Cuma Angka

Cuma Angka
Topi Tertinggal


__ADS_3

Hari senin, hari yang paling sibuk di mana anak sekolah, karyawan, pekerja lainnya memulai kesibukannya kembali setelah libur satu hari.


Dayan menggunakan kemeja putih dengan rok yang tidak span dan juga sepatu dengan sedikit tumit berwarna hitam juga tas ransel berwarna hitam juga.


Makan satu roti dengan susu, ia segera keluar dari rumah dan tak lupa menguncinya. Rumah belum dibersihkan Dayana, rencananya nanti malam akan ia bersihkan setelah selesai dari kantor.


Melihat handphone dan memeriksa pekerjaan yang ada, dirinya tak melihat ke arah rumah Irga. Bahkan, ia juga tak mendengar teriakan laki-laki itu.


"Eh, tumben si Irga gak ngikut," ujar Dayana yang baru sadar bahwa tak ada Irga yang menghiasi harinya ketika sudah sampai di halte.


"Ah ... bodo amat, dah!" sambungnya dan memilih duduk di halte yang di isi oleh dua orang lainnya.


Tak lama setelah Dayana menunggu bus, yang ditunggu akhirnya datang juga membuat Dayana segera masuk dan mengambil bangku yang kosong.


"Pak, tunggu!" teriak seseorang yang menghentikan bus yang sudah akan ingin pergi.


Seorang laki-laki tampak ngos-ngosan karena mengejar bus agar tak ketinggalan, ia langsung mengisi tempat duduk Dayana yang kebetulan kosong.


Sedangkan sang empu masih saja fokus ke handphone-nya, menurutnya handphone lebih menarik daripada keadaan bus yang itu-itu saja.


"Mbak, masih marah, ya, sama gue?" tanya seseorang dan langsung menatap ke mata Dayana yang tertunduk karena membaca pesan.


Dirinya mengerutkan kening dan beralih menatap orang yang juga sedang menatap dirinya, "Ngapain juga gue marah sama lu?" tanya Dayana dan menjauhkan kepala Irga yang berada tepat di depannya itu.


"Ya, kalo gak marah. Ngapain lu gak manggil gue? Gak ngajak gue pergi bareng?" tanyanya dengan badan yang sudah tegap kembali.


Dayana menghadap ke arah Irga dan mematikan handphone, "Heh, denger, ya! Sejak kapan gue pernah ngajak lu atau apa pun itu. Gue gak pernah ngajak lu ke mana-mana juga, lunya aja yang doyan bener ngikutin gue!" geram Dayana melihat sikap Irga.


Bukannya merasa takut, Irga malah tersenyum melihat wanita itu yang sudah mengomel di pagi-pagi buta padanya.


"Dih, kenapa senyum lu?" tanya Dayana menatap sinis ke arah Irga.


Irga menahan senyumnya, "Gak papa," jawabnya singkat, padat, dan jelas.

__ADS_1


Dayana tak bertanya lagi, biarlah bocah itu berpikir apa pun yang dia mau. Sangat tidak pantas rasanya menebak isi kepala seseorang.


Sedangkan, kadang kita tak tahu apa yang ada di isi kepala kita. Bisa saja ingin menyakiti, tapi malah membaiki yang kita lakukan.


Sekolah Irga lebih dulu dapat daripada tempat kerja Dayana, dirinya langsung bangkit dan membenahi pakaian juga tas yang dipakai.


"Mbak, gak mau salam ke calon suami?" tanyanya menatap Dayana.


"Lu jan gak sopan Ga! Gue gibeng lu lama-lama," jawab Dayana yang frustasi melihat tingkah Irga.


"Yaudah-yaudah, kalem dong. Siniin tangan lu Mbak!" kata Irga yang tangannya sudah terulur di hadapan Dayana.


"Dih, buat apa?"


"Udah, siniin!"paksa Irga dan menyalim tangan Dayana ke keningnya bukan ke bibirnya.


"One day you will shake my hand," ucap Irga berjalan dan mengedipkan matanya sebelah ke arah Dayana.


Dayana masih mematung mendapatkan perlakuan yang aneh dari Irga tersebut, ia yang berada di dekat kaca langsung melihat laki-laki itu yang tengah berjalan ke arah gerbang masuk sekolah.


Dayana dengan cepat membuang muka dan kembali menghadap ke depan, ia kembali menikmati perjalanan sebelum sampai di tempat kerja nanti.


Saat mata Dayana tak sengaja melihat sesuatu yang sepertinya tertinggal, ia segera meraih barang yang ada di bawah bangku orang di sampingnya tadi.


"Lah, ini topi si Bocil!"


Dayana menatap topi itu, padahal hari ini senin dan sudah pasti upacara mendera. Di setiap sekolah biasanya diharuskan memakai topi juga dasi.


Kalau aku suruh berhenti juga tak mungkin karena sudah jauh, lebih baik aku pesan ojek online biar dia langsung bisa ngirim nih topi kembali ke sekolahan Irga.


Tangan Dayana langsung lihai mencari gojek yang semoga ada mengambil pesanannya itu, satu notif membuat dirinya bahagia dan beruntungnya gojek itu tak terlalu jauh mangkalnya dari tempat kerja Dayana.


Setelah sampai di halte kantor tempat dirinya bekerja, Dayana langsung berlari setelah membayar ongkos bus.

__ADS_1


"Pak, ini antarkan ke tujuan, ya. Nih, uangnya. Cepetan, ya, Pak bentar lagi ucapara soalnya!" seru Dayana dan memberikan topi juga ongkos yang sudah tertera.


"Nomor handphone penerima Mbak?" tanya gojek yang mengambil topi juga ongkos.


"Nanti saya kirimkan, antarkan aja dulu ini Pak."


"Oke, Mbak!"


Tukang gojek langsung pergi dengan memegang topi, karena jarak yang sebenarnya tak terlalu jauh.


Namun, Dayana tak enak jika menyuruh bus untuk berhenti padahal bisa jadi penumpang yang lainnya sedang buru-buru.


Setelah merasa gojek sudah jauh dari kantornya dan tak terlihat lagi dengan mata, Dayana berjalan memasuki gedung kantor tempatnya bekerja.


Ia sesekali bersapaan dengan orang yang juga kerja di tempat yang sama dengannya. Namun, jabatan yang berbeda.


Sesekali Dayana memijit pelipisnya yang terasa mendenyut, bukan karena tingkah Irga kali ini. Melainkan akan adanya anak baru dan kemungkinan dirinya yang harus melatih anak baru tersebut.


Membayangkan saja dirinya sudah sangat malas, pasti banyak hal yang anak tersebut tak ketahui karena dengar-dengar dari orang bahwa anak baru tersebut belum pernah bekerja.


Dayana mengambil handphone saat suara dering di dengarnya, "Ada apa?" tanya Dayana dengan suara berbisik karena tak enak dengan orang lain yang ada di lift.


"Mbak, makasih banyak! Untung aja ada Mbak kalo enggak gue udah dihukum Mbak. Makasih juga Mbak udah baik banget Mbak!" teriak Irga yang tampaknya begitu sangat bahagia.


Suara teriakan Irga yang bahagia itu membuat bibir Dayana tiba-tiba ikut terangkat menampilkan lengkungan yang manis.


Beberapa detik kemudian dirinya tersadar dengan apa yang terjadi, dia kembali mendatarkan bibirnya karena malu dilihat orang nantinya.


"Iya, sama-sama," jawab Dayana dan keluar kala pintu lift telah terbuka, "udah dulu, ya. Gue udah sampe di kantor mau kerja dulu!"


"Iya, Mbak! Yang semangat, ya, kerjanya!"


"Iya!"

__ADS_1


Dayana langsung mematikan handphone dan segera menuju ke meja kerjanya, ia meletakkan tas yang di pakai dan sedikit meregangkan jari-jari.


"Oke, mari kita mulai pekerjaan yang sangat banyak ini!" kata Dayana menyemangati dirinya. Sedetik kemudian ia sudah fokus ke layar laptop yang memang disediakan oleh kantor.


__ADS_2