
“Byuuur…” debur ombak kembali membasahi kaki keduanya yang telah berdampingan menepi di pantai. Daniel memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Terdiam sembari menggerak-gerakkan kaki kanannya menendang-nendang pasir.
“Maaf… maafkan aku…Oppa…” ungkap Akira terisak.
Daniel mengalihkan pandangannya yang turut berkaca-kaca. “Bagaimana kau bisa tahu jika aku ada di sini? Dan kenapa kau datang kemari?” alih Daniel tanpa menanggapi maaf Akira.
“Hatiku menuntunku kemari… hanya tempat ini yang tergambar jelas dalam memoriku, meski aku tak mengerti mengapa, tapi aku tak bisa membiarkanmu pergi seperti ini…aku…”
Daniel memaksakan seulas senyum di bibirnya. “Kau tak perlu melakukannya.”
“Maafkan aku Oppa! Aku tak bermaksud memberimu harapan palsu seperti yang kau katakan pada angin. Itu cukup menyalitkan untuk mendengar perasaan tulus kita dinilai sebagai suatu harapan kosong belaka. Tapi, aku tahu kau jauh lebih terluka dari pada aku, karena itu… maafkan aku…dan biarkan aku jujur dan mengatakannya dengan mulutku sendiri…” Daniel diam tak berkomentar. “Sebenarnya aku adalah…”
“Hentikan… aku tak ingin mendengarnya.”
“Tapi, aku harus menje…”
“Aku mohon, jangan katakan apapun…” pinta Daniel dengan wajah tulus penuh luka yang terpancar dari hatinya. Akira kembali menatap Daniel dengan mata bersalahnya. “Sebenarnya aku penasaran akan satu hal. Sampai kapan sebenarnya kau berencana merahasiakannya dari ku?”
“Oppa…”
“Biar bagaimanapun aku ini kakaknya. Sampai kapan kau pikir aku akan tak mengetahuinya? Dan kenapa kau melakukannya? Ada sangat banyak yang ingin ku tanyakan padamu, meski sebenarnya aku sangat takut mendengar jawabanmu…”
“Aku tahu… tak peduli seberapa banyak aku meminta maaf padamu, luka yang ku goreskan di hatimu tak akan hilang. Bahkan mungkin apa yang akan ku katakan ini hanya akan terdengar seperti sebuah alasan tak masuk akan. Tapi, aku ingin kau mendengar penjelasanku… maaf untuk bersikap egois seperti ini bahkan setelah aku melukaimu sedalam itu…aku mohon biarkanlah aku bicara dan dengarkanlah… setelah itu aku pergi… aku tak akan mencegahmu lagi… aku akan melepasmu…” Akira menggigit bibir menahan tangis dan sesak di dadanya. Daniel mengangkat wajah tersentaknya menatap Akira.
“Bagiku… aku sangat beruntung bertemu lelaki seperti dirimu…meski aku tahu, kemungkinan besar bagimu aku adalah sebaliknya…” Akira menegakkan wajahnya, mencoba tersenyum pada Daniel. “Saat aku pulang dari Australia sekitar satu tahun yang lalu, untuk pertama kalinya hatiku yang kaku goyah oleh seorang pria yang baru
pertama kali ku temui saat ia bertandang ke rumahku… aku berusaha mengelak akan kenyataan itu… kenyataan bahwa ada perasaan yang tak ku mengerti dalam hatiku…namun sesegera daun yang jatuh dari dahannya ke tanah, sesegera itu aku dituntut untuk menghilangkan perasaan itu karena orang tuaku bilang aku telah mereka jodohkan dengan seseorang… aku berusaha menghindar dengan cara kabur sehari sebelum acara pertunangan… tapi kami tertangkap sehari setelahnya dan justru langsung dinikahkan seminggu setelah itu…aku tak pernah menyangka akan seberuntung ini untuk dapat bertemu lagi denganmu… aku takut akan menyakitimu, tapi saat memintaku untuk tinggal di sampingmu aku tak mampu menolaknya…hhhh…aku tahu ini hukumanku untuk tak jujur sejak awal padamu… maafkan aku… aku tak seharusnya…” Akira mengusap air matanya. “Aku akan pergi sekarang. Selamat tinggal…” Akira mulai melangkah meninggalkan Daniel. Namun, tangan Daniel segera menyahut lengan Akira dan menariknya masuk dalam rengkuhannya.
“Jangan memutuskan segalanya sendiri seenaknya begitu…kau perlu minta pendapatku untuk itu…”
“Oppa…”
“Kembali padaku dan mari mulai semuanya dari awal…” Akira tersentak.
“A-pa maksudmu?”
“Aku tak peduli bahkan jika kau telah menikah dengannya. Jika perasaanmu padaku benar, kau bisa menceraikan Daylan dan kembali tinggal di sisiku, kan?” mata Akira melebar terbelalak. “Lagi pula, sebenarnya, yang awalnya akan kakek jodohkan denganmu adalah aku. Aku yakin mereka akan mengerti…”
Mata Akira kembali terbelalak. Kedua bibirnya gemetar tak mampu berucap. Bayang-bayang dan kata-kata Daylan tiba berhinggapan di benaknya. “Tentang itu… itu akan lebih menyakitkan bagi Oppa jika tak berakhir seperti yang Oppa harapkan…”
“Tak apa… kau bisa menyakitiku, karena aku mencintaimu, aku tak keberatan kau sakiti, aku tak akan tersakiti lagi lebih dari ini…aku akan baik-baik saja…”
“Tapi…”
“Kita tak boleh berpikir negative sebelum mencoba, kan? Ayo kita coba…!” Daniel merenggangkan rengkuhannya. Akira menoleh ke arahnya.
“Beri aku waktu untuk memikirkannya…”
“Hmm. Tentu…pikirkanlah ini baik-baik…” Daniel tersenyum dalam. –Bahkan meski aku menyadari sesuatu yang berbeda pada ekspresimu, aku tak bisa menyerah begitu saja dan mengatakan padamu untuk kembali padanya. Aku masih bisa berharap, kan? Maafkan aku untuk menempatkanmu dalam posisi yang menyulitkanmu, Akira…-
*****
__ADS_1
Nada dering ponsel Daylan terputar berulang-ulang. Namun, jiwanya yang masih tergoncang enggan mengangkatnya. Kenyataan yang baru saja membenturnya masih tak mampu ia enyahkan dari pikirannya. Namun lagi, dering ponselnya tak berhenti. Jemarinya meraih ponsel di samping pecahan-pecahan gelas pelan dan mengangkat panggilan yang masuk.
“Hey, Daylan…! Apa kabar? Kenapa kau lama sekali mengangkat telponmu?! Aku…”
“Revan…” panggilan Daylan dengan suara lemah dan tangisnya menyentak Revan di sebrang telpon.
“Daylan…”
“Revan…aku mencintainya…aku jatuh cinta padanya…” ucapan yang terputus-putus tangis dan berakhir dengan sesenggukan panjang Daylan menimbulkan kekhawatiran di hati Revan.
“Tunggu aku… jangan melakukan apapun…” Revan menutup telponnya.
“Antarkan aku ke alamat ini!” Revan membuka pintu taxi dan segera masuk. Taxi tersebut membawanya ke alamat yang tertulis di atas kertas yang disodorkannya. Ia segera turun dan berlari masuk khawatir setelah membayar tarif taxinya. Ia bertanya pada satpam penjaga kompleks apartemen dan segera berlari tergesa menuju arah yang telah dijabarkan padanya.
Mata Revan melebar melihat pintu apartemen yang terbuka begitu saja. Ia segera berlari masuk ke dalam. Langkah kakinya terhenti di depan sosok lelaki yang yang tengah terduduk dengan wajah telungkup menangis depresi. Revan melangkah pelan mendekat. Ia berjongkok mengimbangi sosok itu. Matanya mulai memerah berkaca-kaca. “Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan kemudian. Sosok yang ditanyanya hanya mengangkat kepalanya sedikit memandang Revan tanpa jawaban. “Hey, Daylan, jangan memandangku dengan mata seperti itu…” larangan lemah bernada sedih itu menyusul terucap dari bibir Revan yang gemetar.
“Dia… aku membuatnya menangis lagi… aku hanya ingin dia tetap di sampingku… dia benar-banar pergi meninggalkanku…Revan… apa yang sebenarnya terjadi padaku?... bagaimana perasaanku pada Maura?...bagaimana ini bisa terjadi…aku…aku mencintainya…aku…tak ingin kehilangan Akira…” Daylan akhirnya berusaha angkat suara meski terputus-putus tangisnya. Tangan Revan tergerak maju. Dipeluknya Daylan yang agaknya tak mampu lagi berkata-kata.
“Tak apa… tenangkan dirimu… dia pasti akan kembali dan memaafkanmu nanti… aku yakin dia akan mengerti kenapa kau melakukannya…” –semoga…- Revan mengeratkan giginya bersamaan dengan setetes air mata yang mengalir dari pelupuk mata tanpa disadarinya. Bagaimana kau bisa jadi seperti ini, Daylan…?
******
KLIK. Akira menutup panggilan masuk yang baru saja diakhirinya. Ia menoleh ke arah Daniel yang tengah duduk di sampingnya. “Ada apa? Kenapa kau memandangku dengan tatapan seperti itu?”
“Oppa…Tara baru saja menelponku dan dia bilang dia ada di Namsan Park. Dia ingin bertemu dan ngobrol denganku. Juga untuk beberapa malam ini, aku mungkin akan menginap dengannya sembari memikirkan apa yang harus ku lakukan dan memutuskan jawaban dari permintaan Oppa sebelumnya. Oppa keberatan?” Daniel tersenyum menggeleng.
“Lakukanlalah apa yang perlu kau lakukan, Akira! Aku akan menunggu mu, Akira.” Sebuah belati seolah menusuk hati Akira. Jawaban lembut Daniel, mengapa itu terasa begitu menyakitkan untuk mendengarnya? “Biarkan aku mengantarkanmu ke Namsan Park!” tawar Daniel kemudian dengan senyum tulusnya. Akira tersenyum mengangguk. –Bagaimana mungkin aku menyakiti orang sebaik dirimu, Oppa?-
Daniel memutar persneling mobilnya lalu melaju membawa Akira menuju Namsan Park. Suasana hening sejenak. Akira bingung menyusun kata untuk ia ucapkan dan memilih diam. “Tidurlah dulu! Kau pasti lelah, aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai tujuan.” Akira tersenyum.
“Kita sudah sampai, Akira…” Daniel membangungkan Akira pelan. Akira mengerjap kembali meraih visualnya.
“Oh, Oppa…kita sudah sampai?”
“Ya…”
“Kalau begitu aku akan menemui Tara dulu…”
“Hmm. Hati-hati…!”
Akira melangkah untuk turun. Ia tersenyum memegang jaket Daniel. “Trima kasih, Oppa!” Akira membuka pintu dengan senyum lalu kembali menutupnya. Ia melambaikan tangan. “Hati-hati, Oppa!” Daniel membalas senyum sembari meninggalkan Akira perlahan dengan mobilnya. Akira melangkah mencari Tara.
Sepasang mata terbelalak mendapati apa yang ada dilihatnya. Ia berdiri terdiam memandang tanpa berkedip. Sosok yang ditunggunya telah tiba. Namun, apa yang dilihatnya membuat kata-kata yang hendak ia ucapkan tertahan di tenggorokannya. Apa yang sebenarnya terjadi.
“Hey, Tara…!” Akira berlari melambaikan tangan setelah menemukan Tara yang ternyata hanya ada di sebrang jalan. “Kau sudah lama menunggu di sini?” Tara masih terdiam tak mampu menjawab. Hanya pandangannya yang tertoleh tak menyangka pada Akira. “Hey, apa yang kau lakukan? Bukankah kau biasanya memelukku di saat seperti ini?”
“Siapa laki-laki itu?” tanya yang tiba-tiba terlontar dari Tara mengagetkan Akira.
“Apa maksudmu? Lelaki yang mana?”
“Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, kan?”
“Tara…”
“Hhhh… mari bicara di tempat yang nyaman!” keduanya berjalan menuju sebuah tempat duduk panjang di taman. “Bagaimana Daniel bisa bersamamu?” tanya Tara to the point sesaat setelah keduanya duduk.
“Ah, itu…”
__ADS_1
“Jangan berbohong dan bilang kau tak punya hubungan apa-apa dengannya! Kau tahu siapa aku!” Akira tersenyum pasi. Ia tak bisa berbohong pada Tara.
“Ceritanya panjang…”
“Bagaimana dengan Daylan?”
“Dia tahu tentang ini…”
“Apa?!”
“Ceritanya panjang, Tara… dan sudah sejauh ini… sejauh deburan ombak yang terbawa angin ke tengah laut yang luas dan tak mampu kembali lagi ke garis pantai…” air mata Akira menetes memutus kalimatnya tanpa disadarinya. Tara tercekat.
“Akira…” mata Akira terpejam dengan gigi-giginya yang mengerat menahan luapan perasaannya. Kedua tangan Tara refleks membawa Akira masuk ke dalam pelukannya.
“Hhh…hhh…apa yang harus ku lakukan…aku… tak ingin menyakiti salah satu dari mereka…?” Tara mengeratkan pelukannya. Air mata Akira yang menderas mengundang air mata Tara menetes. –Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Akira?-
******
Tara menarik bed cover untuk menyelimuti Akira yang telah tertidur dengan wajah sembabnya di kamar penginapan yang Tara sewa selama berada di Seoul. Ia kemudian duduk memandang wajah sepupunya itu dalam. “…saat aku kembali bertemu dengannya di Seoul, aku berpikir betapa beruntungnya aku untuk mampu melihat kembali senyum
di wajahnya. Aku merasa itu cukup bagiku. Aku berusaha tak memiliki hubungan lebih jauh dengannya karena aku tahu ini tak adil baginya dan akan menyakitinya pada akhirnya…tapi…saat dia memintaku untuk tetap berada di sampingnya…aku tak bisa menolaknya…” potongan penjelasan Akira kembali terngiang di benak Tara. Air mata Tara menetes.
“Tara…aku mohon… hentikan ini…!” permintaan bernada rendah memohon yang tiba-tiba terlontar dari sosok yang sangat didambakannya membuatnya diam tercekat. “Kau tahu…kau sangat berharga bagiku… aku tak ingin kehilanganmu sebagai teman baikku… maafkan aku untuk egois… dan memintamu melakukan ini bahkan sebelum kau mengatakan dan mengakuinya… aku… tak ingin melukaimu lebih dari ini…karena meski aku mampu berbohong pada diriku bahwa aku memiliki perasaan yang sama padamu…aku tak mampu membohongi mu yang sangat berharga bagiku tentang itu… maafkan aku, Tara… aku… memiliki seseorang yang ku sukai… aku tahu aku kejam untuk mengatakannya, tapi aku tahu seperti apa rasanya menyukai seseorang sangat dalam tanpa bahkan disadari oleh orang itu… karena itu aku tak ingin kau merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan… sekali lagi, maafkan aku, Tara…” penjelasan panjang terputus dari Daniel sekitar tiga tahun yang lalu itu turut terngiang di memori Tara.
“Jadi, seseorang yang sangat kau sukai itu adalah Akira…? Itu benar dirinya…Daniel…? Dari sekian banyak wanita di dunia, kenapa wanita itu harus Akira…? Kenapa… kau akhirnya harus merasakan luka itu lagi…? Setelah apa yang kau lakukan padaku… bagaimana bisa kau seperti ini…? Hhhh…hhh…” air mata Tara menderas. Tangannya
menutup mulutnya untuk mencegah suara tangisnya dari membangunkan Akira. Air mata yang mengalir bersama memori-memorinyanya bersama Daniel membuat putaran waktu lebih memilukan untuknya. “Hhh… apa ini? Aku kira aku tak lagi memiliki perasaan padamu setelah aku meninggalkanmu untuk mengenal Akira dan berbicara
berdua dengannya setahun lalu…aku kira aku telah menyerah… tapi, kenapa ini terasa begitu menyakitkan…?”
******
Revan berdiri tegak terdiam memandang Daylan dalam dari samping ranjangnya. Matanya sembab karena tangisnya dan ia tertidur setelah menceritakan semuanya dengan tangis yang membuatnya kelelahan dan kehilangan tenaga.
“Dia… aku membuatnya menangis lagi… aku hanya ingin dia tetap di sampingku… dia benar-banar pergi meninggalkanku…Revan… apa yang sebenarnya terjadi padaku?... bagaimana perasaanku pada Maura? ...bagaimana ini bisa terjadi…aku…aku mencintainya…aku…tak ingin kehilangan Akira…” potongan ungkapan
Daylan kembali terputar di memori Revan. Ia tersenyum tipis lalu menarik switch off lampu tidur di atas meja Daylan dan perlahan melangkah ke luar kamar. Langkahnya terhenti sejenak di depan pintu.
“Bagaimana aku bisa tahu jawaban dari pertanyaanmu tentang perasaanmu pada Maura jika kau sendiri tak tahu jawabannya? Jawaban apa yang kau harapkan dariku setelah aku menyerah untuknya seperti ini…?” air mata Revan menetes. Ia menarik daun pintu kamar Daylan lalu menutupnya dari luar. Ia melangkah ke ruang tamu tempat Daylan menceritakan semuanya. Serpihan-serpihan gelas dan beberapa barang lain masih berserakan di lantai. Revan berjongkok merendar. Jemari tangan kanannya meraih sebuah serpihan gelas.
______________
[1] Tidur nyenyak dan mimpi indah, Akira…”
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
__ADS_1
Yurizhia Ninawa