
Ketika kau mencintai sesuatu secara berlebihan. Maka, percayalah bahwa Allah akan menjauhkan kau dengan yang kau cintai itu. Karena, Allah iri dengan kedekatanmu kepada ciptaan-Nya dibanding pencipta-Nya.
Setelah kejadian kemarin, aku tak melihat tanda-tanda bahwa pesta pernikahan akan dibatalkan.
Irga bahkan mulai jarang di rumah karena sibuk membantu orang-orang yang sedang bekerja di rumah tantenya.
Padahal, setahu aku mereka akan menikah di gedung. Mengapa jadi di rumah? Entahlah, aku tak mau terlalu ikut campur.
Hari ini, rencananya aku akan pergi ke mall untuk mencari baju juga beberapa barang agar ketika pergi ke pesta pernikahan Zahra tampil beda.
Bukan agar mantan menyesal. Tapi, ya, bajuku sudah habis yang baru dan tak mungkin aku pakai itu-itu saja.
Pergi ke mall menggunakan taksi, setelah membayar ongkos aku turun dan masuk ke dalam mall.
Mall cukup ramai pengunjung, padahal sudah jam 4 sore. Masuk ke salah satu toko yang memang biasanya aku kunjungi.
Memilih dres brukat berwarna hijau wardah dengan kerudung senada tapi tak terlalu pendek yang penting menutup dada.
Merasa semuanya sudah kudapatkan, aku segera membayar karena merasa risih dengan pengunjung yang semakin ramai.
3 paper bag kupegang, berisi pakaian, tas juga sepatu yang khusus untuk datang ke nikahan Zahra dan Andi nanti.
Setelah pesanku hanya dibaca, aku tak mengirim pesan lagi untuknya. Sudah tak mau terlalu ikut campur yang penting aku sudah memberi tahu sifat seseorang itu.
Baru keluar dari pintu mall, tanganku sudah ada yang memegang dan membuatku langsung menatap ke arah orang tersebut.
"Apa-apaan sih kamu Arya! Lepasin!" bentakku menepis kasar tangannya.
Tanpa aba-aba, dia membawa aku ke depan mobilnya. Aku yang merasa risih plus sakit di pergelangan tangan tetap memberontak.
"Apaan sih kamu!" bentakku kembali setelah kami berhenti tepat di mobilnya dan menepis lagi tangannya.
Beruntungnya kali ini tangannya dapat kutepis, aku menatap ke arahnya dengan raut wajah yang tak suka.
"Kamu yang apa-apaan? Kenapa gak pernah angkat telepon dari aku?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Emangnya kenapa? Kamu juga harus tau dong kalo seseorang itu juga punya kehidupan masing-masing, kamu gak bisa paksakan kehendak kamu ke orang lain!"
__ADS_1
"Oh, sesibuk itu kamu, ya? Sampe telepon aku aja gak bisa kamu angkat?"
"Ini yang buat aku gak mau dekat dengan kamu! Kamu gak bisa bedain mana cuma temen dan mana yang enggak. Kamu mau buat aku seperti pasangan kamu sedangkan aku gak lebih anggap kamu cuma temen Arya!" jelasku panjang lebar.
Dia tersenyum dengan pandangan dibuang ke sembarang arah, "Oh, setelah perjuangan aku selama ini kamu malah anggap aku hanya temen?" tanya Arya meletakkan tangannya di pinggang.
Aku tertawa renyah, "Oh, jadi selama ini semua perbuatanmu kau anggap perjuangan dan harus ada balasannya? Kau yang menyelamatkan aku dari Andi, kau yang membelikan aku dan lainnya harus aku balas, begitu?" tanyaku yang sudah tak habis pikir dengan seseorang yang ada di depanku kini.
"Bukan begitu ---"
Belum sempat dirinya membela diri, aku lebih dulu menyela, "Baik kalau begitu, jika memang itu kau anggap perjuangan. Jika perjuangan maka akan ada hasil, bukan? Jika tidak dengan perlakuan maka dengan uang. Jadi, aku tak bisa membalas dengan perlakuan apalagi jika harus membalas perasaanmu Arya! Jadi, aku akan membalas dengan uang meskipun jika harus lunas sampai 10 tahun," murkaku yang sudah tak tertahankan.
"Aku gak butuh uang kamu Yana."
"Dan aku gak bisa balas perasaan kamu Arya! Kamu ngerti dong!"
Dia meraih tanganku, "Tapi, kamu belum mencobanya." Aku menatap tanganku yang dipegangnya.
Segera kuambil secara perlahan tanganku, "Jangan memaksa sesuatu yang tak akan pernah nyaman jika dilakukan secara terpaksa Arya. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku harap kau paham dengan keadaan kita sekarang."
Sebenarnya, nomor Arya baru-baru saja kublok. Saat aku merasa bahwa dirinya terlalu berlebihan padaku.
Posesif tak pada tempatnya tak bisa kutoleransi. Bahkan, dia pernah membentak Papa tanpa dia sengaja karena waktu itu Papa yang mengangkat handphone-ku.
Dia marah karena melihat aku pulang dengan Aldo dari pantai waktu itu, padahal keadaanya ada Irga juga di dalam.
Sehingga Papa marah padaku kenapa memiliki teman sekasar itu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk memutus segala komunikasi medsos antara aku dan dia.
Tin ... Tin
Suara klakson di sampingku membuat aku menoleh, aku yang sedang berjalan di trotoar karena ingin ke halte bus.
Mengerutkan kening saat orang yang ada di dalam mobil belum menurunkan kaca mobilnya, "Ada apa?" tanyaku dengan memberhentikan langkah.
"Masuk, nanti dia ngejar lo lagi," jawab Aldo singkat dengan kacamata yang bertengger di hidungnya itu.
Aku melirik ke arah belakang, "Siapa?" tanyaku. Tak mungkin dia tahu jika aku tadi dan Arya sempat beradu argumen.
__ADS_1
"Cowok yang di parkiran tadi. Udah, cepetan masuk."
Mataku membuat kala mendengar penuturannya, dari mana Aldo tahu? Apa dia melihat kejadian tadi?
"Masuk Yana!"
"Iya-iya." Aku pun akhirnya memilih masuk ke mobilnya, tak lama mobil melaju dengan cepet ke arah rumahku. Ya, tak ke mana-mana.
Lama senyap di dalam mobil, "Lain kali kalo mau pergi, jangan sendirian," peringat Aldo tetap fokus ke jalanan.
"Jadi, sama siapa?" tanyaku menatap ke arahnya.
"Ya, siapa kek. Ajak Tante atau Om. Kalo emang gak bisa lo juga boleh ngajak gue. Kalo gue gak sibuk, pasti gue temenin," ujar Aldo sekilas menatap ke arahku lalu fokus kembali.
"Gue bukan anak kecil, gak perlu harus ditemenin!" ketusku yang merasa di posesifin.
"Apakah melarang dan khawatir termasuk posesif?" Pertanyaan Aldo membuat aku kaget, kenapa dia bisa mengetahui apa yang tengah aku pikirkan dan rasakan?
"Khawatir?" tanyaku mengulang kalimatnya. Dengan susah payah aku menahan senyum dan menatap dia.
Dia yang kutatap tengah menahan diri untuk tak salah tingkah, "Ciee ... khawatir? Emangnya kita siapa?"
"Emangnya harus jadi siapa-siapa baru boleh khawatir? Manusia makhluk sosial, jadi peduli antara satu manusia dengan manusia lain," jelas Aldo sok tegas meskipun apa yang dia katakan benar.
"Iya deh iya," jawabku dengan cepat tak ingin ada lagi perdebatan.
"Beli apa?" tanya Aldo menatap paper bag yang kupangku.
"Ini, baju buat undangan ke nikahan Andi juga Zahra," ungkapku.
Aldo menggelengkan kepalanya, "Ternyata dia tetap gak percaya kalo Andi selingkuh?" Aku hanya mengangkat bahu, karena memang tak ingin tahu lagi tentang urusan mereka.
Sampai di depan rumahku, "Lo gak mau masuk dulu?" tanyaku seraya melepas sabuk pengaman.
"Gak usah, titip salam aja buat Tante dan Om."
"Oh, okey. Makasih buat tumpangannya!" Aku keluar dan menutup kembali pintu mobil Aldo.
__ADS_1