
“Siapa telpon malam-malam begini…?” Hyun menggerutu sebal. Yuri mengangkat telpon.
“Halo… Oh, Daylan-ssi[1]… Ya, aku masih belum tidur. Ada apa telpon malam-malam begini?... Hah? Akira-ssi
pingsan?... Kedinginan?... Kalau begitu kau hanya perlu membuka bajunya dan menggantinya… Hah? Kalian belum… Oh, baiklah, aku mengerti… Hmm, aku akan segera kesana…” Yuri mengakhiri telponnya.
“Ada apa lagi dengan anak itu?”
“Dia bilang Akira pingsan karena kedinginan. Dia sangat panas dan bajunya basah karena salju…” Yuri tertawa.
“Lalu?”
“Lalu aku bilang dia hanya perlu menggantinya… dan kau tahu apa?”
“Apa?”
“Dia bilang dia tidak bisa melakukannya… mereka benar-benar pasangan polos, ya…”
“Jadi, dia memintamu melakukannya?”
“Hmm… tepat sekali!”
“Dan apa yang sedang kau lakukan di sini? Ayo cepat kita kesana, mereka berdua bisa mati kedinginan karena menunggumu!”
“Oh, maaf mengganggu malam-malam! Silakan masuk!” Daylan membuka pintu lalu mempersilakan Hyun dan Yuri masuk.
“Dimana Akira-ssi?”
“Dia di dalam. Aku sudah menyiapkan bajunya. Tolong lakukan sisanya!” Daylan menunjukkan kamar Akira lalu menundukkan kepalanya meminta bantuan Yuri.
“Baiklah, aku akan urus sekarang. Kalian tunggu di luar.” Yuri masuk lalu menutup pintu.
“Hhhh… akhirnya…” Daylan merasa terselamatkan.
“Kau begitu khawatir, ya…?” Hyun berucap tiba-tiba.
“Oh, Hyun-ssi… itu…”
“Apa yang terjadi padanya?”
“Hah?”
“Jangan memberiku ’hah’-mu itu! Aku jelas melihatnya di matanya sebelum aku melihatmu masuk mobil bersama gadis lain…”
__ADS_1
“Hah… Anda melihatnya…?”
“Tak perlu kaget seperti itu. Itu kebetulan yang mengejutkanku juga. Aku yakin dia melihatmu dengan gadis itu sebelum bertemu denganku. Ya, kan?”
“Hhh… Anda benar-benar tahu banyak tentang itu, ya…”
“Hey, Daylan! Jangan main-main dengan perasaan wanita! Mereka itu sangat sensitif. Sekali kau salah melangkah, kau akan melukai semuanya…”
“Aku… juga tak ingin melukainya…”
“Dan apa yang kau lakukan?”
“Tapi… aku juga tak bisa untuk meninggalkan gadis yang tadi kau lihat bersamaku… aku… masih sangat menyukainya…”
“Apa Akira tahu itu?”
“Hmm. Dia tahu…”
“Jadi begitu…”
“Apa maksudmu?”
Hyun tersenyum. “Sudah ku bilang, kan? Wanita itu sensitif. Dia pergi setelah melihatmu bersama gadis itu, pasti karena dia tak ingin menjadi penggangu dan menyusahkanmu. Mungkin dia juga melihat apa yang ku lihat tadi…”
“Apa itu?”
“Senyum dan tawamu saat bersama gadis itu… itu terasa sangat berbeda… dia mungkin berpikir dia tidak pernah membuat mu tersenyum dan tertawa seperti itu, karena itu dia pergi dan berpikir jika itu akan lebih baik. Tapi, apa kau bahkan tak tahu kenapa dia sampai melakukan itu?”
“Bagaimana dia akan membaginya denganmu saat kau tak memiliki ruang untuknya?” Daylan tersentak kaget. “Aku jadi penasaran. Jika kau masih menyukai gadis itu, kenapa kau tinggal serumah dengan Akira?”
“Ah, itu… itu…”
“Kau tidak tahu, ya?”
“Hah? Tentang apa?”
“Tinggal serumah dengan lawan jenis itu berbahaya.”
“Oh, itu… tentu saja aku tahu…”
“Jadi alasanmu tinggal dengannya?”
“Anu… aku tidak bisa mengatakan itu…”
“Kau mungkin baik-baik saja dan tak menyimpan perasaan apapun pada Akira. Tapi, siapa yang bisa menjamin bahwa dia merasa sama seperti mu?” Mata Daylan kembali melebar tersadar. Kata-kata Akira sebelum pingsan mulai terputar dalam otaknya. “Meski aku cukup kaget tadinya karena kau bahkan tak berani mengganti bajunya…” Hyun tertawa lepas.
“I-itu bukan sesuatu yang pantas untuk ditertawakan…!”
“Aahhh… orang Indonesia benar-benar sopan dalam hal seperti itu ya…!”
“Hyun-ssi…!” wajah Daylan memerah malu.
__ADS_1
Yuri keluar. “Aku sudah selesai…”
“Oh, terima kasih!” Daylan berdiri menunduk.
“Sama-sama. Oh ya, jangan lupa mengompresnya! Badannya masih sangat panas…”
“Baiklah. Terima kasih!”
“Kalau begitu kami pamit.”
“Ya. Hati-hati. Terima kasih untuk bantuannya!” Daylan mengantar keduanya ke depan pintu lalu membuka dan mempersilakan mereka pulang.
Hyun berbalik dan berjalan mendekat ke Daylan. “Kau laki-laki. Kau harus menentukan pilihanmu dengan jelas, cepat, dan tepat…” ia menepuk bahu Daylan lalu kembali menyusul Yuri masuk ke apartemennnya.
Daylan terdiam sejenak lalu kembali masuk dan menutup pintu apartemennya. Ia kemudian menyiapkan perlengkapan untuk mengompres Akira dan membawanya di atas nampan. Ia membuka pintu kamar Akira lalu masuk dan meletakkan nampan bawaannya di atas meja di samping ranjang Akira.
Disentuhnya kening Akira dengan telapak tangannya. Dia benar-benar panas. Daylan segera meraih handuk kecil yang dibawanya lalu memasukkannya ke dalam air dan memerasnya pelan. Tangannya meletakkannya di atas kening Akira hati-hati.
“Dasar Bodoh! Kenapa kau melakukannya?” Daylan berucap pada dirinya dan Akira yang tengah tak sadarkan diri. Kata-kata Akira tiba-tiba mengiang dalam memorinya. Daylan tersenyum getir. “Jika kau bilang aku tak boleh mengatakannya padamu, bagaimana aku dapat membalas semua kebaikanmu dan menebus kesalahanku?! Kau pasti bercanda. Kau benar-benar tak memberiku jalan untuk melakukan sesuatu sebagai permintaan maaf dan terima kasihku…. Hhh… sejak kapan aku menjadi lelaki seperti ini? Sejak kapan aku memperlakukan wanita seperti ini… “
“Dad… Dad… maafin Akira… hhh…hhh..” Akira berucap tanpa sadar dalam demamnya lalu kembali tidur. Daylan menatapnya kaget. Apa yang baru saja ia dengar? Tangan Daylan bergerak mengganti kompresan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Daylan memasukkan tangan Akira ke dalam bed cover. “Maaf…” air mata Daylan menetes dengan rasa bersalah yang mengalir di hatinya. “Maaf untuk membuatmu seperti ini… maafkan aku untuk selalu berkata kasar dan bodoh padamu… maaf…” penyesalan dan rasa bersalah itu kian membuat air matanya menderas sembari terus mengganti kompresan Akira beberapa menit sekali hingga akhirnya ia tertidur di samping Akira.
“A-ir… a-ir…” ucap Akira setengah sadar membangunkan Daylan.
Air? Daylan segera beranjak dan mengambilkan segelas air untuk Akira. Namun, kelihatannya akan sulit meminumkannya sembari tiduran. Dan akan menyulitkan Akira jika harus mendudukkannya. Daylan akhirnya mengambil sendok dan meminumkannya sedikit demi sedikit. Ia kemudian kembali mengganti kain kompres Akira. Dan kembali tertidur di sampingnya.
Akira mengerjap meraih kesadarannya. Kepalanya masih terasa sangat pusing. Disentuhnya kain basah di atas keningnya. Ia sempat terkejut mendapati sosok itu di sampingnya. Akira tersenyum memandangnya. Ia melirik jam di dinding kamarnya, 04.17.
Akira membelai rambut sosok itu pelan dengan tangan lemahnya. “Kau sampai melakukan semua ini… kau benar-benar nice guy di belakangku, ya… tapi, kau juga tetap tidak boleh seperti ini bahkan di belakang kesadaranku… karena ini akan membuatku lebih sulit untuk tak menyukaimu sedikitpun…”
*******
Akira kembali terbangun. Namun, kali ini sosok itu tak lagi ada di sampingnya. “Ahh… akhirnya dia pergi…” batinnya. Diliriknya lagi jam di dinding, 07.00. “Oh, sudah pagi… kepalaku masih berat… tapi setidaknya sudah lebih baik…” batinnya lagi sembari bergerak berusaha untuk duduk.
“Eh, Akira… kau sudah bangun?” Daylan masuk dengan nampan berisikan sarapan saat Akira hendak berusaha untuk duduk.
“Bruukk…au…” Akira kambali terhempas ke ranjang tak mampu duduk. Daylan berjalan gegas.
“Hati-hati! Kau baik-baik saja?” Akira mengangguk. Daylan meletakkan nampan yang di bawanya di meja. “Biar ku bantu kau duduk!” Daylan mendudukkan Akira dan menyangga punggungnya dengan beberapa bantal. “Kau belum boleh terlalu banyak bergerak. Jika butuh sesuatu, katakan padaku! Aku akan mendapatkannya untukmu… Oh ya, kau juga harus istirahat yang cukup. Jadi kau tidak perlu masuk kuliah dulu sampai sembuh. Mengerti?”
“Hmm…”Akira mengangguk. Daylan tersenyum. Apa yang terjadi pada pemuda ini dalam semalam? Kenapa ia berubah begitu drastis?”Maaf membuatmu repot melakukan semua ini…” senyum Daylan memudar. Ya, karena dialah yang seharusnya minta maaf. “Dan terima kasih sudah merawatku sampai sekarang…” Daylan kembali memandang Akira lalu tersenyum. Ia lebih suka mendengarnya.
______________________
[1] Tambahan panggilan sebagai bentuk penghormatan
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
__ADS_1
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)