
“Siapa laki-laki yang menemani acara pentingmu tadi?” Tanya Daylan akhirnya terus terang.
Akira tersentak lalu menoleh ke arah Daylan, namun ia masih berusaha tenang. “Menurutmu dia siapa?”
“Hhh, pacar, selingkuhan…”
Akira menatap Daylan tajam. “Cukup!” potong Akira.
“Kenapa?! Apa tebakkanku benar?”
“Hhh, apa kau tidak berpikir pertanyaan itu berlebihan?”
“Berlebihan? Kenapa?!”
“ Kau mungkin berpikir bahwa tak ada yang salah dengan semua rencana dan semua yang kau lakukan, tapi, asal kau tahu, caramu itu murahan!” ungkap Akira dengan nada tinggi.
Daylan menoleh cepat. “Apa kau bilang?!”
Siiiitt. Mobil direm mendadak. Badan Daylan dan Akira terdorong kuat ke depan, namun beruntung, tak ada yang terjadi. Akira melihat ke depan memastikan. Mobil mereka hampir menabrak tugu masuk.
“Apa kau sudah gila?! Kau mau mati?!” nada Akira meninggi geram. “ Kalau kau mau mati, mati saja sendiri!” tambah Akira ketus sembari membuka pintu mobil dan keluar.
“Akira, tunggu! Kita harus bicara…”
BRAK. Akira menutup pintu mobil keras. “Bicara saja nanti, aku lelah!” Akira berlalu.
“Akira…!”
__ADS_1
“Tit..tit..tit..” Akira memasukkan password apartemennya. Cklek. Tangannya membuka lalu kembali menutup daun pintu. Cara jalannya tergesa dan masih tampak gurat kesal serta menahan perasaan dan air mata di wajahnya yang berusaha ia sembunyikan.
“Kau sudah pulang?” Nyonya Marendra bertanya mengagetkannya.
“Oh, Mama! Maaf tidak memberitahukan lebih awal kami pulang larut hari ini. Ada sesuatu yang harus kami lakukan.”
“Tidak papa. Pasangan muda biasa seperti itu. Mama hanya khawatir ada sesuatu yang terjadi pada kalian.”
“Tidak ada, Ma. Mama tidak perlu khawatir. Sekarang lebih baik Mama istirahat, aku dan Daylan juga akan langsung istirahat menyusul.”
“Kau benar. Kalian pasti lelah. Cepatlah istirahat lalu besok pagi kita pergi ke salon dan spa bersama untuk refresh! Sekarang masuklah ke kamar dan istirahat!”
“Baiklah, terima kasih, Ma…” Akira beranjak masuk ke dalam kamar. Lelah. Hari ini benar-benar melelahkan. Menyakitkan, mungkin lebih tepat dikatakan begitu. Diam, Akira berusaha mengatur ulang pikiran dan emosinya yang hampir berantakkan untuk tetap tenang.
“Kita harus bicara. “ tegas Daylan yang tiba-tiba telah ada di ambang daun pinti kamar yang baru saja ditutupnya.
“Tak ada yang perlu dibicarakan.”
“Kenapa kau yang harus marah?”
“Hhh, apa kau tidak sadar? Atau kau sedang berpura-pura bodoh dan tidak tahu?! Jangan pasang wajah innoncent[1]itu di depanku seolah kau tak melakukan apa-apa!” nada bicara Daylan kian meninggi.
Akira tertawa menahan air mata. “Apa yang ku lakukan sampai kau berhak berkata-kata seperti itu?”
“Kau pikir aku tidak tahu kau pergi makan malam dengan seorang pria mencurigakan? Aku tidak menyangka wanita seperti mu yang ku kira begitu polos ternyata juga bisa melakukan hal yang sama dengan wanita-wanita kebanyakan yang rendahan. Dan dengan semua itu, kau bilang caraku murahan?! Apa kau bercanda? Apa kau tak
punya cermin?! Cobalah mengaca?!”
Hati Akira memanas rantai-rantai emosi yang disusunnya mendadak beranjak kembali berhamburan mendengar kata demi kata yang diucapkan Daylan, kesabarannya di ujung tanduk. “Hhh…hhh… bagaimana bisa kau mengatakan semua itu dengan wajah seterang itu? Kau pikir siapa kau bisa berkata seperti itu…? Lagi pula, apa
pedulimu pada urusanku?!” nada Akira meninggi di kalimat terakhirnya.
__ADS_1
“Apa?! Setidaknya keselamatanmu adalah tanggung jawabku! Aku harus menjaga…”
“Cukup…!!” potong Akira memekik. Kendali emosinya kini benar-benar lepas tak beraturan. “Berhenti membawa nama tanggung jawab atas nama ikatan konyol ini! Kau pikir tanggung jawab seperti apa, tanggung jawab seperti apa yang bisa orang sepertimu lakukan?!” Daylan tersentak diam. “Apa kau pikir aku juga tak punya mata?! Apa kau pikir aku juga tak melihatnya?! Bagaimana bisa kau mengatakan semua hal kasar dan menyedihkan itu padaku dengan wajah setenang itu saat kau juga makan malam dan bermesraan dengan seorang wanita… wanita…” air mata Akira menetes.
Daylan kembali tersentak. Apa yang telah dia lakukan? Bagaimana bisa dirinya begitu bodoh mengatakan semuanya saat ia sendiri melakukan hal serupa. Dan bagaimana bisa hal itu bahkan tak terpikirkan olehnya… “Itu…”
“Apa lagi?! Kau mau bilang dia bukan siapa-siapa? Kau mau mengatakan dia bukan kekasih-mu?! Kau pikir aku sebodoh itu untuk percaya padamu?!” air mata Akira kembali terjatuh membasahi wajahnya.
“Akira, dengar aku…”
“Tidak, kau yang dengar aku!!” potong Akira gegas. “Aku tahu ini urusan pribadimu… aku tahu aku tidak berhak marah dan ikut campur… tapi, semua ini… kenapa kau mengatakan kata-kata yang bahkan tak ingin ku dengar terucap dari mulutmu… kenapa malah kau yang marah dan ikut campur urusanku saat… saat kau…” Akira memutus kalimatnya menahan isak tangisnya.
_____________
[1] Tak bersalah/ berdosa
Ugh, kenapa coba Akira putus kalimatnya??
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : Nabila ubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. In sya Allah cerita kesayangan kita ini sebentar lagi akan dikontrak dan bila lulus proses kelanjutan kontrak kita akan bisa lebih sering update. So, buat teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^
***Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1