Cuma Angka

Cuma Angka
Kado Yang Diharapkan


__ADS_3

Malam ini, aku berada di kamar setelah selesai makan malam bersama dengan Mama dan Papa. Mama dan Papa juga pamit mau ke supermarket tadi.


Melihat beberapa kado yang diberi oleh murid-murid, Arhan akhirnya mau untuk baris tadi pagi.


Meskipun, tetap dengan paksaan olehku juga banyak drama air mata di sekolah tadi. Kuambil satu per satu kadonya dan membukanya.


Dimulai dari milik Arhan, dari berbagai kado hanya dia yang paling kecil membuat aku jadi penasaran akan isinya.


Segera kubuka dan ketika mendapati isinya, kubekap segera mulut ini tak menyangka dengan isinya.


[Dear; Buk Yana. Terima kasih sudah menjadi guru ter-the best di hidup saya. Saya yang mungkin gak akan bisa lulus di tahun ini, tapi akan saya pastikan saya mampu masuk ke Universitas impian saya karena Ibuk.


Maafin, saya, karena di awal perkenalan kita. Saya sempat melakukan hal yang buruk untuk Ibuk.


Intinya, terima kasih dan selamat untuk Ibuk karena sudah terbebas dari saya murid yang paling nakal ini.]


Senyumku mengembang melihat tulisan Arhan, bukan hanya ada surat melainkan cincin juga suratnya.


Kupakai cincin itu dan ternyata pas di jari ini, apakah ini tak terlalu berlebihan? Apalagi setelah kulihat harga yang tertera di kertas itu.


Setelah selesai dengan kado Arhan, satu nama lagi tengah kucari. Bukan berharap, tapi apakah dia tak ada memberiku.


"Ck! Dasar si Irga mah! Masa, orang lain ngasih ke gue sedangkan dia mah kagak!" ketusku saat sudah mencari namanya di tumpukan kado.


Aku membawa kado tadi dengan taksi, Irga juga katanya ingin tempat Zahra kembali.


Entah memang menemani Zahra atau apa, aku tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.


Ceklek!


"Assalamualaikum," salam Papa dan Mama bersamaan. Aku memilih keluar saja dan membiarkan kado-kado itu.


"Waalaikumsalam," jawabku membuka pintu kamar melihat ke arah Mama dan Papa.


"Ih, banyak banget belanjaannya," ucapku melihat beberapa kantong kresek yang dibawa Papa dan Mama.

__ADS_1


"Ya 'kan Papa mau berangkat, jadi siap-siap memang," jelas Papa dan memilih duduk di sofa lebih dulu.


"Masih lama juga padahal perginya," ujarku dengan memajukan bibir.


"Mangkanya, kamu nikah biar ada yang nemenin. Gak kesepian setiap kali Papa dan Mama tinggal," timpal Mama yang baru bergabung setelah meletakkan barang bawaannya tadi ke kamar.


"His! Apalah Mama ini, bukan Yana yang disuruh nikah. Papa tuh yang disuruh berhenti!" ketusku dan membuat Papa kaget dengan ucapanku tadi.


"Enak aja kamu!" debat Papa yang tak mau kalah.


"Lagian, ya, Yana tuh udah bisa ngasih nafkah buat Papa dan Mama. Udahlah, gak usah ke pelosok-pelosok lagi. Mana transportasi aja kadang susah," ucapku yang kesel karena memang itu kenyataannya.


Kadang, Mama juga ikut mengajar dengan Papa. Meskipun Mama hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama, namun, ilmu Mama juga tak kalah hebat.


Publik speaking Mama tak perlu diragukan lagi, aku bahkan kalah dengan Mama. Dulu, aku sering diajari sama Mama agar bisa tenang dalam menerangkan sesuatu di depan orang-orang.


Kalau kata Papa, "Mamamu memang cuma lulusan SMP, tapi ilmunya bisa melebihi anak kuliahan!"


Memang terbukti, Mama bahkan memiliki buku lebih banyak daripada aku. Kata Mama, ilmu itu bisa di dapat dari mana saja. Bukan hanya dari sekolah. Tergantung kita mau mengambil dan mencari ilmu itu atau enggak.


Aku segera mengambil remote dan menghidupkan TV, setelah mencari siaran yang ingin kutonton kukembalikan remote dan bersedekap dada.


Padahal, niatnya tadi ingin minta jajan sama Mama dan Papa. Eh, aku malah badmood gini karena tahu mereka akan kembali pergi.


"Eh, kamu udah di lamar, Yana?" tanya Mama dan membuat aku mengalihkan pandangan ke arahnya.


Aku mengerutkan kening, "Ha, kapan Ma?" tanyaku kebingungan.


"Tuh ...," tunjuk Mama dengan bibirnya yang dimajukan.


Aku melihat ke arah bibir Mama menunjuk, "Oh, ini dari murid Yana. Arhan, pemilik sekolah. Tanda terima kasih katanya," jelasku dan melihat TV kembali.


"Besok udah masuk ke kantor?" tanya Papa.


"Belum Pa, cuti sehari dulu," kataku yang meminta tambahan cuti sehari lagi.

__ADS_1


"Dikasih?"


"Huum."


"Irga ngasih apa?" tanya Mama menaikkan satu alisnya.


"Gak tau Ma, entah dia emang gak ngasih atau kadonya yang ketinggalan. Tapi, tadi gak ada di kamar," ungkapku yang juga merasa aneh akan hal ini.


"Ohh, mungkin emang gak ngasih."


"Iya, mungkin deh." Aku memilih kembali fokus ke TV lalu menatap ke arah Papa dan Mama kembali, mereka juga ikut menatapku, "ini, gak ada oleh-oleh dari supermarket?"


Papa dan Mama tertawa secara bersamaan, "Kirain setelah ngambek, gak akan mau minta oleh-oleh," goda Papa sambil membuka satu kantong kresek.


"Ihh, enak aja. Tetap minta, dong!" ketusku dan menunggu Papa mengambilkan oleh-oleh paling berupa ciki atau cokelat.


"Mama, dulu kenapa mau nerima Papa?" tanyaku sambil menatap Papa yang masih sibuk mengeluarkan ciki.


"Emangnya, apa alasan Mama bisa menolak Papa?" tanya Papa yang meletakkan bungkusan ciki.


"Lah, kalo anak sekarang pasti insecure Pa. Jangankan anak orang lain, kalo Yana di posisi Mama aja Yana mungkin akan menolak laki-laki itu," terangku dan membuka bungkus ciki.


"Ya, Mama dulu juga sama. Sangat-sangat insecure, apalagi keluarga Papamu ini semuanya dari lulusan terbaik," kata Mama menjeda kalimatnya dan menatap wajah suaminya itu.


"Cuma, Mama diyakinkan oleh beberapa orang bahwa Mama ini pantas untuk bersanding dengannya. Dulu, Mama gak suka sama Papamu karena dia pernah gak datang ke suatu tempat padahal dia yang ngajak. Akhirnya, Mama milih untuk memutuskan komunikasi dan fokus akan mimpi."


"Namun, yang namanya jodoh mah mau kita gimana aja ya tetap akan sama dia lagi. Akhirnya, setelah 1 tahun Mama kelar menggapai segala mimpi. Ke dua tahunnya Papamu hadir lagi, dan meyakinkan Mama bahwa Mama pantas ada di samping dia. Mau gak mau, yaudah deh akhirnya terima," jelas Mama panjang menceritakan tentang kisah cintanya.


Setelah menikah dengan Papa Yana, Mamanya memilih untuk mengambil paket C didorong oleh suaminya.


Bukan karena suaminya itu malu atau apa, hanya dirinya tak ingin jika istrinya di hina oleh orang lain karena pendidikannya yang rendah.


Padahal, tanpa harus ikut paket C sebenarnya Mama Dayana sudah seperti anak kuliahan. Itu, karena dirinya banyak membaca dan belajar dari situs-situs di internet.


"Semoga Yana juga dapat cowok yang mencintai Yana dengan tulus, deh. Meskipun, udah gak yakin kalo cowok kayak gitu masih ada," ujarku memasukkan ciki ke dalam mulut sambil melihat TV.

__ADS_1


"Banyak doa aja, biar Allah dekatkan dengan seseorang yang bisa menerima kamu apa adanya," saran Mama dan kualihkan pandangan menatap bidadari tak bersayap itu tak lupa memberikan senyuman tulus dari seorang anak untuk ibunya.


__ADS_2