
“Dia bukan suamiku!” teriakan tiba-tiba Akira membuat semua mata mengalih padanya. Entahkah apa yang diucapkannya, namun jujur saja, meski mungkin Daylan pantas menerimanya, tapi hatinya serasa tersayat
mendengarnya.
“Aku bilang lelaki ini bukan suamiku! Jadi, jika kalian punya urusan dengan suamiku, kalian
salah orang!” tegas Akira menjawab tatapan bertanya beberapa orang dalam ruangan itu. Daylan dan Sang tersenyum karena alasan masing-masing. Sang yang hanya tak mengerti dengan wanita semakin tak mengeri apa yang sebenarnya ada dalam otak makhluk bernama wanita itu. Tadi kecewa dan marah, putus asa, merasa dikhianati dan tak percaya, namun liatlah sekarang! Wanita dihadapannya rela berbohong untuk melindungi lelaki bodoh yang ia akui lumayan tampan di hadapannya itu.
“Lepaskan dia… aku yang akan mengurus sisanya.” Ucap Daylan membuat Akira menatapnya nyalang. Daylan tertegun akan sikap luar biasa istrinya. Ya, istri yang baru
saja tak mengakuinya. Walaupun mengingat apa yang ia lakukan pada wanita di hadapannya dan perjanjian bodoh yang ia cetuskan di antara mereka berdua membuatnya tak pelak mengakui ia pantas tak diakui meski ia enggan. Ia tak bermaksud menyiakan kesempatan yang diberikan. Ia hanya tak ingin dirinya dilindungi dengan cara mengorbankan Akira. Karena sejak saat ini dialah yang akan melindungi Akira.
“Wow, kalian benar-benar pasangan romantis ternyata!” Sang membatin lalu tertawa keras. Start the game! “Sayang sekali, karena bukan hanya dirimu yang kami inginkan!” ucap Sang kemudian yang seketika membuat Daylan menegang. “Jian!” teriaknya menyebut nama orang terbaiknya. Sesegera mata Daylan mengarah pada Akira, secepat itu pula sosok bernama Jian itu telah tiba di depan Akira dengan pisau yang sempat ia mainkan dan sedetik kemudian ia tempelkan seinchi dari leher Akira. Akira memejam refleks. Jemarinya menggenggam lengan kursi kuat-kuat menyembunyikan rasa takutnya. Gemuruh di dada Daylan memuncak. Segala sumpah serapah dan bogem mentahnya telah di ujung tanduk.
“Aku bilang lepaskan dia…” ucap Daylan pelan namun penuh intimidasi dan penegasan. Sang suka ini. sosok di depannya, ia ingin melihat sejauh mana ia bisa membuatnya
puas dengan permainannya.
“Well, itu yang kau inginkan. Aku tidak.” Sang menggerakkan telunjuknya member kode pada Jian. Jian meraih leher Akira dengan tangan kanannya dan pisau di tangan kirinya yang hamper benar-benar melukai kulit Akira. Gerakan Jian seketika mengagetkan Akira. Daylan kian mendidih panas. Netranya mendapati tangan Akira bergetar, dan ia tahu gadis itu berusaha menyembunyikannya. Darn! Daylan tak tahan!
BUGH… Bugh
Dua bogem mentahnya melumpuhkan sosok yang menghalanginya. Sang tertawa puas. Good! “Aku bilang lepaskan dia, sialan!!” umpatnya sembari memukul dan melawan
sesiapa yang menghadangnya mendekati Akira. Mendengar umpatan keras Daylan
membuat Akira memberanikan diri membuka matanya. “Don’t you dare to touch her !” Bugh. Daylan menyerang membabibuta mengundang kesepuluh orang di ruangan itu untuk meladeninya. Mata Akira melebar. “Aku bilang lepaskan dia! Aku akan melakukan apapun yang kalian mau! Tapi, jika kalian menyentuhnya sedikit saja, akan kupastikan kalian berakhir di rumah sakit!” Setetes air mata mengalir membasahi pipi Akira. Ia tak percaya ini. Apa yang ia lihat dan dengar, ia tak suka ini. Hatinya akan kembali luluh jika keadaan terus begini. Apa yang harus ia lakukan? Ia tak mau lagi berharap. Namun, melihat apa yang Daylan katakan dan lakukan untuknya, salahkah jika ia memaafkannya dan kembali berharap lagi?
Sang menoleh ke arah Akira. Ia seketika terdiam melihat air mata gadis di hadapannya itu. “Hhh… jadi ini resiko yang kau pertarukan? Kau benar-benar memiliki saingan sulit kali untuk mendapatkan keinginanmu secara baik-baik kali ini, Ren.” Batinnya. Sebuah senyum turut terukir di bibirnya. “Meskipun aku tak yakin dua manusia bodoh ini sadar akan perasaan mereka. Ya, mereka hanya belum sadar, dan siapakah yang harus ku perjuangkan? Karena mengikuti perintahmu akan membuatku semakin menjauhkannya darimu.” Batinnya kembali menggumam.
“Hentikan!” Seru Sang lantang membuat semua orang termasuk Daylan berhenti. Mata Daylan melebar. Sang mengarahkan pisaunya pada kancing atas baju Akira.
“Berhenti! Jangan lakukan itu!” pinta Daylan berteriak sungguh-sungguh memohon. Tidak!
SREK. Mata Daylan melebar. Bahkan Daylan belum pernah melakukan itu. Dan bagaimana jika Akira mengalami trauma! Sial! Kaki Daylan melangkah dengan geram. Ia tak tahan! Bagaimana bisa lelaki kurang ajar itu melakukanya?!
“Teruslah melangkah, dan kau akan melihat baju ini tak lagi melekat di tubuhnya!” langkah
Daylan terhenti spontan. Ia benar-benar tak kuat melihat Akira yang memejam gemetar. Ia tahu benar gadis itu ketakutan.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?!” ucap Daylan menahan kesal dan marah men-dalam. Ia benci ini, tapi ia memang harus mengakui jika dirinya sekali lagi gagal
melindungi gadisnya, istrinya, Akira.
“Itu tidak menarik untuk membalasmu dengan pukulan sebagaimana kau melakukannya pada Geum. Tidak seperti kau tahu siapa Geum, tapi dia sangat penting bagi kami. Sama seperti pentingnya wanita ini bagimu.” Sang menggerakkan pisaunya perlahan mengitari wajah dan leher Akira. Napas Akira mendesis lemah tertahan bersamaan dengan air mata yang mengalir tanpa disadarinya. Ini menakutkan. Tapi ia tak
tahu apa yang harus ia lakukan. Karena jika ia membuka mata, ia yakin tak akan kuat melihat semuanya. Lalu jika ia berteriak dan memperlihatkan ketakutannya, satu hal yang pasti, Daylan… akan ada sesuatu yang mungkin terjadi padanya dan hal nekad yang mungkin dia lakukan. “Sang… Sang….” Sebuah suara mengalir ke pendengaran Sang melakui wireless headset yang tersambung ke telinganya. “Sang! Jawab aku!” spontan suara itu naik beberapa oktaf karena tak mendapat
jawaban. Sang kembali mendekatkan pisaunya kepada Akira. “Sang hentikan! Dia
__ADS_1
ketakutan! Apa kau tak bisa melihatnya?! Aku menyuruhmu memberi pelajaran pada suaminya, bukan dia!” Sang masih tak mengindahkan pemilik suara itu.
“Hentikan… aku mohon… kalian bisa melakukan apapun padaku… tapi tolong jangan sentuh dia…!” pinta Daylan tulus membuang semua egonya. Karena mementingkan ego hanya akan semakin melukai wanita di hadapannya.
“Jika kau masih melanjutkannya aku akan benar-benar merobohkan rumah anak-anak kesayangan sialanmu itu!” Celoteh tegas pemilik suara yang sejak tadi menginterupsinya. Sebuah umpatan kembali
terdengar bersamaan dengan suara tarikan kursi serta penegasan bahwa ia akan datang ke lokasi untuk menghukum Sang. Hal ini membuat Sang segera ambil tindakan dan menghentikan apa yang dilakukannya.
“Jangan melawan dan hanya terima hadiah yang harus kau bayar!” Daylan hanya mengambil napas dalam lalu membuangnya sembari mengangguk mengiyakan. “Excute!” ucap Sang kemudian. Mata Akira yang baru saja terbuka tiba-tiba saja melebar. Daylan
tidak mungkin serius, kan?! Semua orang dalam ruangan membentuk lingkaran
mengelilingi Daylan dan perlahan berjalan mendekat ke arah Daylan. Sebuah perasaan seketika menusuknya. Merambat cepat ke otaknya.
“Lepaskan dia dulu! Setelah itu aku akan menerima hadiahmu.” Ucap Daylan saat Sang telah berdiri tepat di depannya. Sang menyeringai.
“Kenapa kau begitu ingin kami melepaskannya saat dia sendiri sudah tak mengakuimu sebagai suaminya?”
“I deserve it.” Satu kalimat pendek yang seketika membuat hati Akira semakin mencelos.
“Bagaimana jika aku tidak mau?”
“Kau tahu aku tak datang dengan tangan kosong.”
“Apa kau pikir kau bisa mengalahkan kami bersebelas dengan apa yang kau bawa?”
“Setidaknya membunuh setengah dari kalian dan mengirim sisanya kerumah sakit bukan hal yang buruk.”
“Wah, kau mengancamku? Apa kau benar-benar tidak sadar siapa yang sebenarnya sedang terancam di sini?”
“Hhhh… Jian!” Sang menggerakkan kepalanya menunjuk Akira. Mata Daylan mengikuti langkah Jian awas. Ia tak akan membiarkan gadisnya ketakutan atau terluka lagi. Jian
mengulurkan sebuah pisau lipat ke dalam jemari Akira yang menggenggam setelah
sesaat lalu ia buka paksa.
“Apa maksudmu melakukan itu? Aku bilang lepaskan dia, bukan menyuruhnya membukanya sendiri!” seru Daylan geram.
“Kau harus ingat dan sadar satu hal, Tuan. I am taking control here!” tegas Sang dengan tatapan membunuh. “Lakukan satu tindakan kepahlawanan untuk gadismu, lalu tunggu dan lihatlah apa yang akan terjadi pada gadis itu detik berikutnya! Ah, haruskah aku tegaskan, jika kau mungkin tak akan pernah melihatnya bernapas dia atas bumi?” rahang Daylan mengeras dan tangannya terkepal kuat menahan sekuat tenaga emosinya yang jika meledak justru akan membahayakan sosok yang harus dilindunginya. Sang menoleh ke arah Akira, “Potong sendiri tali yang mengikatmu lalu segeralah pergi dan kabur dari sini jika kau tak ingin lelaki yang BUKAN SUAMIMU ini MATI.” Tubuh dan bibir Akira gemetar. Sesak. Ia tak mampu
mengatakan apapun. Mulutnya terbuka, namun lidahnya seolah seketika kelu. Apa
yang sebenarnya sedang terjadi di hadapannya? Sang mengembalikan arah netranya pada Daylan, namun sosok yang dipandangnya justru seolah menganggapnya tak ada.
Akira menggenggam pisau lipat itu erat. Visualnya kemudian mengarah pada Daylan.
Manik mereka bertemu. Tatapan teduh dan sebuah senyum tulus terukir untuknya.
Menusuk tepat di dadanya. Hal bodoh apa ini sebenarnya? Mimpi… Akira sangat berharap ini hanya mimpi. Karena tatapan dan senyum itu seketika meruntuhkan tembok yang dibangunnya begitu saja. Bibir Daylan bergerak seolah mengucapkan kode yang hanya dipahami keduanya. Gerakan yang kembali Daylan tutup dengan senyum dan seketika membuat Akira berontak sembari berusaha melepaskan ikatan tambang di kedua tangannya. Ah, melihat Akira yang seperti itu membuat Daylan membatin, sepertinya mati untuk melindunginya tidak terlalu buruk. Kelakuan yang kian membuat Sang merasa panas karena diabaikan oleh dua mangsanya.
“Wow, kau bahkan mengacuhkanku setelah aku menuruti kemauanmu.” Sindir Sang pada Daylan. Daylan segera mengalihkan
__ADS_1
pandangannya pada Sang. Daylan menyunggingkan senyum tulus untuk Sang.
“Kau tidak seratus persen menurutiku, tapi aku berterimakasih padamu untuk itu. Tapi, bila aku boleh meminta lebih, tolong bawa dia pergi dari sini saat aku menerima hadiah yang akan kau berikan padaku. Dia terlihat lembut dan menurut, tapi dia sebenarnya adalah sosok yang sangat persistent dan insist, aku takut dia akan melakukan suatu hal yang nekat selain aku tak ingin dia terluka
karena diriku atau bahkan karena kau, teman-temanmu, dan orang yang menyuruhmu.” Sang melangkah mendekat ke arah Daylan.
“Apa aku tak terlihat seperti seorang bos sehingga kau mengatakan ada orang yang
menyuruhku?”
“Setiap orang bisa menjadi bos jika mereka mau dan berjuang, kau pantas untuk itu, tapi
sayang sekali, suara yang pertama ku dengar hari itu bukan suaramu. Aku yakin kau bukan dalang utama, kau punya master mind di belakangmu. Aku tak akan mempermasalahkan apapun, tapi tolong lepaskan Akira atau setidaknya bawa
dia pergi dari sini, jangan melukainya.”
“Hhhh… kau tak perlu khawatir, Bosku tak akan melukai gadis itu sebagaimana kau
melukainya. Lagipula setelah dia bahkan tak mengakuimu, apa yang membuatmu bahkan
masih mau mengorbankan dirimu untuk melindunginya? Apa kau bahkan tak peduli
bagaimana nasibmu selanjutnya?” Daylan kembali tersenyum tipis. Ah, ya, dialah yang sebenarnya telah menyakiti Akira. Dialah yang yang secara terus-menerus mengecewakan gadis itu setelah semua yang bahkan gadis itu lakukan untuknya. Daylan melangkah pasti mengikis jaraknya dan Sang kepalanya bergerak ke samping kepala Sang. Ia berbisik, “Sampaikan terima kasihku pada Bosmu, dan tolong katakankan padanya untuk membahagiakan Akira. Selama dia bahagia dan baik-baik saja, aku tak keberatan untuk pergi. Sekarang lakukanlah apa yang harus kau lakukan. Aku akan menerima hadiahku.” Jawaban singkat Daylan seketika membuat
tagan Sang mengepal teringat masa lalunya. Jawaban yang sangat ia benci dari sosok yang mengorbankan dirinya untuk melindungi seseorang yang tak lain adalah Sang sendiri. Ya, dia tahu rasanya. Dan dia benci itu. Dia benci rasa bersalah yang tak juga mampu ia hilangkan dari dirinya. Sakit. Bodoh.
“Execute!” perintah yang begitu saja keluar dari bibir Sang setelah tangannya bergerak
ke depan, member kode pada semua bawahannya. Daylan mempersiapkan diri menerima hadiahnya dengan sebuah senyum yang kian membuat Sang merasa tersayat. BUGH! BUGH! BUGH! Pukulan demi pukulan dan tendangan Daylan terima dengan tubuhnya. Akira kontan menjerit memohon semua orang untuk menghentikan apa yang mereka lakukan pada sosok lelaki bodoh di hadapannya. Sang berbalik menjauh. Lalu
mendekat pada Akira dan menatapnya dalam. Akira melemparkan tatapan tajam membunuh pada Sang. Sang tersenyum getir lagi miris lalu melangkah menjauh. “Maafkan aku, Ren, tapi harus ku akui, kau tak bisa mengalahkannya di hati gadis itu, bahkan di hatiku, aku mengakui bahwa pria itu gila untuk mengorbakan semua ini, dan lebih gila lagi karena kemungkinan dia tak sadar akan apa yang dia lakukan.”
Sang terus melangkah menjauh dari arena pengeroyokan Daylan. Ia menaiki anak tangga lambat namun pasti dengan ingatan yang tak tahu diri muncul kembali dalam otaknya setelah ia berusa bertahun-tahun menguburnya. Bayangan sosok Hyung yang
melindunginya saat ia hamper babak belur, tepatnya, jika orang bodoh itu tak melakukan apapun, hari ini bisa dipastikan dia sudah mati. Sebuah senyum penuh luka terukir tanpa ia sadari. Tangannya bahkan refleks meremas baju di bagian dadanya. Kalimat Daylan dan senyum yang tulus di bibirnya saat mengucapkan kata-kata itu “Sampaikan terima kasihku pada Bosmu, dan tolong katakankan padanya untuk membahagiakan Akira. Selama dia bahagia dan baik-baik saja, aku tak keberatan untuk pergi. Sekarang lakukanlah apa yang harus kau lakukan. Aku
akan menerima hadiahku.” Bagaimana
seorang lelaki yang ada pada tingkat kewarasannya dapat mengatakan hal segila
itu?
______________
Thanks my beloved readers. Please support ***Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
__ADS_1
Love you,
Yurizhia Ninawa***