
Daylan berlari cepat sembari menghamburkan pandangannya dan berbolak balik menengok ke barbagai arah cemas-cemas harap segera menemukan Akira. “Sial… dimana dia?!” ucapnya pada dirinya sendiri sembari terus berlari menyusuri jalan menuju taman.
“Stap…sseet..” langkah kaki beserta tengokkan cepatnya terhenti tepat saat visualnya mendapati sosok yang dicarinya tengah duduk berpegang tangan dengan menggoyang-goyangkan kakinya di atas sebuah ayunan dengan mata tertunduk.
Kaki Daylan kembali melangkah cepat menghampiri sosok itu. Khawatirnya siap ia luapkan dalam kemarahan. “Apa yang kau pikir sedang kau lakukan di sini tengah malam begini, Bodoh?!” Akira mengangkat wajahnya memandang sosok di hadapannya dari bawah. Akira diam tanpa jawaban dan hanya tersenyum menanggapi tanya kasar Daylan. Tangan Daylan bergerak untuk meraih tangan Akira. “Apa kau tahu betapa kha…” kalimat Daylan terputus sesaat ia menyentuh lengan Akira.
“Hey… malam ini sedikit lebih dingin, ya…” ucap Akira pelan lebih seperti desahan yang justru terdengar sangat jelas di hati Daylan.
Daylan melepas baju tebalnya lalu memakaikannya di tubuh Akira. “Ayo kita pulang!”
Akira kembali menatap Daylan. “Hey, kau bisa kedinginan jika memberikannya padaku! Pa…”
“Diamlah! Lepas baju itu sebelum masuk apartemen dan aku akan membunuhmu…” Akira kembali menundukkan kepalanya. Tak peduli sekasar apa kata-kata Daylan barusan, ia tetap melihat dan mendengarnya sebagai bentuk khawatir dan sayangnya. “Apa yang kau lakukan? Kau bisa membeku jika tak segera pulang. Ayo kita pulang!”
“Hmm…” Akira beranjak untuk berdiri. Namun, tiba-tiba tumpuan kakinya melemah dan membuatnya terjatuh. Tapi beruntung, Daylan selangkah lebih cepat menangkapnya sebelum ia jatuh ke tanah.
“Hoi… kau bisa jalan..?” Tanya Daylan khawatir.
Akira tertawa garing. “Ha…ha..ha… kakiku sepertinya sedikit sulit dikendalikan…”
“Bodoh, dia masih mau berusaha mengatakan bahwa ia baik-baik saja di saat seperti ini? Sedikit sulit? Jangan bercanda!” Daylan membatin lalu bergerak membantu Akira berdiri. “Aku akan memapahmu. Jika kau sudah tak kuat, bilang padaku!” -Sudah ku bilang, jangan menanggung semuanya sendiri, Bodoh!-
“Hmm…” keduanya mulai berjalan dengan Daylan menjadi pemapah dan sandaran.
“Berapa lama kau sudah berada disana?”
“Kau bilang padaku untuk pulang jam delapan, kan? Kau bisa hitung sendiri…”
__ADS_1
“Apa? Kau di sana sejak pukul delapan? Selama itu kau… Aish! Aku bilang pulang, bukan pergi ke tempat lain! Lihatlah, kau…”
“Hmm… maaf…” Akira memotong pelan.
Daylan terdiam. Apa yang ku katakan pada orang sakit sepertinya? Ah, aku benar-benar payah… kenapa dia bersikap seperti ini? Selama itu di luar saat malam hari dan dengan baju begitu, apa dia sudah gila? Apa yang sebenarnya dia pikir dia lakukan?! Kenapa dia melakukan hal sia-sia itu?! Ah, aku benar-benar tidak tahan untuk menannyakannya dan marah sepuasnya… Ah, kenapa aku sekhawatir ini pada si Bodoh itu…?!
Keduanya memasuki lantai dasar apartemen mereka lalu menaiki tangga. “Seett…” Akira hampir terpeleset.
“Hey, kau masih bisa jalan? Kau baik-baik saja?”
“Hmm…” jawab Akira mengiyakan berbohong. Ia jelas merasakan badannya sudah tidak lagi mau mendengarkan instruksinya dengan baik. Ia jelas menggigil kedinginan. Namun, tetap saja…
“Aku akan menggendongmu…”
“Tidak perlu… aku masih bisa berjalan… tolong papah aku sampai atas…”
Daylan menatap Akira dan mulai kesal. Ia jelas bisa melihat Akira tidak sedang baik-baik saja. Namun, ia masih mendengarkan dan menuruti maunya untuk hanya dipapah hingga beberapa langkah di depan pintu apartemen mereka. “Brruu..syyuuuttt” Akira hampir-hampir membawa Daylan turut terjatuh bersamanya. Namun, keseimbangan Daylan membuat mereka tak sampai terjatuh.
“Hhhh…hhh…hhh…” Akira mengatur napas beratnya tanpa jawaban.
“Ah, aku benar-benar tak tahan! Kenapa kau justru pergi ke sana hanya untuk duduk seperti orang bodoh dan tak langsung pulang?!” kata-kata itu akhirnya terucap juga dari mulut Daylan.
“Hhhh… Hhh… karena… a-ku pulang le-bih awal… dan aku li-hat… kau masih… memiliki ta-mu pen-tingmu… a-ku tidak boleh meng-gang-gu, kan?” Daylan tersentak tersadar. Raut wajahnya sontak berubah. Akira tersenyum tipis
lalu melepas tangan Daylan dan berusaha melangkah sendiri ke depan pintu.
Bodoh! Apa yang sudah ku lakukan?! Jadi, ini karena aku lagi? Aku… melukainya lagi? Dia… melihat Maura bersama ku lagi…? Lalu pergi dan menungguku di luar selama itu hanya untuk tak menggangguku? Hhhh, apa yang sudah ku lakukan padamu…?
“Syyuut…Bug…“ Daylan menangkap Akira yang hampir terjatuh saat telah sampai di depan pintu.
“Hhhh…hhh…hhh…”
__ADS_1
“Bodoh! Sudah ku bilang untuk tak berlagak kuat di depanku, kan? Jika sakit, katakan kau sakit! Jika kau terluka katakan kau terluka! Jika itu pahit, katakana itu pahit! Dan jangan menutupi semua itu dengan senyum palsumu! Seperti aku akan percaya saja kau pura-pura mengatakan kau baik-baik saja!”
Akira tersenyum berat dalam pegangan dua tangan Daylan sembari berucap, “Hhhh… kau… terlalu berbahaya…” Daylan kembali tersentak dengan bola mata terangkat ke atas melebar. Apa maksudnya? “Hey, Daylan… jangan
mengatakan… pada seorang gadis… untuk jujur dan bersandar pada-mu… itu… kata-kata… yang hanya boleh… kau ucap-kan pa-da ke-kasih-mu… hhhh… hhhh… jangan bersikap ter-lalu ba-ik… pada ga-dis la-inn….” Gelap.
Daylan terkejut mendengar kata-kata itu mengalir dari bibir Akira. Namun, yang membuatnya lebih terkejut adalah Akira yang tiba-tiba saja terpejam. “Hoi, Akira! Hoi…” seruan itu terputus saat telapak tangannya tak sengaja menyentuh kening Akira saat akan menggendongnya. “Sial, dia sangat panas! Ah, dia pasti demam karena terlalu lama kedinginan di luar!” Daylan segera membuka apartemen dan menggendong Akira masuk hingga ke kamarnya.
Daylan merebahkan Akira di atas ranjangnya. Tangannya menarik bed cover untuk menyelimutinya. Namun, sebelum bed cover itu menutup leher Akira, tangan Daylan menyentuh baju Akira yang basah terkena salju yang baru turun sejak pukul sembilan malam.
“Ah, sial! Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak mungkin membukanya, kan? Dia akan langsung membunuhku saat dia sadar… Ah, ayolah berpikir! Cepat berpikir!” Daylan memukul-mukul kepalanya pelan. “Ah, apakah sekarang bahkan saatnya aku bertanya dan berpikir macam-macam? Aku hanya harus melakukannya agar dia tidak
kedinginan dan demamnya segera turun… benar, kan? Baiklah… aku akan melakukannya…”
Daylan mendekat hendak membuka baju Akira. Tangannya gemetar. “Ah, crap! Aku belum pernah melakukan hal ini… aku totally virgin, bagaimana aku bisa…. Aahhh…!” Daylan mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya. Ia tak bisa melakukannya.
*********
“Siapa telpon malam-malam begini…?” Hyun menggerutu sebal. Yuri mengangkat telpon.
“Halo… Oh, Daylan-ssi[1]… Ya, aku masih belum tidur. Ada apa telpon malam-malam begini?... Hah? Akira-ssi
pingsan?... Kedinginan?... Kalau begitu kau hanya perlu membuka bajunya dan menggantinya… Hah? Kalian belum… Oh, baiklah, aku mengerti… Hmm, aku akan segera kesana…” Yuri mengakhiri telponnya.
______________________
[1] Tambahan panggilan sebagai bentuk penghormatan
__ADS_1
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^ Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)