Couple In Love

Couple In Love
Episode 53


__ADS_3

                                                            



 


Tuan Erlangga menatap Daniel dalam dengan senyum penuh maknanya yang menyembunyikan luapan perasaannya serta kaca-kaca di matanya. “Jika Papa melihatmu sekarang, Papa merasa melihat diri Papa sendiri. Papa juga tipe orang yang tak bisamenolak dan mengatakan tidak pada orang tua… Papa selalu menurut. Hingga suatu hari… setelah Papa berpacaran dengan Nyonya Horison selama kurang lebih empat tahun sembari menjalani kuliah kami di Inggris, kakek tiba meminta Papa untuk pulang ke Indonesia, tapi bukan ke rumah, melainkan ke suatu hotel megah di Riau. Awalnya Papa segera pulang dan tak curiga akan apapun. Namun, segera setelah Papa memasuki ruang makan megah itu, Papa merasa ada sesuatu yang  berbeda…ada yang aneh. Dan saat itu pula Papa dikenalkan dengan seorang gadis dan kedua orang tuanya lalu diberitahu bahwa kami akan dijodohkan. Papa cukup kaget dan terkejut, tapi Papa hanya mampu mengangguk sembari tersenyum mengiyakan…” Tuan Erlangga menghentikan kata-katanya sejenak menahan kembali air mata dan rasa bersalahnya. Sesak. 


“Papa baik-baik saja?”


“Hmm. Hhhh… Papa tidak menyangka menceritakannya padamu akan membuat Papa seperti ini bahkan setelah Nyonya Horison mengatakan semuanya sebelum kalian datang tadi…”


 “Papa tidak perlu melanjutkannya jika itu justru membuat Pa…”


“Tak apa… Papa ingin setidaknya kau tahu… Setelah perjodohan malam itu, Papa kembali ke Inggris keesokkan harinya. Dia menjemput Papa dengan senyum indah di wajah bahagianya menyambut kedatangan Papa di Bandara. Melihtanya sebahagia itu untuk hanya melihat Papa… itu terasa sangat menyakitkan… Papa bahkan tak mampu mengatakan apapun tentang perjodohan Papa… Papa bersikap seperti tak ada apapun yang terjadi… hingga akhir… Hhhh…dia terlalu percaya pada Papa, dia tidak curiga sedikitpun hingga saat hari wisuda tiba… kami berdua mendapat tawaran untuk melanjutkan S2. Dia tampak sangat senang, sedang Papa justru ingin menjerit dan menangis karena kakek menelpon bahwa tanggal pernikahan telah ditentukan dan dipercepat karena ayah gadis itu sakit parah… kakekmu bilang ayah gadis itu sangat ingin melihat anaknya menikah sebelum dia meninggal… dia ingin melihat anaknya bersanding bersama seorang lelaki yang akan menggantikannya dalam menjaga dan mengurusnya…Hhhh… hingga akhir Papa tak memberitahu Nyonya Horison, Papa tahu itu akan menyakitinya bahkan jika Papa tidak mengatakannya… Tapi, Papa memutuskan untuk tak memberitahunya hingga akhir karena Papa rasa Papa tak ingin melihatnya sedih… Tapi sebenarnya Daniel, alasan tak mengatakannya hanyalah sebuah alasan untuk membuat Papa merasa baik-baik saja dan tak begitu bersalah untuk melihatnya menangis di hadapan Papa… Terakhir kami bertemu sebelum Papa kembali ke Indonesia untuk menikah adalah di persebrangan jalan. Kami ada di persimpangan yang berbeda, kami terhenti berjalan karena lampu merah menyala bagi pejalan kaki, dia sempat melambaikan tangan sembari tersenyum lebar dangan kharismanya sebelum kendaraan-kendaraan yang tadi berhenti mulai berjalan… di situlah… di saat itu lah Papa mengucapkan selamat tinggal padanya tanpa kata…Papa menghilang sebelum ia sempat menemukan Papa… Tapi, seiring berjalannya waktu, Papa menyadarinya… Papa telah menghancurkannya… melukainya sangat dalam… dan Papa sangat menyesal untuk memilih diam…”


“Papa…”


“Kau tahu Daniel…? Aku membuatnya menunggu tanpa kepastian, tanpa sepatah kata pun… tanpa penjelasan… meninggalkannya begitu saja… dan diam… aku membiarkannya tahu jika aku menikahi wanita lain dari mulut orang lain…” air mata tuan Erlangga menetes.


Papa menangis? Ia bahkan tak menggunakan sapaan “papa” pada kalimat-kalimat terakhirnya… dia pasti merasa sangat bersalah… “Tapi aku rasa meski benar Papa melukainya begitu dalam, Nyonya Horison dapat segara kembali baik-baik saja beberapa saat kemudian. Buktinya dia bisa melahirkan Akira yang hanya memiliki selisih satu tahun denganku. Itu berarti tidak lama setelah Papa menikah dia menikah juga, kan?”


“Ahh, aku tidak yakin masalah itu… alasan dia melakukannya… mungkin juga karena ia tak ingin aku merasa begitu bersalah padanya…”


“Tidak mungkin! Orang seperti Nyonya Horison tidak mungkin…”


“Itulah dirinya… orang yang tak mengenalnya pasti akan berpikir seperti itu… tapi, aku sudah mengenalnya begitu lama… dia memang seperti malaikat…”


“Jadi maksud Papa Nyonya Horison tidak mencintai suaminya?”


“Itu juga tak sepenuhnya benar. Karena sikap dan sifatnya, juga karena paras dan kharismanya, ia banyak disukai oleh pria. Tapi, saat menolak mereka ia melakukannya dengan sangat lembut dan baik, Papa tidak tahu kenapa dia menerima Papa yang akhirnya justru menyakitinya… dan dari sekian banyak orang yang menyukainya, ada seseorang yang sangat persisten bahkan setelah tahu kami berpacaran. Ya, dialah suaminya sekarang, William Horison. Dia selalu berada di sampingnya dalam keadaan apapun setelah aku pergi, itulah yang ku dengar. Karena itu, aku sebenarnya takut ia menikahinya hanya karena kasihan padanya…”


“Hhhh… Papa terlalu percaya diri! ”


 “Kau benar… aku terlalu percaya diri… aku mendengarnya sendiri tadi jika dia bilang dia mencintai William…”


“Wah, Papa kelihatan kecewa….!”


“Hmm. Kecewa, sedih, menyesal, tapi juga senang…”


“Kenapa?”


“Aku kecewa dan menyesal karena dia akhirnya mencintai laki-laki lain, aku sedih karena aku merasa sangat bersalah padanya, dan aku senang karena laki-laki yang dia cintai itu adalah dirinya … aku bisa percaya padanya…”


“Apa maksud Papa? Papa kelihatan jelas sangat jealous begitu…!”


“Mungkin kau benar. Tapi, dia adalah teman terbaik Papa saat berkuliah di Inggris, selain keluarganya juga memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan keluarga kita…”


“Hah, apa Papa bercanda? Jika dia adalah teman terbaik Papa dia tidak akan terus mengejar Nyonya Horison yang saat itu jelas sedang memiliki hubungan dengan Papa.”


Tuan Erlangga tersenyum. “Menurutmu seperti apa teman terbaik itu, Daniel?”

__ADS_1


“Entahlah, tapi menurutku orang yang tetap mengejar pacar sahabatnya bukan teman yang baik…”


“Papa selalu ingin tertawa jika mengingatnya. Dia sangat jujur dan mengatakan pada Papa secara langsung jika dia menyukai Nina dan dia berkata, ‘aku tidak akan menyerah padanya hanya karena dia adalah pacarmu, juga jangan mengasihani aku karena aku adalah temanmu, dan jangan memusuhiku hanya karena kita sama-sama menyukainya! Kita akan bersaing dengan adil untuk memenangkan hati Nina!’ Papa sempat terkejut lalu tertawa seketika itu juga. melihat ekspresi Papa yang seperti itu dia turut tertawa lalu tiba-tiba berkata, ‘aku serius’. Ah, Papa bersyukur Papa memiliki seseorang seperti dirinya… dan Papa bisa mempercayakan semua padanya


sekarang…”


“Benarkah hanya itu yang membuat Papa senang?”


“Hmm, sebenarnya yang paling membuatku senang adalah kenyataan bahwa setelah semua yang ku lakukan padanya ia masih saja menjadi seorang malaikat yang begitu baik… dia bilang, ‘bagaimana kau bisa hidup tak bahagia seperti ini setelah apa yang kau lakukan padaku?’ dia bahkan memintaku berjanji agar aku menjalani hidupku dengan bahagia…Hhhh…itu cukup menyedihkan saat akhirnya aku mampu mendengarnya dari mulutnya, tapi aku rasa jauh dalam hatiku, aku bahagia… akhirnya aku mampu meminta maaf padanya dan mengucapkan selamat tinggal dengan benar…”


“Ahh, jadi Papa selama ini tak bahagia…”


“Ah, kau tak tahu seperti apa beratnya menyakiti orang yang benar-benar kita cintai! Lagi pula apa kau bahkan pernah mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang?”


“Apa maksud Papa? Tentu saja aku tahu.”


“Hey, Daniel! Jangan mengeles Papa! Papa tahu kau belum pernah berpacaran atau semacamnya, jadi…”


“Apa tak terlihat seperti pasangan saat bersama dengan gadis yang tadi ku bawa bersamaku?”


Tuan Erlangga terdiam mengingat. “Ah, maksudmu Akira?”


“Ya, siapa lagi.”


“Dan apa maksudmu kelihatan seperti pasangan?”


“Dia pacarku.”


“Hhhh, Papa tahu siapa aku, aku tak akan bercanda untuk hal seserius itu. Karena itu aku khawatir hubungan Papa dan Nyonya Horison akan menganggunya nanti. Tapi, setelah Papa menjelaskan aku rasa kami bisa melangkah bersama lebih jauh.”


Tuan Erlangga tertunduk pelan lalu meraih secangkir air putih di hadapannya dan meminumnya pelan. Tunggu… apa yang sebenarnya terjadi? Dia jelas tak mungkin berbohong atau bercanda tentang masalah seperti ini… Anak ini… jangan katakan padaku dia tidak tahu jika Akira adalah gadis yang dijodohkan dan dinikahkan dengan Daylan… Daniel…


“Papa… Papa baik-baik saja?”


“Hmm.”


“Kenapa ? Apa ada yang salah?”


“Tak ada yang salah. Hanya saja, jika kau tak keberatan, Papa ingin kau tak terlalu mencintainya…”


“Hah…??” Daniel bertanya bingung tak terjawab karena ponsel Tuan Erlangga tiba-tiba bordering.


Tuan Erlangga segera mengangkatnya. Sebuah urusan penting harus ditanganinya, ia berpamitan pada Daniel lalu pergi meninggalkan Daniel yang masih penuh tanya. “Jangan terlalu mencintainya…?”


 


 


********


“….begitulah ceritanya, Akira. Kau tak perlu khawatir tentang itu lagi! Mom sudah mengakhirinya dengan damai sebelum kau datang…” Nyonya Horison mengakhiri cerita tentang hubungannya dengan Tuan Erlangga pada Akira. Mata Akira memerah, ia menggigit bibirnya. Nyonya Horison membelai rambut Akira pelan. Ia tahu apa yang putrinya rasakan bahkan sebelum bibirnya sempat berucap. “Ah, Mom mungkin tak pantas mengatakan ini setelah apa yang kau lihat, Akira. Tapi, Mom tidak ingin kau membuat orang lain merasakan apa yang Mom rasakan. Itu, sangat menyakitkan untuk ditinggalkan tanpa kata dan penjelasan, serta untuk mendengar kenyataan dari mulut orang lain, Akira. Jangan membuat salah satu dari mereka berdua merasakannya…” Akira menoleh menatap Nyonya Horison dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


 “Mom menyadarinya…?” ucapnya kemudian.


Nyonya Horison tersenyum. “Yah, anak Mom bukan seseorang yang bisa bergandengan tangan dengan lelaki yang bukan siapa-siapanya… lagi pula, Mom tahu kau menyukainya saat dia pertama kali bertemu denganmu di rumah. Karena itulah, Mom segera memintamu untuk kembali ke kamar. Mom tak ingin hal seperti dulu terulang… tapi, sepertinya tadir mendahului Mom mencegahnya…” Nyonya Horison kembali tersenyum sembari mengelus rambut Akira. “…tapi, Akira… jika kau tak mungkin menyelamatkan keduanya setelah sejauh ini, selamatkanlah salah satu dari mereka… meski akhirnya kau harus melukai salah satu dari mereka…”


Akira spontan berhambur memeluk Nyonya Horison lalu menangis sejadi-jadinya. Nyonya Horison  turut memeluknya penuh kehangatan. “Mom…” Akira mendesis dalam tangisnya mencoba memanggil sosok yang


dipeluknya. “…apa yang harus ku lakukan…?”


 


*******


Klek. Akira membuka pintu apartemennya dengan langkah gontai dan mata sembabnya. “Oh, Akira, kau sudah pulang?” tanya Daylan yang tengah memasak di dapur mini mereka dengan seulas senyum di wajahnya. Akira tak menjawab. Bibirnya belum mampu menjawab tanya itu. “Oh, ya, Mamamu tadi telpon! Aku sempat bertanya-tanya nomor siapa, tapi yang paling mengejutkan adalah pertanyaan dan nada suaranya ‘Apakah hubunganmu dan Akira baik-baik saja?’ dan aku jawab ‘Ya, tentu saja.’ Karena hubungan kita memang baik-baik saja, kan?”


Tangan seketika menyandar di tembok menyangga tubuhya yang mulai hilang keseimbangan dalam kelam wajahnya menahan deraian air mata di hadapan Daylan.


“Hey, Akira! Kau tahu? Daylan itu akhir-akhir ini sangat tak peka! Dia bertindak aneh sejak dating ke Korea. Dia bahkan selalu menghindari pembicaraan hubungan lebih lanjut kita. Jadi, aku berpikir mungkin aku yang harus melanyatakan perasaanku dan melamarnya. Menurut-mu bagaimana?” tanya Maura via telpon dalam perjalanan Akira menuju apartemen kembali terngiang di kepalanya. “…aku ingin tahu pendapatmu. Kita ini teman, kan?...” potongan kalimat lain kembali mengiang. Kaki Akira mulai bergetar.


“Hey, apa yang kau lakukan terus berdiri di sana? Kemari dan duduklah!” Daylan tersenyum menatap ke Arah Akira yang masih berdiri dengan telapak tangan yang menyangga di tembok. Ada yang aneh. “Akira…”


“Jangan membuat salah satu dari mereka berdua merasakannya… tapi, Akira… jika kau tak mungkin menyelamatkan keduanya setelah sejauh ini, selamatkanlah salah satu dari mereka… meski akhirnya kau harus melukai salah satunya…” kata-kata Nyonya Horison padanya kembali berputar di pikiran Akira bersamaan dengan tumpuan kakinya yang tiba-tiba saja kehilangan kekuatan. Akira jatuh terduduk.


Mata Daylan melebar. Ia segera mematikan kompor lalu  berlari ke arah Akira. “Hey, apa yang terjadi padamu?” tanyanya khawatir sembari berjongkok mengimbangi Akira. “Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” Akira tak menjawab dan hanya menyembunyikan air mata yang mulai menetes di balik wajah tertunduknya. Telapak tangan Daylan mendarat lembut di pipi kiri Akira. Tangan itu lalu bergerak mengangkat wajah Akira. Daylan tercekat melihat


tetesan air mata dan ekspresi Akira. Akira menatap Daylan dengan mata sembab sembari menahan tangis lanjutan. Tangan Daylan segera menarik Akira ke dalam rengkuhannya sebelum ia bahkan sempat berpikir. –Apa yang terjadi padanya?- tanya Daylan dalam hati sembari mengelus lembut Akira. “Tak apa, semuanya akan baik-baik saja. Bagaimanapun, itu akan sangat menyakitkan untuk terus menahan luapan perasaan dan air matamu dalam dirimu sendiri. Karena itu, menagislah! Keluarkan semuanya, aku akan terus di sini untukmu…” ucap Daylan lembut


melanjutkan. Air mata yang tertahan Akira mulai berjatuhan.


“Daylan…” panggil Akira mulai terisak.


“Hmm…”


“Daylan…!” Daylan kembali terperanjat karena Akira tiba-tiba memeluknya balik erat-erat bersamaan dengan tangisnya yang mengeras. Mata dan hati Daylan yang masih terperanjat mendorong tangannya turut mengeratkan rengkuhannya dalam khawatir dan tanya dalam batinnya, “Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”


Bayang-bayang tiga orang penting dalam hidup Akira mewarnai pikirannya. Awal ia bertemu bertemu dengan Daylan, Daniel, dan Maura. Daniel yang muncul di hadapannya dan mencuri hatinya pada saat ia justru di hadapkan pada perjodohannya dengan Daylan, pertemuan kedua mereka di Seoul, saat-saat berdua bersamanya, dan semua kebaikannya. Daylan yang ia temui di bandara, malam perkenalan mereka, kabur bersama, deklarasi, tinggal bersama di Korea, serta memen-momen penuh canda, tangis, dan tawa, juga kebaikannya. Maura yang ternyata adalah kekasih Daylan, pertemanan mereka, dan kata-kata terakhirnya di telpon, “…kita teman, kan?” semua kejadian yang ia lalui bersama ketiganya seolah berputar di kepalanya. Bibirnya tak mampu mengatakan apapun dan ia hanya mampu menangis sembari memeluk Daylan erat-erat.


 Waktu tak terasa terus berlalu begitu saja dalam kadaan itu. Tangis tanpa kata penjelasan apapun.


 


_______________


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!


Love you,

__ADS_1


Yurizhia Ninawa


__ADS_2