Cuma Angka

Cuma Angka
Dia Lagi


__ADS_3

Sayup-sayup kudengar seseorang menyebut namaku tanpa henti dan membuat aku terusik dalam tidur.


Mengerjapkan mata dan merenggangkan otot-otot, kulihat ke arah Aldo yang masih memperhatikanku.


"Kita udah sampe?" tanyaku kala menyadari mobil tak lagi berjalan. Dengan cepat kulihat ke arah luar jendela mencari di mana rumah kerabat Aldo.


"Iya, kita udah sampai. Itu rumah nenekku," ujarnya menunjukkan rumah yang ber-cat putih tanpa pagar.


"Yaudah, yuk turun!" ajakku membuka sabuk pengaman. Tunggu, aku melihat diri dari kaca spion mobil lebih dulu.


Setelah merasa tak ada iler dan juga belek mata, bwahaha. Aku segera turun agar Aldo yang sudah turun tak menunggu lama.


"Kau deg-degan?" tanya Aldo di sela-sela perjalanan menuju ke dalam rumah neneknya.


"Enggak, biasa aja. Kita shalat dulu nanti, ya, sebelum ikut kumpul sama mereka," kataku yang melirik arloji sudah hampir jam 1


Mungkin karena waktunya jam pulang anak sekolah, jadi jalanan tadi macet hingga harusnya kami sampai jam 12 siang jadi jam tengah 1.


Pintu tak ditutup, mungkin tahu akan ada acara sengaja dibuka dengan lebar menampilkan langsung sofa berwarna cream di ruang tamu.


"Assalamualaikum," salam Aldo dan aku secara bersamaan.


Kuedarkan pandangan, belum ada orang yang datang. Berarti, kami lebih duluan. Lumayan, setidaknya ada waktu untuk menumpang salat.


"Waalaikumsalam," jawab seseorang yang keluar dari satu ruangan yang aku tak tahu itu ruangan apa.


Aldo mengambil tangan yang sudah keriput dan mencium punggung tangannya dengan takzim, aku pun tak mau ketinggalan. Kulakukan hal yang sama kepada orang yang sudah kuketahui sepertinya pasti nenek Aldo.


"Kamu sama siapa ini?" tanya nenek Aldo mendongakkan kepalanya dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Temen, Nek," kata Aldo tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah neneknya.


Aku yang sekarang tengah di tatap hanya menampilkan wajah dengan senyuman yang dibuat seramah mungkin.


"Temen, kenapa gak dari dulu aja bawa temen ke acara keluarga? Kenapa baru ini dan baru sekarang?" tanya nenek yang sepertinya tak percaya kata cucunya itu.


Aldo membuang napas kasar, "Giliran gak bawa, nenek nanya-nanya. Giliran bawa, malah semakin nanya-nanya," keluh Aldo mengusap wajahnya.


"Oh, ya, Nek. Numpang shalat, nih, dia," sambung Aldo sebelum semakin jauh pembicaraan.


"Yaudah, kamu antar aja dia ke ruangan musala di sana," perintah nenek menujuk ke ruangan.

__ADS_1


"Kalau gitu, Aldo dan dia pamit dulu, ya," kata Aldo ingin beranjak.


Tangan Aldo dicekal oleh neneknya membuat Aldo dan aku kembali berhenti, "Kamu belum kenalin namanya," jawab nenek dengan wajah datar.


Oh, iya, Aldo cuma menjelaskan posisiku di sini. Bukan nama atau bahkan profesiku meskipun pasti tak akan penting.


Sebelum Aldo mengenalkan namaku, aku lebih dulu memperkenalkan diri, "Nama saya Dayana, Nek. Nenek bisa panggil saya Yana," jawabku dengan tersenyum.


Nenek Aldo membalas senyuman dan mengangguk, "Baik Yana, yaudah sana shalat kamu. Bentar lagi sepupu dan tante-tante Aldo mau sampai."


"Baik, Nek. Permisi!" pamitku dan Aldo berjalan ke arah yang Aldo pandu.


"Nanti, pas lu shalat. Gue mau shalat juga di ruangan lain, ya," jelas Aldo dan hanya kubalas anggukan.


"Kalau udah selesai, tunggu aja di ruangan ini. Nanti, aku jemput," sambungnya lagi.


"Kenapa gak langsung kumpul sama sepupu kamu?" tanyaku menatap ke arahnya.


"Gak usah, ntar mereka nanya yang aneh-aneh."


"Yaudah," pasrahku. Karena bagaimana pun datang ke sini juga ajakan dari Aldo. Mau tak mau harus mengikuti perintah darinya.


Setelah masuk, Aldo pergi entah ke mana. Aku tak melihat atau bertanya dia ke ruangan mana. Segera kulaksanakan 4 rakaatku.


20 menit telah berlalu, aku sudah selesai dengan kerudung yang juga telah terpasang kembali dengan rapi.


Sambil menunggu Aldo, kubuka handphone dan menghidupkan kuota. Perutku mulai demo karena memang aku hanya makan cokelat saja.


"Maaf, lama," ucap seseorang yang membuatku mendongak.


"Gak papa, kok." Aku segera bangkit dan berjalan kembali ke arah ruang tamu. Tanpa sadar, aku mendengar suara yang tak asing di telinga.


'Dia ngapain di sini? Kan, saudaranya gak ada dari kalangan Aldo. Eh, atau emang ada?' batinku menaikkan satu alis dengan handphone kugenggam.


Deg ...!


Benar, aku melihat Andi tengah merangkul cewek lain. Mereka tampak bercengkrama dengan tante juga sepupu Aldo yang lainnya.


Aku terhenti membuat Aldo keheranan, "Kenapa?" tanya Aldo yang melihat aku mematung.


Tak ada jawaban, Aldo melihat ke arah yang Dayana lihat, "Kamu kenal sama dia?"

__ADS_1


"Dia siapa?" tanyaku menatap ke arah Aldo.


"Pacarnya sepupu aku."


"Ini pertama kali dia ke sini?"


"Enggak, udah dua kali kalo gak salah."


Aku terdiam, dua kali? Berarti benar dugaanku, bahwa dia memang tak akan pernah berubah menjadi malaikat. Setan tetaplah akan menjadi setan.


Segera kubuka kamera di handphone, selagi belum ada yang menyadari kehadiran kami dari ruangan salat.


"Ngapain kamu foto?" tanya Aldo menatap handphone-ku yang sudah ada gambar Aldo juga beberapa kerabatnya.


"Nanti aku jelaskan," bisikku ke telinga dia.


"Ehem!" dehem seseorang yang cukup keras membuat aku dan Aldo menatap ke arah suara itu.


"Ciee ... Aldo bawa pacar!" teriak kerabat Aldo yang membuat aku refleks menjauh seketika darinya.


"Uhuk! Pantasan paling cepat datang ke sini padahal biasanya lama banget!" celetuk yang lain.


"Kapan nih makan ayam?" sindir yang lainnya lagi.


"Nenek, sepertinya cucumu akan segera ada yang sold out lagi nih!"


Masih banyak lagi celetukan orang-orang yang salah sangka dengan apa yang aku lakukan tadi. Kulihat wajah Aldo sekilas, wajah laki-laki itu tetao datar.


Sedangkan aku? Aku memilih menundukkan wajah sebentar dan mencoba untuk tersenyum lima jari ke arah mereka.


Kutatap tajam ke arah Andi yang wajahnya seketika berubah, dia tampak mulai resah saat tahu aku ada di sini.


"Sini kalian! Sampai kapan mau berdiri kek patung di situ? Patung nenek udah banyak itu!" seru Nenek yang membuat Aldo dan juga aku akhirnya ikut duduk bersama dengan mereka.


Sekitar 15 orang atau lebih duduk bersama di sini, gugup dan marah juga ingin memaki seseorang hadir dalam diriku.


"Kenalin dong Kak Aldy, siapa yang Kakak bawa itu?" tanya wanita yang tadi dirangkul Andi. Setelah Andi melihat aku, dia pun menurunkan rangkulannya itu.


Kakak? Berarti wanita itu adalah adik sepupu Aldo. Apakah Aldo tak dekat dengan dia sehingga Aldo tak mencari tahu tentang laki-laki yang ada di samping adiknya tersebut kini?


"Namanya Dayana, dia teman Kakakmu," celetuk Nenek dan menatap ke arahku. Aku menatap ke arah adik sepupu Aldo dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2