
*Memang benar, jodoh di tangan Allah. Namun, bukan berarti kau tak ada usaha untuk mencarinya. Jika, kau tetap duduk santai dan berharap akan ada jodohmu yang nyasar ke rumahmu. Mungkin, itu hanya dongeng semata*.
Setelah selesai mengantar Dayana ke rumahnya juga mampir sebentar untuk mengobrol kecil dengan kedua orang tuanya.
Aldo, baru saja memasuki halaman milik orang tuanya. Ia keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," salamnya mengedarkan pandangan mencari keberadaan orang tuanya.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dengan sayup-sayup tapi Aldo bisa mengetahui di mana orang itu berada.
Berjalan menuju ruang makan, terlihat pasutri sedang menikmati cake yang entah buat sendiri atau beli.
"Wih ... enak, nih!" kata Aldo mendudukkan bokongnya di bangku tepat di sebelah Pram dengan tangan yang ingin mengambil salah satu potongan cake.
"Jangan di ambil!" larang Silki membuat tangan Aldo berhenti dan menatap ke arah wanita itu.
"Kenapa Ma?" tanya Aldo yang padahal sudah memegang bagian dari cake.
"Soalnya gak enak, enak juga masakan kamu. Mama emang gak jago di dunia cake deh kayaknya," jelas Silki dengan sendu.
"Sayang, masakan kamu enak, kok. Aku tadi, cuma itu aja," imbuh Pram mencoba meraih punggung Silki tapi wanita itu langsung menurunkan tangannya yang tadi terletak di meja.
"Jangan sentuh aku! Sana aja kamu, Mas. Sana makan-makanan di restoran sana karena masakan aku semuanya gak enak 'kan?" debat Silki mata yang berkaca-kaca.
Aldo membuang napas kasar, kedua orang tuanya ini memang sangat sensitif satu dengan yang lain.
Tidak boleh ada adegan salah ucap atau khilaf, pasti akan merembet ke semuanya dan gak akan pernah gampang buat dibujuk.
Pram tanpa sengaja atau berkata yang sejujurnya jika cake buatan Silki masih banyak salahnya, salah satunya cake yang gosong dan bantet.
Aldo tetap mengambil cake juga menuang teh ke gelasnya, ia membuka handphone untuk berselancar di media sosial.
"Eh, kamu kenapa udah pulang Aldo?" tanya Silki yang sudah selesai berdebat ternyata.
__ADS_1
"Nikahannya batal Ma," jelas Aldo meletakkan handphone dan menatap ke arah Silki.
"Ha? Batal kenapa?" tanya Silki kaget.
"Mempelai laki-laki ternyata seorang buaya yang gemar berselingkuh ria, itu sebabnya pihak menpelai wanita memilih untuk mengakhiri segalanya," ungkap Aldo membuat Silki bergeleng-geleng sedangkan Pram hanya menyimak saja.
"Itulah gunanya mencari tau latar belakang calon suami lebih dulu, jangan hanya karena dia di depan memperlakukan kita dengan baik di belakang 'kan belum tentu," timpal Pram dan membuat Silki juga Aldo mengangguk.
"Eh, kamu bilang 'kan nikahnya batal. Kok, baru jam segini pulangnya?" tanya Silki melihat jam dinding yang terpasang di salah satu sudut.
"Jalan dulu tadi Ma," kata Aldo sembari menyeruput teh yang sudah tak terlalu panas.
"Jalan sama siapa? Yana?" tanya Silki menebak. Karena, memang tadi Aldo memberi tahu akan pergi ke undangan dengan Dayana.
"Iya, Ma," jawab Aldo singkat.
Senyum Silki mengembang, Aldo yang melihat hal itu langsung mengerutkan keningnya, "Mama kenapa?"
"Kamu jalan ke mana tadi?" tanya Silki mengintrogasi.
"Masa, sih?" tanya Silki yang tak mudah percaya begitu saja.
"Kalau dia, udah jelas orangnya Aldo. Kalau mau tinggal kita lamar aja nanti," terang Pram yang membuat Silki semakin mengembangkan senyum juga mengangguk.
"Bener banget! Jangankan cuma lamar, langsung nikah juga gak papa," rayu Silki dengan semangat.
"Apaan sih Pa, Ma? Aku sama dia itu gak ada apa-apa, kok," jelas Aldo sebelum semakin di introgasi.
"Iya, kalian gak ada apa-apa tapi hati kamu bilang kalo kamu ada apa-apa sama dia. Mangkanya, kamu jadi sering ketemu sama dialah, bahkan kamu bawa dia ke acara keluarga padahal waktu kamu punya pacar kamu gak pernah tuh bawa pacar kamu ke acara keluarga kita," papar Silki panjang kali lebar dan membuat Aldo terdiam.
Memang benar, dulu Aldo sempat pacaran dengan seseorang. Meskipun tidak terlalu lama, tapi di saat mereka pacaran acara keluarga ada Aldo tak sama sekali membawa pacarnya itu.
Dia selalu bilang bahwa pacarnya, sibuk dan tak dapat diganggu. Padahal, Aldolah yang tak mengajak wanita itu.
__ADS_1
Merasa semakin terpojokkan, Aldo cepat menghabiskan tehnya yang memang sudah tinggal dikit lagi.
Ia bangkit dari tempat duduk, "Aldo mau bersih-bersih dulu, permisi Pa, Ma," pamit Aldo dan berjalan menjauh.
Silki menahan senyumnya melihat punggung Aldo yang sudah semakin jauh, "Kalau suka cepat uangkapin, gak enak lho jadi tamu undangan orang yang kita sukai!" teriak Silki yang masih saja menggoda anak lajangnya itu.
"Menurut Papa, Aldo suka gak sama Dayana?" tanya Silki dengan wajah ditopang tangan.
"Kayaknya sih iya, cuma kita 'kan gak tau perasaan asli seseorang. Bisa jadi, Aldo sekarang emang baik sama siapa aja," kata Pram yang tak ingin salah mengartikan sikap Aldo ke Dayana.
"Iya, juga, sih. Bisa jadi tuh chef sekarang berubah jadi panas kek api kompor yang dulunya dingin kek kulkas dan kutub utara."
Setibanya sampai di kamar, Aldo benar-benar masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang dirasa lengket dengan keringat.
Keluar dengan rambut yang basah dan juga sudah menggunakan pakaian santai, Aldo terbiasa mengganti pakaian di dalam kamar mandi meskipun kamarnya hanya dihuni oleh dia sendiri.
"Kenapa setelah Mama bilang seperti tadi, perasaan aku jadi gak karuan gini, ya? Tapi, kalo emang Yana diambil orang emangnya kenapa? Apa ... apa aku mulai suka sama dia?" tanya Aldo menatap lemari dengan berhenti.
Dia yang tersadar dengan apa yang diucapkannya langsung menggeleng dan tertawa renyah.
"Gak-gak, lo paan sih Aldo! Gak mungkin juga lo suka sama tuh cewek aneh! Mana, mantannya banyak banget. Eh, mantannya apa orang yang menyukai dia, ya? Ah ... entahlah, bodo amat! Bukan urusanku."
Aldo berjalan ke arah meja kerjanya, ia akan kembali ke restoran tempat kerjanya sekitar dua minggu lagi.
Itu pun, tergantung dengan rekannya benar-benar bisa mengendalikan dapur atau tidak.
Tangan Aldo dengan lincah menari di atas papan keyboard laptopnya, sampai akhirnya suara panggilan menghadap Rabb pun terdengar dengan merdu.
Aldo menutup laptop dan merenggangkan otot-otot tubuhnya lebih dulu, duduk beberapa jam di depan layar itu membuat tubuhnya terasa sakit.
Berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu, ia akan mengerjakan shalat 4 rakaat Ashar.
20 menit berlalu, laki-laki itu tengah mengadahkan tangannya dengan perasaan yang sejak berbicara dengan Silki menjadi tak tenang.
__ADS_1
'Ya, Allah. Jika memang dia wanita terbaik yang Kau kirimkan untuk hamba. Maka, izinkan kami untuk bersatu secepat mungkin. Hamba tak ingin berlarut dalam zona yang tak seharusnya ini untuk seseorang yang belum sah untuk hamba.'
'Jadi, bismillah ya Allah. Mudahkan hamba, menyempurnakan agama hamba ini dengan wanita itu.'