
Daylan segera berlari menuju tempat yang dia arahkan pemilik toko itu. Tunggu, tunggu aku Akira…! Daylan segera melanjutkan panggilan yang ia setting sebagai tunda panggilan.
“Bagaimana dengan diam dan membiarkan kami membuka bagian ini?”
“Tidak…!!!!”
Suara dan kata itu membuat kaki Daylan terhenti selangkah lalu berlari seribu langkah untuk menuju ke tempat yang kemungkinan besar menjadi latar asal suara itu. “Tunggu! Aku mohon! Aku tak akan memaaafkan siapapun yang menyentuhnya!!!” jerit Daylan sembari berlari sekuat tenaga.
“Berhenti…!!!” teriak Daylan menghentikan gerakan tangan satu dari tiga orang lelaki yang ada di hadapannya dan seorang gadis yang sangat dikenalnya yang tengah duduk meringkuk tertunduk.
“Heeeh… ada pahlawan kesiangan di sini!”
“Berkelompok hanya untuk menghentikan seorang wanita, apa kalian tak malu menyebut diri kalian laki-laki?! Kalian bahkan tak pantas memiliki sebutan itu, pengecut!”
“Hhh… kau benar-benar menyebalkan. Hajar dia!”
Ketiga pria itu maju mengeroyok Daylan. Namun, Daylan cukup beruntung karena kemampuan karate dan beladirinya yang telah ia pelajari dan perdalam di Jepang. Dalam waktu yang tak begitu lama Daylan dapat melumpuhkan tiga orang pria tadi.
“Sial! Kau akan menyesal untuk membuat kami seperti ini! Lihat saja nanti! Kami akan balas dendam!” jerit salah seorang mereka sebelum kabur.
Daylan menghembuskan napas panjang mengembalikan keseimbangannya. Ia kemudian berbalik dan melangkah menuju gadis yang masih meringkuk itu dengan luapan emosi yang sudah siap meledak dari hati dan kepalanya. Ia berjongkok mengimbanginya. Dilihatnya bahu kanannya yang terbuka dan belum sempat ia tutupi kembali. Mata
Daylan kian memerah marah.
“Bodoh! Kau pikir apa yang sedang…” “Syuu…Bug…” pelukan yang mendarat secara tiba-tiba itu memutus ucapan Daylan. Sosok itu gemetar hebat.
“Daylan… Daylan… Daylan… Hiks… Hiks…” ucapan lemah beriring takut dan tangis itu menyadarkan Daylan.
Aku tak seharusnya berteriak dan marah padanya. Dia pasti ketakutan. Dia pasti sangat tertekan dan takut hingga gemetar seperti ini. Tentu saja, dia masih seorang gadis yang bahkan belum pernah disentuh sebelumnya. Bagaimana bisa ia tak ketakutan setengah mati mengahadapinya tadi. Tangan Daylan bergerak membelai
rambut Akira pelan lalu balas memeluknya. “Tak apa, semuanya baik-baik saja! Aku ada di sini! Ayo kita pulang!”
“Hmm…”
__ADS_1
Daylan membantu Akira berdiri lalu hendak memapahnya. “Tunggu! Rumput laut keringnya…”
Daylan menatap Akira dalam. “Aku ingin membawanya… aku sudah membelinya…” Akira menunduk.
“Hhh… “ Daylan mendesah lalu bergerak mengambil hand bag berisi rumput laut kering yang terlempar beberapa langkah dari mereka. “Ini…! Ayo kita pulang!”
******
Daylan masih duduk menatap Akira dalam setelah bahkan beberapa menit memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen. Keduanya masih belum beranjak keluar dari mobil dalam diamnya masing-masing. Akira tak berbicara sepatah katapun sejak mereka meninggalkan tempat kejadian di gang itu. Pandangannya tampak kosong dengan
tubuh yang masih gemetar tertahan bahkan setelah mereka sampai dan berhenti memarkirkan mobil mereka Akira tak jua bergerak atau mengatakan sesuatu.
“Hhh…” Daylan mendesah panjang lalu mendorong badannya mendekat ke Akira. Dilepasnya sabuk
pengaman yang tadi juga ia pasangkan sebelum mereka melaju. Akira tak berkutik dan masih dalam diamnya. Tangan Daylan bergerak menyentuh bahu kanan Akira yang masih terbuka. Dibenarkannya baju Akira. Akira menggenggam roknya dengan tangannya kuat dan setetes air mata yang tiba-tiba jatuh dari pelupuk matanya
disusul gemetar yang yang tak mampu ia tahan. Daylan terperanjat turut merasakan sakit. Matanya memerah berkaca-kaca. Tengannya refleks meraih Akira masuk dalam rengkuhannya. “Maaf… maafkan aku… maaf untuk datang terlambat… maaf… membuat mereka sempat menyentuhkan jari mereka padamu…. maaf…”
“Hwaaaaa…” Akira menangis menjerit. “Mereka menyentuhku… mereka mencengkram bahuku… aku takut… aku…“ Daylan memutus lanjutan Akira seketika dengan mengecup kening Akira tiba-tiba.
“Hmm…”
Daylan keluar lalu membukakan pintu Akira dan memapahnya setelah mengunci otomatis mobilnya. Keduanya memasuki apartemen mereka. Akira tercekat. Ia kembali teringat bahwa hari ini adalah ulang tahun Daylan. Akira memandang Daylan dalam papahannya. Daylan tersenyum dan tetap memapahnya menuju meja dimana kue ulang tahunnya berada.
“Maaf… aku mengacaukan ulang….”
Daylan meletakkan telunjuknya di depan bibir Akira mengisyaratkannya untuk diam. “Terima kasih! Aku tak menyangka kau akan mengingatnya… ah, bahkan aku tak menyangka kau tahu ini hari ulang tahunku… jadi, terima kasih untuk semuanya! Aku suka semua ini…” Akira terdiam dengan rona wajahnya yang berubah karena setetes obat ajaib seperti baru saja menetes ke dalam hatinya melalui kata-kata Daylan. “Ah, haruskah kita hidupkan lilinnya sekarang?” Daylan kembali berusaha mencairkan suasana.
“Tunggu, aku yang akan menghidupkannya!”
“Baiklah…!”
Akira menghidupkan lilin dengan korek api lalu tersenyum sejenak. “Tiup…” “FUUUH…” Daylan meniup lilin sebelum Akira sempat menyelesaikan lagunya. “Hey, Daylan! Aku belum selesai menyanyayi…”
“Hey, Akira! Aku bukan orang yang suka menuntut dan melihat kesempurnaan dan sesuatu yang dianggap terbaik dengan pengorbanan yang tak sesuai. Aku lebih suka melihat dan melakukan sesuatu dengan caraku yang bisa memancing senyum dan tawa bahagia dengan tanpa mengorbankan sesuatu yang tak sesuai… Aku sudah cukup bahagia dengan semua ini. Karena itu, jangan memutuskan untuk melakukan hal berbahaya hanya untuk mendapatkan yang terbaik untukku…-Aku tak sepantas itu untuk mendapatkannya darimu, Bodoh!- Aku mohon, jangan melakukan sesuatu yang membuat ku terlalu khawatir lagi… serius, jantungku hampir berhenti berdetak karena memikirkan apa yang terjadi padamu saat aku menelponmu…” mata Akira memerah berkaca-kaca karena begitu tersentuh. “Hey, jangan menangis! Ini hari ulang tahunku, berbahagialah sedikit!” Daylan membujuk dengan senyum tulusnya. “Oh ya, sekarang kita potong dulu kuenya…” Daylan menggerakkan pisau memotong kue.
“Tunggu… potong kue…” Daylan menyuapkan kue ke mulut Akira tanpa permisi hingga membuatnya tak bisa melanjutkan lagunya. Daylan tertawa.
__ADS_1
“Hey, apa yang kau lakukan?!”
“Aku suka melihat ekspresi itu!” Daylan kembali tertawa disusul tawa Akira.
“Oh ya, ini hadiah untukmu!” Akira mengulurkan hadiah yang ia simpan di bawah meja.
“Heeeh… apa ini?”
“Bukan sesuatu yang mahal dan mewah. Aku tak begitu pintar memilih, tapi aku harap kau
menyukainya…”
“Tentu saja! Aku akan menyukai apapun yang kau berikan!”
Akira tersenyum. Beban-beban dan memori buruknya turut hilang tersapu kebahagiaannya. “Senang mendengarnya…”
“Akira…” “Saranghae… saranghae…” nada dering telpon Daylan berbunyi memutus perkatan-nya. Daylan meraih ponselnya. Namun, hanya sejenak ia menatapnya dan meletakkannya dengan dering yang tak ia hiraukan.
“Kenapa tak kau angkat?” Daylan hanya menatap Akira tanpa jawaban. Namun, itu sudah cukup bisa dimengerti dan dipahami Akira.
“Kau harus mengangkatnya! Dia pasti menyipakan sesuatu yang istimewa untukmu karena ini pertama kalinya sejak kalian bertemu di si…”
“Jangan melanjutkannya… aku sedang tidak mood…” Daylan tersenyum pasi.
________________
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : nabila ubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1