
“Maaf… untuk membuatmu memikul luka ini sendiri… Aku tak tahu bagaimana untuk menyembuhkan atau bahkan hanya menguranginya… tapi, jika kau memang terluka, jangan menyembunyikannya dariku dengan senyum itu… itu lebih manyakitkan untukku…” air mata Daylan menetes.
“Daylan…”
“Dan sesekali, pikirkan dan dulukan perasaanmu… di atas perasaan orang lain… dengan begitu kehidupan akan adil bagimu dan bagi orang yang kau pikirkan…”
“Hmmm…”
“Baiklah, pertanyaan terakhir. Kemana kau akan pergi sekarang?”
“Ah, itu… aku akan pikirkan nanti. Sekarang, tolong lepaskan aku…!”
“Dengan syarat…”
“Hah?!”
“Jangan pulang larut! Pastikan kau sudah pulang jam delapan!”
Akira hendak menoleh ke arah Daylan karena kesal. Namun, saat wajahnya bertemu wajah Daylan ia segera mengembalikannya ke posisi awal. Sedang Daylan hanya tersenyum dibuatnya. “Baiklah… aku akan pulang jam delapan. Sekarang lepaskan aku!”
“Hmm... akan ku lepaskan…” Daylan meregangkan tangannya ke dapan. Akira melangkah maju lalu hendak merunduk untuk keluar dari lingkaran tangan Daylan sebelum akhirnya Daylan kembali menariknya ke rengkuhannya lagi lalu berbisik ke telingnya, “Kau sangat cantik hari ini… semoga harimu menyenagkan…” Daylan melepas rengkuhannya. Sedang Akira dengan wajah merahnya langsung membuka pintu dan keluar tanpa berbalik ke arah Daylan. Daylan tersenyum melihatnya pergi.
Akira berjalan cepat menuju lift lalu masuk. “Sial, apa ini?! Kenapa dia tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini? Ah, aku merinding dibuatnya!” ucap Akira pada dirinya sendiri menutupi rasanya yang masih tak ia mengerti.
********
“Halo… kenapa tak bilang padaku jika sudah meninggalkan hotel?... Apa kau tahu, aku sangat khawatir… Tentu saja. Aku khawatir jika kau sampai menangis lagi di pinggir jalan sendirian seperti semalam… Aku ada di depan hotel. Kenapa?... Apa? Jalan? Kau serius?! Tidak bercanda, kan?... Baiklah, dimana kau sekarang?... Katakan,
aku akan menjemputmu sekarang… Hmm, sampai jumpa…” Daniel menyudahi telponnya dengan sesungging senyum lebar. Hari ini Akira mengajaknya jalan. Benarkah? Seperti mimpi saja…
“Sssiiittt” Daniel mengerem mobilnya di depan seorang gadis yang melambaikan tangan di trotoar. Mata Daniel menatap gadis di hadapannya yang kini hanya tersenyum tanpa kata memandangnya. Gaya rambut, baju, sepatu, dan tas elegannya terlihat asing. Namun, wajah, mata, dan senyum itu sangat akrab dalam memorinya.
“A-Akira?” panggil Daniel mengeja karena takjub. Akira mengangguk dalam senyumnya. “Kau sangat… cantik…” lanjut Daniel masih dengan pandangannya yang membuat Akira akhirnya tertawa.
“Heeh… apa semua laki-laki ditakdirkan untuk pandai merayu seperti itu, ya?”
“Kau tahu aku. Aku tulus. Kau sungguh cantik hari ini!” Daniel tersenyum. “Oh, aku sampai lupa menyuruhmu masuk. Masuklah!”
“Terima kasih!” Akira masuk lalu duduk dalam mobil.
Mobil Daniel melaju meninggalkan tempat itu menuju berbagai tempat yang ingin mereka kunjungi. Mengukir kenangan bersama dengan penampilan barunya yang sebenarnya ditujukan untuk Daylan namun justru ia gunakan untuk jalan bersama Daniel. Dan lagi, Daniel kembali menjadi orang pertama yang menghabiskan waktu bersama
__ADS_1
Akira dengan tampilan baru Akira yang dapat dikatakan sangat cocok dan cantik untuknya…
******
Akira melambaikan tangan sesaat setelah berterimakasih dan mengucapkan selamat malam untuk Daniel yang telah menemaninya jalan dan megantarkannya pulang hari ini. Jam delapan kurang lima belas menit. Ya, sesuai janjinya. Dia tidak akan telat.Batinnya. Kakinya pun melangkah menuju ke apartemennya. Namun, langkahnya
terhenti di depan gerbang masuk saat visualnya melihat orang yang ingin ia temui sedang bersama gadis lain. Ya, ia tak perlu bertanya siapa. Dari belakang mereka berdua saja ia sudah cukup tahu gadis itu adalah kekasih Daylan. Daylan tampak mengobrol hangat dengannya dan tersenyum dengan senyum bahagianya. Kaki Akira melangkah mundur. Membawanya berbalik untuk kembali mencari udara segar.
“Hhh… bisa-bisanya aku… aku tak berhak untuk marah lagi… aku juga baru saja pergi dengan Daniel… kenapa
hatiku ini… Ah, aku sebal! Kenapa dia memelukku seperti tadi jika dia masih sangat mencintainya? Dasar Daylan menyebalkan!” celoteh Akira dalam hati sembari terus berjalan tanpa tujuan.
“Hey, Akira! Mau kemana malam-malam begini sendiri?” sapa Hyun, tetangga apartemennya yang kebetulan lewat bersama istrinya.
“Oh, aku mau cari udara segar sebentar.”
“Sendiri?” Yuri (istri Hyun) bertanya menambahkan.
“Hmm. Daylan sedang ada urusan.”
“Oh, benarkah? Kalian tidak sedang bertengkar, kan?” Hyun memastikan.
“Yobo[1], kau tak boleh berkata seperti itu! Tak apa Akira, pasangan kekasih baru yang baru tinggal serumah seperti kalian memang seperti itu. Nanti kalian juga akan terbiasa.”
“Hey, kau menceramahinya lebih dariku!”
“Kami baru dari taman. Sekarang kami mau makan. Kau mau ikut?”
“Oh, terima kasih untuk tawarannya, tapi aku tak mau jadi pengganggu kalian berdua. Jadi, makan berdua saja…”
“Kami menawarimu, tentu saja kau tidak menggangu!“
“Baiklah. Kalau begitu, selamat makan! Semoga makan kalian menyenangkan! Aku pergi dulu!” Akira tersenyum sembari berjalan dan melambaikan tangan kanannya.
Langkah kakinya membawanya menuju sebuah tempat seperti taman kecil yang hanya berisikan ayunan dan beberapa pohon dan bunga. Akira duduk di atas salah satu ayunan sembari berpikir dan menunggu Daylan menyelesaikan urusannya.
*******
Daylan menghentak-hentakkan kakinya cemas melirik jam menunggu Akira yang tak kunjung pulang. Ia kembali menelpon. Namun, jawaban yang ia dengar tetap sama dan tak berubah, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”
“Aish, kemana perginya dia?!” Daylan menekan kepalanya dengan tangan kanan untuk menahan khawatirnya. Diliriknya lagi jam di pergelangan tangan kirinya, 23.00. “Kenapa kau tak mengangkat telponmu, bodoh…! Apa yang sedang kau lakukan ?!”
Daylan menyahut baju tebalnya lalu keluar dari apartemennya tergesa sembari memakainya. Langkah khawatirnya membuatnya berjalan cepat tak teratur.
__ADS_1
“Hey, Daylan! Kau mau kemana malam-malam begini? Ah, jangan bilang padaku kau kehilangan tuan putrimu dan baru mau mengejarnya sekarang!” Hyun yang setengah mabuk berceloteh.
“Apa maksudmu aku kehilangannya dan baru mau mengejarnya?”
“Ah, dia agak mabuk. Kau tak perlu mendengarkannya!” Yuri yang merangkul Hyun mewakilinya memberi jawaban.
“Aku tidak mabuk! Aku jelas lihat di matanya ada rasa cemburu dan kecewa tadi!”
“Ah, sudahlah! Jangan bicara sembarangan lagi! Ayo kita masuk!”
“Tunggu! Kalian bertemu Akira?”
“Ya. Kenapa?”
“Kapan kalian bertemu dengannya?”
“ Kalau tidak salah… tadi sekitar pukul delapan.”
“Apa dia bersama seseorang?”
“Apa maksudmu bertanya seperti itu? Kau sedang mencurigainya berbuat curang? Aku justru bertanya-tanya kenapa dia keluar sendirian malam-malam begini...” Hyun menyahut tanpa diminta.
“Kemana? Ke arah mana dia pergi?!”
“Hah… kenapa kau jadi khawatir begini?”
“Aku mohon cepat katakan dimana dia!”
“Dia berjalan ke arah taman….” Daylan segera berlari tanpa permisi meninggalkan kedua tetangganya.
“Hhh… pasangan ini benar-benar tidak menghormati seniornya…” Hyun berkomentar kemudian.
******
Daylan berlari cepat sembari menghamburkan pandangannya dan berbolak balik menengok ke barbagai arah cemas-cemas harap segera menemukan Akira. “Sial… dimana dia?!” ucapnya pada dirinya sendiri sembari terus berlari menyusuri jalan menuju taman.
“Stap… sseet..” langkah kaki beserta tengokkan cepatnya terhenti tepat saat visualnya mendapati sosok yang dicarinya tengah duduk berpegang tangan dengan menggoyang-goyangkan kakinya di atas sebuah ayunan dengan mata tertunduk.
[1] Sayang (suami)
______________
__ADS_1
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture....Just hope you will be happier by it. The picture is taken from pinterest:)