
“Aku berusaha sebaik mungkin untuk menjadi lebih baik dari Erlangga, tapi tak peduli sekeras apapun aku mencoba melakukannya, di mata mereka, aku tak pernah lebih baik dari Erlangga. Aku mencoba melakukan semua yang mereka inginkan dan mereka minta. Aku berusaha untuk menurut sebaik mungkin. Hingga hari itu tiba. Hari dimana orang tuaku memintaku untuk segera pulang setelah aku menyelesaikan studyku di Tokyo University. Mama dan papa menyambut kepulanganku dengan cara yang sangat ku rindukan, tapi semua itu hanya untuk mengatakan bahwa mereka telah menjodohkanku denganmu. Kau tahu? Aku berusaha menolaknya karena Maura atas nama Erlangga yang lebih tua satu tahun dariku, tapi akhirnya aku hanya bisa berucap terserah. Sifat penurutku tiba-tiba saja berontak. Aku tidak bisa meninggalkannya…tapi sekarang…aku…aku tidak bisa kehilanganmu…aku…” Daylan segera menarik Akira ke dalam rengkuhannya. Cerita panjangnya itu terhenti derai air mata yang mengalir kian deras dari dua pelupuk matanya.
Akira masih terdiam memandang menerawang dengan Daylan yang kini menangis sembari mencoba menahannya di balik punggung Akira. Akira masih berpikir keras tentang apa yang baru saja ia dengar dengan bertambah lebarnya area bajunya yang terbasahi air mata Daylan. Ternyata Daylan yang terlihat kuat dan selalu bahagia bisa seperti ini. Berusaha terus tersenyum dan tertawa juga bersikap seolah tak ada apa-apa hanya agar kerapuhannya tertutup dan tak nampak oleh seorang pun. Bagaimana sebenarnya perasaan itu jika hanya ku bandingkan dengan diriku yang hanya dibandingkan dengan Tara dalam beberapa aspek saja… dia pasti sangat tertekan dan menderita…
“Hey, Akira… Aku mungkin tak akan mampu sebaik Erlangga. Karena aku adalah diriku dan Erlangga adalah dirinya… Aku tak akan memaksamu untuk tinggal jika orang yang kau pilih bukan dirinya… Tapi, karena sekarang semuanya sudah terjadi dan tak ada gunanya aku menyembunyikannya lagi, maka aku akan mengatakannya. Apakah kau juga akan pergi meninggalkanku untuknya seperti yang lainnya? Tak bisakah kau melihatku sebagai diriku dan tetap bersamaku?”
“Bagaimana dengan Maura?”
Daylan melepas pelukannya. “Dia satu-satunya orang yang memandangku sebagai diriku…”
“Jadi, kau lebih memilihnya, kan?”
“Itu bohong jika aku bisa langsung melepas dan melupakannya. Dan aku juga tak ingin melukainya, meski pada akhirnya ia pasti akan tetap terluka. Dan lebih dari itu, aku tak ingin menambah luka yang telah ku goreskan padamu, karena itu, aku akan mengurusnya…”
“Aku akan mencoba untuk percaya dan melihatmu sebagai dirimu… jadi, aku mohon jaga kepercayaanku…”
“Hmm. Terima kasih, Akira…” Daylan kembali menarik Akira dalam rengkuhannya. Akira masih terdiam dengan air mata yang tiba-tiba menetes tanpa disadarinya. Merefleksi rasa hatinya yang sebenarnya sangat berat menerima kenyataan, namun tak bisa membiarkan Daylan semakin terpuruk usai mendengar tutur panjangnya tanpa melakukan apapun. Dan tentang rasa yang mulai ada namun tak diacuhkannya, tak mampu tuk tak perhatian….
********
Hari baru datang. Mentari menyapa sesiapa yang mengharap dan merindukannya. Kembali terbit dan membawa harapan tuk manusia dan makhluk-makhluk-Nya.
“Aku berangkat!” seru Akira usai sarapan sembari beranjak menenteng tas hendak keluar hingga sebuah tangan menahannya menutup pintu disusul ucapan memohon, “Tunggu!”
“Kenapa?” tanggap Akira cepat.
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri.”
__ADS_1
“Tidak. Kita berangkat bersama.”
“Aku bilang tidak perlu!”
“Aku bilang kita berangkat bersama!” tutup Daylan kukuh sembari menariknya ke arah mobil lalu memintanya masuk.
Kunci dan persneling diputar. Stir menyusul kemudian, mengawali laju mobil Daylan pagi ini. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba mau mengantarku pagi ini?” selidik Akira curiga.
“Setahuku wanita suka diperhatikan, dimengerti, dan disayang. Mereka suka ditemani, diantar, dan diberi surprise. Apa kau tidak menginginkannya?”
Akira tersenyum mendesah. “Kau mengerikan saat bersikap sebaik ini…”
“Benarkah? Kalau begitu, bagaimana aku harus bersikap? Kau suka aku yang bagaimana?”
“Kau bilang kau ingin aku memandangmu sebagai dirimu, kan?”
“Hmm.”
“Kalau begitu, jadi saja dirimu!”
“Ini diriku.”
“Maaf untuk bersikap seperti itu… sebenarnya itu bagian dari acting-ku…”
“Haahh…? Acting kau bilang?! Kenapa kau ber-acting menyeramkan seperti itu?!”
Daylan menoleh ke arah Akira lalu tersenyum. “Karena aku tahu, aku tak seharusnya menunjukkan sisi manisku pada wanita yang tak kucintai. Karena aku takut memberinya harapan palsu dan melukainya. Karenanya aku bersikap tak ramah padanya. Agar dia membenciku dan tak perlu terluka nantinya, itulah yang ku pikirkan. Meski akhirnya aku tetap melukainya…”
Senyum Akira mengembang dengan ketakjubannya akan pikiran Daylan. “Aku tak tahu kau adalah orang sebaik ini hingga semua itu terjadi…”
“Terima kasih untuk tetap ada di sisiku dan berusaha melihatku sebagai diriku…”
“Hmm. Hey, awas belok!” Akira berteriak kaget.
“Aku tahu, tak usah khawatir!”
Mobil memasuki kampus dan bergerak cepat menuju fakultas Biologi untuk strata dua. Daylan menepikan mobilnya tepat di depan Fakultas Akira. “Kita sampai!”
“Aku lebih tahu darimu!” sahut Akira sebal sembari membuka pintu untuk turun. Daylan menarik lengan Akira saat hendak menutup pintu.
“Teganya, kau bahkan tak memberi apapun padaku yang telah mengantarmu! Kau bahkan berkata begitu kasar padaku.”
__ADS_1
“Aku tahu kita sudah sampai, dan sebelum kau mengusirku aku akan keluar sendiri.” Ucap Akira mengingat pertama kali Daylan mengantarnya ke kampus. Daylan menarik lengan Akira hingga tubuhnya kembali masuk kedalam mobil lalu mencium keningnya lembut dan penuh sayang. Mata Akira melebar kaget.
“Apakah aku selalu seburuk itu di matamu?” wajah Akira memerah tanpa jawaban. “Baiklah, cepat masuk kelas! Kau bisa terlambat jika terus berada di sini.” Akira menarik tubuhnya kembali lalu menutup pintu. Namun, sedetik kemudian tangannya kembali membuka pintu mobil. Akira menongolkan kepalanya sambil tersenyum.
“Kenapa?” tanya Daylan heran.
“Gomawo…!” “Daar!” ungkap Akira diikuti bunyi pintu yang ditutupnya. Daylan tersenyum melihatnya. Satu kenangan baru, ungkapan terima kasih dari Akira, batinnya.
Akira melangkah gegas setengah berlari menuju kelas dengan senyum bahagianya yang masih mengembang.
*******
“Tut..tut…tut…” nomor yang Anda tuju tidak dapat menjawab panggilan Anda, cobalah beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah bunyi…. “Klik.”
“Huuft… kenapa kau susah sekali di hubungi akhir-akhir ini..?!” seru dua suara dari dua arah berlawanan itu serempak. Keduanya mengangkat wajah bersamaan lalu sama-sama mendesah kaget dengan kalimat sama yang pertama terucap, “Kau…? Apa yang kau lakukan di…. ha…ha…ha…” kalimat mereka terputus dan tersambung tawa keduanya.
“Ah, aku akan bicara duluan…”
“Hmm… aku tidak keberatan dari pada terus mengucapkan hal yang sama bersamaan…”
“Baiklah, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini dan siapa yang sedang kau coba hubungi?”
“Siapa lagi jika bukan kekasihku tersayang…”
“Ah, maksudmu Daylan?”
_____________
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1