Couple In Love

Couple In Love
Episode 60


__ADS_3

                                                            



 


“Hentikan…! Jangan katakan apapun lagi!” Maura mengalihkan pandangannya.


“Kenapa? Setelah kau bilang kau tak keberatan aku menyembunyikan sesuatu darimu sekarang kau akan kabur dari kenyataan karena telah mendapat hipotesa[1] tentang apa yang akan terjadi selanjutnya karena hal yang ku rahasiakan itu? Jangan melarikan diri seperti itu, Maura!”


“Hhh.. kau benar-benar aneh hari ini…! Aku tak ingin bicara denganmu!” Maura beranjak melangkah meninggalkan Daylan. Daylan malngkah maju lalu menarik lengan Maura.


“Sudah ku bilang jangan melarikan diri!” Daylan mengendalikan emosinya. “Aku mohon… jangan membuatku berlari lagi dari menghadapi kenyataan ini...” Daylan memohon lembut berkaca-kaca.


“Daylan, apa yang sedang kau bicarakan? Ini bukan dirimu…” mata Daylan melebar sejenak menatap Maura. Ia berdesah tak menyangka beriring kesal. Ia menunduk sejenak lalu mengangkat kembali pandangan dan wajahnya.


“Akhirnya kau mengatakannya juga… seperti mereka…” mata Maura melebar menyadari kesalahan katanya. Bibirnya terbuka untuk berucap maaf, namun Daylan menduluinya. “Tak perlu minta maaf. Aku tak menyalahkanmu. Dari dulu, orang-orang selalu bilang begitu. Bukan dirimu… cobalah menjadi seperti ini dan ini… hhh…” Daylan tertawa enggan seolah menertawakan dirinya sendiri.


“Maaf…, aku…”


“Tidak. Aku yang minta maaf padamu, Maura. Maaf untuk menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting darimu. Harusnya aku jujur sejak awal. Tapi, aku terlalu egois dan takut kehilanganmu tanpa berpikir panjang akan perasaan orang-orang yang nantinya akan terlibat masalah ini…” Daylan memutus kalimatnya sejenak lalu


menatap Maura dalam. “Kau ingat saat kau menelponku di Indonesia setelah wisudamu dan menanyakan apakah ada sesuatu yang salah denganku?”


“Hmm.”


“Saat itu sebenarnya aku sedang dalam masa kurunganku karena kabur dari pertunangan yang telah ditetapkan untukku oleh kakek dan orang tuaku. Dan saat itu aku benar-benar tak bisa lagi kabur, terhempas dari harapan menuju lembah keputusasaan. Dan sesuai yang direncanakan, aku menikah dengan gadis itu dalam waktu yang lebih cepat karena kami kabur.” Mata Maura melebar.


“A-pa…? Me-nikah?”


“Maaf Maura… aku tak bisa menghindarinya… Kau tahu? Setelah pernikahan itu kami sepakat untuk melanjutkan studi kami di luar negri. Dan aku memutuskan Korea Selatan, tepatnya Seoul University sebenarnya karena kau ada di sana. Tapi, aku tak memberitahunya, aku selalu memperlakukannya dengan dingin…. berharap untuk tak


menyakitinya ataupun dirimu di kemudian hari. Tapi, setelah waktu berjalan... aku merasa sakit menjalani semua ini. Aku selalu melukainya, dan aku berencana untuk seperti itu hingga akhir dan kita berpisah. Tapi, entah mengapa… setiap saat dia terluka… saat air matanya menetes membasahi wajahnya… tiba-tiba saja hatiku sesak… aku tak bisa melihatnya terluka lagi karena aku… dan bahkan meski begitu, aku tetap egois dan tak bisa melepasnya… untuk laki-laki lain yang mungkin lebih baik baginya dariku. Aku tahu aku egois, berusaha menjadi pahlawan untukmu dan untuknya… namun pada akhirnya… tak ada yang bisa ku selamatkan sepenuhnya. Aku justru benar-benar menyakiti kalian berdua… Maura…”


 “Cukup… aku mohon… hentikan…!” pinta Maura berderai air mata. Hatinya, perasaan, dan kesadarannya memohon agar segalanya hanya sebuah mimpi atau sesuatu yang salah ia dengar. Namun, meski ia berharap, dadanya tetap sesak dan air matanya tetap mengalir tanpa mampu ia bendung. Matanya menyembab, bibirnya terkunci diam, tak mampu berkata-kata. Hancur terhempas. Daylan terdiam dalam perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya. Air matanya menetes, namun keputusannya telah bulat.


“Maaf Maura… aku harus membuat keputusan. Sebuah pilihan, yang mungkin akan sangat egois dan menyakiti lebih banyak orang. Tapi, aku harap, keputusan ini akan menjadi awal yang baik bagi semuanya… semoga kau menemukan laki-laki yang mampu untuk selalu jujur dan terus mencintaimu, juga mampu untuk membuatmu bahagia…” Daylan melepas kalung bergantung kunci yang melingkar di lehernya. Ia meraih tangan Maura lalu memberikan kalung itu padanya dan menggenggamkan jemari Maura. “Berikanlah kalung ini pada lelaki yang jauh lebih pantas untukmu dan bukalah hatimu untuknya… terima kasih untuk semuanya… aku tidak memintamu untuk


memaafkan ku, tapi tetap saja, maafkan aku untuk semuanya… jaga dirimu baik-baik, Maura…!” Daylan beranjak meninggalkan Maura.

__ADS_1


“Bagaimana… bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?!” Daylan terus melanjutkan langkahnya seolah tak peduli. “Daylaaaann…!” panggil Maura yang sejurus kemudian berlari dan memeluk Daylan dari belakang. Mata Daylan melebar terperangah. Namun, ia berusaha tegar dan tak menoleh. “Tidak… jangan seperti ini… kau tak boleh mengakhirinya seperti ini…! Aku tak peduli apa yang kau katakan, kau tak boleh meninggalkanku!” tangis Maura pecah, air matanya membasahi baju Daylan, sedang Daylan menahan luapan perasaannya dalam-dalam. Matanya turut memerah berkaca-kaca. Bibirnya terbuka tanpa suara dan kata yang mampu diucapkannya. Hatinya bergolak dan membuatnya sebisa mungkin tak melihat Maura yang kini ada di belakangnya. Jika aku melihatnya seperti ini, aku bisa kembali goyah dan memeluknya. Kembali memberikan harapan palsu itu lagi padanya. Pikir Daylan dalam perasaan tak menentunya. Daylan memejamkan matanya sejenak memutuskan. Ia menggerakkan tangannya memegang pergelangan tangan Maura lalu melepaskan rengkuhan tangannya.


“Aku mohon… biarkan aku pergi…!” Maura jatuh bersimpuh menatap Daylan yang sama sekali tak menoleh dan terus melangkah menjauh meninggalkannya di belakang. Ia tak menyangka ia akan menemui hari seperti ini. “Apa yang kau lakukan dengan kepercayaan dan cinta yang kuberikan padamu, Daylan?!” jleb. Langkah Daylan tiba-tiba menjadi begitu berat seolah terhenti tusukan pisau tepat di jantungnya. Namun, Daylan mencoba kembali berjalan. Air mata Daylan menetes di sela-sela langkah kakinya yang berat.


“Daylan… aku mencintaimu….”jerit Maura akhirnya setelah berulang-ulang memanggil Daylan sembari menagis namun tak dihiraukan. Langkah kaki Daylan hampir terhenti lagi, namun ia keukeuh memaksanya terus melangkah dengan hati yang koyak tersayat luka yang ia ciptakan sendiri.


–Aku mohon berhentilah! Jangan memanggil namaku dan mengatakan hal itu dengan menagis seperti itu…! Sungguh, hatiku sakit! Tapi, akan lebih menyakitkan untuk berbalik dan kembali melihat dirimu terluka lebih dalam karena diriku sendiri. Aku membawamu ke sini agar tanpa diriku, angin mampu membelaimu, deburan ombak mampu menghapus lukamu, gemerlapnya Diamond Bridge mampu menghibur dan mengobati luka di hatimu, juga agar indahnya senja mampu membuatmu sejenak dan seterusnya melupakanku…-


 


********


Akira terdiam duduk di atas tempat tidurnya menunggu Tara yang tengah mandi sembari berpikir tentang apa yang tadi tak sengaja ia dengar. The truth hurt…[2] pikirnya. Tara keluar dari kamar mandi denganbath robe-nya sembari


mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Aku sudah selesai, kau bisa masuk sekarang.” Ucapnya pada Akira kemudian. Akira masih terdiam tak sadar. –Dia pasti memikirkan hubungannya dengan Daylan dan Daniel…- Tara membatin menyadari Akira yang masih mengawangkan pikirannya sembari menatapnya. “Akira…” ulang Tara memanggil akhirnya. Akira tersentak sadar.


“Ah, kau sudah selesai!?”


“Akira… aku tahu ini berat untukmu. Dan ini mungkin juga bukan tempatku untuk berpendapat. Tapi, aku harap kau segera menjelaskan keputusanmu pada Daniel. Jangan mengambil keputusan sepihak tanpa memberitahunya, Ok?” Akira mengangguk mengiyakan. Matanya berkaca-kaca. Tara melangkah menyamping menuju lemari. Akira menatap Tara yang masih memilih baju yang akan dipakainya. –Sampai kapan dia akan terus diam dan menahan perasaannya sendirian seperti itu? Jika dia sebegitu mencintai Daniel, kenapa dia tak pergi menghibur Daniel dan


mendampinginya saja? Bukankah ini waktu yang tepat untuk bisa mendapatkannya? Kenapa ia justru berada di sisiku dan sibuk memintaku untuk tak melakukan hal-hal yang memungkinkan Daniel terluka?-


Jleb. Sebuah sembilu seolah tepat menusuk hati Akira. Sakit. Ia turut menundukkan pandangannya yang telah di ujung benteng pertahanan luapan tangisnya. “Aku tak tahu apa yang harus ku katakan padanya sekarang… tapi, kau benar, aku akan balik menelponnya di luar setelah ini…” Akira bersuara sembari beranjak dan meraih ponselnya yang telah berhenti bordering beberapa menit lalu.


“Baguslah. Aku turut senang kau menyadarinya.” Tara tersenyum tulus. Akira memaksakan sebuah senyum indah di bibirnya membalas sebelum akhirnya melangkah menuju pintu kamar dan segera keluar. Ia menutup pintu. Menyandarkan tubuhnya yang terasa begitu berat. Tangannya tergerak menutup mulutnya menahan luapan


tangisnya mengingat tulisan dilayar ponsel yang dibacanya beberapa saat, “Daniel Oppa”. Itu bukan telpon dari Daylan, tapi dari Daniel. Dan bagaimana dia bisa mengangkatnya di depan Tara setelah ia mengetahui perasaan sepupunya itu pada Daniel. Memorinya berputar.


“Kau sangat cantik, supel, dan pintar. Kenapa kau tak punya pacar sampai sekarang?” tanya Akira polos pada Tara di tahun kedua kuliahnya.


Tara tersenyum menanggapi tanya innocent sepupunya itu. “Menemukan orang yang menyukai kita mungkin mudah. Tapi, menemukan seseorang yang sangat kita sukai bukan hal yang terjadi setiap hari. Karena kadang, tak peduli seberapa banyak kita berusaha untuk menyukai orang selain dirinya, kita hanya tersadar bahwa kita masih tak bisa melupakannya.” Alasan jawaban teriring senyum getir itu kini kian jelas bagi Akira. Kakinya melemah, membuatnya jatuh dalam linangan air mata di wajahnya.


Stap. Langkah kaki Revan terhenti pelan sesaat setelah visualnya melihat sosok familiar di depan pintu itu menangis terjatuh dalam sesak yang ditahannya. Wajahnya tertunduk. Sedetik kemudian dering sebuah ponsel berbunyi membuatnya kembali mengangkat wajahnya dan melayangkan visualnya ke sosok di depan pintu yang kini telah memegang ponsel di tangannya. Revan masih diam menatapnya. Sosok itu tak segera mengangkat telpon masuk untuknya dan justru segera berdiri meninggalkan tempatnya jatuh terduduk. Ia berjalan tergesa menuju pintu keluar lalu segera membukanya dan keluar seketika. Mata Revan melebar terkejut juga khawatir. Apa


yang terjadi padanya? Telpon dari siapa yang membuatnya beranjak pergi dalam keadaan seperti itu? Revan menyusul keluar tergesa, sedangkan Tara yang masih ganti baju dalam kamar hanya mendesah tak mengerti apa yang terjadi di luar pintu saat ia kembali mendengar suara dering ponsel Akira. Hatinya hanya merasa berat tanpa alasan secara tiba-tiba. Matanya terangkat bersamaan dengan wajahnya yang mendongak memandang atap kamar Akira. Ia mengatupkan bibirnya erat menahan kesedihan dan luapan air matanya yang tiba-tiba mengingat tentang


sosok yang begitu jauh dari matanya. “Aku harus menyetabilkan perasaanku…” batinnya kemudian dengan setetes mutiara yang jatuh dari mata eloknya.


Akira terus melangkah tergesa tanpa berpikir dan tanpa tahu apa yang terjadi. Rasa-rasanya ia ingin lari dari kenyataan yang menyakitkan ini. “Sreeiiitt…” mata Akira melebar seiring usahanya menghentikan langkahnya tiba-tiba. Dadanya sesak seketika. Hati dan jantungnya seolah berhenti berhenti berdetak bersamaan. Ia tak mampu bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


Revan turut berhenti di belakang Akira. Matanya turut melebar melihat Daniel yang tengah berdiri sembari memegang ponselnya ragu untuk melakukan sesuatu dan tak menyadari Akira yang hanya berjaraak tak lebih dari 13 langkah darinya. Revan memandangi keduanya bergantian.


Syuuut. Sebuah tangan segera menarik Akira sedetik sebelum Daniel menoleh ke arah-nya. Akira masih terdiam tak mampu berkata-kata meski sebenarnya ia sangat ingin bertrima-kasih pada pemilik tangan yang menariknya bersembunyi di balik sebuah celah ruang yang sebenarnya didesign hanya untuk esensi arsitektur. Akira masih gemetar. Ia mengangkat pandangannya ke arah sosok yang menariknya dari belakang. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca dengan tubuh gemetarnya yang tampak sangat jelas, namun masih, ia menekan bibirnya mencoba sekuat tenaga tak menangis di depan sosok itu. Sosok yang dalam diamnya mengetahui tentang hubungan semua orang di sekitarnya. Tentang dirinya dan Daylan juga Daniel, tentang Maura dan Daylan, bahkan tentang Daniel dan Tara yang tak diketahuinya hingga kemarin.


Pandangan pemilik tangan itu melebar spontan nanar. Ia tahu jelas Akira tengah menahan tangis dan luapan perasaannya, namun pikirnya masih bingung akan apa yang harus ia lakukan pada istri sahabat karibnya itu. Namun lagi, tangannya tiba-tiba telah bergerak menyentuh bahu Akira mendahului otaknya. Akira tak berkomentar.


Keduanya diam seolah memahami kondisi hati dan perasaan masing-masing. Karena kadang diam merupakan komunikasi terbaik yang bisa kita lakukan dengan seseorang.


1 jam kemudian.


“Kau tak berani menemuinya?” tanya Revan akhirnya pada Akira setelah ia tampak tenang dengan segelas hot chocholate di tangannya. Keduanya telah duduk di restorant itu selama beberapa menit tanpa berbicara apapun. Hanya Revan yang sempat berbicara pada writer mengatakan pesanannya. Akira tampak mendesah panjang.


“Aku takut aku akan lebih menyakitinya jika aku bertemu lagi dengannya…” jawab Akira akhirnya dengan senyum menyakitkan yang ia paksakan di ujung kedua bibirnya.


Hhhh… Revan mendesah. Wanita di hadapannya ini benar-benar berbeda dari wanita-wanita yang selama ini


ditemuinya. “Kau sangat khawatir pada perasaannya, ya?” Akira tak menjawab. “Jika kau begitu takut dia terluka lebih dalam karena dirimu, kenapa kau tak memilihnya saja dan meninggalkan Daylan?”


 


_______________


[1] Tebakkan/kemungkinan/dugaan


[2] Kenyataan itu menyakitkan.


 


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!


Love you,


Yurizhia Ninawa

__ADS_1


__ADS_2