Couple In Love

Couple In Love
Episode 66


__ADS_3

                                                        



 


Dan hari itu… aku tak mendapatinya datang setelah menunggunya seharian di sana. Aku yang berharap begitu banyak harus menelan kecewa yang mungkin menurut sebagian besar orang tak beralasan. Ya, dan saat itulah aku sadar bahwa ungkapan yang sering ku baca itu benar, “ 20 tahun dari saat ini  kau akan lebih banyak menyesali hal-hal yang tidak kau lakukan dari pada hal-hal yang kau lakukan.” Ya, bahkan aku rasa kita tak perlu menunggu selama itu untuk menyesal. Bagaimana dengan 20 tahun saat hanya sedetik setelah kita tak melakukan apapun kita menyadari bahwa kita sama sekali tak memiliki kesempatan itu lagi? Tak ada hak sedikitpun untuk berharap karena kita ‘tak melakukan apapun’. Berbanding terbalik dengan itu. melakukan sesuatu, mengambil setidaknya satu tindakan meski berakhir pada kegagalan dan kesalahan akan menimbulkan suatu penyesalan sedetik. Ya, karena setelah waktu berlalu kita bisa menertawakan atau menangis bodoh menyadari diri kita melakukannya dan satu hal yang pasti adalah kita belajar dari kesalahan dan kegagalan kita. Menurutmu saat seseorang belajar ia akan bertambah pintar atau bodoh? Kau bisa menjawabnya sendiri.


Goncangan yang dirasakan oleh diri mudaku membuatku rapuh seketika. Mungkin kebanyakan wanita berpikir bahwa lelaki itu lebih kuat dari wanita, tapi biar ku beritahu sesuatu menarik tentang lelaki –well, aku harap aku tak melukai siapapun. “Sebenarnya lelaki memiliki sisi rapuh yang luar biasa jika itu berkaitan dengan “wanita yang berhasil melumpuhkan hatinya” hampir semua lelaki akan mengalahkan akalnya jika itu sudah menyangkut kata miring di antara dua tanda petik itu. Well, walaupun tak semua lelaki seperti itu, tapi sebagian besar lelaki adalah sosok manusia yang “menyembunyikan kerapuhannya di balik keangkuhannya”. Dan aku yang dulu juga lelaki seperti itu. Hingga sosok itu menghilang dengan kabar yang kian membuatku tak berhenti menyalahkan diriku. Dia pergi karena diriku. Meski aku tak percaya itu dan berharap itu hanya sebuah bualan. Namun, aku tak menemukan bukti bahwa itu sebuah kebohongan. Semua itu mengubahku menjadi sosok dingin yang membunuh hampir seluruh aura kehangatanku pada orang-orang di sekitarku. Itu adalah pilihan yang ku ambil untuk tetap melanjutkan hidupku di bumi tanpa dirinya. Itu tidak penting dia berada di dekatku atau tidak selama dia masih hidup di bumi yang juga ku pijak.


Dan sekarang… setelah semua itu… akankah aku kembali menjadi sosok lelaki seperti dulu? Hhh… benarkah itu dirinya…? Apakah Hyeri membohongiku…? Dia tidak benar-benar mati karena menyelamatkan ku malam itu…? Aku akan sangat marah saat orang yang ku percayai membohongiku. Tapi, apa ini…? Dari pada marah… aku rasa aku… bahagia… aku benar-benar berharap apa yang ku dengar dari mulut Hyeri 15 tahun lalu adalah sebuah kebohongan. Maaf, Hyeri… untuk mengharapkan sesuatu yang mungkin tak adil bagimu ini… tapi aku… merindukannya… dan dengan rasa ini… aku yakin… dia masih hidup…


*********


“BRAAAKKK…!” suara dobrakan pintu ruangan CEO Marendra Enterprise (ME) di Busan menggelegar setelah tendangan kuat penuh amarah Revan. “Tuan! Tuan tidak bisa masuk sembarangan seperti ini!” ucap sekertaris yang menyusul di belakang Revan namun sejak pertama masuk lantai ini tak digubrisnya. Revan terus melangkah masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dan tertutup satu lagi tirai penghalang itu untuk menemukan sosok sialan yang menjadi awal dari semua kekacauan tingkat dewa ini. Amarah Revan benar-benar memuncak. Arrggghh!!!


“Tunggu, Tuan!” Tangan lentik sekertaris yang tak lain adalah seorang wanita itu menarik lengan Revan, namun sedetik kemudian tangan itu terkibaskan kuat oleh Revan. Revan menoleh ke arah sekertaris itu dengan tatapan membunuhnya.


“Dengar, aku tidak suka berbuat kasar pada wanita! Tapi, saat ini aku sedang sangat tidak stabil, jadi jika kau masih ingin tetap hidup dan bekerja di sini, sebaiknya kau menyingkir dan keluar dari sini!” Revan segera berbalik ke depan dan melanjutkan langkahnya setelah mengucapkan runtutan kata pencabut nyawa yang sukses membuat sosok sekertaris itu membatu sebelum beranjak meninggalkan tempatnya penuh rasa takut.


“Ssrreet…Braaakkk…” tirai pembatas terangkat seiring pintu pembatas rahasia yang juga didobrak paksa Revan. Sosok yang dicarinya benar-benar berada di sini. Tempat rahasia yang dimiliki tiap CEO ME dan hanya diketahui beberapa orang saja, dan Revan merupakan salah satunya. Sosok itu masih berdiri membelakanginya seolah tak


menyadari kehadiran Revan. Rahang Revan mengeras. Matanya melebar juga memerah. Emosinya benar-benar siap meledak beberapa detik lagi. “Disaat seperti ini, bagaimana dia bisa…?!” batin Revan dipenuhi letupan amarah. Kakinya melangkah gegas. Tangan kirinya meraih bahu kanan sosok itu lalu menariknya kuat memutar untuk bertatap wajah dan melihat reaksi apa yang akan diberikan, sedang tangan kanan Revan telah melempar bogeman yang disiapkannya sejak tadi dan kini sedang setengah jalan menuju wajah sang biang kekacauan. Namun, dua senti sebelum mendarat, gerakan tangannya terhenti karena apa yang dilihat matanya. Sebuah senyum getir di wajah sembab sosok itu. Bahkan orang bodoh sekalipun tahu jika sosok di hadapannya baru saja menangis hebat. Bahkan saat ini ia tengah mengeratkan gigi-giginya sembari mencoba kembali tersenyum yang sama sekali tak terlihat sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja untuk menahan butiran itu kembali menetes. Bibirnya bergetar “Hhh…Rev-van…” panggilnya terbata kemudian. Tangan Revan yang telah mengepal dan terangkat seketika luruh bersamaan dengan butiran bening yang lolos dari mata indah sosok di hadapannya. Mulut Revan terbuka dan bergerak-gerak hendak berucap, namun tak ada satupun kata yang berhasil lolos dari lidahnya.


“Aarrrgghhh! Apa lagi ini sebenarnya?!” erang Revan frustasi. “Kenapa jadi kau yang menangis begini, Daylan sialan!” tubuh Daylan meluruh bersimpuh lalu terduduk di atas lantai. Revan berjongkok lalu lalu duduk mengimbanginya. “Apa yang terjadi padamu, bodoh…? Tidak tahu kah kau sudah cukup banyak orang yang menangis karena apa yang kau lakukan? Kenapa kau juga jadi menangis seperti ini?” setetes air mata yang sedari tadi ditahan Revan lolos tanpa disadarinya. Revan hanya segera memejamkan mata dan menutupnya dengan telapak tangan kanannya. “Bodoh… apa yang sudah kau lakukan…? Kau tidak mendengarkanku… sudah ku bilang…” Revan membiarkan butir-butir berikutnya lolos. Membuat Daylan mendekat dan menarik Revan ke bahu kanannya.


“Maafkan aku…” ucap Daylan kemudian.


“Kenapa kau minta maaf padaku, Bodoh?!”


“Karena aku menyakitinya…”


“Apa? Aku tak mengerti maksudmu. Jika kau menyakiti seseorang, kau harusnya minta maaf pada orang yang kau sakiti, bukan padaku! Aku…”


“Maaf karena aku menyakiti orang sangat berharga bagimu dan sangat kau cintai…” putus Daylan menjelaskan. Revan menyingkirkan tangannya, membiarkan matanya terbuka.


“Hah? Maksudmu…”


“Aku memutuskan Maura… aku membuatnya menangis…” mata Revan melebar. Bukan. Kali ini bukan karena marah. Namun lebih pada perkataan Daylan yang sebelumnya bahwa Daylan menyakiti orang yang sangat berharga dan sangat dicintainya. Revan menatap Daylan yang hanya mampu tertunduk dan kembali menggumamkan maaf. Revan masih menatapnya, mencerna apa yang sebenarnya… Tunggu… bukankah itu berarti… selama ini Daylan tahu bahwa sahabat baiknya ini juga mencintai Maura?


“Daylan…” panggilan lirih penuh rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap hati Revan membuatnya takut kembali kehilangan sosok berharga baginya lagi. Daylan mengangkat wajahnya. Manik mata keduanya bertemu. “Maafkan aku… aku lah yang harus minta maaf padamu… aku…”


“Kau tidak perlu meminta maaf untuk mencintai wanita yang sahabatmu cintai jika kau bahkan tak melakukan apapun dan hanya memendamnya. Kau bahkan menjauhinya… kenapa? Apakah kau melakukannya karena kau tahu aku mencintainya?” Revan menggeleng. “Lalu kenapa? Kau takut mencintainya lebih dalam?” Revan kembali menggeleng. “Kalau begitu katakan alasanmu melakukannya…!”


“M-maura yang memintanya…” mata Daylan melebar sejenak sebelum kembali meneteskan air mata.


“Hhh… sial! Dia benar-benar terlalu baik! Aarrggh! Aku benci diriku!” Daylan mengumpat dalam tangis sesaknya karena sebaris kata-kata Maura terngiang di telinganya, “ Apa yang kau lakukan pada cinta dan kepercayaan yang ku berikan padamu, Daylan?!”

__ADS_1


“Sejak kapan kau tahu?” tanya dengan penuh rasa bersalah itu terlontar lirih dari bibir Revan. Daylan menatap Revan lekat sebelum menjawab. Ah, sahabatnya ini terlalu baik untuk dilukai. Dia sungguh terlalu baik… Daylan menghembuskan napas berat. Ia tak menjawab. “Benarkah kau memutuskannya?” tanya penuh keraguan itu meluncur begitu saja dari bibir Revan karena tak mendapat jawaban dari Daylan juga karena ia telah mengingat tujuan awalnya kemari.


“Hmm.”


“Tapi, bukannya kalian tadi kencan dan bermesraan bersama?” Daylan menoleh terkejut.


“Kau… darimana kau tahu?”


“Jadi kau tidak benar-benar memutuskannya?”


“Apa maksudmu? Aku tidak mungkin sekacau ini jika aku tak memutuskannya!”


“Benarkah? Kau serius?”


“Ya, Tuhan! Sejak kapan aku berbohong padamu, Revan?!”


“Kalau begitu jawab pertanyaanku! Sejak kapan kau tahu aku mencintai Maura?”


“Hhh… kau mencuri kesempatan di tengah kesempitan!”


“Jawab saja.”


“Entahlah, aku juga tak tahu pasti. Tapi, aku ini sahabatmu, aku selalu memerhatikanmu, tatapan berbinar, khawatir, dan terluka yang sering kau gunakan untuk menatapnya, juga langkah kaki yang kau tarik saat ia mendekatiku, itu cukup membuatku tahu jika kau memiliki rasa itu. tapi, karena kau menyembunyikannnya dariku, aku juga tak berniat mengatakannya. Aku ingin kau yang mengakuinya.Karena kadang aku berujar ‘Sampai kapan kau akan menyembunyikannya dari ku? Sampai kapan kau pikir aku tak akan mengetahuinya?’”


“Maaf…”


“Aku melihatnya.”


“Hah?”


“Well, sebenarnya aku ingin membunuhmu saat aku datang ke sini.”


“Apa kau sudah gila?!”


“Yang gila itu kau, kenapa malah kau yang marah dan menuduhku begini?!”


“Apa yang membuatmu ingin membunuhku?”


“Karena kau tidak mendengarkan nasehatku sebelumnya. Well, lebih tepatnya akibat dari kau tak mendengarkanku.”


“Apa maksudmu?”


“Akira melihatnya…”


“Huh?”


“Kami melihatnya. Tapi, mungkin dia lah yang paling terluka. Kau tahu sendiri dia baru saja memutuskan untuk megakhiri hubungannya dengan Erlangga yang dicintainya, tapi akhirnya saat aku dan Tara sebenarnya berniat mengajaknya kemari untuk bertemu denganmu sebagai obat kesedihannya, kau malah sedang melakukan hal…”

__ADS_1


“Dasar Revan gila! Kenapa kau tak mengatakannya dari tadi!” potong Daylan yang kesal akan penjelasan lambat sahabatnya itu. Daylan hendak berdiri, namun ia kembali meluruh terduduk di samping Revan. “Ah, aku benar-benar merasa seperti pria yang buruk sekarang!”


Revan menatap Daylan lalu mendengus jengah. “Hhhh… Bagaimana bisa kau baru saja menyadari jika kau adalah pria yang buruk? Lagi pula bukan hanya itu yang membuatku ingin membunuhmu. Aku mendapat laporan dari orang-orangku bahwa Akira hampir tertabrak mobil. Dan parahnya lagi ia belum kembali ke hotel sampai sekarang.”


“Apa kau bilang?! Akira belum kembali?! Aaarrgggh!!” Daylan mengacak rambutnya frustasi. “Dia tidak tahu tempat ini, Revan! Dan dia bahkan sangat buruk dalam mengingat dan memahami arah! Oh, My…!” Daylan beranjak tergesa meraih blazer di punggung kursi kebesarannya di balik meja.


“Aku kira kau tidak khawatir padanya.”  Sahut Revan sukses membuat Daylan refleks menoleh kembali ke arahnya.


“Revan!” manik dua orang sahabat itu bertemu. Keduanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Daylan dengan tatapan, “Jaga bicaramu!” dan Revan dengan tatapan sendu yang menuntut sebuah penjelasan tanpa tanya yang terlontar


“Bagaimana bisa kau melepaskan Maura seperti ini setelah tahun-tahun panjang yang kau lalui bersamanya?” tanya sendu itu melembutkan tatapan manik Daylan. Ia tak menjawab. “Aku tak mengerti bagaimana kau dapat berubah secepat ini… karena aku…” Revan tersedak kata-katanya. Ia sungguh tak mampu melanjutkannya. Daylan


paham itu. ia tahu apa kelanjutan kalimat yang tak mampu sahabatnya lontarkan padanya itu. Sakit ? Ya. Sebegitu dalamkah ia mencintai mantan Mauranya? Dan apa yang ia lakukan selama ini hanya lari karena itu adalah permintaan gadis yang sangat disayanginya. Revan selalu menghindar. Satu dari sekian hal yang membuat Daylan menyadari perasaan Revan pada Maura. Dan meski selama ini selalu menampakan pura-pura tak mengerti apapun, kini tiba-tiba sesak menyeruak dari hatinya. Seberapa banyak ia telah menyakiti sosok yang menatapnya dengan mata sendu khawatir di depannya saat ini.


“Kau tak akan mengerti rasanya, Revan…”


“Hmm… aku tak akan mengerti, bahkan meski aku lebih pengalaman tentang wanita dari pada dirimu…”


“Hhh… kau bahkan tidak menyukai mereka. Dan kau perlu tahu, pengalaman tidak sama dengan pengetahuan dari buku dan teori. Lagi pula bukannya kau yang mengatakan padaku untuk memberi keputusan yang jelas dan memilih? Maura memang kekasihku, tapi Akira adalah istriku, aku telah menyakitinya berkali-kali, Re. Dan kau tahu


itu… aku tidak ingin menyakitinya lagi… Kau akan memahaminya saat kau menikah nanti… dan lagi, jika kau sebegitu mencintainya… jangan menahan diri lagi… bukankah ini… kesempatanmu?” mata Revan seketika membulat mentap manik Daylan tajam. Ia tak suka mendengar ucapan sahabatnya itu. Apakah ia bahkan layak


dikatakan manusia saat ia bahagia di atas tangisan gadis yang sangat dicintainya. Apakah ia pantas menganggap ini kesempatan sementara gadis yang dicintainya itu terluka berat karena ditinggalkan kekasihnya?


Daylan mulai beranjak setelah beberapa saat mengatakan kata yang tampak sangat mengagetkan lelaki di hadapannya lalu melangkahkan kakinya keluar. Namun suara Revan kembali menghentikan langkahnya saat ia masih memegang knop pintu ruang rahasia itu. “So, is it love or just a pity?”[1]mata Daylan seketika melebar beriringan dengan kepalanya yang kembali menoleh menatap sosok sahabat baiknya yang seolah tak lagi bertenaga itu. Tangannya mengepal menahan gejolak emosinya. Ia sangat ingin menghajar sosok itu. Andai


saja sosok itu bukan Revan. Ia akan dengan segera dan senang hati menghajarnya. Namun, Daylan justru hanya diam dengan tatapan tajamnya seolah itu cukup untuk jawaban. Revan tersenyum muak. “Jika kau mencintainya, maka jawablah dengan ucapan lisanmu. Jangan hanya diam dengan gestur seperti itu dan jawaban dalam


hati. Cinta itu bukan cuma dirasa yang diiyakan oleh hati. Cinta dibuktikan juga dengan perbuatan. Aku gak bermaksud komentar, tapi kalo itu cuma rasa kasihan sebaiknya loe berhenti sekarang. Karena dia nggak butuh rasa kasihan itu. Masih banyak cowok yang beneran cinta dan antri buat dia, asal loe tahu aja.”


“Makasih buat nasihatnya, Re. Tapi, aku rasa tanpa aku ungkapin, kamu tahu perasaan aku ke dia. Maaf buat nggak ucapin ini ke kamu sebagai bukti. Tapi, aku pingin dia jadi orang pertama yang denger dan lihat aku mengucapkannya.”


“Loe yakin loe nggak akan nyesel ninggalin Maura dan milih Akira?” Daylan tersenyum lalu menggeleng cepat.


________________


[1] Jadi, apakah itu cinta atau hanya sebuah rasa kasihan?


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!


Love you,

__ADS_1


Yurizhia Ninawa


__ADS_2