Cuma Angka

Cuma Angka
Kenalin, Calon Suaminya


__ADS_3

Sesampainya di halaman rumah Dayana, benar saja Andi telah duduk di bangku teras rumahnya. Andi menatap ke arah mobil yang ditumpangi Dayana, sedangkan Dayana menatap laki-laki tersebut dan mencoba untuk bisa setenang mungkin menghadapinya nanti.


Irga turun lebih dulu, dirinya membukakan pintu belakang dan membantu membawakan kantong belanja milik Dayana. Andi bangkit dari bangku dan membuka kaca mata yang tertengger di hidung mancungnya tersebut. Kulit yang putih, badan tinggi, rambut sedikit gondrong, alis yang tebal. Siapa yang tak akan tergoda dengan makhluk ciptaan Tuhan yang hampir sempurna tersebut.


Belum lagi, dirinya sangat bisa merebut hati kedua orang tua Dayana. Sehingga, mereka dengan mudah memberi izin dan restu untuk hubungan mereka. Namun, kenyataan yang diterima Dayana tak seperti itu. Andi seorang yang semena-mena dengan hubungan, dirinya memutuskan secara sepihak kapan saja yang dia mau tanpa memperdulikan pasangannya itu mau atau tidak dengan pilihannya tersebut.


Masalah selingkuh, Dayana tak tahu. Karena, dirinya bukanlah pasangan yang mengekang. Laki-lakinya harus lapor ke mana dan sama siapa, karena menurutnya. Jika laki-laki tersebut memang serius dan mencintainya, pasti tahu untuk menjaga perasaannya tersebut untuk wanitanya.


Irga berjalan lebih dulu setelah memberi ongkos taksi, dirinya tersenyum ke arah Andi seolah tak ada masalah apa pun dengan kehadiran soosk masa lalu wanita yang dikejarnya.


"Ada apa, Bro? Tumben amat lu datang ke mari!" Senyum ramah Irga, dirinya mengulurkan tangannya kepada Andi. Laki-laki yang berusia dua puluh tiga tahun tersebut menyambut uluran tangannya.


"Kamu siapa?" tanya Andi dengan mata melihat penampilan Irga dari atas hingga ke bawah dan dari bawah hingga ke atas.


"Biasa, calon suami dia," ujar Irga dengan matanya melirik ke arah Dayana yang berjalan ke arah mereka.


"Sejak kapan?"


"Apanya?"


"Pacarannya."


"Oh, kita gak pacaran. Seperti ajaran, Biersa. Sat-set-sat-set!" Senyum mengembang, beberapa kali Irga menggoda Andi dengan menaikkan alisnya. Jika orang melihat sekilas, mungkin akan percaya jika usia Irga sudah dewasa. Secara, dirinya memiliki tinggi yang hampir sama dengan Andi.


"Kamu gak salah cari pengganti?" tanya Andi melihat ke arah Dayana yang baru bergabung dan menunjuk ke arah Irga.

__ADS_1


"Salah? Maksudnya?" tanya Dayana yang bingung, baru sampai dirinya sudah diberikan pertanyaan yang sama sekali dirinya tak paham.


Irga mencoba memberikan beberapa kode kepada Dayana, berharap wanita tersebut paham dengan maksudnya juga berharap tak dilihat oleh Riki karena dirinya memberikan kode kepada Dayana.


"Iya, kamu mau sama model yang seperti pengangguran seperti ini," ejek Andi dengan memasukkan tangannya ke saku celana.


Suara tawa pun keluar setelah mendengar ucapan Andi, bukan Andi yang tertawa melainkan Irga. Sontak hal tersebut membuat kedua manusia di depannya sekarang menjadi heran. Irga mendekat ke arah Andi.


"Bro! Kau pernah mendengar istilah psikopat? Perdagangan organ manusia?" tanya Irga berbisik tepat di telinga Andi. Setelah mengucapkan kalimat itu, dirinya tersenyum dan menjauh kembali.


"Yuk, Sayang! Kita masuk buat masak daging ayam! Kalau nanti kamu bosen, bilang sama aku, ya. Ada daging yang enak nih kayaknya." Irga sedikit menunduk agar sejajar dengan tinggi Dayana, dirinya mengusap kepala wanita yang ada di depannya.


Dayana langsung berjalan membuka pintu dengan kantong belanja yang ada di tangannya, setelah pintu terbuka. Irga berlalu, namun baru dua langkah dirinya kembali berhenti dan melihat ke arah Andi kembali.


"Tau jalan pulang 'kan? Dayana tak tertarik dengan; mobil, jabatan serta penampilanmu. Silahkan pergi, tau jalan pulang 'kan?" sambung Irga tersenyum ke arah Andi. Andi yang merasa dihina juga diusir langsung memasang kaca matanya kembali, dirinya berjalan tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Masuk ke mobil berwarna hitam miliknya itu.


Memang, sebelumnya Irga tak terlalu dekat dengan Dayana. Bukan berarti dirinya tak melihat siapa-siapa saja laki-laki yang dekat dengan tetangga wanitanya itu. Irga masuk setelah melihat mobil Riki keluar dari halaman rumah Dayana, dirinya menutup pintu dan berniat meletakkan belanjaan Dayana.


"Cil! Lu tadi ngomong apaan, dah? Ntar ... kalo dia pikir lu beneran psikopat gimana? Dan aduin ke polisi?" panik Dayana dengan apa yang diucapkan oleh Irga kepada Andi.


"Mbak liat wajahnya?"


"Kenapa dengan wajahnya?"


"Wajahnya aja menunjukkan kalo dia gak yakin Irga ini calon suami, Mbak. Mangkanya, Mbak! Buat dia yakin dengan beneran buat Irga jadi calon suami, Mbak," ucap Irga sambil berjalan ke arah dapur Dayana.

__ADS_1


"Ha? Maksudnya gimana, sih?" tanya Dayana yang masih bingung.


"Gini, Mbak! Dia aja gak yakin kalo Irga calon suami, Mbak. Gak mungkin dia yakin kalo Irga psikopat." Senyum Irga dengan tangan di letakkan di depan dadanya serta bahu di naikkan.


Dayana menyimak ucapan Irga dan memahami apa yang diucapkan laki-laki di depannya ini, beberapa detik kemudian senyum terbit dari bibir ranumnya itu, "Iya juga, yah! Mana mungkin dia percaya akan hal tersebut."


"Iyalah, Mbak. Oh, iya. Udah sore, Irga yang tampan lagi sholeh ini mau pulang dulu, ya!"


"Heleh, tampan dilihat dari lobang sedotan?" tanya Dayana dengan mata sinisnya.


"Santai kali, Mbak!" tawa Irga pecah melihat ekspresi Dayana.


Irga berjalan keluar diikuti oleh Dayana, "Oh, iya! Makasih dan maaf, ya. Kalo saya udah keterlaluan sam lu tadi pas di mall, Cil! Tapi jujur, gue gak ada niatan buat lu sakit hati," ujar Dayana mendongak untuk menatap wajah Irga.


"Iya, Mbak. Gak papa, kok. Lagian, Irga juga udah biasa mendapatkan hal tersebut dari, Mbak," ucap Irga diikuti beberapa tawa. Dayana langsung menatap Irga dan menampilkan wajah bersalahnya. Bagaimana pun itu sangat keterlaluan jika dirinya selalu melakukan hal tersebut kepada Irga.


"Bacanda, Mbak!" kekeh Irga yang kesian melihat wajah Dayana.


"Ih! Kamu!" ujar Dayana yang sudah bersiap melayangkan pukulan ke lengan Irga.


"Kalem, Mbak! Kalem," tawa Irga yang tak mau diajak berhenti. Entahlah, menurutnya wajah wanita di depannya sekarang bukan mengerikan, melainkan sangat imut melebihi panda dan binatang imut lainnya. Eh, kok disamain dengan binatang? Entahlah!


"Saya pulang dulu, ya, Mbak! Assalamualaikum," salam Irga berjalan ke arah samping.


"Waalaikumsalam," jawab Dayana melihat punggung Irga dari balik pintu. Punggung Irga tak lagi terlihat, dirinya segera menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Dirinya ingin segera membersihkan badan yang sudah terasa lengket dan gatal.

__ADS_1


__ADS_2