
Zahra yang merasa punggungnya di usap langsung menatap ke arah belakang melihat siapa yang ada.
"Eh, Sayang. Kamu udah lama di sini?" tanya Zahra berdiri dan memeluk Andi.
"Baru kok, Sayang."
"Yaudah, duduk sini yuk!"
Mereka akhirnya duduk kembali, tak lama setelah itu pesanan yang dipesan Irga datang. Hanya milik dirinya dan Dayana saja.
"Nih, Sayang. Kamu makan yang banyak, ya, makan nasi bukan makan omongan yang gak pasti," ujar Irga sambil memberikan piring berisi makanan.
"Ya, gimana Sayang. Orang aku khilaf, biasalah godaan setan itu 'kan emang dahsyat," jawab Dayana yang mengambil uluran dari Irga.
"Haha, yaudah yuk kita makan."
Mereka makan berdua tanpa memperdulikan bahwa di meja itu juga ada Zahra dan Andi, Irga menatap ke arah mereka sebentar.
"Eh, Mbak gak makan? Kenyang makan angin doang Mbak?" tanya Irga sedangkan Dayana hanya melihat wajah Irga saja.
"Eh, Dayana?" tanya seseorang yang membuat 4 orang mengalihkan pandangannya ke arah suara itu.
"Kamu ngapain Arya?" tanya Dayana menatap laki-laki itu.
"Oh, gak ada. Cuma nongkrong aja tuh di depan sama anak-anak," katanya sambil menunjuk meja luar yang sudah di isi beberapa laki-laki.
Dayana mengangguk ketika telah melihat ke arah meja tersebut, "Kalau kamu? Couple date?"
"Haha, enggak kok. Emang lagi mau main juga."
"Ohh, yaudah aku mau ke tempat pesan makanan dulu, ya," pamit Arya dan mendapatkan anggukan.
"Iya, Arya."
Baru selangkah dia menjauh, Arya kembali memutar tubuhnya dan menatap ke arah meja Dayana, "Btw, kamu cantik Dayana," pujinya mengedipkan sebelah matanya dan melenggang pergi.
Dayana yang lagi mengunyah makanan tersedak akibat ulah Arya yang berkata tiba-tiba seperti itu, dua gelas air putih pun ada di hadapannya.
Tangan Andi dan juga Irga terulur memberikan gelas berisi air putih, Dayana langsung menatap ke arah Andi juga Zahra menatap tajam laki-laki di sampingnya kini.
__ADS_1
Tak mau mengambil dan ikut dalam masalah, Dayana mengambil gelas pemberian dari Irga, "Makasih," ujar Dayana dan meminumnya.
Setelah selesai makan, Irga dan Dayana memilih untuk selfi ria. Berbagai gaya dan juga model mereka pakai.
Zahra dan Andi tengah makan, sebenarnya mereka ke sini karena akan ada live musik sepepu mereka.
Memang terlalu cepat, sedangkan mulainya jam 8 malam. Mau tak mau mereka harus menunggu sampai waktu yang telah di tentukan.
"Oh, iya, Dayana," kata Zahra yang membuat Dayana tengah tersenyum ke arah kamera langsung menatap ke Zahra.
"Iya, ada apa?" tanya Dayana menjauh dari kamera handphone milik Irga.
"Nanti, pas nikahan aku dan Andi. Kamu jadi bridesmaid aku, ya."
"Oh, siip! Jadi apa aja bisa kok, kamu tenang aja."
"Bagus deh kalau gitu."
"Nanti, Irga yang jadi pasangan aku, ya."
"Enggak, Irga ada keperluan yang lain nanti," ucap Zahra yang sepertinya ingin memojokkan Dayana.
Irga tersenyum dengan membekap mulutnya, ia tak mau jika Andi apalagi Zahra tahu jika ia tertawa mendengar sindiran pedas dari Dayana.
"Ehem ... aku kayaknya perlu ke toilet dulu, deh," pamit Andi yang dari tadi hanya diam.
"Iya, Sayang. Jangan lama-lama, ya," kata Zahra dan dibalas hanya anggukan.
"Saya juga ke toilet bentar," imbuh Irga dan dibalas anggukan.
Dayana diam dan memainkan handphone-nya, dirinya tahu bahwa orang di depannya mungkin sudah sangat ingin memakan dirinya hidup-hidup.
"Heh, Dayana! Lo kok berani banget sama, gue?" tanya Zahra dengan nada tinggi.
Dayana meletakkan handphone dan bersedekap dada menatap Zahra, "Ck, ngapain gue harus takut sama lu?" tanya Dayana menaikkan alisnya sebelah.
"Lo gak pernah diajarin sopan santun, ya?"
"Lo gak pernah diajarin beradab, ya?"
__ADS_1
Tangan Zahra terkepal dengan wajahnya yang berubah, sedangkan Dayana mencoba sesantai mungkin dengan senyum yang tak luntur.
"Pantasan aja diselingkuhin sama Andi, orang kelakuannya kek se tan," caci Zahra dan tersenyum remeh.
"Eh, kamu salah. Laki-laki sia lan itu yang emang gak pantas buat saya, masa bidadari nikah sama iblis. Ya, gak cocoklah! Lagian, ya, apa sih hebatnya dia itu? Jadi, gak ada rugi-ruginya juga gue ngelepasin laki-laki tukang minta-minta!" ejek Dayana tertawa.
"Dan buat lo!" sambung Dayana mendekat ke arah Zahra, "Gue peringatin buat lo, jangan pernah usik hidup gue apalagi berani mendatangi gue ke kantor hanya untuk membicarakan laki-laki sam pah itu!" hina Dayana kehilangan kesabaran.
Dia tersenyum miring dan menjauhkan kembali wajahnya dari Zahra yang sepertinya sudah menahan kesalnya.
"Kalo lo gak ada rasa lagi sama dia, kenapa lo selalu ada saat dia ada?"
"Ya, karena sepupu lo itu. Seharusnya, lo larang sepupu lo buat jalan sama gue. Tapi, ya, gimana coba? Emang pesona gue bisa buat yang muda tertarik, apalagi yang tua dan seumuran," puji Dayana pada dirinya sendiri sembari mengkibas-kibaskan tangannya di depan wajahnya.
Zahra pergi begitu saja dengan bangkit yang begitu kasar, Dayana hanya mengulum senyum melihat wanita yang tengah dilanda cinta itu marah tak menentu.
Dirinya kembali membuka handphone untuk berselancar di media sosial, "Zahra mana?" tanya suara bariton yang tak Dayana gubris.
"Wah ... sekarang kamu makin cantik aja, ya."
"Iyalah, bahkan jauh lebih bahagia daripada saat bersama kamu. Ternyata, gak selamanya dipersatukan itu akan buat bahagia, ya? Bahkan, saat dipisahkan bisa membuat kita jauh lebih bahagia."
"Jadi, ngerasa bego nih gue," kata Dayana memegang sebelah kepalanya, "ngapain dulu demen sama manusia kek lu, ya? Ganteng kagak, royal kagak, pinter kagak. Cuma modal omong kosong doang," sindir Dayana menatap tajam ke arah Andi.
"Cukup, ya, Dayana!" bentak Andi memukul meja.
Dayana menutup mulutnya seolah tengah kaget, "Kenapa? Ada apa sih Mas? Ngerasa ke sindir, ya? Atau ... aku terlalu buka-bukaan tentang sifat kamu yang suka ngekang tapi gak mau di kekang. Suka caper, suka sok ngerasa ganteng? Gimana? Capernya sekarang lumayan, dong? Dapat cewek tajir tujuh turunan gak habis-habis," hina Dayana kembali seolah tak puas.
Sedangkan tak jauh dari mereka ada seseorang yang tersenyum, sebelumnya dia mengepalkan tangan saat melihat Andi memukul meja.
Akan tetapi, dirinya bisa tersenyum saat melihat Dayana melawan setiap perkataan juga mengucapkan kata-kata yang mungkin sudah lama ia pendam.
Melihat Andi yang hanya diam menatap dengan tajam ke arah Dayana, ia hanya menyinggungkan bibirnya.
"Aku mau nyari muka kamu dulu, deh. Kesian, masa cowok gak punya muka sampe harus minta ke cewek. Aku ... tak pernah rugi pernah ngasih effort ke kamu, cuma sayang aja kenapa aku ngasihnya ke manusia yang separuh binatang," geram Dayana menjauhkan wajahnya dari Andi dan ingin berdiri.
Saat dirinya ingin melangkah, tangan Dayana langsung ditahan oleh laki-laki itu, "Lepasin!" bentak Dayana menghempaskan tangan laki-laki itu karena ngerasa sakit.
Tangan Andi melayang di udara sudah bersiap-siap menampar wajah mulus milik Dayana.
__ADS_1
Bugh ...!