
“Wah, menantuku benar-benar cantik!” puji Nyonya Marendra pada Akira usai keluar dari salon menuju mobil.
“Mama berlebihan…”
“Eh, jangan salah lho… selera mama itu bener-bener tinggi dan Mama jarang bilang orang cantik kalau nggak bener-bener cantik. Jadi, kalau Mama bilang cantik, pasti banyak yang akan bilang cantik juga. Dan Mama yakin, laki-laki seperti Daylan pun akan mengatakan hal yang sama.”
“Hmmm… apa Daylan emang jarang muji orang orang, ya, Ma?”
“Dia jarang memuji perempuan…Ya, dia punya penilaian yang Mama juga nggak ngerti. Tapi, tenang aja, kali ini Mama yakin, dia pasti akan muji kamu…” Nyonya Marendra tersenyum meyakinkan.
Akira tertawa garing. “Sepertinya dia tak memuji wanita lain karena dia memiliki satu wanita untuk dipujinya sendiri… dan kriterianya adalah seperti penampilan wanita itu… tapi, mungkin benar, dia memang belum pernah memujiku… dan aku tak berharap dia akan…” batinnnya dalam.
******
“Kenapa kita datang ke sini?” Tanya Akira heran setelah turun dari mobil.
“Ini salah satu cabang perusahaan yang ada di Korea. Kita akan mengadakan peresmian sekaligus pengenalanmu sebagai Nyonya Muda Marendra. Oh ya, Daylan sudah menunggumu di dalam, temuilah dia!” jelas Nyonya Marendra yang diakhiri dengan seulas senyum indahnya. Wajah Akira berubah menutup kesalnya.
Apa dia sudah gila?! Akira membatin. “Dimana dia?” tanyanya kemudian tanpa menatap Nyonya Marendra.
“Wah, kau tak sabar untuk bertemu dengannya, ya…?” Akira tersenyum palsu tanpa jawaban. “Dia ada di Ruang Direktur Utama di lantai dua puluh.”
Akira bergegas menuju lantai dua puluh dengan mata menerawang jauh lurus ke depan. Jantungnya berdegup kencang dengan mata yang jelas menggambarkan rasa kesalnya. Jemarinya mengepal mengiringi langkah mantapnya ke lantai dua puluh.
“Tek…” pena yang dipegang Daylan terjatuh. Tubuhnya bergerak untuk kembali mengambil pena itu, namun visualnya tak sengaja melihat sesuatu. Ia mengangkat pandangannya ke pintu. Seseorang tengah berdiri di sana. Mata dan wajahnya jelas mengukirkan marah, namun begitu Daylan masih bisa memandangnya dari bawah ke atas. “Cantik, sangat cantik! Siapa wanita ini…?” batinnya bercanda lalu mengukir senyumnya. “Masuklah!” ucapnya mengizinkan kemudian.
Sosok itu melangkah geram ke arah Daylan. Namun, Daylan berusaha menanggapinya dengan senyum dan kalem.
“Duduklah!”
__ADS_1
“Aku tak butuh duduk!” tolak sosok itu tegas.
“Akira, berhentilah bersikap seperti ini!” saran Daylan lembut.
“Kenapa?! Kenapa kau segila ini?! apa kau benar-benar bodoh?! Kenapa kau ingin melakukan ini?!” Akira terengah dengan pertanyaan beruntunnya sendiri.
Daylan tersenyum. “ Mungkin kau memang benar. Mungkin aku memang gila dan aku mungkin juga bodoh. Tapi, apa kau tahu, siapa yang membuatku segila dan sebodoh ini?! Kau… kaulah yang membuatku tak bisa lagi berpikir jernih dan mengambil langkah gila dan bodoh ini! kau bilang kenapa aku ingin melakukannya? Aku tak pernah
berkata aku ingin melakukannya, tapi… tapi kau hanya diam dan tak memberitahuku apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkanku, bagaimana aku bahkan bisa berpikir lagi…?”
“Hhh…” Akira mendesah tak percaya. “Kau pikir ini cara terbaik untuk minta maaf? Kau minta maaf padaku dengan melukai orang lain lagi, begitu…?”
“Aku tak peduli! Aku tak bisa berpikir hal lain lagi selain bagaimana cara yang harus kulakukan agar kau memaafkanku… kau bilang jika aku membohongi, menipu, membodohi, dan menyakitimu, kan? Kalu begitu, hentikan saja ikatan konyol kita dan kita jalani saja ikatan kita yang sebenarnya…”
Mata Akira membulat. “Kau… kenapa kau seegois ini? Kau pikir setelah semua orang tahu semuanya akan baik-baik saja?! Apa kau benar-benar tak bisa memikirkan perasaan orang lain?! Berapa banyak lagi orang yang harus terluka karena ulahmu?!”
“Kau pikir saat kau mengatakan semuanya padaku semalam, bagaimana perasaanku melihatmu terluka seperti itu karena ulahku?! Aku tak ingin melihatmu terluka seperti ini lagi karena aku!”
Akira tercekat sejenak lalu menghela napas menenangkan diri. “Bukan begini caranya… karena jika begini, akan ada lebih banyak orang yang terluka. Lagi pula, apa kau tak memikirkan perasaan kekasihmu saat mengetahui semua ini dari orang lain?”
Akira mendesah terperangah. “Dengar, aku memang menyukainya. Tapi, hubungan kami tidak sejauh yang kau pikirkan. Lagi pula dia sangat berbeda denganmu, dan aku yakin, dia pasti akan mengerti…”
“Kau terlalu percaya diri! Kau belum tahu laki-laki, bagaimana bisa kau seyakin itu padanya? Lagi pula, seberapa lama dan dalam kau mengenalnya? Aku sarankan kau tidak terlalu yakin, karena saat terluka, laki-laki juga hanya manusia biasa…”
Akira tersentak. “Baiklah, aku rasa kau benar kali ini. Aku memang belum lama mengenalnya, tapi dia sudah mengenalku cukup lama…”
“Itu akan menambah dalam sebuah luka yang kau goreskan…”
“Baiklah, kau sudah cukup menceramahiku tentang laki-laki. Dan aku rasa sekarang giliranku untuk menceramahimu.”
“Baiklah, aku akan mendengarnya…”
“Kekasihmu adalah wanita yang hebat. Bahkan dengan kecantikan dan kecerdasannya dia tak mencari orang selainmu selama dia ada di sini. Semua orang tahu di sini ada banyak sekali laki-laki tampan, tapi dia tetap memilihmu. Dia menahan dan mengorbankan banyak hal hanya untuk mencintaimu, dan dia hanya tahu kau
melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan, dan jika kau tak bisa menyampaikan semuanya dengan baik padanya, bukan tak mungkin dia bisa bunuh diri karena gila memikirkamu. Dan karena aku wanita, jadi hentikan, jangan lanjutkan ini!”
__ADS_1
Mata Daylan yang sedari tadi mentap Akira berkaca-kaca. Bagaimana seorang gadis sepertinya berpikir sejauh ini tentang perasaan orang lain dan hampir-hampir tak memikirkan perasaannya sendiri? Hhh… ini berbahaya… aku… ingin memeluknya…
Klik. Akira tersenyum lega usai menelpon Nyonya Marendra dan menyatakan serta meyakinkan ketidakbisaannya hadir dalam acara pers dan pengenalan sebagai Nyonya Muda Marendra kali ini. Daylan hanya turut tersenyum senang melihat Akira dapat kembali tersenyum.
“Apa kau sesenang itu kau tidak jadi dikenalkan sebagai istriku?” ledek Daylan mendekat ke arah Akira.
“Tentu saja. Aku sangat-sangat see…ee-nang. Bukan karena aku tidak jadi dikenalkan sebagai istrimu, tapi karena kita tidak jadi melukai orang lain…”
“Bagaimana dengan mama yang kau bohongi?”
Akira menoleh tertawa meledek. “Bukannya kau yang mengajariku berbohong hingga berani mengecup keningku tanpa permisi hanya untuk acting?”
Daylan mendekat selangkah di depan Akira. “Jadi, aku boleh melakukannya jika permisi dulu?”
Jantung Akira berdetak kencang. Apa ini? Dia pasti bercanda lagi… Akira tertawa garing lalu berbalik tanpa jawaban.
“Syuut… Graabb” Daylan memeluk Akira yang tengah memegang knop pintu dengan tangan kanannya dari belakang tiba-tiba. Akira tersentak kaget.
“D-daylan… a-apa yang kau lakukan?” jantungnya berdetak lebih kencang.
“Maaf… untuk membuatmu memikul luka ini sendiri… Aku tak tahu bagaimana untuk menyembuhkan atau bahkan hanya menguranginya… tapi, jika kau memang terluka, jangan menyembunyikannya dariku dengan senyum itu… itu lebih manyakitkan untukku…” air mata Daylan menetes.
_____________
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : Nabila ubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. In sya Allah cerita kesayangan kita ini sebentar lagi akan dikontrak dan bila lulus proses kelanjutan kontrak kita akan bisa lebih sering update. So, buat teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1