
Akhirnya, Dayana pulang dengan lengan yang di pegang oleh Irga agar menguatkan wanita itu, "Maaf, ya, Mbak."
"Lah, ngapa jadi lu yang minta maaf?" tanya Dayana menatap wajah Irga.
"Ya, kalo gak Irga lempar tuh tadi angsa. Mereka pasti gak akan ngejar kita."
"Haha, gak papa, kok. Setidaknya gue tau bahwa lari gue masih oke."
"Ck, oke apaan. Orang sampe luka gitu kakinya," cibir Irga dengan wajah dipalingkan.
Tangan Dayana langsung beralih ke pinggang laki-laki itu, "Aww ... sakit, Mbak," keluh Irga mengusap pinggangnya.
"Lagian, lu! Enak bener ngatain gue," kesel Dayana memalingkan wajah.
"Dayana, kamu kenapa Nak?" tanya Mama saat melihat Dayana yang sudah masuk ke halaman rumah.
"Gak papa Ma, cuma luka sedikit, kok."
"Luka sedikit sampe begini?" tanya Mama panik.
Irga membantu Dayana untuk duduk di kursi teras, ia meletakkan sendal Dayana dan ikut duduk di samping wanita itu.
Sesekali dirinya mengibaskan tangan di depan wajah dan melonggarkan dasi yang ada di seragamnya.
"Capek Ga?" tanya Dayana menatap ke arah Irga.
"Enggak kok Mbak, oh, iya Mbak. Entar malam temenin Irga, yuk!"
Mama Dayana datang kembali dengan memberikan dua gelas air dingin juga plester, "Nih, cepetan tempelin," perintah Mama yang langsung diangguki Dayana.
"Minum Ga."
"Iya Ma. Mama sejak kapan pulang?"
"Heh! Ma-ma, Tante! Enak bener tuh lambe ngomong Mama," ujar Dayana yang tak terima dengan panggilan Irga menyebut mamanya.
"Lah, kenapa? Sewot amat, Mama aja gak marah kok."
"Haha ... kalian ini masih aja, udah sama-sama besar juga masih tetap kek anak kecil. Seperti film anak-anak itu, tom and jerry."
"Tau, tuh Ma. Mbak Dayana sensi beut."
Dayana membuka pelindung plester dan memasangnya di telapak kaki Dayana, "Mama ke dalam dulu, ya."
Dayan mengangguk juga Irga, "Eh, nih dari Mama." Dirinya membuka tas bekal dan memberikan satu bekal kepada Irga.
"Wah ... makasih Mbak." Irga membuka bekal dan memakannya dengan punggung bersandar. Bibir Dayana terangkat melihat tingkah laki-laki di sampingnya kini.
"Jam 7 Irga jemput Mbak, kita naik motor. Sim Irga udah ada, helm udah teruji SNI jadi aman."
__ADS_1
"Dih, siapa juga yang mau ikut sama lu?"
"Mbak gak mau emangnya?"
"Gak."
"Oh, yaudah. Irga gak jadi maafin Mbak atas kesalahan Mbak waktu itu."
"Dih, malah ngancem nih bocil!"
"Jam 7, outfit hitam Mbak. Jangan tampil cantik banget, capek gue ntar jagain Mbak." Irga bangkit dan mengedipkan matanya sebelah sebelum melangkah pergi.
"Huweek ...," kata Dayana seperti orang yang tengah akan muntah akibat melihat tingkah laku Irga.
Dirinya masih punya banyak waktu sekarang, rasa sakit di kakinya pun sudah berangsur menghilang.
Kembali ke kamar, berberes dan memilih tidur siang lebih dulu. Suara getaran handphone membangunkan Dayana kembali ke dunia nyata.
"Halo, ada apa Arya?" tanya Dayana sesekali mengucek mata.
"Apa kau ada waktu malam ini?" tanya Arya di sebrang.
"Ada."
"Oh, aku pikir tidak ada. Aku ingin mengajak kau makan malam."
"Yaudah, gak masalah. Next time aja."
"Huum."
Setelahnya, panggilan dimatikan Dayana karena rasa kantuknya masih ada.
Tok ...! Tok ...!
Mata yang tertutup kembali terbuka, dengan langkah gontai dan rambut yang sedikit acak-acakan.
Dayana membuka pintu, "Ada apa Ma?"
"Ya Allah anak gadis! Jam 4 masih aja tidur, sono makan!"
"Ha? Jam 4?" tanya Dayana mata yang otomatis langsung terbuka lebar.
"Iya, liat tuh!" perintah Mama menunjuk ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu.
Mata Dayana membulat, dengan segera menyuci muka dan menuju meja makan. Setelah makan ia melanjutkan pekerjaan rumah dan membantu Mamanya.
"Dayana, kamu udah punya pacar?" tanya Mamanya yang membuat Dayana tersedak air ludah sendiri.
"Uhuk-uhuk!" kata Dayana mengusap dada, "mama kenapa nanya begitu?"
__ADS_1
"Ya, kamu 'kan juga udah dewasa. Mama hanya bertanya, secara selain Andi dan Irga tak ada lagi laki-laki yang pernah Mama liat datang ke sini."
"Kenapa Mama gak mikir kalo Irga adalah pacar, Dayana?"
"Hahaha," tawa Mama terdengar sambil menggeleng. Dayana yang tengah menyapu menautkan alisnya.
"Kamu suka Irga?" tanya Mama setelah selesai tertawa.
"Ehmm ... enggak, sih."
"Kalau kamu suka, ya, gak papa. Namun, ada baiknya gak usah."
"Emangnya kenapa Ma?"
"Laki-laki mau dia udah nikah tapi kalo umurnya masih muda, dia akan tetap berpikiran bahwa dia anak-anak dan jika kau nikah dengan yang lebih muda bukan dia yang akan mengerti kau malah kau yang harus bisa mengerti dia," jelas Mama yang membuat Dayana terdiam.
"Lagian, jarak rumah kita terlalu dekat. Masa, kamu kalo lagi marahan sama dia nanti akan langsung pulang ke rumah? Dan, gak ada cerita mudik, dong," sambung Mama dan membuat wajah Dayana datar serta otaknya mencerna setiap ucapan Mamanya.
"Ini, maksudnya Mama gak ngasih restu, nih?" tanya Dayana menaikkan alisnya.
"Bukan, Sayang. Hanya saja, Mama mau kamu itu cari yang emang di atas kamu atau setidaknya sebaya dengan kamu."
"Hmm ... Dayana tau, kok maksud Mama. Cuma, kalo emang takdir yang meminta untuk kita bersatu, gimana?" tanya Dayana kembali menyapu dan membuang pasir dan sampah yang ada ke luar.
"Ya, takdir bisa berubah jika kita ingin berusaha dan berdoa," kata Mama.
Dayana tersenyum dan duduk di samping Mama, "Mama, denger, ya. Untuk sekarang Dayana gak memikirkan tentang jodoh terlebih dulu, bukan karena Dayana masih gagal move on dari Andi. Tapi, karena Dayana ingin fokus berkarir."
"Ya, tapi. Kamu itu kalo gak dipilihin. Ntar, malah salah pilih lagi," katus Mama menjitak kepala Dayana.
"Maksud Mama?" tanya Dayana mengerutkan keningnya.
"Mama tau, kamu putus dari Andi bukan karena emang mau putus. Tapi, karena kamu tau kalo Andi itu selingkuh. Eh, bukan. Lebih tepatnya belum tau siapa yang jadi selingkuhan. Entah kamu, atau wanitanya," ungkap Mama yang membuat Dayana membulatkan mata.
"Ma-mama tau dari mana?"
"Gak penting, intinya kalo emang kamu udah siap. Ntar, Mama carikan calon yang pas buat kamu, ya. Mama jamin kamu gak akan nangis dibuat laki-laki pilihan Mama ini," ucap Mama menepuk pundak Dayana hingga akhirnya meninggalkan wanita itu sendirian.
'Mama sejak kapan punya intel? Atau ... Mama masang CCTV di tubuh aku, ya?' batin Dayana. Dia segera bangkit dan memeriksa tubuhnya.
Setelah merasa semua pekerjaan selesai, Dayana mandi dan bersiap-siap. Dirinya pun masih belum tau akan pergi ke mana malam ini.
"Widih anak Papa, wangi banget. Mau malam kamisan ke mana?" tanya Papa yang sedang asyik nonton televisi.
"Hmm ... di kuburan seru juga, tuh, Pa. Eh, rekomendasi dong Pa. Dulu malam kamisan dan malam mingguannya di mana?" tanya Dayana menggoda.
"Kalau Papa dulu mah, pastinya di mall dong!"
"Mall, moll! Apaan, ke warung tukang bakso di pinggir jalan yang ada! Tiap hari ke situ mulu, habis itu muter baru pulangnya dorong motor karna kehabisan minyak dan uang!" timpal Mama yang baru keluar dari kamar dengan nada emosi.
__ADS_1