
"Eh, Dayana! Ngapain di situ, ayo masuk!" seru seseorang yang ada di ambang pintu membuat tatapan kedua orang itu langsung teralihkan.
"Nah, Mbak malu Ma. Masa katanya dia jelek pake baju begini," ucap Irga dan langsung di tatap sinis oleh Dayana sedangkan yang ditatap malah acuh.
"Eh, kamu itu udah cantik banget, lho. Ngapain harus malu segala?" tanya Arum--mama Irga melangkah ke samping Dayana.
"Yuk!" ajaknya sambil merangkul Dayana membuat Dayana mau tak mau ikut melangkahkan kaki masuk ke dalam.
"Tante, Dayana malu," bisik Dayana yang memang sebenarnya malu untuk masuk ke dalam.
"Ngapain malu? Kamu cantik, lho."
"Cantik banget malahan," timpal Irga yang langsung di tatap tajam Dayana, dirinya yang melihat tatapan tajam dari Dayana langsung menampilkan gigi rapi miliknya.
Begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, Dayana makin dibuat ingin pulang karena semua yang hadir hampir rata-rata menggunakan gaun.
Namun, mau tak mau dirinya harus mau karena sudah sampai di dalam dan sebagian keluarga Irga sudah melihat ke arah dia.
"Woy, Ga! ABG mana lu bawa?" tanya temen laki-laki Irga yang mendekat ke arah mereka.
"Dari kayangan, dong!"
"Mama pergi ke sana dulu, ya," pamit Arum mengusap bahu Dayana terlebih dahulu dan meninggalkan dirinya dengan Irga juga sepupu Irga.
Tangan kanan sepupu Irga terulur ke arah Dayana, wanita yang sama sekali belum membuka suara bingung dengan apa maksud laki-laki yang mungkin tua setahun dari Irga.
"Kenalin, Kak. Nama saya Reza," katanya sambil menunggu sambutan tangan dari Dayana.
"Dayana," ucap Irga menyambut tangan Reza dan berdiri di depan Dayana agar menghalangi sepupunya itu untuk menggoda Dayana.
"Dih, paan sih lu!" kesal Reza dan membuang tangan Irga dengan kasar.
"Bisa ae lu buaya darat! Mana cewek lu?" tanya Irga menatap sepupunya.
"Bingung gue mau ngajak yang mana, alhasil satu pun gadak yang gue ajak!" ucapnya dengan sombong dan sudah merasa paling cakep.
__ADS_1
Dayana yang melihat ucapan laki-laki itu menaikkan bibirnya sebelah seperti tengah kejijikan mendengar kalimat yang keluar dari mulut Reza.
Irga langsung menatap Dayana yang ada di belakangnya, "Yuk, Mbak! Sepertinya sepupu saya lupa dikasih obat sama Mamanya, kita kasih tau ke Mamanya dulu, yuk!" ajak Irga dan langsung diangguki oleh Dayana.
Mereka berjalan meninggalkan Reza begitu saja dan menuju ke daerah makanan yang sudah tersaji dengan rapi dan banyak.
Irga mengambilkan nasi untuk Dayana, "Segini cukup?" tanya Irga menatap Dayana yang ada di sebelahnya.
"Buat siapa?"
"Buat Mbaklah."
"Iya, cukup. Lu emang gak mau?"
"Eh, Mbak nawarin buat kita sepiring berdua nih maksudnya?" tanya Irga dengan tersenyum dan menghadap ke Irga. Sedangkan di belakang Irga sudah ada salah satu kerabat yang menunggu.
"Cepetan! Udah ada yang nunggu di belakang, noh!" geram Dayana dengan suara yang dikecilkan. Ia melihat ke arah belakang dan tersenyum melihat kerabat Irga itu.
Memilih duduk di tempat yang lebih jauh dari kerabat Irga, agar memudahkan Dayana untuk makan, "Kok jauh dari kerabat lu?" tanya Dayana yang kebingungan kenapa Irga mengajak ke tempat yang lumayan jauh.
Dayana mulai menyuapi makanan yang diambilkan Irga tapi dipilih olehnya langsung, Irga memilih bermain game sambil menunggu Dayana makan.
"Lu udah makan?" tanya Dayana sambil melihat ke game Irga.
"Udah, Mbak!" jawab Irga tanpa mengalihkan pandangannya dari layar gadget.
"Biasakan kalo ngobrol sama orang itu handphone-nya diletakkan dulu, jangan jadi orang yang sok sibuk dan gak tau adab Ga," peringat Dayana kepada Irga.
Irga yang mendengar kalimat itu langsung menatap Irga dan mematikan handphone miliknya, "Iya, Mbak," jawab Irga tersenyum ke arah Dayana.
"Dih, ngapa lu? Ngapain malah senyum gitu?"
"Kenapa Mbak? Senyum itu adalah ibadah, jadi gak papa dong kalo gue beri ibadah gue ke lu," kata Irga memainkan gombalannya.
"Gak usah ke gue, gak minat gue!" ketus Dayana dan mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Irga hanya terkekeh dan kembali memiringkan handphone-nya untuk bermain, "Woy, Bro!" seru sepupu Irga yang tiba-tiba datang ke arah mereka.
Sontak kedatangan sepupunya itu langsung di tatap oleh pemilik nama dengan wajah malas sedangkan Dayana hanya menatap sambil tersenyum.
Tak enak juga menampilkan wajah marah atau kesal terutama di banyak orang seperti sekarang ini.
Sepupu Irga yang baru datang langsung menatap ke arah Dayana dan menyenggol tangan Irga, beruntungnya Dayana baru saja selesai makan.
"Lu bawa siapa? Tumben banget, woy lu bawa cewek!" teriaknya yang seolah tidak percaya.
Oh, apakah dia biang ribut? Atau memang suaranya yang begitu keras? Entahlah, rasanya Dayana ingin cepat pergi dari sini terlebih perutnya telah terisi.
Bukannya menjawab pertanyaan sepupunya, Irga malah menatap wanita yang berada di samping sepupunya itu. Wanita yang tengah menundukkan wajahnya.
Setelah melihat orang yang berada di samping, Irga langsung gelisah. Memasukkan handphone dan berdiri, "Yuk, Mbak! Kita pindah aja, takut ganggu mereka!" seru Irga dan menatap Dayana.
Dayana yang sempat melihat perubahan wajah Irga pun merasa bingung, ingin bertanya tapi sepertinya bukan waktu yang tepat dan tempat yang pas.
Mengikuti laki-laki itu, ya, hanya itu yang bisa dilakukan Dayana sekarang, "Lu kenapa?" tanya Dayana yang merasa mereka sudah jauh dari sepupunya tadi.
"Gak papa Mbak," elak Irga.
Dayana yang mendengar ucapan itu langsung menulak Irga menggunakan lengannya, "Heleh, kek gue gak tau aja!"
Irga menatap Dayana yang berucap, "Ceweknya itu orang yang gue suka dulu Mbak. Pertama masuk sekolah dulu gue udah ngejer dia dan di akhir semester kelas 10 gue nyatain perasaan. Eh, malah di tolak di bilang mau fokus sekolah dan gak mau cinta-cintaan," ungkap Irga alasan dia mengapa langsung memilih pergi dari tempat lain.
"Eh, ternyata malah dia udah pacaran sekarang sama sepupu gue," sambung Irga dan duduk di sofa yang ada milik mereka.
"Oh, jadi lu ngerasa dibohongi, ya?"
"Ya, begitulah Mbak. Kalo dia emang gak suka, ya, bilang aja. Gak usah sok belagak mau fokus belajar dan sekolah segala."
"Lagian, ya, kalian tuh masih anak sekolahan. Mending fokus aja dulu sekolah, ini masa anak-anaknya pada bawa pacar atau gebetan orang tua kalian pada gak marah, sih?"
"Hmm ... iya, sih, Mbak. Tapi, terkadang orang tua itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga bertanya hari ini anaknya kenapa dan apakah bahagia aja gak bisa. Nah, ketika anak udah punya pacar atau someone spesial meski tanpa adanya hubungan dia udah merasa memiliki tempat atau rumah untuk berkeluh kesah, bercanda juga tertawa," jelas Irga yang sebenarnya ada betulnya meskipun sedikit.
__ADS_1
Karena bagaimana pun pacaran itu gak baik san juga bukankah telah dilarang dalam agama Islam? "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk." Surah Al-Isra' ayat 32.