
“Memangnya… kau tahu apa yang sedang kupikirkan?”
“Menurutmu?”
“Kenapa malah bertanya padaku? Bukankah kau yang sudah sok tahu tentang pikiranku?”
“Ehmm… apa ya…?” Tanya Daniel meledek.
“Apa…??” Tanya mereka bersamaan disusul gelak tawa keduanya.
Akira membatin, “Aku tak mengerti kenapa, tapi bersamamu membuatku sangat nyaman dan mampu melupakan luka yang tak pernah aku bayangkan… kau selalu bisa membuatku kembali tertawa seperti ini… dan lupa akan semuanya… setidaknya kejadian buruk itu dapat berubah menjadi tawa yang menyenangkan untuk kita…
******
Alunan nada sambung Akira berbunyi keras mengusik tidur Akira. Tangannya meraba-raba ke samping kanan dan kirinya dengan mata yang belum terbuka. Telapak tangan kanannya mendapatkan handphone-nya dan segera menerimanya malas.
“Halo…” sapanya yang masih kuyu.
“Ra… kamu… baik-baik aja, kan? Kamu dimana sekarang?” Tanya suara dari sebrang membuat Akira benar-benar terbangun dan sadar. Dilihatnya layar handphone-nya tanpa kata “D’P for P”. matanya masih menatap tulisan itu dalam diam.
Bodoh! Sejak kapan aku bermimpi dan member dia nama sebagus ini? D’ P for P… jangan bercanda! Apa aku sudah gila? Dia sama sekali tidak pantas disebut The Prince for the Princess… dan yang sudah menamainya jelas-jelas gila dan bodohnya… pikir Akira.
“Ra… kamu denger aku, kan? Ra… halo… halo… Ra…” suara dari sebrang terus mengalir tanpa jawaban dari Akira. Ibu jari Akira bergerak menekan gambar telpon berwarna merah. Panggilan diakhiri. Akira melempar ponselnya ke ujung ranjang pelan. Namun, satu detik kemudian handphone-nya kembali berdering. Akira hanya
memandangnya lalu turun dari ranjang menuju toilet tanpa memperdulikannya.
*******
Daylan duduk sembari mengurut-urut keningnya. Fajar telah berlalu dan mentari telah siap menyingsing. Namun, ia belum juga mampu memejamkan matanya barang sejenak sejak semalam. Pikirannya masih terawang pada Akira. Rasa bersalah dan khawatirnya menyeruak dan menggelayuti hatinya.
Ditatapnya lagi ponsel di hadapannya. Ia berpikir berulang-ulang untuk menelpon Akira, namun berulang-ulang pula dirinya sendiri menolaknya.
“Hhhh….” Daylan menghembuskan napas panjang lalu berdiri meraih ponselnya. Kakinya melangkah ke balkon. Menumpu dirinya yang tak seenergik biasanya.
Ponselnya tiba-tiba bordering. Selaksa harapan mengembang di hatinya. Namun, sedetik kemudian harapan itu pupus kembali saat ia membaca nama penelpon di layar ponselnya. Maura. Bahkan nama itu tak membuatnya senang sama sekali. Dibiarkannya ponselnya berdering berulang-ulang tanpa diangkatnya. Ya, aku sedang kacau. Aku hanya akan menambah masalah jika mengangkatnya sekarang.
__ADS_1
Setengah jam berdiri di pagar balkon, ponselnya kembali berdering. Kali ini nama yang berbeda muncul di layar ponselnya. Daylan tersenyum menyesal lalu mengangkatnya lemas.
“Halo…”
“Hei, Bro…! Apa kabar?” sahut suara dari sebrang antusias.
“Hhh… aku tak bisa menjawab jika aku sedang baik-baik saja…”
“Tunggu…! Kenapa dengan suaramu? Apa maksudnya kau sedang tidak baik-baik saja? Apa yang terjadi…?”
“Aku terlambat… Revan… dia telah mengetahuinya persis seperti prediksimu…”
“Apa…?”
“Aku… memang bodoh… bagaimana aku bisa mengatakan semua itu saat aku adalah dalang dari semua ini… apa yang sudah ku lakukan padanya…” ungkapan lemah penuh penyesalan itu mengalir di telinga Revan.
“ Lalu, apa yang kau lakukan?”
“Aku tak berhak memintanya kembali, kan? Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya mengatakan padanya untuk kembali. Aku bisa lebih melukainya…”
“Dia pergi dari rumah?”
“Hmmm…”
Daylan terdiam lemas. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mencari alasan? Dan hanya apa yang bisa ia jadikan alasan untuk meminta Akira kembali setelah semua ini? Daylan menghembuskan napas beratnya lalu kembali ke kamar. Dibukanya pintu kamar lalu segera ia beranjak ke kamar mandi.
Daylan melangkah ke ruang tengah usai membersihkan muka dan menggosok gigi.
“Day, Akira mana?” Tanya Nyonya Marendra mengagetkannya. Daylan menjawabnya dengan uluman senyumnya. “Mama tanya Akira dimana, Day… bukan suruh kamu senyum…”
“Akira keluar sebentar tadi, Ma…”
“Bener sebentar? Mama ada janji nih sama dia buat ke salon dan spa, sekalian buat persiapan pengangkatanmu nanti. Telpon dia sekarang, gih!” mata Daylan terbelalak kaget menatap mamanya. “Kenapa lihat Mama kayak gitu sih, Day? Ah, Papa pasti belum kasih tahu kamu, ya? Ya udah, Mama yang kasih tahu. Nanti kita akan kenalin kamu dan resmiin kamu sebagai direktur di bawah bimbingan Tuan Shin. Nah, sekalian kita kenalin Akira sebagai Nyonya Muda Marendra. Jadi, sekarang kamu hubungin dia terus bilang Mama tunggu dia di taman, ya… Mama sama Papa ke taman dulu ya… jangan lupa bilang Akira…” Nyonya Marendra segera mengeloyor keluar pintu untuk menuju taman.
Daylan masih terdiam. Apa lagi ini? Hhh… Daylan membawa tubuhnya mendekat kea rah jendela. Ditatapnya ponsel di tangannya sekali lagi dan ia mantap, “tik... tik.. tik…” jarinya mengaktifkannya lalu membawanya ke menu telpon dan daftar kontak. Disentuhnya nama orang yang sedang sangat dikhawatirkannya. Panggilan masuk,
namun lama tak terangkat, hingga akhirnya…
“Halo…” sapa suara dari sebrang yang terdengar sayup-sayup.
“Ra… kamu baik-baik aja, kan? Kamu dimana sekarang?” tanyanya khawatir kemudian. Diam. Tak terdengar lagi jawaban. Tiba-tiba saja khawatir yang ada di hati Daylan bertambah. Apa yang terjadi padanya? Batinnya. “Ra… kamu denger aku, kan, Ra? Ra… halo… halo… Ra…”
__ADS_1
“Tiii…iitt…” panggilan diakhiri. Daylan diam tersadar. Ia tahu panggilannya diputus sepihak oleh Akira. Mungkin gadis itu masih marah padanya. Namun, hatinya tak ingin tahu alasan itu. Dan akhirnya ia memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Namun, kali ini panggilannya justru tak diangkat, bahkan di-reject. Dia pasti masih terluka karena kejadian semalam…
“Hhhh…”Daylan menghembuskan napas berat lalu menekan tanda send di layar ponselnya. Ini hal terakhir yang dapat dilakukannya.
********
“Dreeettt… dreett…” handphone Akira bergetar saat selangkah kakinya baru saja keluar dari kamar mandi. Kakinya melangkah mendekat ke arah ponsel lalu ia mengambilnya.
“Ra, aku tahu aku salah. Maaf… aku tahu kata maafku nggak akan merubah apapun buat kamu, tapi aku mohon, seenggaknya pulang buat mama. Kamu ada janji sama mama, kan? Mama bilang mama tunggu kamu di taman. Tolong, Ra… aku bener-bener minta tolong… dan maaf buat maksa kamu kayak gini. Tapi, aku bener-bener gak punya pilihan… tapi, kalo kamu emang gak mau dateng karena marah sama aku, nanti aku yang akan urus buat bilang ke mama… kalo kamu gak mau tolong bales sms ini… makasih, Ra…”
Akira mendesah dan tersenyum kesal. Beginikah caramu memintaku kembali? Hati Akira kesal. Namun, kakinya tetap melangkah untuk ganti baju dan bersiap menuju taman.
*****
“Wah, menantuku benar-benar cantik!” puji Nyonya Marendra pada Akira usai keluar dari salon menuju mobil.
“Mama berlebihan…”
“Eh, jangan salah lho… selera mama itu bener-bener tinggi dan Mama jarang bilang orang cantik kalau nggak bener-bener cantik. Jadi, kalau Mama bilang cantik, pasti banyak yang akan bilang cantik juga. Dan Mama yakin, laki-laki seperti Daylan pun akan mengatakan hal yang sama.”
“Hmmm… apa Daylan emang jarang muji orang orang ya, Ma?”
______________
Hmmm... Nggak tahu ya kalau Daylan... Tapi kalau readernim +62 kayaknya jarang puji author ya... :) Peace.... Bercanda, sayang. hehehe....
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : Nabila ubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. In sya Allah cerita kesayangan kita ini sebentar lagi akan dikontrak dan bila lulus proses kelanjutan kontrak kita akan bisa lebih sering update. So, buat teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1