
“Kau tak perlu khawatir. Dia gadis yang kuat, sama seperti dirimu, dia hanya butuh waktu untuk merenung sejenak.”
“Apa kau yakin ini akan baik-baik saja membawanya pergi seperti ini dengan kedaannya yang seperti itu?” Revan tersenyum.
“Kita datang ke sana untuk menemui obatnya, jadi aku rasa kita tak perlu khawatir soal itu.” Tara ganti tersenyum.
“Sejak kapan kau belajar menjadi dokter wanita patah hati, huh? Sepertinya kau sangat paham tentang hal seperti itu. Sudah berapa banyak wanita yang kau obati?” wajah Revan refleks berubah sejenak namun kemudian ia memuntahkan tawanya.
“Apa aku terlihat seprofesional itu?”
“Ya, lebih dari professional untuk ukuran orang yang tak punya pacar.”
“Hhh…” Revan mendengus pelan. “Pacar ya…? Bicara soal itu, kenapa kita tidak pacaran saja? Bagaimana menurutmu, bukankah kita punya banyak kemiripan?” mata Tara melebar terkejut. Ia speechless. Namun, sebelum bibirnya bahkan sempat bergerak untuk menjawab ucapan Revan, Revan tersenyum melanjutkan ucapannya, “Just
kidding! Aku tahu kau masih belum bisa melupakannya.” Wajah serius dan terkejut Tara sedetik kemudian berubah kembali dengan tawa yang menyertainya.
“Bukankah kau mengatakannya untuk dirimu sendiri? Kau masih belum bisa melupakannya, huh?”
“Kenapa kau mengembalikan kata-kataku?”
“Yah, karena sebenarnya aku akan melayangkan tamparan di wajah orang yang mengatakan hal seserius itu sebagai lelucon. Tapi, karena orang itu dirimu, sosok yang sebenarnya hanya berniat sedikit menghibur hatinya, aku rasa aku bisa memaafkannya…” Revan menunduk sejenak lalu kembali mengangkat pandangannya menatap Tara dalam.
“Bukankah ini berat?” Tara tak memberi jawaban selain sebuah senyum yang seolah mengatakan “kau lebih tahu jawabannya…” mengiyakan dalam senyum tulus yang terukir di bibirnya. “Aku heran, bahkan setelah kita tahu ini begitu berat… cinta dan perasaan ini begitu menyakitkan… kenapa kita masih memilih untuk menjalaninya?”
“Bukankah jawabannya jelas? Kau masih mengharapkannya… kita memilih jalan ini karena berharap kita akan mendapat kesempatan untuk menjadikan ujung dari perasaan dan cinta kita untuknya sebagai sebuah kebahagian bersama mereka.”
“Hhh… kesempatan, huh? Kenapa jadi terasa semenyedihkan ini…? Aha! Kau mau membuatnya menjadi sesuatu menyenangkan?” mata Revan tiba-tiba bersinar seolah terilhami sebuah ide yang benar-benar brilian.
“Hhh…kau menemukan ide gila?” tanya Tara tertutup keterkejutannya karena wajah Revan telah berada begitu dekat dengan telinganya.
“Mari bekerja sama dan kembali memperjuangkan kesempatan untuk cinta dan perasaan kita…!” bisik Revan di telinga Tara kemudian. Revan menarik wajahnya sesaat sebelum Tara menoleh ke arahnya. Revan tersenyum, “Kau bilang kita masih mengharapkannya, dan saat ini kita memiliki kesempatan yang besar. Bukankah kita harus memperjuangkannya?” Tara tersenyum tak menjawab. “Kenapa kau diam dan tak bersemangat seperti itu? Itu bukan dirimu!”
“Entahlah. Aku hanya tak yakin. Aku tak yakin dia masih bisa setidaknya membiarkanku tinggal di sampingnya.”
“Tenang, aku akan membantumu!” yakin Revan. Tara seketika tertawa mengejutkan Revan.
__ADS_1
“Kau yakin kau tidak akan menjadi perusak hubunganku?”
“Hey, Tara! Aku sedang menawarkan bantuan padamu, bagaimana bisa kau berkata begitu padaku?!” Revan menggerakkan tangannya sebal ke arah Tara. Namun, sedetik sebelum tangannya benar-benar terangakat sebuah senyum tulus dari bibir Tara terulas menghentikannya. Revan tiba-tiba saja terdiam. Tak pernah dilihatnya Tara tersenyum seindah itu. kenapa dia tiba-tiba Tara tampak secantik itu…?
“Terima kasih!” senyum Tara kian mengembang indah. “Aku merasa sangat beruntung bertemu dirimu…Terima kasih Re…” syuut. Ucapan Tara terhenti tarikan tangan Revan yang merengkuhnya masuk dalam pelukannya. Mata Tara terbelalak. Apa yang sedang Revan lakukan padanya? “Rev…” ulang Tara memanggilnya. Namun Revan tak merespon dan justru mengeratkan pelukannya. Revan sendiri tak mengerti apa yang sedang dilakukannya. Hanya saja sesuatu terasa begitu menyesakkan dadanya. Ia merasa sakit melihat gadis dalam rengkuhannya menangis. “Rev… ada banyak orang di sini…” ucapan Tara menyentak sebagian kesadarannya. Revan merenggangkan
pelukannya.
“Mari kita lakukan…!”
“Hah?”
“Kita dapatkan hati Daniel untukmu!” Revan mengukur sebuah senyum yang tak Tara mengerti artinya. Membuatnya hanya mampu tersenyum sebagai jawabannya. Keduanya tak menyadari Akira yang sejak tadi telah menoleh ke belakang dan memandangi apa yang sejak tadi mereka berdua lakukan. –Hhh… apa ini…? Aku kira Revan akan menyatakan cintanya pada Tara. Tapi, lihatlah apa yang dia katakana! Bukankah ini kesempatan bagus baginya untuk hanya mengakuinya? Kenapa dia malah bertindak bodoh dan memberikan ucapan seperti itu untuk Tara? Dari gerak-geriknya aku dapat melihat dia mulai memiliki perasaan itu… ya, dua-duanya… tapi, lagi-lagi apa yang mereka lakukan? Hhh… mereka berdua benar-benar pasangan yang cocok, sama-sama aneh… namun yang lebih aneh lagi tentu adalah diriku sendiri. Kenapa aku begitu mudah melihat permasalahan hubungan orang lain namun begitu sulit melihat permasalahan hubunganku sendiri? -batin Akira sembari berbalik kembali ke depan sembari terus memandangi Revan dan Tara dari kaca bus.
***********
“Ahh… akhirnya…!” ungkapan lega itu meluncur dari mulut Revan setibanya ia, Akira, dan Tara di depan hotel yang telah mereka booking di Busan. Tara tersenyum, sedang Akira yang telah berjalan mendahului di depan hanya menoleh malas ke belakang mendengar ucapan Revan. Ketiganya disambut resepsionis dan jajaran pekerja hotel yang membawakan barang mereka masuk ke dalam. Revan mengurus check in lalu memberikan satu kunci pada Akira. Akira berjalan di depan sedang Tara dan Revan menyusul di belakangnya.
Akira hendak menutup pintu sebelum Tara masuk. “Hey, Akira tunggu! Aku belum masuk tahu!” Namun Akira tak peduli dan hanya memunculkan kepalanya, “Bukannya kau akan tidur sekamar dengan Revan? Aku mau sendirian.” Akira menarik kepalanya lalu menutup pintu kembali. Tara terbengong sedang Revan yang masih berdiri di depan pintu kamarnya hanya memandang ke arah Tara dan pintu kamar Akira dengan wajah terkejutnya. Tara menoleh ke arah Revan yang sedetik kemudian setelah pandangan mereka bertemu tertawa meledek.
“Aku tak keberatan kita tidur sekamar. Yang penting kau siap tanggung resiko!” Revan kian menekan kalimat terakhir ledekannya dengan senyum puasnya melihat reaksi Tara.
“Hey, kenapa kau jadi…” ucapan Tara terhenti panggilan seseorang yang segera membuatnya menoleh ke arah suara.
Sebuah rasa terusik hatinya membuat tangannya refleks tergerak menyentuh pundak Tara sembari berucap, “Aku akan masuk ke dalam dulu. Kau bisa berbicara dengannya, aku menunggu di dalam…” ucapan tertutup senyum tulus yang seolah nyata itu menghentikan langkah sosok yang mendekat ke arah Tara.
“Ah, maaf aku tidak menyangka kau bersama seorang pria di sini…” ucap sosok itu kemudian. Tara yang kian bingung dengan situasi ini menatap Revan sejenak, namun Revan hanya mengedikkan sebelah matanya dengan senyum buatan memukaunya lalu menarik tangannya perlahan dari pundak Tara tanpa kata dan segera beranjak untuk membuka pintu kemudian masuk ke dalam kamar. Namun, sebuah suara tawa menghentikan langkah dan gerakan tangannya.
“Terima kasih, Tuan Muda yang pengertian!” ucapan terima kasih yang lebih dekat pada bahasa sarkatis itu membuat Revan kembali menoleh tak senang pada pria itu. Namun, mengimbangi bahasa sarkatis yang terlontar, bibir Revan berucap ringan, “Tak perlu ber-trimakasih. Aku sangat paham kenalan masa lalu butuh waktu untuk bicara. Bicaralah padanya dan segera kembalikan dia padaku!” Revan menekan kalimat akhirnya dengan sebuah senyum. Raut wajah sosok pria di hadapannya tiba-tiba berubah serius.
“Kau pikir dia barang? Dia bukan barang yang setelah kau berikan pada orang lain harus dikembalikan padamu. Bukankah seharusnya kau paham hal itu?” mata Revan membulat penuh kesal, namun ia hanya diam dan memendam amarahnya dengan menggenggam tangannya. Sosok itu tak ambil pusing dan justru segera focus kembali pada Tara yang masih terbengong di posisinya. “Ah, maaf, Tara… aku hanya sangat bahagia bertemu dirimu dalam keadaan seperti ini… terima kasih untuk akhirnya berusaha melepaskannya…” srreeet. Sedetik kemudian Revan dengan mata nyalangnya telah menarik kerah sosok yang belum ia kenal itu mendekat ke arahnya.
“Kau…” tangan Revan mengepal hendak melayangkan tinjunya pada sosok itu. Mata Tara sontak melebar kaget. Kakinya hendak melangkah sebelum akhirnya suara lantang Revan membuatnya kembali lagi ke tempatnya. “Tara, tetap di sana! Jangan mendekat, aku serius!”
“Tapi, Revan…”
“Diam dan segera bersiap masuk kamar bersamaku!” mulut Tara turut melebar mrngikuti matanya. Hari begitu banyak kejadian yang mendadak dan mengejutkannya. Ia speechless, sedangkan sosok lelaki yang kini kerah bajunya ada dalam genggaman tangan Revan justru tersenyum tanpa merasa takut apa lagi berdosa. Revan kian geram. “Kau… minta maaflah! Belajar sedikit sopan, Bodoh!”
“Hhh…dengar, aku tidak merasa melakukan kesalahan, jadi untuk apa aku minta maaf?” mata Revan kian membulat dan genggaman tangannya kian mengerat. “Kau orang pintar. Dengan IQ mu aku rasa aku tak perlu memberitahumu apa yang akan terjadi jika kau melayangkan tanganmu padaku, kan?” Revan terkesiap. Ia bersyukur ia masih mampu menahan dirinya melayangkan bogeman yang sedari tadi disiapkannya. “Aku mengatakan hal yang benar. Aku berterimakasih padanya karena aku tak pernah menyangka hari seperti ini akan
terjadi. Itu tidak seperti aku hanya mengenalnya dalam hitungan hari. Kau pikir aku percaya bahwa dia telah mampu melupakan Erlangga hanya karena dia datang bersamamu ke tempat ini?” tangan Revan melemas. Hatinya sejenak tersadar. “Bahkan dari cara mata kalian berpandangan dan kalian bersikap semua orang dapat menyimpulkan kalian berdua tak memiliki hubungan sedalam ‘itu’.” sosok itu menekan kata ‘itu’ yang seketika meregangkan jemari Revan yang tadi tergenggam kuat. Ia hanya terus memandang sosok yang belum ia ketahui namanya itu menyelesaikan ucapannya. Sosok itu mendekat berbisik ke telinga Revan. “Jika orang sepertimu dapat menggantikan Erlangga di hatinya, maka kesempatanku untuk menyingkirkanmu dan menggantikan posisi itu akan lebih mudah.” Sosok itu tersenyum puas lalu melepaskan kerahnya dari cengkraman tangan Revan yang seketika kaku begitu mendengar bisikannya. Ia segera mengambil langkah mendekat ke Tara sebelum akhirnya sebuah tepuk tangan menghentikan langkahnya dan membuat Tara dan Revan turut menoleh. Ketiganya terdiam saat menyadari bahwa Akira telah berdiri dengan senyum indahnya di ambang pintu kamar hotelnya.
__ADS_1
“Lama tak berjumpa. Apa kabar, Reo?” sapa Akira kemudian memecah keheningan. Reo, nama sosok yang sedari tadi menimbulkan kericuhan itu tak menjawab dan justru hanya tertawa ringan lalu member isyarat bahwa dia baik dengan membentuk tanda ‘Ok’ dengan jarinya. “Ah, aku dengar Revan dan Tara akan segera masuk kamar berdua,
cepatlah masuk, aku akan mengurus Reo.” Wajah Revan dan Tara memerah seketika. Akira tersenyum puas meledek, sedang Reo terperangah tak percaya.
“Hey, Akira! Apa yang kau pikir sedang kau katakan?! Kau harusnya membantuku!” Akira seketika terbahak melihat ekspresi ketiga orang di hadapannya.
“Maaf, maaf! Kalian lucu sekali! Aku seperti sedang berada dalam drama! Ha..ha..ha..”
“Tuan Muda Reo!” sebuah panggilan tiba-tiba menghentikan tawa Akira. Mereka berempat menoleh ke arah suara. Reo tersenyum.
“Baiklah, tunggulah sebentar di depan, aku akan segera kesana!” Reo memandangi ketiga orang yang tak pernah ia bayangkan akan ditemuinya di tempat ini, terutama sosok yang begitu didambanya, sosok yang ia pikir tak akan pernah mendapatkan barang secercah harapan untuk memilikinya dulu, Tara. Ia tersenyum mulai berjalan ke arah Tara. “Sepertinya waktuku habis untuk sekarang, kita akan segera bertemu lagi, Sweetheart! Sampai saat itu, jaga dirimu baik-baik!” Reo mendekat lalu mengecup kening Tara dan berlalu beriring senyum memabukkannya. Ketiganya terbengong shock, namun Revan tampak lebih dari sekedar shock. Darahnya seolah berdesir. Entah mengapa rasa-rasanya ia benar-benar ingin melemparkan Gunung Bromo untuk mengubur Reo sekarang juga.
**********
Hembusan lembut angin membelai sesiapa yang tengah menikmati sorenya di sepanjang jajaran jalan dan distrik di Busan. Revan tengah berjalan di depan Tara dan Akira dengan semangat dan cerianya mendeskripsikan setiap tempat menarik yang dilihatnya. “Banarkan, apa ku bilang!? Keluar dan jalan-jalan di sore seperti ini benar-benar terbaik!” ucapnya menguatkan paparan deskripsinya. Tara dan Akira hanya tersenyum mendengar dan melihat tingkah Revan.
“Hhh… laki-laki memang aneh! Tadi wajahmu begitu meledak-ledak ingin marah, tapi baru sedetik kemudian kau bisa berwajah seceria ini! Bagaimana bisa kalian seperti itu?” Akira memberi tanya dan komentar. Tara menyahut tertawa.
“Kau tidak tahu? Laki-laki memang makhluk yang dapat dengan cepat mengubah perasaannya! Dan lebih lagi, mereka sangat lihai dalam menyembunyikan perasaan dan ber-acting! Itulah kenapa mereka bisa menangis hingga pingsan saat istrinya meninggal sembari mengatakan bahwa mereka tak bisa hidup tanpanya, namun seminggu bahkan semalam kemudian dia sudah menikah dan mempunyai istri baru lagi!”
“Hey! Bukannya wanita lebih hebat dalam ber-acting dan menyembunyikan perasaan?! Bagaimana kau bisa menuduh laki-laki seperti itu?! Tidak semua lelaki seperti yang kau katakan!” protes Revan tak setuju.
“Hhh… lalu bagaimana dengan acting-mu yang bisa ku beri nilai seratus tadi?” Tara mulai mengeluarkan pertanyaan menyelidik dan penasarannya. Revan terdiam bingung menjawab.
Akira tertawa lalu menimpali, “ Hmm, aku juga penasaran soal itu…!”
“Ah, sudahlah! Terserah! Terserah kalian mau menilai bagaimana dan seperti apa, Ok?!”
________________
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1