Couple In Love

Couple In Love
Episode 42


__ADS_3

                                                                



“Kenapa kau menoleh lagi?”


“Karena aku masih ingin melihat wajahmu…”


Daniel terdiam sejenak. “Kalau begitu, pandangi saja sampai kau puas!”


*****


“Bagaimana, kau suka rasanya?” tanya Maura pada Daylan usai mencicipi es krim yang diberikannya.


“Ya, rasanya enak.” Jawab Daylan sembari terus berjalan berdampingan dengan Maura.


“Day, coba lihat itu!” pinta Maura sembari menunjuk ke arah balon yang tengah mengangkasa.


Daylan menengadahkan wajahnya ke langit.”Hmm. Aku melihatnya. Kenapa?”


“Kau ingat? Dulu saat aku sedih, kau membuat sebuah balon berbentuk love untukku dan memintaku menulis keinginanku dan menerbangkannya bersamaan ke langit?”


“Kau masih mengingatnya?”


“Bagaimana aku bisa lupa? Aku merekam semuanya semampuku dan menyimpannya sebaik mungkin. Gomawo,


Daylan…”[1]


Daylan menarik pandangannya kembali sambil tersenyum. “Terima kasih untuk tetap mengingatnya…” Daylan lalu menoleh ke samping. Matanya melebar. Tidak mungkin! Ini… bukan kenyataan, kan? Aku pasti salah lihat!


“Day…!” panggil Maura untuk yang kesekian kalinya masih tanpa jawaban. Maura bergeser dan menatap wajah Daylan yang berubah pasi. “Day, kamu kenapa, sih? Sakit, ya?” Daylan masih tak merespon dengan pandangan tertahannya. “Hhhh…” Maura mendesah panjang lalu mengikuti arah pandangan Daylan. –Erlangga?- batin Maura kemudian kembali menatap Daylan. Hatinya mantap. “Day, itu Erlangga, kan?“ Daylan masih terdiam. “Wah, jangan bilang padaku gadis di sampingnya itu adalah kekasihnya yang pernah dia katakan waktu itu! Tunggu, gadis itu… Daylan bagaimana jika kita datangi mereka…?”


“Kita pulang!” potong Daylan ketus sembari melangkah berbalik. Maura tak banyak berkata. Dia tahu benar bagaimana hubungan mereka berdua dan sikap Daylan di atas semuanya.


“Aku tahu, Day… tapi, seenggaknya…”


“Maaf, Ra… aku bener-bener lagi gak mood. Tolong jangan paksa aku. Tapi, kalau kamu mau ketemu sama dia aku gak keberatan kok. Sampein aja salamku buat dia, sorry!” Daylan melambaikan tangan kirinya tanpa menoleh dan masih terus berjalan. Maura hanya menghembuskan napas panjang tanpa kata dan diam di tempatnya. Maura sadar dia salah. Dan sekarang Daylan sedang labil, jadi gak baik ganggu dia. Well, let Daylan get better![2] Pikirnya.


Daylan terus berjalan tanpa menoleh. Langkahnya sangat tegap hatinya bergemuruh. Perasaan-nya meledak-ledak. Dirinya sangat berharap ini bukan kenyataan. ‘Just dream, please!’ harapnya dalam langkah-langkahnnya.

__ADS_1


Daylan terhenti di balik pintu apartemennya. Punggungnya menyandar ke pintu. Tubuhnya merosot terjatuh. “Tidak… tidak mungkin…! Bagaimana bisa… bagaimana bisa ini kenyataan…” ucap Daylan pada dirinya sendiri. “Bagaimana bisa, Erlangga… kenapa harus kau di antara tujuh miliyar manusia… kenapa harus dirimu lagi?!”


 


******


Semilir angin membelai lembut Daniel dan Akira yang tengah berjalan berdampingan. Menambah kesejukkan dan kedamaian suasana pagi itu. Akira memejamkan matanya, menikmati desiran angin dan alunan lirik dari earphone yang mengalir di telinganya.


“Kau sungguh tak ingin kuantar sampai depan pintu apartemenmu?”


“Tak usah. Terima kasih banyak sudah mengantarku sampai sini dengan berjalan! Hhhh, kau bahkan tak menyebut kau harus kembali ke taman dengan berjalan untuk mengambil mobilmu tadi…”


“Aku tak keberatan,.. Aku suka berjalan bersamamu…”


“Hmm. Aku juga. Tapi, aku tak ingin kau terlalu lelah. Jadi, setelah ini langsung istirahatlah dulu!”


“Baiklah, kau juga!”


“Ya…”


“Aku pulang!” Daniel melambaikan tangan. Akira membalas lambaian tangannya dengan senyum dan pandangan menerawang.


“Tik…tik…tik…” Akira memasukkan password apartemennya cepat saat langkah kakinya menghujung di ambang pintu. Pintu tak terkunci. Tangan lentik Akira mendorongnya pelan. “Aku pulang…!” serunya girang. Seulas senyum bahagia jelas terukir di wajahnya. Mata berbinarnya melebar mendapati Daylan yang tengah berdiri di samping tembok depan pintu sambil melipat tangannya di dada tanpa suara namun dengan tatapan berkaca-kaca menatapnya dalam.


“Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali? Kalian bertengkar?” tanya Akira membombardir sembari meledek. Namun, respon Daylan tak sesuai harapannya. Daylan langsung berbalik melangkah ke ruang tamu.


“Kita harus bicara.” Ucap Daylan dingin tanpa menoleh dan terus melanjutkan langkahnya.


“Kenapa kau jadi aneh begini? Tadi kau bilang ingin melihat kekasihku, kan? Kenapa aku tak melihatmu?” Daylan tak menggubris. “Apa jangan-jangan kau sudah melihatnya tanpa sepengetahuanku? Dia tampan dan baik, kan?”


Langkah Daylan terhenti. Kepalanya memutar cepat. Matanya menatap Akira tajam. Hatinya panas. Akira tertawa geli melihatnya. “Kenapa? Kau cemburu?” kejar Akira dengan tawa guraunya. Daylan segera mengalihkan pandangannya.


“Putuskan dia!” ucap Daylan yang lebih terdengar seperti desahan pada dirinya sendiri namun tampak tegas melalui raut wajahnya.


Tawa Akira berubah menjadi seraut tanda tanya. Ia bingung, tak mengerti apa yang terjadi. Tapi, telinganya jelas mendengar Daylan mengucapkan sesuatu. Sepertinya aku salah dengar. Harapnya berujung tanya, “Apa?”


“Aku bilang putuskan dia!” kini suara Daylan terdengar lebih keras dan jelas.


Mata Akira melebar. “Apa kau bilang? Jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu!”

__ADS_1


Daylan berbalik ke arah Akira lalu mencengkram bahunya dengan kedua tangannya sembari menggoncangkannya. “Aku serius, aku tidak bercanda. Dengar, kau harus memutuskannya!” Daylan melepaskan tangannya menunduk. Akira mendecak kesal.


“Apa kau sudah gila?! Bagaimana aku bisa memutuskan orang sepertinya? Tak ada alasan untuk itu bagiku.”


“Kau sungguh ingin mengetahui alasannya?”


“Ya, beri aku alasan yang kuat dan logis untuk memutuskannya!” tantang Akira. Daylan mengangkat wajahnya menatap Akira. Tangannya bergerak menyentuh pipi Akira. Akira tersentak. “Cepat katakan dan tak usah bertele-tele dengan acting seperti ini!”


“Hhh… acting, kau bilang? Apa aku tampak sedang ber-acting sekarang?”


“Kau tahu, aku sangat mengakui bakatmu yang satu itu. Tapi aku mohon, jangan mempermainkanku seperti ini!”


Mata Daylan kian berkaca-kaca. ia mengalihkan pandangannya. “Sayang sekali… padahal aku melakukannya karena aku takut kau akan terluka jika mendengar dan mengetahuinya…” Akira menatap Daylan tak mengerti. Tapi saat ini, ia melihat ketulusan katanya, Daylan tidak sedang berbohong…


“Maaf… tapi, kenapa kau pikir aku akan sedih untuk hanya mendengar alasan yang belum tentu bisa ku teri…” kalimat Akira terputus ucapan Daylan.


“Hey Akira… kau tahu… itu menyakitkan untuk mencintai seseorang yang sama sekali tak pernah memandang


kita. Itu juga menyakitkan untuk hanya saling menyimpan perasaan dan berbohong saat kita memiliki perasaan yang sama. Tapi, yang jauh lebih menyakitkan adalah kita tahu bahwa kita saling mencintai dan kita juga sudah saling mengatakannya, namun tak peduli seperti apa, kita tak mungkin memilikinya…” air mata Daylan menetes.


 


_______________


[1] Terima kasih, Daylan…


[2] Baiklah, biar Daylan baikkan dulu!


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : nabila ubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!


Love you,


 Yurizhia Ninawa

__ADS_1


__ADS_2