
Daylan menahan tangisnya dengan senyum lalu mengangkat kepalanya. “Karena kau sudah di sini, kenapa kita tidak pergi jalan-jalan bersama? Kita sudah lama tidak jalan-jalan berdua, bagaimana menurutmu?” Maura tersenyum mengiyakan. Daylan kembali menarik tangan Maura berlari menyusuri Kawasan Seomyeon dengan
berderet-deret took, restoran, dan café di sepanjang jalan. Mata Daylan tertuju pasti pada suatu tempat. Langkahnya terhenti.
“Kenapa berhenti di sini?”
“Ikut aku!” Daylan kembali menarik tangan Maura tanpa menjawab pertanyaannya dan segera menuju sebuah toko bernama “New Style & Mode”
“Apa yang akan kita lakukan di sini?”
“Kompakan!”
“Hah?”
Daylan menyahut sepasang topi couple lalu memakaikan salah satunya di kepala Maura dan yang lain di kepalanya sendiri sembari tersenyum tanpa menjawab kebingungan Maura. Daylan menyeka-nyeka sederet baju yang terpajang. Maura turut memilih. Maura mengambil sebuah baju lalu mencocokkannya pada Daylan. Daylan turut melakukan hal serupa. Keduanya tersenyum lalu mengisyaratkan untuk mencoba baju yang dipilihkan oleh satu sama lain. Keduanya memasuki ruangan ganti yang bersebelahan.
“Krek. Tap.” Kedua tirai ruang coba terbuka diiringi langkah kaki yang keluar darinya secara bersamaan. Senyum keduanya melebar. Daylan meraih topi couple yang tadi diambilnya memakainya dengan setengah menunduk dan tersenyum. Maura turut memakai miliknya. Keduanya menuju kasir dan sebelum membayar semuanya Daylan menyahut sepasang kaca mata dan memakaikan salah satunya pada Maura. Keduanya kembali keluar dengan penampilan baru mereka.
Keduanya kembali melangkah sejajar menyusuri Soemyoen area dengan penampilan barunya. Mereka memasuki area food street dan eatery alley yang penuh dengan kios, restoran, dan makanan di pinggir jalan lalu menyambangi beberapa di antaranya dan mencoba jajanan khas Busan. Keduanya menutupnya dengan 32 cm parfait ice cream, cabang dari sebuah kios ice cream di Seoul. Ice cream stinggi 32 cm dengan rasa yang bermacam-macam. Maura membuka tasnya dan meraih ponselnya setelah menerima ice cream pesanannya. Ia meminta seseorang memotonya bersama Daylan dengan memegang ice dream di kedua tangan masing-masing. Maura bertrimakasih dan mulai melangkah bersama kembali sambil melahap ice creamnya. Keduanya memutuskan untuk duduk menghabiskan ice cream mereka saat menemukan sebuah spot yang cocok untuk sejenak bersantai makan ice cream bersama. Kerumunan orang lewat bergantian. Daylan tersenyum melihat sesuatu. “Hey, Maura… kau mau mencobanya?”
“Mmm…boleh juga! Ayo kita coba!” keduanya lalu kembali berjalan dan menuju sebuah tempat penyewaan sepeda. Mereka memilih sepeda bersambung dua. Keduanya mengayuh menuju Gwangalli Beach. Sebelum ke sana ke duanya berhenti di sebuah spot yang biasa dijadikan tempat street performance. Dan karena hari ini adalah weekend, keduanya beruntung untuk dapat menyaksikan suatu street performance. Seorang artis berwajah rupawan tengah menyanyikan sebuah lagu dan sesekali turut berdance bersama pengiring dancenya. Maura bertepuk tangan berulang-ulang sembari menikmati suara dan penampilan yang memukau dari performance street
itu. Ia tersenyum lalu menoleh ke kanan, “ Hey, Daylan! Ini sangat bagus…kan?” tanya Maura setengah terputus saat visualnya tak mendapati sosok yang ditanya. Tepukan tangannya terhenti. Wajah bahagianya berubah panik seketika. Ia segera mengambil langkah pertama menyeruak kerumunan orang yang ada dengan visual yang
menerobos ke berbagai arah. “Daylan…!” panggilnya sembari menerobos kerumunan orang yang ada di sekitarnya. Pandangannya menyapu ke berbagai arah sembari terus memanggil Daylan. Matanya mulai berkaca-kaca. kalut seketika menyelimutinya. Apa yang sebenarnya sedang hatinya rasa-kan…? Mengapa serumpun ketakutan yang
mengental menyeruak di hatinya seolah pemilik nama yang diteriakkannnya benar-benar akan hilang dari pangdangan dan jangkauannya…?
Langkah kakinya segera berhenti seketika saat sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahunya pelan. Ia berbalik cepat. “Hwaaaa…” Maura menjerit histeris mendapati apa yang dilihatnya. Sosok bertopeng yang menepuk bahu Maura menutup mulut Maura refleks dengan sebelah tangannya. Orang-orang menoleh ke arah mereka, dan sosok itu
segera meyakinkan tak terjadi apa-apa setelah satu tangannya yang lain membuka topeng hantu di wajahnya sembari membungkuk meminta maaf telah membuat keributan. Air mata Maura menetes. Raganya mendekat lalu memukul-mukul sosok yang tak lain adalah Daylan pelan lalu memeluknya. Ia masih tak mampu
berkata-kata. Daylan yang setelah dipukul tiba-tiba dipeluk terengah. Ada apa ini…? Ada sesuatu yang aneh…
“Kau membuatku takut…” ucap Maura pilu akhirnya.
“Maaf, aku hanya sedikit iseng dan ingin mengagetkanmu tadi. Aku tak menyangka akan jadi seperti ini… aku tak bermaksud…” kalimat Daylan terputus.
“Aku tahu. Jangan ulangi lagi! Jangan pergi dan tiba-tiba menghilang dari sampingku … jangan pergi ke tempat yang tak bisa ku jangkau lagi setelah akhirnya visualku mampu menjangkaumu di sini…! Aku… aku tak ingin kehilanganmu… aku mohon…” mata Daylan melebar terdiam. Hatinya tiba-tiba nyeri dan ngilu.
“Ah, ada banyak cindera mata di sini! Kau mau beberapa cindera mata cantik untuk memperbaiki mood?” Daylan mengalihkan permbicaraan tanpa merespon lanjut akan permohon-an Maura. Maura melepas pelukannya. Jemari Daylan menyeka air mata Maura. “Jangan menagis lagi, Ok?” Maura masih tertunduk mengatur perasaannya. “Hey…jika kau menangis seperti ini…aku juga akan sedih dan terluka…” Maura mengangkat wajahnya menatap Daylan. “Aku mohon, jangan menangis lagi…!” Maura mengangguk berat. Daylan tersenyum dan segera menarik tangan Maura menuju berderet-deret toko cindera mata. Keduanya melihat-lihat dan memilih-milih. –Maaf, Maura untuk tak membiarkanmu menangis…- Maura larut dan berusaha menikmati kembali suasana manis bersama Daylan. Jemarinya menggerai kumpulan acsesoris di hadapannya.
“Tadaaa…!” Daylan mengagetkan Maura dengan sekuntum bunga yang di tangannya. Bibir Maura merekahkan senyumnya seperti bunga yang dibawakan untuknya. Matanya berbinar bahagia. “Untukmu, Sweety….” Daylan mengulurkan tangannya tulus. Maura meraihnya pelan lalu mencium semerbaknya.
“Gomawo…” Daylan tersenyum mengangguk pelan.
__ADS_1
“Kau sudah memilih sesuatu?” Maura mengangguk.
“Aku ingin kalung pasangan kunci dan gembok saja. Bagaimana menurutmu?” Daylan terdiam sejenak. Wajahnya memaksakan ujung-ujung bibirnya menarikkan senyum.
“Tentu. Ambilah!”
Maura mengukir senyum bahagia sembari meraih cendera mata yang diinginkannya dengan jemarinya lalu menggerak-gerakkannya. Daylan memahami bahasa isyarat Maura dan segera mengulurkan tangannya meraih kalung pasangan yang tengah di sentuh Maura lalu memakaikan kalung bergantung gembok kecil imut dan elegan di leher Maura. Maura lalu ganti memasangkan kalung gantung kunci di leher Daylan. “Ayo!” ajak Daylan sembari menarik tangan Maura seelah membayar cendera mata mereka. Keduanya berjalan santai berdampingan menuju ke tempat sepeda yang mereka sewa. Daylan menyiapkan posisi sepeda lalu naik di depan. Maura menyusul duduk
di belakang. “Baiklah, kita lepas landas! 1, 2, 3…goooo…!” keduanya meluncur menuju Gwangalli Beach.
“Wuuuuu….!” Maura berseru riang sembari terus menggoes. Sepeda melaju kian cepat. Semilir angin membelai kian sejuk, membisikkan kebahagiaan dan ungkapan saying di telinga Maura. Maura segera melepas topi dan merentangkan kedua tangannya, sebelah kanan memegang bunga dan sebelah kiri memegang topinya. “Aku mencintaimu…Daylan!” jerit Maura hingga penghujung suaranya. “Gomawo…!” tambahnya lagi tertutup senyum bahagia nan puas yang membuatnya kian cantik dengan belaian angin yang mengibaskan baju dan rambut-nya.
Deg. Hati Daylan tersentak. “Ini menyakitkan untuk mengakuinya. Tapi, semakin aku berusaha mengelaknya, rasanya sangat menyakitkan. Sebenarnya mungkin aku… menyukaimu jauh di awal pertemuan kita… saranghaeso mianhae…”[1] ucapan Akira yang ditutup dengan kalimat terakhir yang ia bisikkan di telinganya terbisik ulang lembut oleh hembusan angin. Mata Daylan berkaca-kaca. Malam itu ia pura-pura tak mendengarnya sembari memejamkan matanya yang sejatinya telah terbangun beberapa saat setelah Akira duduk dan berbicara di sampingnya. Ia hanya tak ingin membuatnya lebih sulit dan terluka. Dan di atas segalanya yang akan terjadi, ia tak ingin Akira pergi dari sisinya, karena jauh dalam hatinya turut trselip sebuah kata dan rasa yang mungkin meski sulit dan tak ingin diakuinya, benar adanya. Mata Daylan berkaca-kaca. goesannya melemah. Air matanya jatuh.
BRUK. Sepedanya jatuh kehilangan keseimbangan. Daylan tersadar. “Aww…itc…” Maura mengaduh sakit.Daylan beranjak menghampirinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Daylan khawatir tanpa memerdulikan kakinya yang juga terluka.
“Tidak papa, hanya sedikit sakit. Tidak perlu khawatir!”
“Maaf…” sesal Daylan akhirnya.
“Sudahlah, jangan seperti ini! kita hanya harus meneruskannya. Karena hidup memang tak selalu seperti yang kita inginkan. Sesekali kita memang harus terjatuh, Daylan…” Daylan tersenyum getir. “…kita hanya perlu bangkit. Maski itu lebih sulit menjalaninya dari pada melakukannya.”
“Hmm. Terima kasih untuk segalanya, Maura…” Maura tersenyum mengangguk pelan. “Kau lapar?” Maura memutar bola matanya lalu kembali mengangguk. “Kalau begitu kita makan Yoogane Dak Golbi[2]saja di sana, bagaimana?” Daylan menunjuk sebuah restoran dengan gambar ayam jago yang semua menunya langsung dimasak di meja dan tak terlalu jauh dari posisi jatuh mereka. Maura setuju dan keduanya segera beranjak menuju restoran tersebut. Keduanya makan bersama seperti biasanya. Selalu ada cerita, canda, dan tawa dalam kebersamaan mereka. Suasana alam dan restoran dan penyajian makanan yang berbeda membuat kebersamaan mereka terasa lebih baik.
“Jika kita berjalan terus kita akan sampai di Gwangalli Beach.” Ucap Daylan setelah keduanya berada beberapa meter di depan restoran tempat mereka makan.
“Kalau begitu ayo terus berjalan bersama hingga mencapai tujuan kita!”
indah dilihat di senja hari dari sana. Aku ingin kau melihatnya.” Maura tersenyum bahagia bertrimakasih.
“Splaasssh… byuur… splaasssh… byuur…” deburan-deburan ombak mengibas pasir pantai lalu kembali kelaut dan mengulang-ulangnya menjadi sebuah melodi yang menyenagkan untuk dipandang bersamaan dengan matahari yang telah berada di posisi sepenggal di atas laut. Daylan dan Maura duduk beristirahat berdampingan di atas pasir
pantai memandang kemilau senja di tepi laut setelah bersepeda di sepanjang pantai dan bermain-main air bersama.
Maura berdiri merentangkan kedua tangannya menghadap laut dan mentari. Hembusan angin laut menggerak-gerakkan rambut dan bajunya. Bibirnya melukiskan sebuah senyum yang kian membuatnya memesona. Tangannya tergerak ke ujung-ujung bibirnya. “Hari ini sangat indah… Aku bahagia... Terima kasih, Daylan…!” serunya memekik puas bahagia.
Raut wajah Daylan berubah pasi. Mengikuti perasaan dan hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa? Haruskah aku, dia…? Maura menoleh ke arah Daylan. Ia melihat jelas gurat-gurat pasi di wajah Daylan yang tak dapat tertutupi lagi.
“Hey, Daylan! Jangan memasang wajah seperti itu di saat seindah ini!” Maura kembali memandang ke depan.
“Maaf…” ucap Daylan lirih tertunduk. Air matanya menetes. Maura refleks menoleh ke arah Daylan.
“Apa yang barusan kau katakan? Katakan sekali lagi, aku tak dengar.”
“Maafkan aku, Maura…”
“Maaf? Untuk apa? Dan ada apa denganmu? Apa kau sakit? Kau kelelahan?” Daylan mengangkat pandangannya menatap wajah Maura. Setetes bulir bening kembali menetes dari pelupuk mata Daylan. Daylan bangkit. Melangkah mendekat lalu memeluk Maura. Air matanya mengalir tak peduli seberapa kuat ia berusaha menahannya. –Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi…?-
“Maaf… sungguh maafkan aku…” ucap Daylan berulang-ulang di tengah tangis dan pelukannya. “Selamat ulang tahun, Maura…” mata Maura melebar tersentak. ~Aku mencintai-mu, Maura.~ Daylan melepas pelukannya. Melangkah mundur satu langkah. Wajahnya yang masih sembab menatap Maura.
__ADS_1
“Kenapa kau menangis? Itu bukan dirimu untuk menangis seperti ini. Apa kau tak bahagia melalui hari seindah ini bersamaku? Dan kenapa kau minta maaf? Meski aku tak mengerti untuk apa kau meminta maaf seperti itu, tapi mendengarnya cukup membuat hatiku sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Daylan menarik ujung-ujung bibirnya dan berusaha menahan bilir-bulir air mata yang tetap menetes di wajah tampannya. “Hari ini kau genap berusia 23 tahun…semoga tahun ini menjadi tahun baik dan berisi kebahagiaan untukmu…semoga kau bisa menggapai cita-citamu, lulus dengan nilai yang lebih dari baik, dan menemukan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya kau temui, kau jalani, dan kau sayangi…” Maura mengukir senyum dalam kebingungannya.
“Terima kasih, Daylan… kau membuatku...”
“Hari ini…” Daylan memutus kata-kata Maura. “…adalah… hadiah terakhirku untuk mu.” mata Maura melebar.
“Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan, Daylan?”
“Hari ini akan menutup semuanya… antara kau dan aku…”
“Sudah ku bilang, apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan?! Kau membicarakan hal aneh yang tak ku mengerti!”
“Maafkan aku, Maura… untuk tak jujur padamu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Maafkan aku karena bahkan saat aku menutupi suatu kenyataan darimu aku masih mencintaimu, dan berharap kau akan tetap mencintaiku
tanpa mengetahuinya. Dan maaf karena bahkan meski aku sangat tak ingin mengakuinya… aku mungkin telah mengkhianati kepercayaanmu padaku.”
Mata Maura memerah berkaca-kaca. Ia mulai memahami arah pembicaraan Daylan yang terasa menyakitkan. “Apa yang kau katakan? Setiap orang memiliki sesuatu yang sangat ingin ia simpan dan tak diketahui orang lain, siapapun itu, bahkan pasangan juga mungkin memiliki rahasia yang tak ingin diketahui oleh pasangannya. Jadi,
bukankah itu juga wajar jika kau merahasiakan sesuatu dariku? Aku tidak keberatan.” Tanggap Maura berusaha memberi alasan bagi dirinya dan Daylan untuk merasa lebih baik. Menepis sebuah ketakutan akan kemungkinan terburuk yang bisa saja menjadi kenyataan.
Daylan tertawa tak menyangka akan jawaban Maura. Tawa yang menyamarkan kesedihan dan air mata. “Kau terlalu baik, Maura! Bagaimana bisa kau mengatakan kau tak keberatan untuk tak mengetahuinya sebelum kau tahu apa yang ku sembunyikan darimu…?”
“Hentikan…! Jangan katakan apapun lagi!” Maura mengalihkan pandangannya.
“Kenapa? Setelah kau bilang kau tak keberatan aku menyembunyikan sesuatu darimu sekarang kau akan kabur dari kenyataan karena telah mendapat hipotesa[3] tentang apa yang akan terjadi selanjutnya karena hal yang ku rahasiakan itu? Jangan melarikan diri seperti itu, Maura!”
_________________
[1] Maaf (karena) aku mencintaimu…/Maaf untuk mencintaimu…
[2] Ayam panggang Yoogane
[3] Tebakkan/kemungkinan/dugaan
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1