Cuma Angka

Cuma Angka
Bukan Dukun


__ADS_3

Selesai membersihkan tubuh dan memakai pakaian santai, Dayana duduk di meja kerjanya. Jarinya lihai menari di sebuah laptop, mengerjakan tugas yang ada.


'Kok bisa Andi ke sini lagi, sih? Apa dia gak punya malu kali, ya?' batin Dayana sambil sesekali mengetik.


'Ah ... sudah-sudah, gak usah pikirin dia lagi. Masa lalu tetaplah masa lalu,' sambung Dayana dan kembali fokus ke laptop.


Suara dering handphone membuat fokus Dayana teralihkan, "Ngapain si bocil nelpon?" tanya Dayana melihat nomor Irga yang tertera di layar handphone-nya.


"Ha? Ada apa?" tanya Dayana begitu telepon telah tersambung.


"Mbak, Irga baru ingat kalau malam ini ada kumpul keluarga," ujar Irga dari sebrang.


Dayana menaikkan alisnya dan mengerutkan keningnya, "Terus? Masalah sama gue paan, Yanto! Orang keluarga lu yang ngumpul juga!" kesel Dayana dibuat Irga.


"Mbak, masalahnya itu adalah ntar kalo Irga gak bawa cewek maka akan di ejek Mbak."


"Terus? Masalah buat gue paan? Lagian, ya, lu tuh masih bocil! Gak masalah dong kalo gak bawa cewek."


"Enggak Mbak. Masalah banget karena memang malam ini pada bawa pacar semua."


"Dah, ya, Ga. Gue gak punya waktu ngurusin tentang lu, kerjaan gue banyak!"


"Mau, ya, Mbak?" tanya Irga dengan suara yang disengaja sedikit memelas.


"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" tanya Dayana menirukan kalimat yang tengah hits.


Dirinya langsung mematikan sambungan sepihak dan melemparkan handphone ke kasur miliknya di sembarang arah.


"Gaje beut tuh Bocil! Bodo amat juga, lagian aneh-aneh aja masa masih pada sekolah udah harus punya pacar!" gerutu Dayana berjalan kembali ke laptop.


Hari semakin gelap, senja pun sudah akan hilang. Dayan bangkit dan menutup laptop, duduk di depan laptop dan berkutat dengan tugas ternyata sungguh menguras waktu.


Menghidupkan semua lampu bahkan yang di teras rumah juga, Dayana sedikit mengusap perutnya yang sudah dirasa lapar.


Berjalan dengan sesekali bernyanyi ke arah dapur, "Hidup sendirian itu rasanya perfect banget, ya!" seru Dayana yang tersenyum bahagia.


Mencolokkan kabel despenser sambil mengoleskan selai cokelat di atas roti, Dayana ingin makan roti dengan teh susu saja malam ini.


Entah beneran bisa kenyang sampai nanti pagi atau hanya mengganjal sesaat, biarlah. Yang penting saat ini dirinya makan dulu, lagian nanti juga bisa order melalui ojol.


Setelah minum juga empat lembar roti terisi selai, Dayana membawanya ke teras depan. Sepertinya sangat asyik jika menikmati suasana malam.

__ADS_1


Dirinya berhenti terlebih dahulu di ruang tamu, masuk kembali ke kamar untuk memakai kerudungnya terlebih dahulu.


"Buset, udah kek anak apaan aja gue gini. Menikmati malam yang sunyi dan juga diri yang jomlo," kata Dayana meletakkan piring dan gelasnya di meja bangku teras depan.


"Semoga aja deh gak ada tuh si Bocil," sambungnya lagi dan mulai meminum teh susu yang tak terlalu manis itu.


Ketika ingin menurunkan gelas dari bibirnya, "Hai, Mbak!" sapa seseorang yang mengejutkan Dayana.


Sontak air yang masih ada di mulut keluar semua dan mengenai orang yang ada di depan dirinya saat itu.


Dayana dengan cepat mengelap mulutnya menggunakan kerudung dan menaruh gelas ke meja kembali.


Sedangkan yang di sembuh masih menutup mata karena kaget tiba-tiba disembur padahal Dayana bukan dukun.


"Cil! Lu ngapain di sini ya, ampun. Bentar-bentar gue ambil tisue," panik Dayana yang tak enak dengan Irga.


Irga membuka matanya dan mulai mengelap air yang ada di wajahnya, dengan bibir yang dipaksa tersenyum itu.


"Nih-nih," ucap Dayana memberikan tisue kepada Irga.


Irga mengambil beberapa lembar dan mengusapnya ke wajahnya untuk membersihkan dari air milik Dayana.


"Lu ngapain sih di sini? Malah ngagetin pulak!" marah Dayana dan menatap Irga yang lagi fokus membersihkan wajah.


"Enak aja! Mangkanya biasakan kalo bertemu ke rumah orang ucapkan salam biar orang itu gak kaget!"


Irga meletakkan tisue karena sudah merasa air di wajahnya hilang semua, "Panas, gak wajah lu?" tanya Dayana yang sebenarnya khawatir karena memang air itu masih agak panas.


"Enggak kok Mbak."


"Lu ngapain ke sini? Bukannya ada acara keluarga juga!"


"Ya, gue mau jemput lu Mbak! Kan udah gue bilang tadi sore."


"Ga, gue gak mau ih!"


"Loh, Mbak! Lu udah nyiram gue gini, lho. Liat ini baju gue juga udah basah," kata Irga memperlihatkan bajunya yang memang basah.


Dayana langsung melihat ke arah yang dikatakan oleh Irga, memang benar baju Irga juga ikutan basah meski tak banyak.


Dayana menarik nafas pelan dan menampilkan wajah terpaksa, "Lagian, di sana ada cimol Mbak. Ntar, Mbak bisa makan cimol deh. Pun bisa makan 'kan Mbak gak masak, sih."

__ADS_1


"Yaudah!" pasrah Dayana, "tunggu bentar, gue mau beberes dulu." Dayana langsung masuk ke dalam rumah dan Irga tersenyum juga melompat bahagia karena berhasil membujuk Dayana.


"Gak papa deh, meski wajah sedikit panas dan baju basah. Yang penting Mbak mau diajak ke rumah, uhuy!" seru bahagia Irga.


"Lu kenapa?" tanya Dayana yang kebingungan melihat tingkah Irga yang melompat-lompat.


Irga yang merasa terciduk langsung kembali diam dan mematung dengan wajah spontan datar, "Eh, gak papa Mbak."


"Lu gak lagi ngejebak gue 'kan?" tanya Dayana menyelidiki. Karena, memang dirinya sedikit tak percaya dengan Irga.


"Mbak gak boleh suudzon sama orang ganteng."


"Siapa yang bilang lu ganteng? Sini, biar gue bukakan tuh matanya!" ucap Dayana sambil berjalan lebih dulu meninggalkan Irga.


"Dih, Mbak! Ini makanannya gimana?" tanya Irga yang melihat roti Dayana dibiarkan saja di meja teras.


"Gak mood lagi gue setelah liat muka lu Cil!" teriak Dayana yang sudah keluar dari halaman rumahnya.


Irga mengambil sepotong rotinya dan langsung berlari mengejar Dayana yang berjalan dengan santai.


"Mbak gugup gak?" tanya Irga yang sudah ada di samping Irga dengan mengunyah roti tadi. Dayana menatap Irga yang ada di sampingnya lalu membuang wajah kembali.


Irga melirik ke arah Dayana yang menatap wajahnya, "Kenapa Mbak?" tanya Irga yang kebingungan.


"Gosah ngomong sama gue!" ketus Dayana yang masih kesal.


"Roti, lu tau kenapa Mbak marah?" tanya Irga menatap roti yang tersisah saparuh.


"Ha? Apa?" tanya Irga mendekatkan roti ke telinganya.


Dayana menatap tingkah Irga dengan bergeleng, "Setres nih anak!" Mereka berjalan masuk ke halaman rumah Irga.


Benar saja, begitu banyak mobil yang terparkir di halaman Irga. Juga sepeda motor yang ikut terparkir tak kalah banyak.


"Lah, beneran ada acara keluarga?" tanya Dayana menatap Irga sebelum mereka masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka.


"Lah, gue 'kan udah bilang tadi Mbak."


Dayana melihat penampilannya dari atas ke bawah, sebenarnya terbilang sangat wah karena gamis dan kerudung yang ia gunakan bermerek.


Namun, terlihat sangat simple. Dirinya takut jika sepupu dan kerabat Irga yang lain penampilannya sangat wah dibanding dirinya.

__ADS_1


"Gue pulang aja, ya!" kata Dayana yang mulai ragu dan takut malu.


__ADS_2