Couple In Love

Couple In Love
Episode 51


__ADS_3

                                                            



 


Mentari mulai meninggi menyebarkan cahaya-cahayanya ke seantero Negri Gingseng. Daylan melangkah keluar kamar usai mandi dan bersiap. Langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya. Senyumnya mengembang menatap lurus ke depan. Sosok itu…ini menyenangkan untuk dapat bahkan hanya melihatnya ada di sisiku seperti ini setiap hari. Pikirnya.


“Kau sudah selesai mandi?” sosok yang tak lain adalah Akira  yang sedang memasak itu sontak bertanya setelah mneyadari keberadaannya.


“Aku bukan hanya sudah mandi. Tapi, juga sudah rapi.”


“Oh, iya, sudah rapi maksudku.” Ulang Akira membenarkan ucapannya.


Daylan  berjalan mendekat. “Kau tak perlu membenarkannya begitu.”


“Ah, sudahlah! Kemarilah, duduk dan tunggulah sebentar! Sebentar lagi makanan akan siap.”


Daylan menarik kursi lalu duduk sembari bertopang dagu memandang Akira yang sedang menyelesaikan masakannya. Sejak pesta itu hubungan keduanya kian membaik. Mungkin bisa dibilang seperti teman dekat. Keduanya sangat akur dan tetap menjalankan keinginan dan misi serta tugas masing-masing. Meski mungkin


sebenarnya…


“Akira, aku akan berangkat sekarang.”


“Oh, tentu. Berangkatlah!”


“Hey, apa kau pikir hanya itu yang akan ku katakan?”


“Heeh… kau punya hal lain yang ingin kau katakan?”


“Kau mau ikut berangkat bersamaku?”


Akira diam terbengong menatap Daylan. “Ada apa sebenarnya denganmu? Kau tampak aneh menawarkan hal sebaik ini…”


“Hey, aku serius…”


“Ah, kau memang pintar, ya! Menawariku saat aku bahkan belum mandi dan bersiap untuk pergi agar tampak seolah kau peduli, tapi begitu aku menjawab aku belum bersiap kau akan bilang ‘kalau begitu aku pergi dulu…’ ya, kan?”


“Kau salah. Aku melakukan semuanya karena aku saanggaat mencintai istriku dan ingin bernagkat bersamanya. Semuanya hanya ‘out of love’ tidak lebih.” Daylan tersenyum jenaka.


“Hey, Daylan! Sudah ku bilang jangan bercanda seperti itu, kan?!”


“Oh ya, kapan kau mengatakannya?”


“Hey, kapan kau akan bisa bersikap sedikit lebih dewasa?! Aku akan memukulmu jika bercanda seperti itu lagi!”


“Hmm… tapi aku benar-benar mencintai istriku. Apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya percaya?” Akira terdiam sejenak. Sampai kapan ia akan terus bercanda seperti ini? Berhenti bercanda! Tatapan mata Akira berubah kesal. Aku akan benar-benar memukulnya kali ini! Akira melangkah mengambil spatula kayu lalu beranjak mendekat menuju Daylan. Ia mengangkat spatulanya dan bergerak memukulkannya. Namun tangan Daylan menangkisnya cepat sembari menahannya. “Apa kau benar-benar akan memukul suamimu dengan benda dan kekuatan seperti ini?” pandangan mata Akira kian melebar bertambah kesal memandang Daylan. “Aku akan memberimu kesempatan kedua dan mengizinkanmu untuk memukulku jika kau berhasil melakukannya sembari


mengejarku!” Daylan tersenyum sembari berdiri menahan spatula Akira dan tangannya. Ia melepasnya lalu berlari. Akira segera bergegas mengejarnya ke arah pintu.


“Aku akan benar-benar memukulmu tanpa ampun!” seru Akira yang telah berda di dekat Daylan yang hampir mencapai pintu sembari menggerakkan tangan dan spatula yang dipegannya dengan tetap berlari.


“Srreeet…” “Awas!” “Bug…” suara yang terjadi hampir bersamaan itu berasal dari Akira yang justru hampir terpeleset saat hendak melangkah mengayunkan spatulanya ke arah Daylan, teriakan peringatan Daylan yang menyadarinya lalu segera bergegas menarik lengannya dan membuat Akira tersangga tangan Daylan sehingga dua bola mata keduanya bertemu. Hening. Keduanya hanya saling menatap dalam diam di posisi itu.


“Sampai kapan kau akan terus memandangku dengan posisi seperti ini?” Daylan akhirnya berucap lebih dulu dengan wajah meledeknya. Akira segera tersadar dan berusaha beranjak. Namun, belum sempat ia berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri, tangan yang menyangga tubuhnya segera menariknya ke arah rengkuhan pemilik tangan itu. “Itu bahaya… kau hampir saja terluka…” ucap pemilik tangan yang tak lain adalah Daylan pada Akira dalam rengkuhan-nya. Akira terdiam tanpa kata atau penolakan. “Sepertinya kau sebegitu tak inginnya berangkat bersamaku dan mendengar gurauanku. Padahal aku sudah berjanji untuk berusaha menjadi lebih baik… Tapi, sepertinya caraku membuatmu sulit… Jangan terlalu memasukkannya dalam hati… itu hanya gurauan yang tak perlu kau pikirkan…” Daylan melepas pelukannya sembari tersenyum. “Aku berangkat dulu…” ia segera beranjak membuka pintu lalu menutupnya kembali. Akira yang terdiam sejenak lalu melangkah ke arah pintu yang baru saja ditutup Daylan. Apa yang baru saja terjadi? Hati dan perasaannya… penuh dengan kesedihan yang ia sembunyikan dengan kata-kata manis buatannya.


Keduanya terpisah bersandar membelakangi satu daun pintu masing-masing dengan Akira di daun pintu dalam dan Daylan di daun pintu luar. Daylan tersenyum getir. “Gurauan? Bahkan meski itu hanya gurauan, aku penasaran apakah dia tahu bahwa hampir di balik setiap gurauan ada sedikit kebenaran?” Batinnya.


Tangan Akira menggenggam spatulanya kian erat. Perasaannya… “Apa yang sebenarnya aku lakukan? Aku sudah memiliki Daniel Oppa… apa yang ku pikirkan?”


******


“Hey, Dear… Aku akan pergi untuk penelitian selama beberapa hari ke depan. I am going to miss you…:’( “[1]


  –Daniel-


Akira tertawa kecil membaca SMS Daniel. Jemarinya mengetik deretan huruf membalasnya. “Lalu…?”


“Kau bilang lalu? Tentu saja kita harus bertemu sebelum itu! Kau harus mengantarkanku pergi sampai di bandara ! Maaf sedikit memaksa…. Aku hanya tak tahu bagaimana rasanya pergi sebelum berjumpa denganmu sama sekali hingga beberapa hari ke depan. Tapi, kau tak perlu memaksakan diri jika kau tak mau… Aku akan memenej diri untuk baik-baik saja….^_^” balas Daniel yang kembali membuat Akira menarik ujung kedua bibirnya sembari membatin. “Dia benar-benar pemakai bahasa yang hebat…! Aku tak bisa mengatakan tidak jika dia sudah begini…”


“Kapan dan dimana kita akan bertemu?” tanya Akira lewat balasannya.

__ADS_1


“Di Bandara Incheon pukul empat sore ini!” Akira kembali tersenyum sembari beranjak dari tempatnya untuk kemudian bersiap ke bandara.


 


******


“Were you waiting for me?”[2]Akira berbisik dari belakang punggung Daniel yang sedang duduk membaca sebuah buku di ruang tunggu bandara dengan tenangnya.


 Daniel menoleh sedikit tersenyum, “Kau sudah datang?” tanyanya kemudian. Akira hanya tersenyum sebagai iyanya lalu melangkah ke depan berhadapan dengan Daniel.


“Lihatlah dirimu! Kau bilang kau akan berangkat pukul empat, kenapa pukul dua begini sudah ada di sini?”


“Heeh… kau memang benar. Tapi, aku tak menyangka jika kau juga akan datang secepat ini. Darimana kau tahu aku akan ada di sini lebih awal?”


 “Feeling. Apa kau percaya jika aku menjawabnya begitu?”


Daniel tertawa kecil. “Wow, what a feeling![3]Bahkan meski mungkin itu bohong… mungkin aku akan mempercayainya.”


“Baiklah, mari serius! Karena sekarang kau telah bertemu denganku, apa yang kau inginkan?”


“Mmmm… apa aku boleh meminta apapun?”


“Tentu saja tidak!”


“Heeehh, kenapa?”


“Karena jika aku mengiyakannya kau akan memintaku untuk menikah denganmu secepatnya.”


Daniel tertawa terpingkal. “Dari mana kau dapat ide seperti itu?”


Akira tersenyum manyun. “Sudahlah, sudahlah! Aku hanya bercanda. Aku tahu itu tidak benar.”


“Tidak, kau benar. Jika kau mengiyakan aku memang akan memintanya darimu.”


Akira tertawa geli. “Kau bercanda lagi!”


“Aku serius.”


“Ah, karena aku akan pergi dan tak bertemu dengan dirimu selama beberapa hari ke depan, aku pasti akan sangat merindukanmu…” Daniel memegang dagunya seolah berpikir mengalihkan pembicaraan. “…jadi, ayo kita jalan dan buat banyak kenangan!”


Akira tersenyum mengangguk. Daniel sama seperti Daylan dibeberapa titik. Keduanya selalu mengalihkan pembicaraan seperti itu saat Akira terpojok nervous dan bingung untuk bereaksi. Ah, apa yang sedang ku lakukan….?


Daniel beranjak merangkul Akira. “ Haruskah kita pergi sekarang?” tawarnya kemudian.


“Hmm.” Keduanya tersenyum bahagia dan mulai berjalan  berdampingan.


 


******


“Kerja bagus, Nyonya Horison!” puji seorang teman Nyonya Horison sesaat setelah pertemuan mereka di Bandara Incheon.


“Terima kasih!” Nyonya Horison tampak bersinar dan begitu kharismatik dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


“Baiklah Nyonya, kami akan pamit telebih dahulu!”


“Tentu. Terima kasih untuk kerja kerasmu!” keduanya bersalaman lalu berlalu mengambil jalan masing-masing.


Nyonya Horison masih berlalu dalam langkah anggun dan senyum indahnya di setiap gerakkannya. Matanya terangkat menatap ke depan bersamaan dengan tangan dan ponsel yang baru saja akan ia hidupkan untuk menghubungi putri kesayangannya. Senyumnya yang mengembang tiba-tiba saja perlahan memudar. Objek yang ditangkap visualnya menghentikan langkahnya. –Apa yang sedang ku lihat…? Ini tidak benar, bukan?- ia berharap-harap akan apa yang baru saja dilihatnya salah. Namun, semakin lama ia memandangnya, ia semakin tersadar bahwa ini adalah kenyataan. Tangan kanannya meremas kuat ponsel dalam genggamannya. Senyum indah itu tak


salah lagi adalah milik putri kesayangannnya. Dan laki-laki di sampingnya itu juga tak salah lagi adalah… Daniel Erlangga. –Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka bisa bertemu dan bergandengan tangan seperti itu…?- Nonya Horison memegang kepalanya, mencoba mencerna keadaan sembari terus memandang sosok putrinya


dan seseorang yang juga sangat dikenalnya berlalu dari hadapannya. –Mungkin Daylan yang mengenalkan mereka dan mereka berteman, mungkin… mungkin…- akhir tanpa penjelasan itu membuat tangannya menekan nomor Daylan. “Hallo…”


“Hallo… maaf, si…” jawaban dari seberang telpon itu segera terputus ucapan Nyonya Horison.


“Ini Mama, Day. Kau dimana sekarang?”


“Mama…?” Daylan mengulang panggilan itu sembari berpikir dalam mobil yang tengah ia setir. Matanya melebar. Ia baru menyadarinya. Ini Mama Akira!!! “Oh, maaf, Ma! Aku masih dalam perjalanan ke tampat penelitian. Ada yang Mama perlukan?”


“Dimana Akira?”

__ADS_1


“Oh, Akira? Dia sepertinya tidak ada jam kuliah sekarang. Mungkin dia ada di rumah atau jalan-jalan dan belanja di luar.”


“Daylan…”


“Ya, Ma…”


“Apa hubunganmu dan Akira baik-baik saja?”


“Ya, hubungan kami sangat baik. Ada apa, Ma?”


“Oh, baiklah jika begitu. Maaf, mengganggu. Mama akan tutup telponnya sekarang.”


Klik. Nyonya Horison menutup panggilannya lemah. Ia berbalik melangkah sembari berpikir dan berharap dalam kegontaiannya yang mulai nampak dalam langkahnya. Ia menarik napas pelan lalu kembali menghembuskannya kemudian mengangkat pandangannya. Langkahnya terhenti bersamaan dengan pandangan tercekatnya mendapati sosok tak terduga yang tengah berdiri di sebrang perbatasan sembari menatapnya dengan senyum dalam sedihnya. Mata mereka bertemu. Setelah melihat Daniel Erlangga dengan mata kepalanya sendiri, apa lagi ini? Kenapa harus bertemu dengannya sekarang? Mata Nyonya Horison memerah tanpa diminta. Wajahnya tiba-tiba


merunduk diikuti setetes mutiara yang jatuh dari pelupuk matanya. “Perasaan ini… kenapa aku masih merasakannya…?”


Sejenak. Nyonya Horison kembali mengangkat wajah dan pandangannya. Sosok itu telah hilang, sirna dari hadapannya sama seperti dulu, persis seperti waktu itu… dia muncul dan hilang lagi… butiran mutiara yang ditahan pelupuk matanya kian menumpuk. Bahkan setelah semuanya dan setelah selama ini, kenapa perasan sakit ini masih saja ada…? Nyonya Horison menggenggam ponselnya kian erat menahan air matanya, hingga tiba-tiba…


“Ssyyuuutt… grab…” sebuah lengan kuat menarik Nyonya Horison dari belakang masuk ke dalam rengkuhan pemiliknya. Nyonya Horison tercekat dalam air mata tertahannya. Apa yang…


“Aku merindukanmu… Nina…” ucapan lemah penuh sesal itu mengalir ke telinga Nyonya Horison dari bibir sosok yang tiba-tiba memeluknya. Sejenak, Nyonya Horison tak mengelak dan hanya membiarkan air matanya mengalir bersama pristiwa itu.


Bibir Nyonya Horison bergetar. Lidahnya berucap pelan, “Erlangga… hentikan…!”


“Aku tak akan melakukannya sampai kau bersedia pergi sejenak denganku…”


“Aku mohon! Cukup…!”


“Aku tak akan melepasmu kali ini…”


“William mungkin melihat ki…” rengkuhan lengan yang kuat itu merenggang bahkan sebelum Nyonya Horison menyudahi kalimatnya.


“Hhhh…  maaf… aku membuatmu menangis lagi… kau pasti sangat mencintainya, ya…?” Tuan Erlangga melangkah mundur dengan mata memerah tertunduk. Sejuta penyesalan dan rasa bersalah menyeruak dari dalam lubuk hatinya. “Ahh…” Tuan Erlanggga menahan erangan sakitnya dengan menggigit bibir. Tangannya bergerak meremas bagian perutnya yang tiba-tiba terasa begitu sakit. Nyonya Horison yang menoleh mendengar erangan pelan Tuan Erlangga. Matanya terbelalak terkejut. Apa yang terjadi padamu, Erlangga? Tuan Erlangga jatuh


terduduk sembari meremas bagian perutya dengan kedua tangannya. Nyonya Horison segera mendekat. Tangannya menyentuh bahu Tuan Erlangga khawatir.


“Hey, kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian. Tuan Erlangga berusaha mengangkat wajahnya sembari tersenyum menahan sakit berusaha mengatakan ia baik-baik saja. Air mata Nyonya Horison mengalir.


“Hhh… lagi…? Berhentilah bersikap seolah kau baik-baik saja! Itu sangat menyakitkan, bukan?” Tuan Erlangga menahan pandangannya pada Nyonya Horison yang kini menangis di hadapannya. “Jika kau merasa sakit, maka katakan itu sakit! Beginilah, karena kau selalu berusaha mengatakan bahwa kau baik-baik saja, bahwa kau tidak papa bahkan di saat kau menjadi yang paling terluka, karena itulah… karena itulah kau tak bisa memiliki apa yang paling kau inginkan!” Tuan Erlangga tersenyum dalam perih yang ditahannya. –Sesuatu yang paling ku inginkan. Maksudmu itu kau? Kau masih sehebat dulu, Nina…- Nyonya Horison berjongkok mengimbangi Tuan Erlangga. “Aku mohon… berhentilah berlaga kuat di depan… orang-orang yang berharga, peduli, dan menyayangimu…”


“Te-rima ka-sih Nina… tapi, aku sungguh baik-baik saja… karena… aku dapat melihatmu dan mendengar semua itu darimu… terima kasih… maafkan aku, Nina…” Tuan Erlangga meremas perutnya kian kuat.


“Hey, Erlangga, kau benar-benar sakit! Ayo kita pergi ke rumah sakit!” Nyonya Horison berbalik hendak mencari  bantuan. Namun, sedetik sebelum ia melangkah sebuah tangan menarik pergelangannya.


“Aku bilang aku baik-baik saja… kau tidak percaya?”


“Bagaimana aku bisa percaya dengan perkataanmu saat kenyataannya seperti ini?!”


“Aku akan baik-baik saja setelah makan dan minum obat…”


“Kalau begitu, apa kau bawa obatnya?” Tuan Erlangga mengangguk. “Lalu… tempat makan… ayo kita pergi ke tempat makan kecil di sana…!” ajak Nyonya Horison akhirnya sembari membangunkan Tuan Erlangga dan memapahnya menuju tempat makan terdekat.


________________


[1] Aku pasti akan merindukanmu…


[2] Apakah kau sedang menunggu untukku?


[3] Wow, feeling yang luarbiasa!


 


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!


Love you,

__ADS_1


Yurizhia Ninawa


__ADS_2