Couple In Love

Couple In Love
Episode 65


__ADS_3

                                                            



 


Akira tertawa lalu menimpali, “ Hmm, aku juga penasaran soal itu…!”


“Ah, sudahlah! Terserah! Terserah kalian mau menilai bagaimana dan seperti apa, Ok?!”


Revan berjalan mengeloyor melewati Tara dan Akira. Terus melangkah untuk menutupi tanya yang sebenarnya juga tak mampu dijawabnya. Kenapa ia melakukan semua itu tadi? Apakah semuanya benar hanya acting  belaka? Ia bahkan tak diminta, disuruh, atau memiliki kesepakatan untuk melakukannya. Ah, entahlah!


Revan, Tara, dan Akira terus berjalan menyusuri Busan. Melihat ke area butik dan pertokoan yang berjajar dan area food court yang berjarak tak jauh dari situ. Akira mengobrol dengan Tara di belakang, sedang Revan yang masih mungkin sedikit dongkol berjalan sendiri di depan. Namun, langkah Revan tiba-tiba terhenti seiring dengan matanya yang melebar. Apa ini?! Sejenak otaknya seolah berhenti berpikir. Bukankah harusnya ia terbiasa melihat adegan ini? Ia harusnya tahu hal seperti ini akan terjadi sejak awal ia mengetahui tentang hubungan keduanya, bukan? Tapi, mengapa rasa sakit itu masih saja muncul saat ia melihatnya? Apa yang terjadi padaku…? Aku bahkan telah bertahun-tahun tak melihatnya… kenapa…? Kenapa…? Apakah pada akhirnya aku masih mencin…? Tanya itu


terputus bersamaan dengan matanya yang tiba-tiba kian membulat setelah otaknya menyiratkan sesuatu yang kemudian disadarinya. Ia segera berbalik. Menatap sosok yang menjadi fokus pikirannya. Ter…lambat…kah? Revan segera menarik lengan sosok itu sembari memutar bertukar posisi tubuh lalu merengkuhnya masuk


dalam dekapan. ”Tidak. Apa yang aku lihat, kau tidak boleh melihatnya…” Revan membatin berharap sembari mengeratkan pelukannya.


Mata Tara yang telah melebar sebelumnya karena melihat apa yang dilihat Revan kini lebih melebar dan membulat karena melihat apa yang dilakukan Revan pada sepupunya. Ada sebuah nyeri yang menggerogot sanubarinya. Bagaimana bisa ia berpikir untuk melindungi seseorang saat sebenarnya ia juga menjadi sosok yang turut terluka dalam karena apa yang dilihatnya? Apa yang dia pikir dia lakukan? Dan perasaan sialan apa yang sekarang ini justru aku rasakan! Dear my heart… itu hanya Akira! Revan hanya berniat menolongnya karena dia memang dasar


ditakdirkan menjadi nice guy berkedok playboy. Arrgggh!! Kenapa kau justru membuat alasan untuknya, Tara! Itu tidak seperti kau memiliki hubungan dengannya atau apapun! Mengacalah Tara! Dia juga hanya menolongmu karena dia seorang nice guy. Batin Tara bergejolak menanggapi apa yang dilihatnya. Tara kemudian segera mengalihkan pandangannya ke arah objek yang membuat Revan melakukan tindakan dramatis barusan. Ah, apa lagi ini…?!


Revan menyadari sosok yang dipeluknya gemetar. “Sialan kau, Daylan! Kau berhutang satu tinjuan dari ku!” umpatnya dalam hati kemudian. Ah, apa dia merasa tak nyaman?! Revan mulai memikirkan sebab Akira gemetar. Atau… ? Tanya yang belum terselesaikan itu terpotong sentuhan sebuah tangan lembut di bahunya.


“Aku tak apa. Kau tak perlu melakukan hal seperti ini. Harusnya aku juga menyadarinya dari awal. Aku hanya ingin kembali ke hotel. Tolong lepaskan aku.” Ucap pemilik tangan itu kemudian. Revan ingin bersuara menghalangi, namun lidahnya kelu. Ia tak mampu berucap bahkan sepatah katapun untuk mencegahnya. Rengkuhan tangan kuatnya merenggang. Perlahan kedua lengannya terlepas pasti. Sosok yang tak lain adalah Akira itu menarik kakinya selangkah mundur. Senyum paksa yang sekuat tenaga diukir itu menghiasi wajah Akira membuat Revan segera bergerak refleks berlari untuk menutupi pemandangan yang tak seharusnya dilihat Akira, ya pemandangan Daylan dan Maura yang tengah berkencan mencoba beberapa makanan dan aksesoris, setelah adegan pelukan yang mereka lakukan sebelumnya. Pelukan yang sebenarnya bisa jadi hanya dilakukan untuk menjaga Maura yang oleng dan hampir jatuh, namun itulah manusia. Dengan kelemahan indranya, apakah mereka seyakin itu dengan apa yang dilihatnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya?


“Revan, aku mohon meyingkirlah! Aku hanya ingin memastikan apa yang aku lihat lalu segera kembali ke hotel.”


“Tapi, Ra…” Revan masih berusaha keukeh tak beralih karena tak rela akan ada lagi sosok yang menderita sedalam dirinya, terlebih seorang wanita. Naluri lelakinya tak mengizinkan hal itu.


“Van…” Akira memohon. Revan masih enggan beranjak hingga tangan Tara menyentuh bahunya. Tara menggelng memberi isyarat untuk tak menghalangi.

__ADS_1


“Biarkan Akira melihatnya, Van…!” pintanya pelan kemudian. Revan terdiam menyingkir. Akira memfokuskan pandangannya ke arah kedua sosok yang menjadi sebab terdiamnya dirinya saat ini. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya sekali dengan tersenyum getir. Kakinya memutar balik arah badannya lalu melangkah maju kembali menuju hotel. Meninggalkan Tara dan Revan yang hanya mampu terpaku di tempatnya masing-masing dengan segudang rasa bersalah karena telah menyeret Akira untuk ikut rencana jalan-jalan gila ke Busan ini. “Apa


yang telah aku lakukan?!!!” Jerit batin keduanya.


*********


“Hhh…” seorang pria bertuxedo abu-abu tertawa miring setelah melihat adegan drama gratis dari balik kaca mobilnya. Pantas saja banyak orang yang menyukai K-Drama, ternyata versi live dan nyatanya semenakjubkan ini. “This is gotten more intresting”[1]komentarnya kemudian dengan senyum misteriusnya. Dering handphonenya


membuatnya sejenak memutus hiburan gratisnya.


“Hallo… Aku hanya penasaran pada orang yang telah membuat adik kesayanganku cidera berat… Apa?!... Jaga dia baik-baik! Aku akan menyelesaikan urusan ini.” Klik. Sosok itu mengakhiri panggilannya lalu melempar handphonenya asal kemudian menarik persneling dan segera melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Sosok itu berhenti dan memarkirkan mobilnya setelah beberapa menit mengendarainya menuju tujuannya. Tangan kanannya meraih knop pintu mobil lalu menariknya. Klek. Ia melangkah keluar beriringan dengan terbukanya pintu mobil.


Tap. Kakinya menapak tanah menampakkan segenap keelokan kostum yang membalut sekujur tubuh dan ketampanannya. Ia menutup pintu mobil lalu menekan tombol kunci otomatis setelah beberapa langkah berjalan dari mobilnya. Ia melanjutkan jalannya menuju salah satu sosok yang memberinya pertunjukan gratis tadi.


Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ditujunya setelah ia berada di depan gerbang masuk hotel dimana sosok itu menginap. Putaran maniknya berhenti begitu ia merasa yakin korneanya menangkap objek yang dicarinya sedang berjalan di sebrang jalan tanpa menyadari bahwa sedari tadi telah ada begitu banyak mata yang memerhatikan dirinya. Sebuah senyum terukir setelah beberapa saat matanya mengekor sosok itu. “Patah hati? Ah, bukan… kecewa dan merasa bodoh?” cetusnya bertanya pada dirinya sendiri mengartikan pandangan tak terarah sosok yang sedari tadi diamatinya. Sosok itu terlihat melangkah mendekati trotoar. Dia akan menyebrang. Bersamaam dengan langkahnya ke trotoar, sorang anak yang mungkin berusia sekitar lima tahun turut melangkah di sampingnya dengan melambaikan tangan dan tersenyum. Pria bertuxedo itu menoleh ke samping melihat sosok wanita lain yang membalas lambaian tangan anak di sebrang jalan dengan senyum yang turut menghias bibirnya. Tak lama kemudian wanita itu menghentikan lambaian tangannya. Ia membuka tas selempangnya. Agaknya ia mengambil handphone. Lalu berbicara. Ah, dia mendapat telpon. Pikir pria itu. Pria berturxedo itu kembali mengalihkan visualnya pada objeknya. Objeknya tengah menunggu kosongnya jalan dari kendaraan. Namun…


Mata pria itu membulat terkejut. Sebuah kejadian segera melintas di otaknya, membawanya dalam alam de javu. Anak di samping objek yang diamatinya berlari begitu saja tanpa melihat sekitar, sedang sebuah mobil melaju kencang menuju arah itu. Tidak. Pristiwa itu tak boleh kembali terulang! Namun, kembalinya kesadaran dan sense tubuhnya itu kalah cepat dengan suatu langkah dan suara lain, “Awas…!” mata pria itu melebar mendapati gadis yang sedari tadi di amatinya mengambil langkah secepat kilat menuju anak kecil yang bahkan masih merasa aman


“Syyiiiittt…Brugk….Sreeet…Bugh…” segalanya terjadi begitu cepat dan membuat semua orang menoleh ke pusat


kejadian. Waktu seolah terhenti sejenak hingga akhirnya orang-orang tersadar dan segera berlari melihat keadaan di sekitar tempat kejadian beberapa detik kemudian. Mereka masih terdiam memandangi para korban. Beberapa saksi mata mereka ulang kejadian itu beberapa waktu lalu. Seorang anak jatuh ke pinggiran trotoar setelah terdorong tangan seorang gadis yang agaknya berusaha menyelamatkannya. Sedang sang gadis yang telah pasrah hampir tertabrak hanya memejamkan mata mempersiapkan diri menerima akhir takdirnya yang juga sepertinya tak begitu penting lagi akhirnya. Ya, karena ia berpikir hidupnya telah messed up tingkat dewa. Namun, sedetik sebelum semua itu, lengan seseorang yang tak dikenalnya menarik kuat tubuh gadis itu masuk dalam


rengkuhannya. Terpental ke belakang bersama sosok asing yang memeluknya, meski gadis itu bahkan tak begitu memerdulikannya, ia bahkan tak lagi peduli jika ia memang harus mati, namun lagi, seolah semua yang terjadi padanya belum cukup buruk, ataukah mungkin ia harus mengatakan bahwa Tuhan masih menyayanginya dan


menyiapkan sebuah hadiah untuknya?


“Aww…” rintihan lirih itu terlontar diiringi gerakkan tubuh kecil anak yang tadi jatuh didorong untuk menghindari mobil. Dan seketika gadis itu mendengarnya, seketika itu pula ia bangun dan berdiri lalu berlari begitu saja menghampiri anak tadi tanpa memerdulikan pemuda di bawahnya yang mengeratkan gigi-giginya menahan sakit.


Pemuda itu menatap Akira yang beranjak tanpa menghiraukannya. Pemuda itu ikut duduk bersiap untuk beranjak. Namun, gadis yang tadi diselamatkannya melangkah bagai angin di sampingnya. Membiarkan rambut panjang yang diikatnya menggelombang diudara. Bergerak mengombak di depan wajah pemuda itu bahkan hingga gadis itu melangkah di sampingnya. Sret. Mata sosok itu melebar. Sebuah kejadian tereka ulang dalam ingatannya. Kepalanya menoleh refleks ke arah sang gadis. Maniknya segera mengekor. “A-akira…?” tanya pemuda itu lirih lebih pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Gadis itu tak mendengar apa yang diucapkan pria yang menolongnya. Tak seperti ia peduli akan apa yang dikatakannya juga. Ia hanya fokus pada anak kecil yang mengaduh kesakitan. “Kau tidak papa?” tanyanya kemudian. Anak itu sontak menatapnya. Ia lalu mengangguk dan seorang wanita tiba-tiba menyusul jatuh terduduk di samping anak itu.


“Eomma…[2]” panggil anak itu kemudian. Wanita itu segera memeluk sang anak dengan air mata yang membanjiri pipinya.


“Kau baik-baik saja?” ia menarik diri lalu mengelus wajah anak itu sembari menatapnya. Anak itu mengangguk. Gadis itu tersenyum, sedang sang pemuda hanya terdiam menyaksikan sembari membatin, “Bagaimana kau bisa memikirkan untuk menyelamatkan nyawa orang lain saat ragamu bahkan seolah tak memiliki jiwa seperti itu…? Saat bahkan orang yang berharga bagimu menyakitimu seperti itu… Benarkah ini dirimu…? Kau kah yang selama ini membuatku terus mencari tanpa arah dan percaya pada hal bodoh yang paling tak ingin ku percayai…?” tanya


tanpa jawaban yang sejenak membuatnya lupa akan niat utamanya dan justru mengingat suatu pristiwa yang terjadi 15 tahun lalu. Peristiwa yang hampir sama persis dengan kejadian yang saat ini ada di depan matanya.


“Hey…!” gadis itu kembali tersenyum indah dengan wajah cerianya sembari melambai-kan tangan imutnya ke arah ku, ku pikir begitu. Hingga akhirnya ia masih bersama senyumnya berjalan ke arahku yang masih setia dengan buku di tanganku yang sebenarnya sudah tidak menjadi perhatianku sejak kedatangannya ke ruangan ini. Aku mencuri-curi pandang, meliriknya sesekali dari balik buku yang ku pegang. Dan melihat langkahnya menuju diriku, terang saja aku menegang. Ia menghampiriku… Ia menghampiriku. Ya, aku seratus pesen nervous. Ah, anak buahku pasti akan menertawakanku jika mengetahui ekspresiku saat itu. Ekspresi yang ku bunuh bersama dengan kepergiannya. Langkah gadis yang masih belum ku ketahui namanya itu kian mendekat. Arrrggh… apa yang harus ku lakukan?! Namun, aku harus kecewa saat ternyata bukan aku yang ditujunya. Ia mendatangi sosok di belakangku. Rambutnya yang panjang dengan kucir kuda membuatnya bergelombang indah terbelai angin saat ia berlari kecil melewatiku. Cantik. Indah. Mengagumkan. Mungkin hanya kata itu yang kumiliki untuk komentar. Aku… terpesona.


Beberapa hari terakhir musim panas ini aku menjadi begitu rajin dan senang mendatangi taman baca ini. Ya, karena aku bertemu dirinya yang begitu menggemaskan juga cantik dan gila baca itu. Gadis kecil yang aneh. Ya, keanehan yang membuatku begitu ingin melihatnya lagi dan lagi, menunggu dengan penuh harap hari esok segera datang saat ia telah beranjak pulang. Mungkin aku bisa mengatakannya dengan kata, ‘dia memiliki sesuatu yang membuatku merindukannya’ rindu untuk bahkan hanya melihat dirinya dari kejauhan, dari balik buku di salah satu kursi di taman baca yang berada di luar ruangan. Yah, real park for reading.


Dan hari itu… aku tak mendapatinya datang setelah menunggunya seharian di sana. Aku yang berharap begitu banyak harus menelan kecewa yang mungkin menurut sebagian besar orang tak beralasan. Ya, dan saat itulah aku sadar bahwa ungkapan yang sering ku baca itu benar, “ 20 tahun dari saat ini  kau akan lebih banyak menyesali hal-hal yang tidak kau lakukan dari pada hal-hal yang kau lakukan.” Ya, bahkan aku rasa kita tak perlu menunggu selama itu untuk menyesal. Bagaimana dengan 20 tahun saat hanya sedetik setelah kita tak melakukan apapun kita menyadari bahwa kita sama sekali tak memiliki kesempatan itu lagi? Tak ada hak sedikitpun untuk berharap karena kita ‘tak melakukan apapun’. Berbanding terbalik dengan itu. melakukan sesuatu, mengambil setidaknya satu tindakan meski berakhir pada kegagalan dan kesalahan akan menimbulkan suatu penyesalan sedetik. Ya, karena setelah waktu berlalu kita bisa menertawakan atau menangis bodoh menyadari diri kita melakukannya dan satu


hal yang pasti adalah kita belajar dari kesalahan dan kegagalan kita. Menurutmu saat seseorang belajar ia akan bertambah pintar atau bodoh? Kau bisa menjawabnya sendiri.


 


________________


[1] Ini jadi semakin menarik!


[2] Ibu


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!

__ADS_1


Love you,


Yurizhia Ninawa


__ADS_2