Couple In Love

Couple In Love
Episode 55


__ADS_3

                



 


“Kalau begitu, kita tukar saja! Aku akan berikan semuanya padamu, dan berikan Akira padaku…!” tanggap Erlangga serius. Daylan kembali tercekat melemas mendengar tanggapan Erlangga. Erlangga menarik tangannya lalu beranjak meninggalkan Daylan cepat.


Erlangga melangkah secepat mungkin membawa hatinya yang masih dipenuhi rasa marah, kesal, dan kecewanya. Matanya masih merah, wajahnya turut berekspresi. “Brakk…!” dibantingnya pintu mobil. “Hhaaaa…!!!” “Dag” Erlangga menjerit lalu menggebrak stir mobilnya kuat-kuat. Air matanya tak terbendung lagi, tangisnya meluap.


Daylan ternganga lemas. Tubuhnya bergoncang hendak jatuh. Telapak kakinya melangkah mundur teratur sedikit demi sedikit. Keseimbangannya seolah menghilang. Raganya kembali terhempas di atas sofa. Telapak tangannya menepuk dahinya pelan. Dadanya menghembuskan napas-napas berat. “Mengapa jadi serumit ini…?”


 


 


*****


“Aku pulang…!” seru Akira riang mengabarkan kepulangannya dengan satu plastic berisi sayuran dan bahan makanan lain di masing-masing tangannya. Namun, aneh. Apartemennya terasa sangat senyap, berlawanan dengan apa yang diharapkannya. Sambutan ringan dan menyenangkan seperti biasanya dari Daylan. Seperti


mengagetkannya saat baru membuka pintu. Meski biasanya Akira berlaga dongkol, tapi sebenarnya ia menyukainya. Padahal hari ini Daylan tak ada kuliah. Tapi, sudahlah. Akira tak ingin merusak hari bahagia yang telah ia rancang semalam. Kuliah sebentar, belanja, masak, makan siang bersama, jalan, dinner di luar, dan… Aish! Akira segera menghentikan pikirannya yang mulai melayang bebas. Tangannya meraih sandal rumah yang ada di rak samping tembok lalu memakainya menggantikan sepatunya.


Akira menghentikan langkahnya. Dilihatnya sosok yang diharapkannya tegah terdiam aneh di sofa. No thing to say[1] Yang benar saja, masih kesambet apa, ya? Pikir Akira yang mulai merasa aneh dan penasaran. Tapi, belajar dari Daniel, Akira terus berlalu ke dapur sembari tersenyum seolah tak memerdulikannya.


Tangannya meletakkan dua plastik yang dibawanya. Matanya menerawangn ke arah sosok yang sejak tadi sebenarnya mengganggu pikirannya. Akira tersenyum sembari mengeluarkan satu persatu belanjaannya. “Apa kau sakit? Sepertinya mood-mu sedang buruk.” Ujar Akira melepas keheningan.


“Dia datang... “ sahut Daylan lemah. Suaranya terdengar samar di telinga Akira.


“Apa? Datang? Siapa?” Daylan diam tak menjawab. Raut wajahnya berubah kian pasi. Akira segera menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Daylan. “Ada apa? Siapa yang datang? Kenapa kau jadis seperti ini?” Akira meletakkan telapak tangan kanannya di atas kening Daylan. “Kau panas. Harus minum obat!” Akira beranjak untuk mengambil obat.


“Erlangga datang ke sini…” aku Daylan pelan menghentikan langkah Akira. Akira tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Telinganya mendengar jelar pernyataan Daylan. Namun, hatinya berharap ia salah dengar.


“Apa…? Aku tidak begitu jelas mendengarnya, bisa kau ulangi lagi?” Akira memastikan dengan cemas dan harap-harap ia salah dengar tanpa merubah posisinya.


“Kakak datang ke sini mencarimu.” Jawab Daylan datar dengan nada sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Akira berbalik menghadap Daylan. Raut bahagianya berubah khawatir seketika.


“Apa yang kau katakana padanya?” selidik Akira serius.


“Maaf… aku memberitahunya semua…”


“Apa kau bilang? Semuanya…?” Daylan dian tertunduk dalam rasa bersalahnya. “Kenapa kau melakukannya? Bukankah sudah ku bilang untuk tak memberitahunya lebih dulu?! Aku yang akan member tahunya! Kau bahkan melanggar perjanjian yang kau tulis dengan tanganmu sendiri tanpa ku tambah sedikitpun! Teganya kau! Apa kau tak sadar?!! Lihat aku!!” Daylan mengangakat pandangannya yang kembali memerah berkaca-kaca menatap Akira. “Aku mungkin bisa memaafkanmu untuk melanggar janji yang kau buat. Tapi, bagaimana bisa aku membiarkan orang sebaik Daniel kau sakiti?! Kau pikir bagaimana perasaanya mendengar dan mengetahui semua darimu?! Kau benar-benar tak punya perasaan!!”


“Apa kau bilang? Tak punya perasaan? Bukannya kau yang lebih dulu melanggar janji?!”


“Apa maksudmu?!”


“Hhh… alamat ini, bagaimana dia bisa tahu jika bukan kau yang memberitahunya?!” nada Daylan kian meninggi. “Kau sendiri yang menjerumuskannya! Kau yang secara tidak langsung memintanya dating kemari.”

__ADS_1


Mata Akira membulat menyorot tajam. “Hhh… apa lagi ini?! tak perlu menggunakan modus kuno macam ini! Apa kau tak bisa jujur dan berhenti menuduhku yang tidak-tidak?!” Daylan berdiri mendekat berhadap-hadapan dengan Akira.


“Kalau begitu katakan padaku siapa yang memberitahunya?!”


Akira mengeratkan gigi-giginya menahan marah. Keduanya saling menatap tajam dengan mata merah penuh amarah. “Aku kira sifat egoism sudah hilang… ternya ata aku salah besar. Sekarang terserah padamu saja, aku harus pergi menyelesaikannya.” Akira berbalik. Daylan terengah diam. Berdiri dengan pandangan kosongnya. Akira


mengambil tas selempangnya dan bergegas menuju pintu.


“Akira!” panggil Daylan lantang menunda langkah kaki Akira. “Kajima…! Chebal![2]Tidak tahukah kau, aku melakukan semua ini karenamu?! Aku memberitahunya karena tak ingin keilanganmu… aku tak mau melepasmu untuknya… mianhae!” tangis Daylan pecah.


Akira menggerakkan kakinya selangkah ke depan. Berusaha tak mengacuhkannya meski berat, sebelum akhirnya Daylan kembali berteriak membuka suara, “Bukankah kau sudah berjanji untuk melihatku sebagai diriku?!” Akira diam tercekat. Hatinya tiba-tiba ngilu. Bimbang mulai menyusup dan kian memberatkan langkahnya. Hidup adalah pilihan. Berat, namun harus. Akira berpikir keras. Ia tak mungkin memilih keduanya, tak bisa. Harus ada yang ia korbankan, tapi siapa?


Memorinya bersama Daylan dan Daniel seketika bergelayut dalam otaknya. Matanya memejam, perasaannya menimbang, nalurinya membisikkan, akalnya memutuskan…


“Kau punya Maura untuk itu, tapi Daniel tak punya siapapun. Aku sudah berusaha…mianhaeyo!”[3] Akira menarik knop pintu cepat lalu segera menutupnya kembali dengan perasaan yang sejatinya tak karuan. Ia berlari menuju mobil sembari menyeka air matanya dengan kedua tangannya bergantian. Rasa bersalah, cemas, takut, khawatir, dan kalut kian menggelayutinya. Namun, inilah pilihan, dan Akira telah memilihnya.


Daylan tercengang tak percaya mendengar jawabna Akira yang bahkan pergi begitu saja usai mengatakannya. Apa ini?! “Akiraaa…. hhhaaaa….!!!” Daylan menjerit keras meluapkan emosinya lalu memutar tubuhnya. “Sssrraaaakkk…praaaakkk…” dalam sekejap, benda-benda yang ada di atas meja jatuh, pecah, berserakan tersempar semparan tangan pelampiasan Daylan.


 


******


Mobil Akira telah melesat jauh dari apartemennya. Namun, perasaannya masih benar-bear kacau. Air matanya masih berderaian di pipinya yang tengah mengemudi dengan kecepatan di atas biasanya. Gerakan tangannya di stir mobil menuntunnya menuju suatu arah pasti untuk berlabuh. Mengarah seperti angin yang tertuntun firasatnya menuju suatu tempat yang terlintas pasti di memorinya.


Akira menepikan mobilnya lalu segera membuka pintu dan keluar berlari cepat setelah ia menguncinya dengan tombol otomatis terkunci. Kakinya membawanya berlari ke suatu tempat yang terbentang sejauh mata memandang. Akira melepas matanya menerawang ke kanan, kiri, depan, dan belakang bergantian mengikuti gerak lehernya yang menengok memastikan ke seluruh arah dengan cemas sembari terus berlari meneriakkan nama sosok yang dicarinya, “Daniel Oppa…!!! Oppa…!” hatinya makin khawatir tak mendapati Daniel di sana. Bigung, lunglai, takut, dan cemas kian mencekamnya.


kebelakang. Matanya yang berderai air mata telah letih menerawang ke barbagai arah. Putus asa mulai menghinggapinya, menyerah mulai bergelayut di otaknya. Namun, jelas yang merasa paling sakit dan bersalah serta tak bisa begitu saja menyerah adalah hatinya.


“Op-pa…Op-ppa…” desahnya terisak lagi terbata. Tangan kirinya menyangga tubuhnya yang tiba-tiba saja jatuh kehilangan keseimbangan. “Sekali lagi… setidaknya sekali lagi…aku harus mencobanya…aku harus menemukannya…aku harus memberi tahunya…” desis Akira pada dirinya sendiri. Matanya memejam. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Rileks. Memori di pantai itu bersama Daniel seketika terputar persis nyatanya. Bulir hangat kembali mengalir dari pelupuk matanya tanpa sadar.


“….Akira, hidup ini adalah pilihan. Jika hanya ada satu orangyang mampu kau selamat-kan di antara dua orang yang kau cintai, maka selamatkanlah satu orang yang hatimu pilih, meski kau harus melukai seorang yang lain dengan keputusan itu…” kalimat ibunya yang tak lain adalah Nyonya Horison kembali terngiang di memorinya.


“Kau lihat sendiri, kan? Aku bahkan tak bisa mengalah untukmu dan membiarkanmu tidur di sofa. Laki-laki macam apa aku ini? Karena itu, jangan jatuh cinta padaku…!” ucapan Daylan di malam pertama mereka sekamar di Korea saat menyelimuti tubuhnya yang ia kira telah tertidur itu tiba-tiba muncul dalam ingatannya.


“…aku mungkin tampak stabil di luar, tapi orang sepertiku selalu menyimpan semuanya sendiri dalam hati, dan ketika semuanya telah memuncak, aku butuh tempat untuk meluapkan semuanya. Aku selalu datang ke sini setiap kali aku memiliki masalah yang telah mencapai titik itu. Tapi, aku rasa, sekarang aku tak perlu tempat ini lagi, karena aku bisa berlari ke tempat yang lebih dekat untuk ku capai, karena ada dirimu… maukah kau tinggal di sampingku, Akira?” ucapan Daniel padanya di pantai itu menyusul terputar. Kedua tangan Akira tergerak menutup


wajahnya yang tak lagi mampu menahan seranai air matanya. Apa yang harus ku lakukan…?


Perasaan ini…untuk memilih menyelamatkan seseorang dengan melukai orang lain… haruskah ia lakukan? Bahkan bila ada seseorang yang bisa diselamatkan… bagaimana cara untuk menyelamatkannya? Akira kembali mengatur napasnya dan merilekskan dirinya.


“Daniel Oppa…!” jeritnya langsung berdiri dari duduknya sembari membuka mata sembabnya. Tubuhnya menyorong ke kanan.  Matanya tercekat, visualnya mendapati sesuatu yang bahkan tak pernah terpikir olehnya. Sosok yang dicarinya…itukah dia? Seseorang yang tengah melangkah ke tengah laut lepas itu? Tidak mungkin. Itu tidak mungkin Daniel Oppa, kan? Aku…


Akira melangkah pelan tak percaya dan segera berlari setelah menyadari hal itu. Ia menyusul sosok itu cepat. Apa yang dia pikirkan? Dia…


“Daniel Oppa…” panggilan itu terlontar seiring dengan pelukan tangan Akira yang melingkar di pinggang Daniel tanpa permisi. Sosok itu menghentikan langkah kakinya yang telah terendam air setinggi lutut sembari tetap terpejam. Ia tersenyum getir. “Aku bahkan mendengar suaramu memanggilku di saat seperti ini… gomawo…[4]”


ucap sosok itu tiba-tiba. Akira bingung sejenak. Namun, sosok itu tiba-tiba mengambil satu langkah ke depan untuk kembali menuju ke tengah laut.

__ADS_1


“Oppa…jangan…! Hentikan…! Aku mohon…” pekik Akira keras. Sosok itu kembali berhenti. Air matanya menetes jatuh ke laut dan ke tangan Akira. “Apa ini? Kau mencegahku untuk pergi saat kau lah yang berencana meninggalkanku…” Akira terperangah kaget. Ia pernah merasa pernah mendengar ucapan yang sama samar-samar terlontar dari mulut seseorang. Hatinya tersayat, teriris, sakit. Tapi, bagaimana keadaan Daniel yang mengucapkannya dengan nada seperti itu? Bagaimana dengannya… bagaimana dengan sosok yang mulai jelas ku ingat mengucapkan  kalimat itu padaku lebih dulu?


“…bukankah aku pernah mengatakan padamu untuk tetap berada di sampingku? Aku sungguh serius tentang itu…dan tentang aku tak lagi membutuhkan tempat ini karena kau ada di sisiku…bagaimana menurutmu aku bisa bertahan seperti ini… bukankah aku pantas untuk tenggelam bersama harapan dan mimpiku di lautan yang gelap lagi dalam? Jangan menghalangiku lagi…jangan berbisik seperti ini lagi…biarkan aku pergi…!” tangis Daniel meghentikan ucapannya. “Ah, tapi, sebelum aku pergi… aku ingin mnegatakan sesuatu padamu. Aku akan menitipkannya pada angin. Semoga dia menyampaikannya padamu dengan baik…” Daniel menghentikan kalimatnya sejenak. “Di kehidupan mendatang… jangan terlahir sebagai milik orang lain yang memberi begitu banyak harapan padaku…jadilah orang yang akan selalu ada di sampingku…yang ditakdirkan untukku…dan jangan menolakku lagi…Aku merindukan-mu, Akira…” Daniel menutup pesannya pada angin dengan setetes air mata yang kembali menetes membasahi tangan Akira. Akira terperanjat. Daniel tak menyadari kehadirannya? Apakah dia berpikir bahwa dia tengah berhalusinasi? Dia…


Angin berhembus kencang menggoyangkan dedaunan, menggerakkan ombak, dan membelai dua insan yang tengah berdiri di laut itu kuat. “Aku menerimanya…pesanmu, angin telah menyampaikannya padaku…maafkan aku, Oppa…aku di sini…tidakkah kau ingin melihatku?” ucap Akira akhirnya. Daniel tercekat. Ia mulai meragukan


kesadarannya. –Apakah aku sudah mati?- “Aku di sini Oppa! Tidakkah kau ingin melihatku? Kau bilang kau merindukan ku…aku…” kalimat jeritan Akira itu berakhir tangis.


Daniel mengerjap mendapatkan kembali visual dan kesadarannya. Laut masih terbentang begitu luas di hadapannya. Deburan ombak dan belaian angin mulai terasa di sekujur kakinya. Namun, ada hal lain terpantul dari air yang dilihatnya. Sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya tanpa ia sadari. Daniel memutar tubuhnya.


Sosok itu melepas kedua tangannya. Mata Daniel terbelalak tak menyangka. “Hhhh…hhh…sepertinya aku merindukanmu seperti orang gila hingga imajinasiku membawamu tergambar nyata di depanku…” ucapan parau Daniel masih tak percaya pada visualnya membuat air mata Akira menderas.


“Oppa…maafkan aku… ini bukan imajinasimu…” Akira menangis menutupkan kedua tangannya di wajahnya. “Syyuuut…” Akira terperanjat dalam tangisnya.


“Aku tak peduli bahkan jika ini hanya sebuah imajinasi… aku merindukanmu, Akira…” ungkap Daniel sesaat setelah menarik Akira ke dalam rengkuhannya. Akira speechless. Hanya air mata yang mewakili jawaban dan perasaannya. “Ah, maafkan aku… apa yang kau lakukan di sini? Cepatlah menepi, kau bisa sakit jika berada di sini terlalu lama…” Daniel merenggangkan pelukannya dengan selangkah mundur. Kedua matanya menatap Akira dalam, tersenyum dalam tangis tertahan dan sejuta kegetiran yang menusuk hatinya. Keduanya kemudian menepi.


“Byuuur…” debur ombak kembali membasahi kaki keduanya yang telah berdampingan menepi di pantai. Daniel memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Terdiam sembari menggerak-gerakkan kaki kanannya menendang-nendang pasir.


“Maaf… maafkan aku… Oppa…” ungkap Akira terisak.


Daniel mengalihkan pandangannya yang turut berkaca-kaca. “Bagaimana kau bisa tahu jika aku ada di sini? Dan kenapa kau datang kemari?” alih Daniel tanpa menanggapi maaf Akira.


 


_________________


[1] Tak ada yang dikatakan?


[2] Jangan pergi…! Kumohon!


[3] Maaf!


[4] Terima kasih


 


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!


Love you,


Yurizhia Ninawa

__ADS_1


__ADS_2