“Apa?!” mulut Akira melebar dengan bola mata memutar jengah. “Hhhh… dari mana kau dapat ide gila itu?”
“Kalau begitu mari bertaruh!” skakmat. Akira hampir menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan sesuatu, namun ucapan Sang menduluinya, “Well, aku tak perlu persetujuanmu untuk taruhan ini. Hanya ingat baik-baik, jika aku menang dan suamimu datang, kau harus bersikap baik dan menurut, tak perlu membuat drama dengan menangis,
menolong, atau melawan untuk melindunginya.” Sosok itu menjeda ucapannya dan menatap Akira dengan sebuah senyum yang tiba-tiba saja membuat Akira khawatir dan takut. Apa yang sebenarnya terjadi dan direncanakan pria ini. Apa yang akan mereka lakukan pada Daylan jika Daylan sampai datang? “Dan jangan lupa, beri aku hadiah!” lanjut Sang kemudian dengan seringai jenakanya yang membuat Akira sejenak terperangah. Ya Tuhan, apa lagi ini?!
“Halo!” Sapa Sang pada orang di seberang telpon dengan nomor yang baru saja didialnya. “What a fast respond!” sahut Sang kemudian setelah ia mendengar sebuah
suara dari seberag telpon. Mata Akira melebar cemas mengikuti arah gerakan
sosok di hadapannya yang tengah tersenyum evil. Bagaimana bisa ia dengan bodohnya tak memikirkan nasib Daylan jika sampai dia datang?
“Dengar, aku akan datang! Jadi, jangan lakukan apapun padanya!” ucap suara yang begitu dikenal Akira dari seberang telepon sesaat setelah sosok di hadapannya menekan ikon loud speaker. Mata Akira kian melebar terkejut mendengar ucapan yang terdengar begitu jelas khawatir itu. TIDAK MUNGKIN!!!
“Well, seperti yang telah kita sepakati, kau tau kau punya waktu paling lambat satu jam lagi. Jika, kau terlambat lebih dari lima menit, aku akan membawanya menjauh darimu…”
__ADS_1
“Damn! Jangan bicara seolah tempat persembunyianmu mudah ditemukan!” umpat Daylan kesal yang juga terdengar jelas oleh semua orang di ruangan.
“Ha..ha..ha… bagaimana aku bisa percaya jika kau hanya kesulitan mencari lokasi kami saat
istrimu saja tak percaya kau akan datang untuknya?” kalimat penuh sindiran itu tak terdengar mendapat sahutan. Baik Daylan maupun Akira merasa begitu tertusuk dengan kata-kata itu. Daylan seketika tak mampu bersuara karena bagaimanapun niatnya, ia sangat sadar cara yang ia lakukan bukanlah cara yang bisa seratus persen dibenarkan. Sedangkan Akira terdiam karena rasa bersalah dan ego yang berkecamuk dalam hatinya. Entahlah, Akira sendiri tak mengerti mengapa ia merasa bersalah padahal ia telah melihat sendiri kelakuan Daylan. Bahkan jujur,
hatinya tak urung begitu mengkhawatirkan sosok yang menomorduakannya itu.
“Biarkan aku mendengar suaranya…” pinta Daylan dengan suara melembut memohon yang seketika terasa begitu mencubit hati Akira.
“Jian…!” salah satu pria datang mendekat ke arah Akira. Sosok itu mengeluarkan pisau lipatnya. Ia memainkannya sejenak di depan Akira sebelum tangan lincahnya secara cepat
mengarahkan pisau itu ke Akira. “Aaaa…” Jerit Akira yang seketika mengagetkan Daylan di seberang telpon. Khawatir meniupkan panik tak berkesudahan di hati Daylan. Ia hampir menjerit marah dan kembali mengumpat. Namun, begitu mulutnya terbuka apa yang ia ucapkan 180 derajat berbeda dengan inginnya.
“Aku mohon… aku akan melakukan apapun, tapi tolong, jangan melakukan hal buruk apapun padanya…” sebuah suara tulus akhirnya terdengar dari seberang telpon yang masih dari sosok yang sama itu sukses mengejutkan Akira. Matanya kembali melebar
sejenak. Tidak mungkin! Akira meyakinkan bahwa dirinya pasti salah dengar. Sedangkan sosok di hadapannya kembali menampilkan senyum smirk penuh kemenangannya pada Akira.
“Jangan datang kemari…! Aaa….” Jeritan Akira yang membuat Daylan terperanjat itu segera
berhenti seketika pisau lipat itu kembali di arahkan ke badannya. Sejenak Daylan merasa bahagia dan sedih sekaligus. Bibir Daylan kembali mengatup saat sebuah suara menduluinya untuk berucap.
“Well, aku akan mempertimbangkannya setelah satu jam ke depan.” Klik. Sambungan diputus sepihak oleh Sang usai ia mengatakan kalimat ringan namun penuh ancaman terselubung itu.
“Apa yang akan kau lakukan padanya?!” tanya sarat kesal dan kewaspadaan itu akhirnya
terlontar dari bibir Akira. Sang tersenyum lalu menatap lekat Akira.
“Aku kira kau tak percaya dia akan datang.” Akira tak menjawab dan hanya menatap nyalang Sang. “Heeh…sepertinya ada yang penasaran…” ledek Sang. Sang mendekat ke arah Akira lalu berbisik, “Mungkin aku akan membunuhnya…” Akira menegang sedang Sang segera melenggang dari hadapannya dengan dering telponnya yang berbunyi. Akira
segera sadar dari ketercekatannya dan segera mengumpat.
“Jika kau punya masalah dengan ku jangan libatkan orang lain! Dia bukan suamiku!” teriak Akira yang hanya dianggap angin lalu oleh Sang dan orang-orang dalam ruangan
itu. Akira tak mengerti perasaan apa yang tiba-tiba menyeruak membuat dadanya sesak. Mengapa semuanya jadi serumit ini? Akira memutuskan diam lalu berpikir apa yang akan ia lakukan dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi nanti.
**********
Akira menggenggamkan buku-buku jarinya kuat dengan pergelangan tangan yang masih
terikat di kursi. Ia berusaha mengendalikan gemuruh dalam hatinya untuk menghadapi kejadian di hadapannya ini. Daylan memandang dalam sosok Akira. Tangannya terkepal menahan luapan amarah yang siap ia ledakkan. Tawa tiba-tiba Sang membuat arah tatapan Daylan dan Akira seketika menuju Sang. “Such a romantic reunion, huh?” tanya yang seketika mengembalikan Akira dan Daylan ke dunia nyata mereka. “Kalian bahkan
dengan teganya melupakan kami yang berada di sini.” Ledeknya lagi. “Dan aku kira Tuan Putri kita tadi begitu yakin mengatakan pangerannya tak akan datang.” Mata Akira melebar sedang tatapan Daylan telah kembali lagi pada Akira. Manik keduanya bertemu dan seketika itu sebuah senyum tipis Daylan sunggingkan di bibirnya. Ia tahu benar kenapa istrinya itu mengatakannya. Daylan melangkah mendekat ke arah Akira. Namun, baru selangkah ia berjalan sebuah pemukul bisbol terulur menghalanginya melangkah lebih jauh. Daylan segera menoleh ke arah
sosok di sebelah kanan yang menghalangi langkahnya. Pandangan keduanya mengunci. Tak satupun mau mengalah untuk menarik tatapannya. Sang tersenyum. Jian memang selalu yang terbaik, batinnya menanggapi suasana intens dan panas di depannya.
“Dia bukan suamiku!” teriakan tiba-tiba Akira membuat semua mata mengalih padanya. Entahkah apa yang diucapkannya, namun jujur saja, meski mungkin Daylan pantas menerimanya, tapi hatinya serasa tersayat mendengarnya.
_________________
[1] Lagi pula dari awal aku tak pernah mempunyai kesempatan dengannya .
***Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
__ADS_1
Yurizhia Ninawa***