Cuma Angka

Cuma Angka
Labil


__ADS_3

Selesai sudah waktu untuk mengisi tenaga, kami melanjutkan perjalanan menuju photo studio milik teman Aldo.


Ketika turun dari mobil, sudah ada laki-laki tersenyum dengan lebar berjalan ke arah kami. Dia mengulurkan tangannya langsung ke arah Aldo.


"Hey, Bro! Sudah lama banget kita gak ketemu, ya," ucapnya memeluk tubuh Aldo tak lama lalu melepaskan pelukan.


Aldo menatap bangunan di depannya, "Sudah lebih baik dari yang sebelumnya, ya?" tanya Aldo menatap ke arah temannya.


Temannya langsung ikut menatap ke arah yang sama, "Ya, begitulah Bro. Lumayan," jawabnya cengengesan lalu beralih menatap ke arahku.


Aku yang ditatap langsung memberikan senyuman karena merasa canggung, teman Aldo menyenggol lengan laki-laki itu.


"Siapa, tuh?" tanya teman Aldo menunjuk dengan dagu ke arah Dayana.


Aldo menatap ke arah yang ditunjuk temannya, "Dia, Dayana."


"Pacar lu?"


"Enggak."


"Ohh, fotonya sama siapa?"


"Sama dia."


"Katanya gak pacar, kok malah sama dia fotonya?"


"Ya, emangnya kenapa? Harus foto sama pacar emangnya?"


"Enggak, sih, cuma nanti 'kan jodohnya risih kalo liat ceweknya foto sama lo."


"Ehem!" dehemku yang sudah tak tahan lagi mendengar debat kedua laki-laki di depanku saat ini.


Mereka berdua langsung melihat ke arah Dayana, "Eh, iya. Ayo-ayo masuk!" ajak teman Aldo menuntun kami masuk.


Aku memilih mengikuti di belakang Aldo saja, biarkan mereka berbicara berbagai hal sambil berjalan masuk.


Tak ingin dengar dan pasti aku tak akan paham dengan apa yang mereka obrolkan.


"Kalian mau ganti baju atau, gimana?" tanya teman Aldo kala kami sudah berada di salah satu studio fotonya.


Kuedarkan pandangan, cukup banyak ruangan di sini dan juga tema fotonya bukan hanya satu saja. Mereka juga menyediakan jasa make-up di sini serta baju sewa.


"Gimana?" tanya Aldo. Aku yang masih mengedarkan pandangan langsung menatap ke arah Aldo karena merasa bahwa laki-laki itu pasti tengah berbicara denganku.


"Pakai ini aja deh, gue males ribet," jawabku seadanya. Karena, memang males rasanya harus ganti-ganti baju lagi.


Aldo mengangguk sedangkan temannya menahan senyum, kenapa? Apa perkataanku ada yang salah?

__ADS_1


"Mau foto di mana dulu?" tanya teman Aldo menatapku kali ini.


"Di mana aja boleh Kak. Kalau semuanya, boleh?" tanyaku dengan sedikit ragu.


Aldo membulatkan matanya dan menatap ke arahku dengan cepat, "Mau pulang jam berapa?"


"Ya, satu-satu aja nanti. Satu kali gaya, satu tempat foto."


"Ya, ampun!"


Kami pun masuk ke ruangan foto pertama, dengan latar yang astetick. Sedikit canggung atau bahkan sangat canggung.


Tenang, kami sudah memberi tahu sebelumnya ke teman Aldo bahwa ingin berfoto tanpa ada sentuhan.


Dia menyanggupi dan kami hanya perlu mendengar arahan dari dia.


"Dayana, handphone kamu bunyi," kata teman Aldo kepadaku. Aku yang sudah rapi duduknya dan sudah siap di foto langsung bangkit dan berjalan ke arahnya karena handphone-ku ada di dekatnya.


"Irga," gumamku saat melihat nama yang tertera di layar handphone. Memilih sedikit menjauh dari mereka agar pembicaraanku tak menganggu mereka.


"Halo, ada apa Ga?" tanyaku yang merasa sudah jauh dari mereka.


"Mbak ada di mana? Saya cariin ke mana-mana, kok gak ada?"


Aku menepuk jidat sebentar, ya, aku lupa pamit sama dia tadi. Karena dia langsung lari ke panggung menahan tubuh Zahra agar tak pingsan.


"Gue lagi ada urusan Ga, lupa tadi pamit sama lo soalnya lo langsung pergi ke depan, sih."


"Iya, gue baik aja kok."


"Yaudah, gue matiin Mbak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Aku menutup panggilan dan kembali ke ruangan. Aku sudah melihat Aldo dan juga temannya menatap laptop di mana foto kami berada.


"Eh, Dayana. Sini, liat dulu! Bagus, gak?" Teman Aldo menyapaku dan menyuruh aku bergabung dengan mereka melihat hasil jepretan fotogrefer-nya.


Kutatap satu per satu foto itu, tampak sangat cantik dan, "Kalian serasi, lho!" seru teman Aldo melihat wajah kami secara bergantian.


Aku hanya terkekeh, "Bukankah semua wanita juga cocok dengan Aldo? Asalkan cantik?"


"Enggak, yang waktu itu gak cocok sama Aldo. Iya 'kan?" tanya teman Aldo menatap wajah laki-laki itu yang sudah menahan marah.


Saat tersadar bahwa ada Dayana di situ, teman Aldo langsung menutup mulutnya dan menatap Dayana dengan cengengesan.


"Gak papa, santai aja kali Kak," ujarku karena tahu jiwa laki-laki ini pasti merasa sungkan denganku akibat ucapannya tadi.


"Oh, iya, mau lagi?" tanyanya mengalihkan topik.

__ADS_1


"Gimana?" tanyaku menatap wajah Aldo dan dirinya pun ikut menatap ke arahku.


"Aku ikut kau saja," jawabnya yang sangat pasrah.


"Lanjut atau udah?" tanyaku lagi mencoba sabar.


"Terserah."


Aku berdecak, "Hanya ada dua pilihan. Lanjut atau udah, bukan terserah!" tegasku.


"Aku hanya tak mau kau capek dan kelelahan. Jika kau merasa capek maka sudah jika tidak, ya, lanjut," jelas Aldo dengan tersenyum sangat sedikit.


"Ck! Aku minta kau memilih bukan menjelaskan. Memilih hal sederhana aja lo gak dapat, apalagi milih hal besar," tuturku bersedekap dada. Kulihat ke arah teman Aldo, "sudah, segitu aja."


"Lah, gak lanjut?" tanya Aldo yang kaget dengan jawabanku.


"Bukannya terserahku?" tanyaku menaikkan satu alis.


Aldo membuang napas kasar, mengusap wajahnya, "Yaudah, segitu aja. Nanti, lo kirim langsung ke gue, ya," perintah Aldo ke temannya dan hanya di balas anggukan.


"Saya permisi, terima kasih Kak buat waktunya," pamitku dengan beberapa orang yang ada di sini.


Aku berjalan keluar lebih dulu, aku tahu jika mereka dari tadi menatap perdebatan kecil antaraku dan Aldo.


Mungkin, mereka juga heran kenapa kami berdebat hanya karena hal ini? Hanya saja, Aldo yang terlalu labil menjadi seorang laki-laki.


Kutunggu dia di depan mobilnya, karena aku tak mungkin masuk ke mobil orang tanpa se-izinnya dan sepengatuhannya.


Aldo berjalan ke arah mobil, aku sedikit menyipit kala melihat ke arahnya karena matahari yang sudah mulai muncul.


"Kenapa belum masuk?" tanya Aldo yang berhenti di depan mobil.


"Yang punya mobil belum masuk, gak mungkin gue duluan."


"Yaudah, yuk masuk!"


Kami masuk ke dalam mobil, tak lupa memasang sabuk pengaman juga tentunya, "Siapa yang telpon, tadi?" tanya Aldo dengan mata yang tetap fokus melihat jalan.


"Irga," jawabku singkat.


"Kenapa dia telpon?"


"Dia kira gue masih ada di sana, soalnya gak pamit tadi pas pulang."


"Se-khawatir itu dia, ya?" tanya Aldo kali ini melirik wajahku sekilas.


"Ya, wajar aja sih. Dia takut kalo Andi lakuin hal yang enggak-enggak ke gue, secara tadi dia natap gue kek liat mangsanya aja."

__ADS_1


"Kamu takut?"


"Enggak, ngapain takut sama dia."


__ADS_2