
Daniel menarik napas lalu menghembuskannya pelan sembari menikmati semilir angin pantai dan pernak-pernik yang mengiringi keindahan pantai ini dengan mata terpejamnya. Ia kemudian membuka kedua kelopak matanya menatap laut dengan deburan ombaknya dan berbagai cahaya lampu yang menjadikan pemandangan di depannya kian cantik. Wajahnya berusaha menarik bibirnya untuk menyunggingkan sebuah senyum, namun matanya sepertinya berkhianat dan kembali memerah dengan gulungan memori tentang kisah cintanya yang kembali terlintas seperti kaset rusak. Ah, ternyata tak semudah itu untuk bahkan mencoba tersenyum tulus dan
ikhlas melepaskanmu, Sweetheart –Akira.
Hhh… Daniel mendesah lelah. Mungkin begini balasan yang ia dapat karena telah berbuat
begitu jahat pada seorang gadis yang ia tahu betul dengan segala ketulusannya mencintainya sejak dulu. Walaupun tentu saja kasusnya berbeda dan ia tak akan pernah mengerti seperti apa sakitnya luka yang ia torehkan di hati gadis itu di peristiwa terakhir kemarin. Bila dengan hanya mencintai dalam diam dapat begitu menyesakkan, lantas apalah lagi dengan tambahan tuduhan keji yang sama sekali tak ia lakukan. Hhh… Tara, maafkan aku… sungguh… bagaimana aku bisa membuat persahabatan kita menjadi ajang menyakitimu seperti ini? Batin Daniel
menyeruakkan isi perasaannya akhirnya. Ia tak pernah tahu melihat gadis itu menangis kembali karena ulahnya dan tetap melindunginya di balik luka yang berdarah-darah dari air matanya dapat membuatnya merasa tak lebih baik dari dari Daylan yang menyembunyikan pernikahannya dari Maura.
Ingatan Daniel akan kata-kata Revan yang tentu saja terlintas semaunya dan seenaknya
sendiri tiba-tiba itu kembali mencubit nuraninya. Perspektif tidak sama dengan
main menyimpulkan sendiri? Tanyanya pada diri sendiri. Ya, keduanya memang berbeda, tapi mereka berhubungan sangat erat hingga kadang sangat sulit untuk membedakan yang mana yang ada pada kita dan sedang kita miliki saat mendapat sebuah clue. Sebuah senyum getir seketika terukir di wajahnya saat bayangan persahabatan mereka serta wajah cantik dengan senyum dan tawa Tara
yang seketika berubah begitu menyakitkan saat senyum itu berubah menjadi air mata beberapa hari lalu yang bahkan kini masih terbayang jelas dalam ingatannya. Entah mengapa sebuah sesal tak terucap akan keputusannya bersikap dingin, ketus, dan meminta Tara menjauh seketika menyeruak. Saat itu hanya satu yang Daniel tahu dan sadari, “Aku tidak ingin menyakitinya dengan tidak membalas perasaannya yang jelas ku ketahui dan aku akan lebih menyakitinya saat
ia mengetahui kenyataan bahwa aku telah memberikan hatiku untuk gadis lain, karena itu aku tak akan egois dengan terus mengeinginkanmu menjadi sahabatku.”
Hhh…sekarang rasanya ia ingin merutuki dirinya yang yang setelah pemikiran implusif itu memutuskan sikap yang kontras pada Tara. Ah, bagaimana bisa disaat ia hancur
karena kehilangan Akira begini ia justru makin hancur mengingat tentang apa yang dilakukannya pada Tara. Rasa bersalah dan penyesalan yang selalu ditutupinya hingga menumpuk seperti tak lagi tertahankan untuk menampungnya kian menyeruak.
Ponsel Daniel bergetar. Menyeretnya kembali pada realita yang harus terus dijalaninya.
Jemarinya meraih ponselnya dari saku celana chino mocca yang ia kenakan. Sebuah pesan dari nama yang ia rindukan tercetak disana, Lovely Mom. Sesungging senyum tercetak di wajah tampannya. Ibu jarinya meng-unlock ponsel itu cepat lalu membaca isi pesannya.
**Dear…
Mama tidak tahu kenapa, tapi perasaan mom tidak enak, Dear. Apa sesuatu buruk terjadi
padamu? Mama khawatir. Wanna share with me**?
Daniel tersenyum lalu jemarinya membalas
singkat :
I am OK mom. Don’t worry, I can manage to clear it nicely.
Tak lama kemudian pesan balasan masuk :
Baiklah kalau kamu memang yakin bisa handle sendiri, Dear. Tapi, kalau nggak kuat cerita ke Mama ya… Mama percaya sama kamu, and above all, I do love you my Dearest son, Daniel. Wish You best of luck.
Daniel kembali membalas :
__ADS_1
I know. Thank you mom. Love you too.
Sebuah senyum indah akhirnya terukir di wajah tampan Daniel. Ia mungkin sedikit berbohong. Tapi, ia rasa itu juga bukan sebuah kebohongan, ya karena seperti yang ia tahu, perkataan adalah doa, jadi tidak salahkan jika dia mengatakannya agar ia
sungguh menjadi baik-baik saja, kan?
Sebuah senyum kembali terukir di bibirnya menyadari sesuatu. Mungkin mama memang memiliki perasaan yang terhubung dengannya, namun tidak menutup kemungkinan jika yang memberitahu mama adalah papa. Ya, papanya yang baru saja memintanya datang ke Busan untuk menengok kantor cabang katanya. Namun, dari pada membicarakan masalah kantor, papanya justru hanya memberinya beberapa nasehat dan penguat seolah dapat membaca apa yang terjadi pada putra semata wayangnya yang tampak berantakan hatinya. Dan di sinilah ia berakhir setelah makan malam di restoran dekat pantai dan papanya pamit karena ada hal lain yang harus di urusnya. Sebenarnya Daniel tahu, papanya hanya beralasan membawanya ke tempat ini karena lapar, ia rasa hal itu sengaja papanya lakukan karena papanya tahu, laut yang tenang adalah tempat yang paling disukainya saat ia sedang seperti sekarang. Hhh… semuanya akan baik-baik saja. Batinnya meyakinkan diri.
******
Tara menghembuskan napas lelah setelah
berputar-putar ke berbagai tempat mencari sepupu tersayangnya, Akira yang entah
kemana belum kembali ke hotel saat mentari telah tenggelam begini. Bukannya tak
percaya pada Akira akan dapat kembali sendiri ke hotel meski memang sepupunya
yang satu itu sangat payah dalam mengingat jalan, hanya saja kecemasannya menyeruak mengingat hati Akira yang baru saja dicabut dengan perpisahannya dari Daniel dan tambahan menonton adegan live dating Daylan dan Maura. Arrrgggh…!!! Hati Tara menjerit kesal. Kenapa rencana liburannya ke Korea malah berubah jadi petaka apalah-apalah ini?!
Tara kembali menyapukan visualnya ke penjuru tempat yang dipijaknya saat ini. Ya, pantai dekat jembatan indah yang entahlah apa namanya. Oh, dia tak perlu memikirkan
itu sekarang! Ia masih tak juga menemui sosok Akira. Kakinya kembali melangkah
menyusuri kawasan pinggiran pantai sembari sesekali menilik di kedai atau tempat di sekitaran pantai. Ia telah bagi tugas dengan Revan, mereka berpencar mencari Akira. Dan karena di arena hotel tak juga ia temukan maka ia pun membawa mobil dan mencarinya ke daerah mereka pergi tadi siang dan sekitarnya hingga berakhir di sini, pantai. Ah, ngomong-ngomong soal pantai ia teringat akan seseorang. Ah, ayolah Tara…! Dia baru saja menyakitimu dengan begitu
semuanya akan baik. Sugestinya pada diri sendiri. Dan tentang rasa padanya itu… aku rasa itu bisa kuhilangkan bertahap, sedikit demi se…
Untaian kata penghibur dirinya itu seketika terputus saat matanya bertemu dua mata yang sedang menjadi objek yang ia perdebatkan dengan dirinya sendiri. Bibir Tara
sedikit terbuka dan bergetar seolah ingin mengetakan sesuatu, namun bahkan tak satupun kalimat mampu terlontar dari bibirnya saat pemilik mata itu dengan sengaja menatap dalam kedua netranya. Ini pasti hanya delusi semata! Ia terlalu memikirkannya. Oh ayolah Tara, dia tidak mungkin ada di sini! Dia ada di Seoul. Sebegitu cintanya kah kau sampai melihat sosoknya begitu nyata memandang mu? Tara segera berbalik. Ia harus segera pergi dan meninggalkan tempat itu bila tak ingin bertambah gila.
“Tara…” suara itu seolah menyentak dan kian memperparah spekulasi dalam hatinya. Tuhan, tolong… tolong jadikan saja ini ilusiku… aku mohon. Suara malaikat itu bisa
meruntuhkan tembok yang mulai ku bangun untuknya berkeping-keping. Tara kembali
melangkah mengacuhkan samar suara itu. “Kau menghindari ku…?” lanjut suara malaikat itu beriring suara langkah yang perlahan mendekat ke arahnya. Ini pasti mimpi. Yakin Tara dalam hati sembari tetap melangkah. “Kau bahkan akan turut meninggalkanku seperti dia…” kata-kata itu berhasil menghentikan langkahnya sejenak. “Kau benar-benar membenciku sekarang?” tanya itu sukses menahan gerakan kakinya. Namun tak lagi terdengar suara derap langkah mendekat. “Hhh… Bodoh… apa yang aku harapkan setelah semua yang ku lakukan padamu… aku tak pantas… aku tahu… aku tak pantas mendapat maaf darimu… tapi…” kalimat putus-putus berat penuh penyesalan itu membuat Tara memutuskan untuk membalikkan tubuhnya. Matanya tercekat mendapati sosok yang begitu ia damba namun juga telah melukainya menutup mata dengan tangan kanannya. Tubuhnya bergetar. Tara tahu benar sosok itu menyembunyikan tangisnya. Jadi, ini nyata? Mata Tara membulat merah. Bukan. Bukan karena ia marah, namun sebuah rasa yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata. “Tapi… maafin aku, Ta…” lanjutnya dengan isak yang makin jelas dan derai air mata yang tampak mengalir meski ditutupinya. Ah, runtuh sudah tembok yang dibangun Tara melihatnya seperti ini, terlebih setelah sosok itu kembali memanggilnya seperti dulu. Kaki Tara melangkah refleks mendekati sosok itu. Tangannya terangkat meraih tubuh kokoh yang saat ini tampak begitu rapuh di depannya. Seulas senyum beiring setetes air mata menghias wajah cantik Tara.
“Hmm. Aku maafin kamu, Niel.” Ucap Tara kemudian. Sang empunya nama refleks mengangkat wajah dan menyingkirkan tangan yang menutupi tangisnya begitu saja. Ia masih tergugu. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk tak melayangkan pukulan dan
memaki diri sendiri melihat senyum, pemaafan, dan panggilan yang hanya sosok
itu yang menyematkannya padanya. Implusnya menarik Tara ke dalam pelukannya
begitu saja tanpa izinnya. Lihatlah, bagaimana mulia dan baiknya hati gadis
dalam dekapannya ini. bagaimana mungkin beberapa tahun belakangan ini ia begitu
__ADS_1
bodoh terus menjauh dan melukainya? “Maaf, Ta… sungguh… kamu sungguh nggak pantas menerima perlakuan jahat aku itu, Ta… maafin aku…” Tara yang terkejut hanya tersenyum mengangguk lalu mengiyakan. Ini cukup baginya. Kembali seperti dulu. Entah apa yang membuatnya bertindak impulsif memaafkan Daniel begitu saja. Tapi, bukankah suatu ketulusan tak memerlukan sebuah alasan?
*****
Maura mengangkat kepala yang ia sembunyikan di atara kedua lipatan kakinya. Visualnya menerawang lalu menyapu ke sekitar. Wajah sembabnya menyunggingkan seluas senyum yang tak akan dipahami orang yang belum pernah terluka sedalam dirinya.
Apa poin pemandangan yang begitu indah di hadapannya ini saat ia sehancur ini. Hhh… lelaki memang aneh. Apa yang sebenarnya ada di kepala Daylan saat lelaki yang sialnya pernah sangat dicintainya itu memutuskan untuk membawa dan mengakhiri hubungannya di tempat seperti ini? Consolation? Last Nice Closure?Oh My… come on… Are you kidding?![1] Setelah semua penghianatan dan apa yang lelaki itu katakan, apakah ia pikir indahnya tempat ini akan ada artinya?! Lihat, kan?! Lelaki itu makhluk yang sumpah ANEH!!! Mau menghibur setelah dia
membantingmu dari langit ke dasar bumi. Nggak salah?! Mau tetap terlihat cool,
baik, peduli, dan pernah sayang sama calon mantan?! Apa dia masih waras?! Apa dia nggak takut aku akan bunuh diri disodori tempat terakhir yang indah macam laut dengan ombak yang terus melambai dan jembatan yang menawarkan keindahan
lain di malam hari seperti ini? Gimana kalau aku tiba-tiba punya pikiran gila untuk mengubur semua kenangan indah itu di tempat indah ini? Atau… jangan-jangan dia niat buat aku sadar dan suruh sukarela bunuh diri dan hilang dari kehidupan sialannya itu?! Arrrggghhh!!! Ternyata Daylan sama aja kayak
lelaki kebanyakan!!! Sama seperti persepsiku tentang lelaki kecuali “DIA” yang aku lukai. Ahhh… aku merindukannya… meski aku tahu, aku tak berhak dan sangat tak pantas untuk itu. Batin Maura kian meradang mengingat hal yang selama ini berusaha sekuat mungkin ditutupinya. Sesak dan sesal yang bersamaan.
Keluarga Maura bukanlah keluarga yang harmonis dulunya. Kelakuan lelaki yang ia panggil ayah itu pada ibunya masih terus terekam hingga sekarang. Hal yang mungkin
semua orang dewasa tahu akan kebiasaan apa yang biasa dilakukan seorang lelaki yang kebanyakan uang. Namun, bagi dirinya yang masih begitu belia saat itu, perbuatan menjijikan itu jelas sesuatu yang tak pantas yang secara implus membuatnya membenci tak hanya ayahnya, tapi juga sekolompok kaum ber-title sama dengannya “LELAKI”. Dadanya selalu sesak saat mendapati bundanya yang menangis sembunyi-sembunyi berusaha menyembunyikan hancurnya batin dan raganya dari mata
Maura. Bundanya tak pernah mengatakan kelakuan ayahnya pada siapapun. Tetap
berusaha tegar seperti tak terjadi apapun terutama di depan keluarga ayah dan bunda. Hingga suatu hari bunda ia temukan tergeletak di kamar mandi. Membuatnya
sontak menjerit dan tak tahan lagi. Setelah bundanya dibawa ke rumah sakit, Maura yang baru berumur 11 tahun itu akhirnya buka suara pada keluarga bundanya. Dan setelah proses panjang yang cukup alot akhirnya bunda resmi bercerai dari ayah. Ayah awalnya tak mau menerima keputusan keluarga bunda, tetap ingin mempertahankan rumah tangganya, atau harus Maura katakana tetap menginginkan bunda di sisinya dengan kelakuannya itu. Hhh… benar-benar egois. Bagaimana bisa ‘kau tetap menginginkannya saat kau tahu pasti bahwa kau hanya akan
menyakitinya?’ itu hal selalu ingin ia katakan pada lelaki itu namun ia tahan karena permintaan ibunya untuk tetap bersikap baik pada ayahnya. Baik menurut versinya yang jelas berbeda dengan versi bundanya. Dari sanalah semua berasal, ia sangat benci semua makhluk bernama lelaki, kecuali sosok itu. Tetangga rumahnya yang juga menjadi sahabat baiknya itu. Satu-satunya orang yang tahu jelas seperti apa keluarganya karena Maura menceritakan semuanya padanya.
Dua tahun berlalu dari perceraian bunda dan ayahnya. Keluarga bunda memaksa bunda untuk menikah lagi karena usia bunda yang masih muda. Namun, tentu saja trauma itu belum hilang dari bunda, mungkin juga… sebagian rasa dan hatinya yang meski ia benci untuk mengakuinya masih ada pada ayahnya.
________________
[1] Penghiburan? Penyelesaian/Penutupan Akhir yang Indah? Oh alangkah… ayolah… Apa
kau bercanda?!
**Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa**
__ADS_1