Couple In Love

Couple In Love
Episode 49


__ADS_3

                                                            



 


“Kau bukan orang yang cukup bodoh untuk melakukan suatu kesalahan fatal. Bagaimana bisa kau melakukan ini?” mata Erlangga berkaca-kaca. Daylan terkesima tak menyangka. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan kakak bodonya itu? “Aku tahu ini berat. Aku tahu kau sangat mencintainya…tapi, apa kau tak berpikir bagaimana perasaan istrimu jika dia mengetahui ini?! Dia akan sangat terluka. Bahkan Maura, apa yang kau rencanakan dengan tak memberitahunya? Ia bilang padaku bahwa ia berniat menikah denganmu. Dia berharap dan percaya padamu sebanyak itu, tapi apa yang kau lakukan?! Apa kau berencana menceraikan istrimu lalu menikah dengan Maura? Atau kau hanya mengulur waktu karena tak siap berpisah dengan Maura?”


Daylan terdiam tanpa jawaban. Matanya turut berkaca-kaca. ia tak menyangka akan mendengar semua kata ini terlontar dari bibir orang yang paling dibencinya. Satu yang kini ia tahu pasti, Erlangga benar-benar tak mengerti bahwa istri Daylan yang dia sebut-sebut adalah kekasihnya.


“Daylan, tak akan ada yang bahagia jika kau tak memutuskannya sekarang. Jika takdir menduluimu untuk mengambil keputusan, maka bukan hanya istrimu, bahkan Maura dan dirimu juga akan lebih terluka…”  tambah


Erlangga.


Air mata Daylan menetes. -Kau pasti juga akan sangat terluka jika kau mengetahui kenyataannya…-


“Aku tak akan memberitahu Maura tentang ini. Ini masalahmu, kau sendiri yang harus mengakhirinya. Aku hanya ingin kau tahu, terkadang untuk mencintai seseorang kau harus menyakiti orang lain… kau harus menentukan siapa yang akan kau selamatkan dan bahagiakan serta siapa yang akan kau sakiti…” Erlangga kemudian berlalu meninggalkan Daylan sendiri bersama bintang di langit malam Jeju.


Daylan jatuh terduduk dalam tangisnya. Tak ada yang akan bahagia jika aku tak memutuskannya sekarang? Pertanyaan itu membuat air matanya menderas. Benar. Jika ia tak segera membuat keputusan. Akira akan terluka lagi, Maura yang bisa sewaktu-waktu mengetahuinya juga akan terluka, dan Erlangga yang tak pernah menyangka juga akan terluka… dan dari semua itu, ia juga akan melukai dirinya sendiri lagi untuk menanggung rasa bersalah atas semuanya….


*******


“Aku sudah mengirim semua foto kita kemarin di line masing-masing. Pastikan untuk menyimpannya dan menjadikannya sebagai wallpaper!” umum Maura semangat saat sarapan. Semuanya tersenyum mendengarnya. “Oh ya, ini hari terakhir kita bersama! Nanti malam aku dan Daylan akan kembali ke Seoul. Bagaimana dengan


Akira dan Kak Erlangga?”


“Mmm… kami juga akan pulang malam ini.” jawab Daniel sembari menyuapkan sepotong roti ke mulutnya.


“Kalau begitu, ayo kita eksplore Jeju dengan sepeda bersama! Itu pasti akan sangat menyenagkan!”


“Heeh… sepeda?”


“Hmm, sepeda?”


“Aku tak bisa naik sepeda…” Akira menunduk malu.


“Apa maksudmu kau tak bisa naik sepeda?” Akira mengangkat wajahnya memandang Maura. “Pangeranmu akan memboncengmu, dan kau hanya perlu duduk manis atau berdiri di belakang. Mudah, kan?” Maura tersenyum menyarankan. “Lagi pula hanya ada dua sepeda, jadi kita akan naik berpasangan!”


“Hhhh, kau tak pernah lelah, ya…” tanggap Daylan dengan senyum tipis di bibirnya. Maura turut tersenyum.


“ Baiklah, kita akan jalan-jalan bersama naik sepeda!” Erlangga turut bersemangat setuju.


Sarapan usai. Dan dimulailan acara penelusuran Jeju mereka. Daylan membonceng Maura dan Erlangga membonceng Akira. Keduanya mulai mengayuh dengan Daylan di depan sebagai penunjuk jalan. Tepatnya Maura yang menunjukinya jalan.


“Hwaaa…” Akira dan Maura berseru senang sembari melentangkan tangan mereka. Mereka begitu menikmati penelusuran mereka. Sesekali mereka bercengkrama serta berhenti dan melihat-lihat tempat yang menarik. Tentu saja tak lupa mengambil foto bersama. Mereka benar-benar all out untuk jalan bersama terakhir mereka kali ini.


Mereka berhenti di sebuah pasar aksesoris di pinggiran jalan. Langkah Daylan terhenti bersamaan dengan dering telponnya. “Maura kau jalan duluan, aku akan segera menyusul!” ucapnya kemudian mengangkat telpon masuk. Maura hanya tersenyum mengiyakan.


Daylan menutup telponnya lalu menyusul Maura dan yang lainnya. Dan lagi langkah kaki Daylan kembali terhenti di belakang dua gadis yang ia sukai. Pikirannya melayang. Aku harus memilih salah satu dari mereka untuk ku cintai dan ku sakiti. Bagaimana bisa aku menyakiti mereka… mereka berdua begitu berharga bagiku… tapi… Hhh…apa yang harus ku lakukan…?


 


******


 


Daniel tersenyum memandang Daylan dan Maura yang tengah memilih-milih aksesoris beberapa langkah di depannya. “Aku tak menyangka bisa bersama Daylan seperti ini lagi.” Ungkapnya pada Akira tiba-tiba.


Akira tersenyum. “Kalian sebenarnya saling perhatian satu sama lain. Tapi kalian menutupinya dengan ego kalian sehingga tampak seperti sangat bermusuhan.”


“Ya, mungkin kau bisa bilang begitu. Sebenarnya dulu kami sangat dekat, tapi keadaan tak juga berubah, dia menjadi sosok yang asing bagiku. Hhhh, meski sebenarnya aku sangat paham kenapa dia bertindak seperti itu. Tapi, aku rasa aku yang merasa tak mampu meraihnya  juga akhirnya justru turut membangun dinding di antara kami.” Keduanya kembali berjalan mengikuti Maura dan Daylan yang juga mulai berjalan di depan.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Daylan sebenarnya sosok adik yang sangat baik bagiku. Dan sebagai seseorang, dia sangat hebat dalam berbagai hal. Kami selalu bermain bersama dan melakukan sesuatu bersama. Awalnya semuanya baik-baik saja, tapi kebersamaan itu akhirnya harus berakhir juga…”


“Kenapa harus berakhir?”

__ADS_1


“Karena kami masih satu keluarga besar dan karena Daylan selalu bersamaku, dia sering dibanding-bandingkan denganku dalam semua yang dia lakukan. Semua yang dirasa kurang akan dibandingkan dengan kelebihanku, tapi bahkan saat dia melakukan sesuatu dengan sangat baik, image dari orang-orang dewasa di sekitarnya tetap mengatakan bahwa dia tak pernah mampu lebih hebat dariku. Namun, meski begitu, aku tahu dia berusaha bertahan bersamaku dengan senyum paksanya di depanku dan air mata di belakangku. Aku sering memergokinya menangis, tapi karena aku juga tak mampu melawan mereka yang membuatnya seperti itu, aku justru berpura-pura tak tahu. Hingga hari itu tiba…” Daniel menjeda ceritanya sejenak lalu tersenyum, “…nenek meninggal. Satu-satunya penopang Daylan meninggalkannya sendiri jauh di belakang.”


“Satu-satunya? Bagaimana dengan orang tuanya?”


“Entahlah. Orang tua memiliki cara mendidik yang berbeda-beda, dan itu mungkin cara orang tua Daylan mendidiknya. Tapi, sebagai anak kecil waktu itu, menurutku itu hal yang sangat salah dan fatal untuk membandingkan anak dengan orang lain secara berlebihan. Dia benar-benar sendiri menahan segalanya. Nenek sangat menyayangi Daylan dan mengerti benar keadaannya. Nenek mungkin satu-satunya orang yang mampu memandang Daylan sebagai Daylan, bukan adik sepupu dari Daniel. Dan karena ada neneklah mungkin Daylan masih mampu untuk terus bertahan dan tetap bersamaku. Tapi, sejak nenek meninggal dia benar-benar berubah. Dia hanya akan menunjukkan sikap baiknya pada orang tertentu yang bisa dipercayanya. Dia mungkin berpikir  jika orang itu akan terluka atau melukainya jika mengetahui dirinya yang sebenarnya. Dan dia mulai menjauh dariku dan memandangku sebagai saingan yang mengambil semua yang dimilikinya. Aku tak tahu harus bagaimana, tapi sebenarnya aku lebih merasa bersalah sejak hampir tiga tahun lalu padanya…”


“Kenapa?”


“Kau tahu saat aku pertama bertemu denganmu di pesta itu?”


“Aku tak tahu, tapi kau pernah menceritakannya padaku.”


“Beberapa hari setelah itu kakek memanggilku. Dia bilang dia akan menjodohkanku dengan seorang gadis dari keluarga temannya. Wajahku sontak berubah pasi mendengarnya. Yah, karena aku baru saja merasa menyukai seorang wanita dan sudah harus mengakhirinya tanpa usaha secepat itu. Tapi, setelah melihat wajahku atau mungkin hal lain, kakek kembali memanggilku. Aku tak bisa mengatakan tidak pada apa yang kakek katakan. Dan aku bersiap untuk bahkan menerima kemungkinan terburuk. Namun, ternyata kakek justru mengatakan padaku bahwa ia akan membatalkan perjodohan gadis itu denganku. Aku berhak menentukan pendampingku sendiri. Tapi, sebagai gantinya, Daylan harus menikahinya. Aku lebih kaget, tapi aku juga tak tahu harus bagaimana. Pernikahannya akan dilaksanakan setelah keduanya menyelesaikan kuliah mereka, dan kakek memintaku untuk diam dan mengatakannya pada siapapun. Aku merasa bersalah padanya. Dan aku rasa aku tak berhak untuk mengambil tindakan lanjut tentang perasaanku padamu karena aku harus bersiap untuk menikahinya jika Daylan memang tak mau dan tak bisa. Itulah mengapa selama dua tahun itu aku hanya menahan perasaanku padamu. Tapi, aku bersyukur sekarang aku bisa bersamamu seperti ini…”


Akira berusaha menyunggingkan senyum palsunya. “Jadi, Daylan dan Maura sudah menikah?” tanya Akira pura-pura tak mengerti.


“Oh, itu… belum. Tentu saja belum.” Daniel tertawa salah tingkah karena menyadari dirinya keceplosan.


“Jadi, Daylan dijohkan dengan Maura?”


“Mmm, mungkin. Aku juga tidak tahu tentang gadis yang akan dijodohkan dengannya. Jadi, bisa jadi…”


“Oh…” –Dia jelas berbohong dengan berkata mungkin. Dia jelas tahu gadis itu bukan Maura.-


“Akira… Kak Erlangga…!” Maura berteriak memanggil mereka dengan tangan melambai. “Kita akan makan dulu di sini!” tambahnya kemudian.


“Ya, masuk dan carilah tempat dulu! Kami akan menyusul.” Jawab Daniel sembari terus berjalan berdampingan dengan Akira.


Sebuah meja bundar besar dengan empat kursi di sekelilingnya menjadi tempat pilihan mereka untuk makan bersama. Makanan yang dipesan telah terhidang dengan corak rasa dan seni yang menggoda. Maura terlihat begitu memperhatikan Daylan. Dan Akira yang melihatnya kadang hanya terdiam tanpa memberi perlakuan khusus untuk Daniel. Namun, justru di tengah-tengah saat seperti itu, Daniel lah yang membuat suasana mereka berdua tampak romantis.


“Akira, makanan ini sangat enak. Cobalah!” Daniel menyodorkan sesendok makanan kepada Akira. Akira tersenyum tak mampu menolak lalu memakannya. “Bagaimana?”


“Hmm. Rasanya enak.”


-Hhhh, orang ini benar-benar menguji kesabaranku!- batin Daylan saat melihat Daniel dan Akira.


“Daylan, kau juga coba yang ini!” Maura ganti menyodorkan sesendok makanan pada Daylan.


“Memangnya mood mu masih buruk? Kenapa?”


“Sudahlah, kita lanjutkan makan saja.”


“Hey, Daylan! Kau tak perlu malu di depan Kak Erlangga dan Akira. Ya kan, Kak?”


“Hmm. Bersikap saja seperti biasanya!”


Daylan hanya tersenyum tanpa komentar tambahan sembari terus melanjutkan makannya. Maura turut tersenyum paham. Daylan tak suka ini. Pikirnya. “Kak Erlangga! Menurutmu, bagaimana perjalanan kali ini?” celetuk Maura mencoba mengganti suasana.


“Cukup menyenangkan. Aku tak menyangka double date bisa menyenangkan seperti ini.”


“Kalau begitu, ayo kita kesini bersama lagi setelah kita menikah nanti!”


“Huk… uhuk…” Akira tersedak mendengar ucapan penuh semangat dari Maura.


“Kau baik-baik saja?” Daniel menyodorkan minum pada Akira dan mengelus punggungnya pelan.


“Hmm. Maaf…” ucap Akira setelah minum dan kembali mengontrol stabilitas emosinya.


“Akira, kenapa kau sekaget itu? Kalian akan segera menikah, kan?” tanya Maura penasaran.


“Ya. Mungkin setelah aku menyelesaikan S2-ku.” Jawab Daniel mewakili. Akira tersentak dan menoleh memandang Daniel.


“Wah, itu tinggal sebentar lagi! Aku dan Daylan juga akan menyusul setelah menyelesaikan S2-kami.”


Suasana makan tiba-tiba berubah. Pembicaraan itu membuat Daylan dan Akira hanya mampu menyunggingkan senyum tipis getir mereka berdua. Membawa keduanya dalam sebuah perasaan bersalah yang hanya mampu mereka sembunyikan.


 

__ADS_1


********


Perjalanan bersama double date berakhir. Kedua pasangan yang telah bersiap pulang empat jam ke depan lagi itu pun akhirnya kembali menuju kamar mereka karena penerbangan malam itu dibatalkan dan diganti besok pagi.


“Oh, Akira! Kau belum tidur?” tanya Maura heran saat menemui Akira duduk memandang langit di balkon depan kamarnya.


“Langit malam ini terlalu sayang untuk di abaikan begitu saja. Lagi pula ini malam terakhir kita bersama. Siapa yang tahu kita bisa datang bersama lagi ke sini lain waktu.”


Maura tertawa. “Kau mengatakannya seperti kau menyembunyikan sesuatu yang akan membuat kita tak bisa datang ke sini bersama saja.”


“Benarkah? Aku juga penasaran.”


“Hey, Akira! Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa kenal Kak Erlangga dan pacaran dengannya?”


“Hah?”


“Maaf untuk bertanya seperti itu tiba-tiba. Aku hanya penasaran saja, dia akhirnya bisa mencintai seorang wanita juga.”


“Memangnya kenapa? Bukankah itu normal?”


“Dulu dia sangat takut terluka dan melukai orang lain. Dia sepertinya trauma dengan masalahnya dengan Daylan saat masih kecil dulu.”


“Oh, itu… itu sudah lama berlalu. Lagi pula dia sudah dewasa, dia memang sudah seharusnya berubah. Dan hubungannya dengan Daylan juga tak seperti hubungannya dengan wanita, kan?”


“Oh, kau sudah tahu tentang itu.”


“Maura, seberapa banyak yang kau tahu tentang Daylan?”


Maura menoleh tak menyangka. “Heeehh… kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”


“Aku lihat kau tahu sangat banyak tentangnya. Tentang masa lalunya dan apa saja yang ia suka dan tidak suka. Tentang lukanya saat masih kecil itu, apa yang kau tahu?”


“Hhhh… Daylan, ya?” Akira mengangguk mengiyakan. “Dia sebenarnya tak begitu membenci Erlangga. Tapi, ia terus memaksakan dirinya agar membencinya. Bersikap seolah ia yang menyakiti Erlangga saat sebenarnya dia yang terluka. Kau tahu Akira, kenapa seseorang melukai orang sangat berharga dan sangat ia cintai?”


“Kenapa?”


“Karena jika kita tidak melukainya sekarang, ia akan lebih terluka nantinya. Meski akibatnya ia akan menjadi yang paling terluka saat melakukannya.”


“Kenapa justru dia yang paling terluka?”


“Kau pikir karena siapa dia melakukan semuanya? Ia melakukan semua itu hanya untuk dan karena orang yang dicintainya. Dan bahkan meski itu untuk kebaikan orang yang dicintainya, ia rela menjadi sosok yang justru dibenci dan dianggap melukainya. Bagaimana bisa ia tak terluka saat semuanya seperti itu? Ia benar-benar menjadi


pahlawan yang diberi julukan pengkhianat total.”


“Lalu bagaimana ia bisa bertahan?”


Maura tersenyum. “Kata-kata itu memiliki kekuatan. Dan satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja. Dengan begitu, setidaknya ia tak perlu menampakkan air matanya.”


“Seperti yang diharapkan dari calon istri Daylan.”


“Kau berlebihan! Oh ya, besok kita harus berangkat pagi-pagi, sebaiknya kita istirahat!”


“Hmm. Ayo istirahat!”


Keduanya menuju kamar masing-masing yang terletak cukup jauh satu sama lain. Akira masuk ke dalam kamarnya. “Hhhh… bagaimana aku harus mengakhirinya saat semuanya sudah sejauh ini?” tanyanya pada diri sendiri sesaat setelah melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.


 


_____________


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!

__ADS_1


Love you,


Yurizhia Ninawa


__ADS_2