Cuma Angka

Cuma Angka
Jelas Bahagia


__ADS_3

Dayana diam sebentar dan melihat arloji yang ada di tangannya, "Eh, gue keknya harus pulang deh. Besok juga 'kan harus kerja, lu juga sekolah besok," kata Dayana menatap ke arah Irga.


Irga menarik nafas pelan. Lah, kenapa dengan laki-laki itu? Bukankah memang benar malam sudah semakin larut?


"Lah, lu ngapa?" tanya Dayana menatap dengan heran ke arah Irga.


"Gak papa Mbak. Mbak mau gue anterin?"


"Gak usah, lagian deket juga."


Irga bangkit lebih dulu dan merapikan pakaiannya, "Ayok, biar gue anterin Mbak." Dayana yang melihat sikap laki-laki itu langsung menatap dengan mendongak.


"Dih, gue bisa sendiri woy!" ketus Dayana dan ikut berdiri.


"Kan, gue yang ngajak lu berarti gue juga yang harus nganterin lu Mbak," kata Irga sok paling bertanggungjawab.


Dayana berjalan begitu saja tanpa mempedulikan Irga, "Serah lu serah!" kata Dayana yang sudah mulai jauh.


Irga pun hanya menyusul saja ke mana arah langkah kaki wanita itu melangkah, "Tante, Dayana mau pulang, ya," pamit Dayana kepada Arum.


"Eh, tunggu dulu. Akan ada acara sebentar lagi."


Dayana hanya menatap ke arah Irga, karena sebelumnya laki-laki itu tak memberi tahu jika akan ada acara spesial.


Yang ditatap dan mengerti dengan tatapan hanya menaikkan bahunya saja bahwa dirinya pun tak tahu menau tentang acara itu, "Acara apa Ma?" tanya Irga yang kebingungan.


"Ada, deh, kamu liat aja nanti," ucap Arum tersenyum dan menatap ke arah panggung kecil yang disediakan di rumahnya.


Irga hanya menatap ke arah Dayana begitupun sebaliknya, tak lama setelah mereka saling bertatapan dengan maksud bertanya.


Seseorang hadir dengan mic di tangannya, suara riuh seketika hening dan mata tertuju kepada MC yang ada di depan.


"Halo selamat malam semuanya, malam ini saya Reza mau mengabarkan dan mengumumkan bahwa akan adanya pertunangan yang akan dilaksanakan di sini."


Dayana menatap dengan fokus. Apakah akan ada acara pertunangan? Dirinya bahkan tak membawa kado sama sekali.


"Tapi, yang tunangan bukanlah anak-anak yang masih sekolah. Namun ...," ucap Reza yang menggantung dan menatap orang yang akan tampil di depan bersampingan dengannya.


Begitu orang yang ditunggu berada tepat di samping Reza, mata Dayana langsung terbuka lebar juga Irga yang tak percaya.

__ADS_1


Sesekali dia melihat ke arah depan dan menatap ke arah Dayana yang ada di sampingnya. Wanita itu sudah mendekap mulutnya karena kaget dengan laki-laki yang ada di depannya kini.


"Halo semua selamat malam. Saya tahu mungkin wajah saya asing di mata kalian semua dan sejujurnya saya kaget ternyata pemilik hati saya memiliki keluarga yang sebesar ini," ucap orang itu yang membuat wanita yang ada mungkin langsung baper dengan kalimatnya.


"Malam ini, saya berniat untuk melamar salah satu wanita yang ada di sini," sambungnya lagi dan menatap orang-orang yang ada di hadapannya kini.


Mata Irga tak berniat teralihkan dari wajah Dayana yang sudah netral kembali, "Bukan lu 'kan Mbak yang akan dia lamar?" tanya Irga berbisik.


"Kok malah gue?" tanya Dayana yang juga kebingungan.


"Ya, mana tau gitu lu yang mau dia lamar."


"Enggaklah!"


"Zahra Aulia, boleh naik ke atas?" tanya Andi, ya, laki-laki itulah yang sekarang tengah berada di depan.


Apa maksudnya datang kembali tadi sore? Apakah untuk mempermainkan hati Dayana kembali atau malah mempermainkan hati wanita yang kini tengah ingin dilamarnya.


Wanita yang disebut namanya naik dan ikut bergabung ke atas, dengan menggunakan dress berwarna merah juga hells.


Bak putri kerajaan yang tengah disambut oleh pangerannya, itulah yang sekarang tengah dilihat oleh Dayana juga yang lainnya.


Andi berlutut, mengambil sesuatu dari saku jas hitam yang tengah dipakainya. Kotak cincin berwarna merah terlihat ditangannya kini.


"Nanti, kalau kita nikah. Aku mau cincin yang ini, ya, kamu belikan."


"Siap, pasti akan aku belikan yang itu untuk kamu!"


Seketika, Dayana langsung mengingat percakapan antara dirinya dengan Andi beberapa tahun yang lalu.


Ternyata, memang benar kalimat itu. Andi benar membeli cincin yang di mau Dayana. Namun, bukan ke jarinya cincin tersebut melingkar.


Akan tetapi, di jari wanita lain. Wanita yang mungkin sudah lebih dulu dikenal oleh Andi atau bahkan baru saja dikenalnya.


"Zahra Aulia, maukah kau menikah denganku?" tanya Andi menatap wajah wanita pujaan hatinya itu.


Wanita itu menutup mulutnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dua anggukan diberikannya sebagai jawaban.


Mulut pun sudah tak mampu lagi untuk berkata, suara tepukan tangan riuh memenuhi ruangan kecuali dua orang yang tak menepukkan tangannya.

__ADS_1


Menatap ke arah orang yang melihat terlebih dahulu, Andi memasukkan cincinnya ke tangan Zahra dengan berdiri di depan wanita itu sekarang.


Zahra tampak bahagia, ia menunjukkan jarinya yang sudah diisi dengan permata itu ke arah orang tuanya.


"Yuk, kasih selamat buat mereka!" ajak Arum dengan mata yang masih menyipit akibat tersenyum.


Dayana yang masih melamun dan pikiran yang melayang kembali ke masa lalu seketika kaget dengan ajakan dari Arum.


"Eh, iya Tante. Tante duluan aja," kata Dayana tersenyum menampilkan wajah bingungnya.


"Iya, Ma. Mbak nanti sama Irga aja."


"Yaudah kalau gitu, Mama ke sana dulu, ya," pamit Arum dengan mengusap pundak putranya terlebih dahulu sebelum pergi.


Apakah aku harus memberikannya selamat? Oh, ayolah! Padahal tadi sore aku baru saja bertemu dengannya.


"Mbak, mereka pacaran udah lama? Lalu, ngapain tuh cowok datang tadi sore?"


"Entahlah, gue aja bingung ini kenapa sebenarnya. Lu jangan ribut dulu ke orang-orang atau ngasih tau tentang tadi sore, bisa aja dia tadi sore lagi coba mau ghosting gue. Jadi, biarin aja."


"Gimana kalo dia mau nyakiti hati sepupu gue Mbak?"


"Lu tau dari mana?"


"Mbak yang tulus aja disia-siakan."


"Gue tonjok lu Ga!" ketus Dayana yang sebal melihat laki-laki yang selalu mengejek dirinya itu.


"Haha, mangkanya itu Mbak. Sama gue aja, udah jelas!"


"Jelas apa?" tanya Dayana menautkan alisnya menatap tak senang ke arah Irga.


"Jelas bahagia dunia dan akhirat dong," ucap Irga percaya diri.


"Jelas gila yang ada!" Dayana berucap sambil berjalan melangkah menuju orang yang sedang berbahagia.


Mau tak mau tetap harus mau untuk sekadar mengucap selamat meskipun sebenarnya sangat malas, Irga ikut berjalan di samping Dayana dengan tersenyum dan berlagak seolah menjadi laki-laki dewasa.


Saat dirinya mau mendekat ke arah orang yang sedang berbahagia, Dayana melihat jelas wajah kaget dari Andi.

__ADS_1


Apakah laki-laki ini benaran kaget? Atau hanya acting semata? Sepertinya dirinya benar-benar tak tahu bahwa Dayana ada di tempat ini.


"Hey, selamat Bro!" seru Irga dan langsung memeluk Andi, "sempat lo buat dia hanya mainan semata, siap-siap lu habis di tangan gue." Kalimat yang Irga keluarkan tepat di telinga Andi.


__ADS_2