
"Ehem!" dehemku melihat seseorang yang tengah asyik dengan sebatang rokok dihisapnya sambil menatap bunga-bunga yang ada di depannya.
Dia menoleh, lalu memalingkan wajahnya kembali dariku. Aku berjalan secara perlahan mendekat ke arahnya.
"Bisa dimatiin itunya? Saya sesak napas soalnya dengan asapnya," ucapku jujur masih berdiri di sampingnya.
"Ck, aku gak suruh Ibu datang ke sini. Lagian, kalau mau duduk 'kan ada bangku kosong yang lain," jawabnya ketus.
Gak masalah, aku paham. Gak mudah menjadi anak yang menjadi korban broken home, tanpa ada arahan dari siapapun.
"Kalau saya duduk di bangku yang lain, malah serem jadinya. Kek orang gila," kataku lembut dan dengan tersenyum.
Tak ada jawaban, dia masih tak melihat ke arahku dan mengisap rokok itu yang sepertinya baru dia hidupkan.
"Arhan?" tanyaku dan menatap wajahnya dengan sedikit membungkuk.
"Ck, dasar menyebalkan saja!" ketusnya dan membuang rokok ke rumput dan menginjaknya.
Kubuang napas pelan dan mulai duduk di sampingnya dengan tas ransel yang masih kukenakan juga buku mata pelajaran.
"Saya ada salah sama kamu? Apa ... perkataan saya ada yang melukai hati kamu?" tanyaku dengan nada sebisa mungkin dibuat lembut.
"Ibu merasa?" tanyanya balik dan menatap ke aku.
Kugelengkan dengan cepat, "Mangkanya saya bertanya."
"Semua orang sama saja ternyata di dunia ini, jika manusianya sekali melakukan kesalahan maka akan terus disalahkan jika terjadi hal yang sama di hari berikutnya," jelas Arhan mengalihkan pandangan.
Aku mengangguk setelah mencerna dengan baik apa maksudnya, "Oh, jadi tadi bukan kamu yang buat ular-ularan itu? Maafkan saya kalau begitu, saya tidak tau dan tadi juga saya udah panggil kamu untuk minta penjelasan. Kamunya malah tidur, saya tidak bisa bertanya jadinya."
"Guru gak akan pernah mau mengakui kesalahannya, ya, Buk," kata Arhan tersenyum remeh.
"Maksud kamu?" tanyaku menautkan alis.
"Ya, seperti ucapan Ibu tadi."
"Saya bukan tidak mengakui kesalahan, jika saya tidak mengakui bersalah kenapa saya mau datang ke sini? Harus bela-belain minta maaf ke sini? Mending seperti guru yang lainnya saja, tapi, saya tau kalau saya salah mangkanya saya minta maaf dan tadi itu hanya penjelasan. Seseorang gak akan buat salah jika lawannya tidak ada," terangku dengan panjang yang aku sendiri pun sebenarnya tak tahu dia paham atau tidak.
"Yaudah, Ibu mau ngapain lagi tetap di sini?" tanya Arhan ketus dengan wajah datar.
Aku tersenyum dan memajukan bibir, "Kamu belum minta maaf sama saya. Harus adil, dong."
"Apakah perlu?"
"Tentu saja, karena kamu berbuat salah sama saya juga karena saya guru kamu. Kalau kamu gak minta maaf sama saya, maka saya gak akan pernah maafkan. Jika saya gak maafkan kamu, tiba-tiba kamu meninggal arwah kamu jadi gak tenang."
__ADS_1
"Hm ... baiklah, maafkan saya!"
Kuketuk-ketuk jari telunjuk di dagu, "Boleh, tapi ada syaratnya."
"Ha, syaratnya apaan?" tanya Arhan dengan nada kaget.
Aku tertawa melihat wajah kaget itu, "Biasa aja Arhan, syaratnya gak akan sulit. Saya gak akan buat kamu berlari lapangan atau berjemur di bawah bendera. Saya mau ... kamu bersikap lebih sopan santun dengan guru, giat belajar dan setiap jam istirahat pertama kamu datang ke ruangan guru di meja saya. Saya liat, nilai kamu di mata pelajaran saya sangat jelek. Saya gak tau seberapa bencinya kamu dengan guru ini dulu."
"Saya gak mau!" tolak Arhan mentah-mentah.
"Oh, begitu? Kamu yakin gak mau?" tanyaku menaikkan alis.
"Ya."
"Yaudah kalau begitu, selamat menjadi arwah penasaran kelak ketika kau sudah tidak ada." Aku bangkit dan memeluk buku dengan berjalan ke arah dalam kelas.
"Buk Yana, tunggu!" teriak Arhan ketika aku sudah ingin naik ke lantai keramik sekarang.
"Ada apa?" tanyaku berbalik.
"Yaudah, saya mau!" singkatnya menatap rumput.
"Oke Arhan. Kau akan menjadi murid khusus Bu Yana yang baik hati ini, apa kau bersemangat?"
"Ck, lebay!" sindir Arhan dan berjalan lebih dulu.
Aku hanya melihat punggung yang menggunakan jaket menutupi seragam sekolahnya semakin menjauh.
Kugelengkan kepala dan segera berjalan menuju ruang guru, hari ini tinggal satu kelas lagi yang belum aku masuki. Itu berada di setengah jam sebelum bel pulang.
"Yana, ke ruangan kepala sekolah sekarang," perintah Wahyu menatap Dayana yang sedang menatap handphone.
"Siap, Pak!" Aku segera mematikan handphone dan memasukkannya ke saku gamis milikku.
Tok ...!
Tok ...!
"Masuk!" titah orang yang ada di dalam setelah mendengar ketukan yang aku berikan. Dengan keberanian, kubuka pintu itu dengan lebar.
"Silahkan duduk dan tutup kembali pintunya," perintahnya dan langsung kuangguki.
Aku duduk di bangku yang berjarak dekat dengannya, hanya terhalang meja saja, "Ada apa, ya, Pak manggil saya ke sini?" tanyaku yang penasaran.
"Apa yang guru Yana katakan pada Arhan tadi di taman belakang?" tanya kepala sekolah langsung pada intinya.
__ADS_1
Aku terkejut mendengar pertanyaan itu, apakah sekolah ini full CCTV atau ... oh, ternyata jendela di ruang kepala sekolah langsung ke arah taman.
Pantasan saja kepala sekolah tau, "Tidak ada hal yang penting pak, saya hanya berbicara dan memberi saran selayaknya guru dan anak murid."
"Apakah dia mau berbicara dengan guru Yana?"
Aku mengangguk, "Kenapa Pak?" tanyaku kebingungan dengan wajah kaget yang ditampilkan kepala sekolah.
"Bagaimana bisa? Kenapa guru Yana bisa berbicara padanya?"
"Ya, bisa dong Pak. Dia 'kan masih manusia, ya, wajar saja kalau kamu bisa bicara."
"Ck, katanya mau belajar," potong seseorang yang membuka pintu dan berada di ambang sana.
"Arhan?" tanyaku menatap ke arah orang itu.
"T-tuan Arhan?" gumam kepala sekolah yang tak bisa di dengar oleh Dayana.
"Pak, apa tidak ada lagi yang mau dibicaraka? Saya mau kembali ke ruangan," jelasku menatap ke arah kepala sekolah yang masih fokus menatap ke arah Arhan.
"Sudah guru Yana."
"Baiklah kalau begitu, saya permisi Pak." Aku bangkit dan berjalan ke arah luar, Arhan menutup pintu kembali.
"Apa sudah bel istirahat?" tanyaku basa-basi padahal lorong sudah dipenuhi murid.
"Sudah. Mangkanya guru Yana jangan terlalu fokus dengan tuh orang, jadinya gak dengar apa-apa."
"Ya, namanya sedang berbicara. Jadi, harus fokus dong."
Kami sudah berada di depan pintu masuk ruang guru, Arhan memberhentikan langka, "Ada apa?" tanyaku keheranan.
"Saya belum sarapan."
"Terus?"
"Mau beli roti dulu."
"Oke, makanlah dulu sana."
"Baik."
Sebenarnya Arhan bukanlah anak yang perlu ditakuti atau di cap tidak baik, itu terlihat dari dia yang masih mau mendengar ucapanku.
Apalagi saat dia mematikan rokoknya tadi, jika aku adalah guru yang gegabah mungkin sudah kurebut dari mulutnya begitu saja.
__ADS_1
Akan tetapi, kita juga harus menjaga sikap kita sebagai seorang guru? Karena kenapa? Karena ... guru itu akan diturut oleh anak muridnya.