
“Berengsek! Apa yang kau lakukan pada Akira?! Aku tak akan memaafkanmu! Sehelai rambutnya saja terluka, aku akan benar-benar mengejarmu hingga ujung dunia dan mengirimu ke neraka!” caci dan cecar suara dari seberang telpon berapi-api. Lelaki itu
tertawa kencang dalam hati menertawakan sosok di sebrang telpon. Ia sendiri hanya berasumsi dengan informasi yang belum pasti benar dari bawahannya. Namun mendengar reaksi dari sebrang telpon, ia yakin seratus persen sekarang jika Akira-nya masih perawan. Ia bersorak senang untuk itu meski ia tak begitu menampakkannya di wajahnya.
“Hhhh… well, aku sangat sadar jika aku bukan lelaki baik-baik. Aku tak keberatan kau
mengejarku hingga ujung dunia selama Akira bersamaku. Tapi, saat kau akan mengirimku ke tempat terkutuk yang setiap manusia bahkan diriku yang seburuk ini berharap tak menyinggahi-nya itu, maka tenang saja, karena setidaknya aku akan membawamu turut serta bersamaku.”
“Kau…!” suara geram itu kembali terdengar namun sama sekali tak memengaruhi lelaki yang kini telah berjalan mendekat ke ranjang Akira.
“Kau berhutang banyak padaku. Karena itu jika kau tak juga sadar, aku rasa aku bisa
menjadikan Akira sebagi ganti rugiku.”
“Apa kau bilang?! Sebenarnya orang gila dari mana dirimu, huh?!”
“Lee Ren. Cari nama itu dan temui aku di markas kecilku pukul tujuh malam besok. Datang sendiri jika kau memang berhasil menemukannya. Jika kau tak datang dengan
alasan apapun itu di lima menit berikutnya, aku benar-benar tak akan membiarkanmu melihat Akira lagi SELAMANYA.” Klik. Sambungan ia putus sepihak kemudian tak memerdulikan suara dari seberang yang sempat meronta, setengah memohon, dan memaki kasar penuh ancaman. Sosok yang mengaku bernama Lee Ren itu meletakkan handphone Akira di nakas lalu tersenyum sumbang memandang Akira. “Sepertinya aku harus menarik ucapanku bahwa dia sama sekali tak memiliki perasaan untukmu… kau hanya tak sadar… dan kau tak perlu tahu itu.” ia lalu menarik selimut Akira. Memastikan bahwa tubuh itu tak akan kedinginan. “Istirahatlah! Aku akan pergi mengurus sesuatu sebentar.” Ren berbalik lalu melangkah pelan meninggalkan Akira. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan
sebuah bayangan kaki menghentikannya. Ia mengangkat visualnya lalu tersenyum saat korneanya menangkap kehadiran sosok yang tengah berdiri mematung dengan tatapan tak percaya di depannya.
“Oh, kau sudah sampai? Harusnya kau memberitahuku.” Ren melanjutkan langkahnya.
“Ren…” panggil sosok tadi menahan segumpal rasa geram di dadanya. Ren berhenti sejenak
lalu menyahut.
“Hmm. Jangan hanya berdiri dan memandangku seperti itu dari sana. Aku tahu kau datang bukan hanya untuk melakukan itu. Kita bicara di depan.” Lanjutnya yang kemudian meneruskan langkah kakinya. Sosok itu hanya mampu kembali mengeram sembari mengacak rambutnya kasar lalu menyusul Ren ke depan.
“Kau benar-benar akan hal gila itu?” tanya sosok itu to the point bahkan sebelum Ren sempat mendudukkan dirinya. Ren tersenyum samar dan mengurungkan niatnya untuk duduk. Ia berjalan mendekat ke arah jendela. Membelakangi sosok itu.
“Seperti biasa, kau selalu tak sabaran, Jaerim. Hhh… aku mungkin juga tak jauh berbeda,
tapi ada satu hal yang menggelitik keingintahuanku. Kenapa? Kenapa kau juga
ikut merahasia-kannya?” Sosok yang ia sebut bernama Jaerim itu sejenak tercekat. Kata-kata yang telah disiapkannya tersangkut di tenggorokannya begitu saja saat Ren membalikan tubuhnya berhadapan dengannya. Raut wajah dan tatapan terluka itu. Jaerim tak ingin kembali melihatnya.
“A-aku…”
“Kenapa kau turut berbohong padaku bahwa Akira meninggal karena melindungiku sepuluh tahun lalu?! Kenapa kau menyembunyikan kenyataan bahwa dia masih hidup dariku?! Kau tahu betapa hancurnya aku! Kenapa kau tak memberitahuku kebenarannya?!” rahang Ren mengeras. Matanya memerah menahan sesak. Ia merunduk lalu berujar parau,
“Kau tahu aku tak sekuat itu…” Jaerim kian mencelos. Niat awalnya yang datang untuk memarahi Ren dan memintanya menghentikan aksi gilanya hancur sudah
berserakan bersama apa yang dilihatnya. Jaerim beranjak mendekat meraih bahu Ren.
“Maaf… itu syarat dan permintaan yang diberikan oleh keluarga Akira untuk membuat mu lepas dari tuntutan dan permasalahan berkepanjangan. Akira mengalami amnesia saat itu, dan aku tidak tahu apakah sekarang ia sudah pulih dari amnesianya atau belum, yang jelas kemungkinan besar dia tidak akan mengingatmu.”
“Lalu menurutmu aku harus menyerah karena ia tidak mengingatku?” Jaerim tak menjawab
dan hanya menatap Ren datar. “Aku bahkan tak memiliki kenangan sebanyak itu yang mengharuskanku takut jika ia melupakanku. Bukankah dengan bertemu dengannya aku bisa membuat lebih banyak kenangan dengannya dari kenangan yang dia lupakan?”
“Tidak. Bukan karena itu. Aku tak ingin kau salah langkah, Ren. Kau bertemu dengannya karena kesalahan yang dilakukan Hyun-” kalimatnya segera terputus ucapan tak terima
Ren.
“Itu bukan kesalahan Hyun! Itu kesalahan suami sialan Akira!” Jaerim sontak tertawa
__ADS_1
mendengar pembelaan Ren. “Apa yang kau tertawakan?! Tidak ada yang lucu!” Jaerim menghentikan tawanya.
“Maaf. Caramu mengucapkan kalimat itu seolah seperti kau mengatakan jika yang sebenarnya sialan adalah Akira.” Ren ternganga. Suasana seketika mencair. Jaerim tersenyum bijak. “Ren, tidak semua tindakan orang yang kita sayang bisa kita benarkan.
Begitu juga sebaliknya, hanya karena kita membenci seseorang, tidak berarti kita bisa menyalahkan seluruh tindak tanduknya. Kita harus berusaha untuk menilai secara fair.” Jaerim kembali menepuk pundak Ren. “Aku tahu aku bukan orang yang sebaik itu untuk menasehatimu a dan b, tapi aku peduli padamu, Ren. Kalau kau memutuskan untuk tetap maju, itu berarti ku juga harus siap untuk menjadi perusak hubungan mereka yang mungkin memang sudah mulai retak.
Tapi, itu tidak hanya cukup sampai disitu. Kau akan melukainya jika dia tahu apa yang kau lakukan pada orang yang berharga baginya. Dan aku cukup tahu, kau akan menjadi pihak yang kemungkinan paling terluka pada akhirnya. Karena kau tak akan tahan melihatnya terluka karena dirimu. Pikirkan lagi keputusanmu, Ren… aku tak mau kau menyesal…” Jaerim mengelus bahu Ren pelan sebelum akhirnya ia melangkah meninggalkan Ren. Mata Ren terpejam sejenak berpikir. Ya, mungkin melanjutkan rencana gilanya ini akan membuatnya kembali merasakan sebuah luka
nantinya. Tapi, ia sudah berjanji akan melakukannya. Ini bisa juga menjadi kesempatan besarnya untuk mendapatkan Akira. Lagi pula ia tidak akan tahu jika tidak mencoba, kan? Ia membulatkan tekad. Maafkan aku Jaerim. Terima kasih untuk nasehatmu… -ia membatin kemudian.
*******
Daylan melangkah gusar memulai pencarian istrinya –Akira. Meski ia tak yakin ia pantas
mendapat maaf dari semua sosok yang dilukainya, setidaknya keegoisannya memohon untuk tidak menyisakan Akira sebagai the last one yang enggan memberinya maaf. Oh My God, Daylan! Sekarang bukan waktunya untuk mementingkan ego dan the damn forgivness itu!
Daylan kembali mendial nomor Akira setelah beberapa kali tak mendapatkan jawaban
sembari terus berjalan memutar jalan kecil sesaat yang tak bisa ditembus mobil untuk mencari sosok Akira yang mungkin saja tersesat. Mata Daylan melebar saat panggilan yang entah ke berapa kalinya itu akhirnya diangkat. Ia nervous plus khawatir plus merasa bersalah, ah pokoknya semuanya lah. “Halo, Ra…” suaranya memulai pembicaraan. Terdengar begitu bergetar. Belum lagi ia tengah berpikir keras untuk menyusun kata-katanya. Tak kunjung ada jawaban. “Ra…aku…mmm…maaf…aku baru telpon. Kamu dimana sekarang?” ucapnya lagi menunggu balasan. Ia tahu Akira pasti marah karena salah paham, tapi tak bisakah ia menjawab sejenak
saja? Jujur, ia khawatir. Hening.
“Ra…, kamu denger aku, kan?” ucapnya lagi lalu terdiam beberapa menit tanpa kata. Ia tahu Akira marah dan mungkin masih enggan memberi jawaban. Ia tahu mungkin apa yang dilakukannya memang salah, namun kini rasa khawatir lebih mendesak dadanya. Mungkinkah sesuatu buruk terjadi pada Akira? “Halo, Ra… Akira… Ra, kamu baik-baik aja, kan? Ra…” suara kian khawatir itu akhirnya sukses meluncur dari bibirnya. Kenapa Akira sama sekali nggak menjawab? Jangan-jangan… ketakutan akan hal buruk terjadi pada Akira kian menekannya.
“Aku rasa dia baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini.” suatu suara tak dikenal menyahut kemudian seolah air di tengah padang pasir sekaligus ghodam telak yang membuat hatinya seolah mencelos. Hening. Daylan seketika terdiam. Ekspresi kaget di wajahnya saat mendengar suara itu tercetak jelas. Ya, suara lelaki.
“Siapa ini?” suara Daylan seketika berubah tegas. Lelaki di seberang tertawa seolah
mengejeknya. “Maaf, tapi Anda tidak perlu tertawa seperti itu. Tidak ada yang lucu di sini. Tolong berikan telponnya pada Akira!” sentaknya kemudian. Apa-apaan sebenarnya orang di balik telpon itu menertawakannya seperti itu.
“Benarkah tak ada yang lucu di sini? Menurutku kau sendiri sudah lebih dari lucu.
“Apa maksudmu?! Siapa yang kau bilang sedang berkhianat?!” rahang Daylan mengeras kian geram. Siapa lelaki yang berani-beraninya mengangkat telpon Akira dan mengucapkan kata sekurangajar itu padanya?!
“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan dengan senang hati membantumu membuatnya hilang dari kehidupanmu dan membuatmu hilang dari kehidupannya.” Ucap lelaki dari
seberang penuh penekanan. Apa lagi ini?!
“Sialan, apa yang sedang kau katakan?! Berhenti bercanda dan berikan telponnya ke Akira. Aku bilang berikan telponnya pada Akira sekarang!” tekan Daylan sembari menjaga kegeramannya yang siap meledak.
“Apa kau tak pernah belajar sopan santun, Tuan Muda Marendra?” sindiran telak itu
tiba-tiba saja terlontar mengagetkan Daylan. “Kau sedang meminta bantuan atau setidaknya pertolonganku, kan?” suara dari seberang berjeda. “Ah, aku lupa jika kau bahkan belum mengenalku! Apakah aku seorang lelaki baik atau lelaki jahat yang sekarang juga tak punya hubungan apapun denganmu yang mengharuskanku untuk patuh padamu.”
“Hhh…” Daylan membuang napas kasar. “Baiklah, Tuan Muda yang belum saya kenal namun saya hormati, tolong berikan handphone ini pada Akira. Saya harus berbicara dengannya sekarang, saya mohon!” lanjut Daylan mengalah akhirnya.
“Kau tampak khawatir. Acting-mu sungguh hebat.”
“Hhhh…Apa lagi ini? Apa yang kau maksud dengan acting?”
“Kau baru saja memeluk gadis cantik yang seharusnya tak lebih penting dari istrimu tadi
siang. Apa kau akan mengatakan padaku jika kau lupa telah melakukannya dan sekarang bersikap seolah khawatir dan kau tak melakukan kesalahan apapun?” mata
Daylan seketika melebar terkejut akan kalimat yang baru saja menyentak nuraninya. Ya, bahkan meski itu adalah salah paham. Namun, siapa peduli?
“I-itu… bagaimana kau bisa…” sebuah tawa terdengar tanpa peduli memutus kata terbata
penuh keterkejutan yang akan dilanjutkannya.
__ADS_1
“Tentu saja kau bisa melakukannya dengan gadis cantik itu mengabaikan fakta bahwa kau memiliki seorang istri. Bagaimanapun juga kau seorang lelaki normal yang bisa
dengan mudah tergiur dengan kecantikan yang ditawarkan seorang gadis padamu.
Ya, itu wajar.” Daylan terdiam berpikir dan merasa bersalah saat seketika bayangan apa yang dilakukannya dan Akira muncul bersamaan. “Ya, itu wajar mengingat kau tak pernah mengerti betapa cantiknya istrimu saat dia TIDUR.” lanjut suara itu sembari menekan kata terakhirnya yang seketika meledakkan pertahanan emosi yang dibangun Daylan. Rahangnya sontak mengeras dengan mata membulat.
“A-apa..? Apa yang kau lakukan?! Apa yang kau lakukan pada Akira, Brengsek!” umpat Daylan memuntahkan sebagian ledakan emosinya. Apa yang dikatakan orang gila ini?! Apa yang telah dia lakukan pada Akira?! Bermacam pikiran buruk menggelayuti pikiran
Daylan.
“Setidaknya aku tidak menyakitinya seperti yang kau lakukan padanya. Aku hanya
menghangatkannya dan memberinya kenyamanan. Sesuatu yang tak pernah bisa kau berikan padanya. Karena aku bahkan cukup kaget mengetahuinya. Kalian telah
menikah hampir setahun, tapi dia masih… hmm” sosok itu berdehem menjeda
kalimatnya. “…perawan.” Ucapnya kemudian terdengar seolah malu-malu namun penuh profokasi. Arrrgghhh!!! Sialan apa yang sudah dia lakukan???!!!
“Berengsek! Apa yang kau lakukan pada Akira?! Aku tak akan memaafkanmu! Sehelai rambutnya saja terluka, aku akan benar-benar mengejarmu hingga ujung dunia dan mengirimu ke neraka!” caci dan cecar Daylan berapi-api.
“Hhhh… well, aku sangat sadar jika aku bukan lelaki baik-baik. Aku tak keberatan kau
mengejarku hingga ujung dunia selama Akira bersamaku. Tapi, saat kau akan mengirimku ke tempat terkutuk yang setiap manusia bahkan diriku yang seburuk ini berharap tak menyinggahi-nya itu, maka tenang saja, karena setidaknya aku akan membawamu turut serta bersamaku.”
“Kau…!” rasa-rasanya ia benar-benar ingin melayangkan bogem mentahnya pada lelaki di seberang jika
tak ingat mereka terbatas ruang sekarang.
“Kauberhutang banyak padaku. Karena itu jika kau tak juga sadar, aku rasa aku bisa menjadikan Akira sebagi ganti rugiku.” Omong kosong apa lagi ini?!
“Apa kau bilang?! Sebenarnya orang gila dari mana dirimu, huh?!”
“Lee Ren. Cari nama itu dan temui aku di markas kecilku pukul tujuh malam besok. Datang sendiri jika kau memang berhasil menemukannya. Jika kau tak datang dengan
alasan apapun itu di lima menit berikutnya, aku benar-benar tak akan membiarkanmu melihat Akira lagi SELAMANYA.” Klik. Sambungan diputus sepihak kemudian tak memerdulikan Daylan yang mengumpat dan mengeram frustasi. Hari ini mungkin akan menjadi hari terpanjang dalam sejarah hidup Daylan untuk mengumpat.
*******
Daniel menarik napas lalu menghembuskannya pelan sembari menikmati semilir angin pantai dan pernak-pernik yang mengiringi keindahan pantai ini dengan mata terpejamnya. Ia kemudian membuka kedua kelopak matanya menatap laut dengan deburan ombaknya dan
berbagai cahaya lampu yang menjadikan pemandangan di depannya kian cantik.
Wajahnya berusaha menarik bibirnya untuk menyunggingkan sebuah senyum, namun
matanya sepertinya berkhianat dan kembali memerah dengan gulungan memori tentang kisah cintanya yang kembali terlintas seperti kaset rusak. Ah, ternyata tak semudah itu untuk bahkan mencoba tersenyum tulus dan ikhlas melepaskanmu, Sweetheart –Akira.
______________
***Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa***
__ADS_1