Couple In Love

Couple In Love
Episode 63


__ADS_3

                                                                    



 


“Kenapa kalian tak menikah saja? Kalian pasangan yang sangat serasi!” komentar Daniel kemudian.


“Kau…!” Revan menjerit dan hampir-hampir melayangkan tinjuannya, namun lagi, Tara menghentikannya. “Berhenti cegah aku Ra!” ungkap Revan panas yang justru mengundang tangis Tara mengeras.


“Aku mohon… berhenti Re…!” pinta Tara di sela-sela tangisnya. Revan menahan amarahnya lalu menatap Daniel geram.


“Hhh… loe beruntung cewek yang cinta sama loe sebaik dan sebodoh Tara! Gue pastiin loe bakalan nyesel ngelakuin ini semua ke dia!”


“Why should I ?” tanya Daniel masih tetap dengan kepongahan yang ia buat di depan Tara. Tara tak mampu berkata-kata dan hanya meneteskan air matanya


“Karena bahkan setelah semua yang loe lakuin ke dia, liat gimana dia tetep kukuh ngelindungin dan belain loe!” Tara meremas ujung baju Revan. Meminta Revan menghentikan penjelasannya. Revan menatap Tara sejenak. “Seenggaknya biarin aku jelasin ini ke cowok gak tahu diri ini, Ra…!” pintanya lembut. “Asal loe tahu aja ya, Dan! Dia ada di sini sama sekali bukan buat minta Akira ninggalin loe. Dia cuma minta dan mohon supaya Akira nggak nyakitin loe apapun keputusannya. Dan dengan liat loe yang kayak gini, gua bakalan lebih setuju kalau Akira milih


Daylan dari pada cowok nggak tahu diri kayak loe!” mata Daniel melebar. “Ayo, Ra, kita pergi!” Revan menarik tangan Tara untuk keluar. Namun, dua langkah kemudian ia berhenti dan kembali menoleh pada Daniel. “Satu lagi, Dan. Semua orang yang kenal loe mungkin tahu kalo loe itu perspektif. Tapi, loe perlu tahu, perspektif itu tetep perlu klarifikasi, dan perspektif itu beda sama main nyimpulin sendiri seenak loe!” Revan melanjutkan langkahnya menarik Tara keluar. Relung-relung di dada Daniel tiba-tiba sesak. Rasa bersalah tiba-tiba menyelimutinya. Ia hanya ingin Tara membencinya dan berhenti mencintainya karena ia tak ingin memberi harapan yang tak pernah ada padanya dan tahu seperti apa rasanya mencintai seseorang dalam diam seperti yang ia tahu dengan sangat baik. Ia hanya tak ingin Tara merasakan sesak dan dan ketidakberdayaan yang sama seperti apa yang dirasakannya. Tapi, apa yang telah dilakukannya pada gadis itu? Dan kenapa jauh dalam lubuk hatinya ada rasa yang begitu sakit melihatnya menangis dan diam tanpa pembelaan. Bukankah ini yang ku inginkan? Tanyanya pada diri sendiri tak terjawab. Namun, kenapa ada secercah nyeri yang kian menjalari hatiku?


“Hhh… aku menyakitinya lagi…” gumam Daniel pada dirinya sendiri dengan rasa sakit yang tiba-tiba turut menyerang hatinya lebih dalam.


Revan masih menarik lengan Tara untuk mengikutinya keluar dari tempat dimana Tara dapat melihat lelaki yang telah menghancurkan hatinya. Sedangkan Akira yang bersembunyi di balik tembok di luar pintu hanya mampu menutup mulutnya menahan tangis dan jeritan batinnya. Malaikatnya tiba-tiba berubah menjadi sosok yang seratus delapanpuluh derajat berbeda. Dan yang membuatnya lebih terluka adalah empatinya akan apa yang dirasakan Tara saat ini. Tara yang biasanya begitu supel, ceria dan banyak bicara hanya mampu terdiam di depan Daniel tanpa pembelaan akan tuduhan yang sama sekali tak benar adanya padanya. Ia justru hanya meneteskan air matanya tanpa kata. Kecewa? Menyesal? Apa yang gerangan dirasakannya saat ini ? Mungkinkah ia juga merasa sama seperti Akira yang merasa terperangah bahwa sosok di hadapannya bukanlah lagi malaikat yang dulu dikenalnya?


Tara dan Revan muncul dari balik pintu masih dengan posisi Ravan di depan dengan menarik lengan Tara yang masih bermata sembab. Langkah tertunduk Tara terhenti menyadari sepasang kaki selain milik Revan berada di sampingnya. Ia menoleh refleks. Matanya membulat. Apa yang ia takutkan benar terjadi. Akira. Akira berdiri di depannya dengan tangan kanan menutup mulutnya yang sepertinya baru saja menangis, sedang tangan lainnya tampak meremas rok bajunya sendiri. Revan menoleh ke arah Tara yang tiba-tiba berhenti melangkah di belakangnya.


“Akira…” panggil Tara dengan manik mata yang telah bertemu dengan manik Akira. “Ini tak seperti yang kau pikirkan…” mata Revan melebar melihat dan mendengar apa yang Tara katakan. Entah mengapa darahnya seolah mendidih mendengarnya. Ingin rasanya ia merutuki Tara dengan kebodohannya, namun ia masih menahannya. Hingga akhirnya Tara kembali bersuara, ia meraih tangan Akira sebelumnya. Tersenyum penuh arti menatap dalam wajah sepupu polos kesayangannya dengan wajah sembabnya. “Aku tidak tahu sejak kapan kau berdiri di situ… tapi percayalah, dia hanya sedang sangat tidak stabil karena terlalu khawatir padamu. Aku mohon, coba pahami posisinya… ini sepenuhnya salahku, Daniel sama sekali tidak bersalah,  jangan marah padanya, Ok!” Tara menyunggingkan senyum tulusnya. Mulut Revan seketika melebar lebih dari lebar matanya ada sesuatu yang sejenak menyedak hati dan dan tenggorokkannya untuk mengucapkan sesuatu. Gadis ini! Arrgghh!!!


“Tara!” teriak Revan marah akhirnya. Nama itu akhirnya menjadi satu-satunya kata yang membuat mulutnya mampu berucap dalam berang yang melandanya. “Lo bodoh apa gila sih?!” kedua tangan Revan mengguncangkan kedua bahu Tara. “Udah jelas-jelas cowok gak tau diri itu nyakitin loe dan loe masih juga ngebela dia?! Semua ini salah loe?” Revan menghembuskan napas berat dari dadanya. Suaranya beranjak memelan, “Jangan bercanda…! Sejak kapan… manusia bersalah karena sangat mencintai seseorang…?” mata Revan berkaca-kaca dan setetes air mata justru jatuh dari dua manik indahnya. Revan refleks menarik Tara masuk dalam rengkuhannya, sedangkan Akira semakin menggigit bibir bawahnya melihat Tara dan memikirkan ucapan Revan. Di sisi lain, Daniel yang ternyata telah berada hanya beberapa langkah dari pintu turut melebarkan matanya mendengar kata-kata Tara. Kakinya berhenti melangkah. Rasa bersalah menggelayutinya, belum lagi otak perspektifnya yang telah menduga bahwa Akira melihat dan mendengar semuanya yang ia ucapkan pada sepupu kesayangannya itu. Tangan kanannya menggenggam kuat menumpu luapan emosinya. Ia menghembuskan nafas frustasi beratnya pelan ~Ah, aku merasa akan segera mendapatkan hukumanku karena menjadi seorang pria brengsek seperti ini pada gadis sebaik diri Tara…!


Revan merenggangkan rengkuhannya lalu menyeka air mata Tara yang membasahi pipinya. Revan tersenyum penuh arti. Ia menoleh sejenak ke arah Akira. “Ra, selesaiin masalah kamu sama Daniel sekarang juga…! Dan meski aku sangat ingin menghantamkan minimal satu tinjuku padanya, tapi karena Tara minta kamu buat ngelakuinnya baik-baik, maka tolong lakuin itu baik-baik ya…!” Revan kembali menatap Tara. Tara tersenyum dalam isak sedihnya karena kebaikan Revan yang berusaha memahami perasaannya dan meminta Akira untuk menyelesaikannya dengan baik.


“Makasih, Van… makasih banyak…” air mata Tara kembali menetes, namun kali ini karena ia tersentuh akan ketulusan Revan. Revan  tersenyum lalu kembali menyeka bulir bening itu dari wajah Tara.

__ADS_1


“Ya, dan sekarang sebaiknya kita pergi ke tempat yang menyenangkan biar Akira dan Daniel bisa beresin masalah mereka dengan privasi total, Ok!” Tara mengangguk tersenyum mengiyakan lalu mulai melangkah mengikuti Revan. Meninggalkan Akira dan Daniel yang masih belum mampu beranjak dari tempatnya masing-masing.


Baik Daniel maupun Akira masih terdiam di tempatnya masing-masing menyiapkan hati mereka untuk menghadapi keputusan final yang akan berpengaruh pada jalan kehidupan mereka. Akira menghembuskan napas panjangnya meyakinkan diri bahwa ia harus menyelesaikan dan menghadapi semua ini cepat atau lambat. Dengan sigap dan


anggun ia beranjak melangkah memasuki apartemen dengan pintu yang telah terbuka. Daniel hanya menarik napas berat terpejam lalu menghembuskannya pelan. Apapun yang akan terjadi, terjadilah…!


Langkah masuk Akira terhenti tiga langkah dari pintu. Penampilan sosok itu membuat matanya melebar tak percaya. Apa yang terjadi padanya? Tanya yang terseirat begitu jelas dari raut wajahnya namun tak terucap oleh lisannya itu menggantung di tengah-tengah keheningan dirinya dan sosok di hadapannya yang tak biasanya


tampak lusuh dengan rambut acak-acakan dan wajah kusut penuh tekanan. Bola mata mereka bertemu. Menatap dalam lalu berusaha tersenyum berat.


“Apa kabar, Oppa?” Akira akhirnya bertanya mengawali percakan.


“Aku rasa aku tak bisa mengatakan jika aku baik-baik saja meski aku sangat mengingin-kannya.”


Akira tertunduk lalu menghembuskan napas berat. “Maaf membuatmu menjadi seperti ini…”


“Can I ask something?”[1]Daniel memeotong ucapan Akira. Akira menatapnya sejenak lalu mengangguk mengiyakan. Daniel kembali berucap, “Please don’t say anything I don’t want to hear…!” pintanya dalam suara dalam penuh harap. Akira tersenyum. Matanya kembali berkaca-kaca.


“Kau ingin aku terus diam tanpa menyelesaikannya?” bola Akira menatap dalam Daniel. “Maaf, Oppa… kali ini aku tak bisa menurut… kita harus membicarakannya.” Daniel hanya balas menatap Akira dalam tanpa kata yang mampu terucap dengan kedua mata yang mulai merah berkaca-kaca dalam pandangan ketidakpercayaannya.


Siapa sebenarnya sosok yang saat ini sedang berada di hadapannya? Haruskah ia berteriak bahwa ia ingin menyelesaikan semua itu sesegera mungkin demi mengurangi luka seorang Daniel Erlangga?


“Aku bisa mewajari pikiran perspektifmu yang menduga bahwa aku melakukannya karena Daylan. Dan bahkan meski aku terluka mendengar tuduhan itu, aku akan memaafkanmu karena aku mungkin akan lebih melukaimu. Tapi, kau tahu? Aku tak habis pikir kau membawa nama Tara setelah aku yakin kau mendengar apa yag ia lakukan dan katakan untukmu setelah kau bahkan menuduh dan melukainya sedalam itu… Apa yang membuatmu begitu membenci-nya…? Kesalahan apa yang telah ia lakukan padamu? Apakah dia salah karena jatuh cinta padamu?” Daniel menunduk refleks. Kenapa Akira harus memperjelas semua hal yang berusaha ia nafikan. Dadanya terasa kian sesak menyadari betapa jahatnya dirinya. “Kemana Oppa angel-ku yang begitu baik dan dewasa itu pergi?” jleb. Tanya itu menghabisi Daniel seketika. Tes. Setetes air mata jatuh dari pelupuknya. Ia tak mampu bahkan mengucap satu kata untuk jawaban pembelaan.


Akira tersentak kaget sejenak menyadari setetes air mata penyesalan yang menetes dari mata sosok yang sebenarnya sangat ia sayangi. “Oppa…mungkin aku akan melakukan kesalahan terbesar dengan mengatakan ini padamu… tapi bahkan jika itu benar… aku harap setidaknya aka nada kebaikan dari apa yang ku katakana ini


untuk orang-orang yang ku cintai, untukmu, Oppa…” Daniel mengangkat pandangannya tersentak. Ia tak pernah menyangka akan mendengar lagi kata-kata indah itu meluncur cari bibir wanita yang sangat dicintainya. Visualnya yang bertemu tepat dengan visual Akira kini kembali membuatnya meneteskan mutiara bening di ujung pelupuknya. Membuat pertahanan Akira turut runtuh seketika. Akira mendekat pada Daniel dengan mata indah yang telah menahan butiran-butiran beningnya. Tangan kanannya bergetar menyentuh lalu menggenggam lengan atas Daniel. Daniel hanya mampu balas memandang Akira tanpa kata. Bibir Akira yang juga bergetar mulai berucap, “Maaf untuk mengatakannya, tapi mari kita putus dan sudahi semua ini… aku mohon mengertilah, Oppa…”


Mata Daniel melebar. Meski ia bahkan telah memperkirakan hasil akhir yang akan ia dengar dan dapatkan, namun sebagai seorang lelaki nalurinya berontak, memintanya untuk memperjuangkan gadisnya. Rasa tak terima dan kecewa bercampur marah yang menjelma membuatnya sangat ingin mengucapkan setidakya beberapa patah kalimat keberatan dan permohonan serta sedikit kalimat penuntutan. Namun, semua itu sirna seketika saat visualnya mendapati butir-butir air mata lolos dari pelupuk Akira. Ia speechless dan seketika terdiam seolah mengiyakan kekalahannya begitu saja. Mengapa bahkan saat gadis di hadapannya ini memintanya untuk


mengakhiri semuanya, ia masih merasakan kehangatan dan cinta darinya dan hanya luluh seketika dengan melihat air matanya? tangan Daniel tergerak refleks membawa Akira ke dalam pelukannya.


“Jika itu memang yang kau inginkan…”suara berat Daniel kian memberat di sela-sela pelukannya. “…jika itu memang akan membuatmu lebih bahagia…” dadanya terasa kian sesak dan berat untuk melanjutkan ucapannya. Dan Akira pun tak berbeda, ia sesenggukan dalam rengkuhan Daniel. Ia tahu, itu berat. Sangat berat untuk bahkan mengatakan pada orang yang kita cintai tak apa kita berpisah asal kau bahagia. Bagaimanapun Akira tahu, setiap orang pasti berharap jika orang yang bisa membuat pasangannya bahagia adalah dirinya. –Maaf, Oppa…

__ADS_1


Daniel berusaha kembali menyusun kata-katanya dan mengatur napasnya. “Baiklah…” ucapan yang mungkin akan disesali Daniel dan Akira seumur hidup itu pun akhirnya terluncur berat, pasrah dan lemah terpaksa.


**********


Rentetan rumah, hotel, tempat umum, dan pemandanganan silih ganti menunjukan pesonanya di kaca bus samping Akira duduk. Ia hanya terdiam mengamati semuanya malas. Pikirannya tentang kejadian yang baru saja dilaluinya masih saja menggelayut. Keputusannya untuk melepas Daniel pun kembali terputar dalam memorinya. Akankah ia menyesalinya? Itulah pertanyaan yang menggelayut di kepalanya selain apakah Daniel Oppa  baik-baik saja? Dan


semua tanya itu sama-sama tak mampu dijawabnya. Bus menuju Busan ini terus berjalan tanpa peduli padanya. Ia sebenarnya sedang sangat tak ingin pergi, namun Tara dan Revan berhasil menariknya untuk ikut pergi naik bus dengan alasan bisa melihat lebih banyak pemandangan dan sekaligus untuk refreshing. Hhh… apa yang sebenarnya sedang ku lakukan…?


“A…” panggilan Tara untuk Akira itu terhenti oleh sentuhan dan gelengan kepala Revan.


“Biarkan dia sendiri untuk saat ini…” ucap Revan menambahkan kemudian.


“Hmm. Itu mungkin akan lebih baik, tapi aku khawatir…”


“Kau tak perlu khawatir. Dia gadis yang kuat, sama seperti dirimu, dia hanya butuh waktu untuk merenung sejenak.”


 


 


 


________________


[1] Bisa aku minta sesuatu?


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!

__ADS_1


Love you,


Yurizhia Ninawa


__ADS_2