Cuma Angka

Cuma Angka
Prestasilah Untuk Dirimu


__ADS_3

Aku masuk ke rumah dan mengunci pintu dengan rapat-rapat, segera beberes tubuh yang dirasa lengket dengan keringat akibat aktivitas yang lumayan padat.


Setelahnya, kuambil gawai dan memesan makanan yang akan kumakan nanti. Namun, jariku terhenti ketika masuk satu notifikasi dari aplikasi hijau milikku.


[Mbak, pesen makanan dua dan minuman, ya. Mama mendadak ada arisan di rumah sepupu, Irga di titipin ke rumah Mbak] pesannya beberapa menit yang lalu.


Aku mendengus kesal, sejak kapan rumahku jadi penitipan anak? Mana anak yang dititipin tak ada imut-imutnya pula yang ada hanya menyebalkannya saja.


Tak kubalas dan segera memesan dua porsi makanan juga minuman yang berbeda rasa, setelah pesananku diterima oleh gojek aku keluar dari kamar untuk beberes rumah.


Nantinya, Irga dan aku tak akan berada di dalam rumah, kok. Hanya di teras, bagaimana pun di rumah tak ada orang takutnya terjadi fitnah nantinya.


Membersihkan, menyapu, mengepel dan mencuci piring kulakukan sendiri setiap harinya. Meskipun hal ini selalu kulakukan akan tetapi perasaan rindu dengan Ibu tetap akan ada.


Sengaja tak ada komunikasi agar mereka fokus di sana lagian sinyal juga susah, itu kata ibu. Tak tahu apakah memang dirinya tak ingin ngobrol dengan anaknya ini.


Akan tetapi, rasanya tak mungkin jika tak ingin. Beliau pasti sangat-sangat rindu dengan anaknya yang paling manis ini.


Tuk ...!


Suara ketukan pintu depan membuyarkan segala pertanyaan-pertanyaan yang ada di otakku, aku yang tengah mencuci piring langsung membersihkan tangan agar melihat siapa yang ada di depan.


"Ba!" seru Irga dengan niat mengangetkanku. Namun, bukannya kaget aku malah menampilkan wajah datar. Sudah tahu bahwa ada dia di depan karena aku sempat melihat sebentar dari jendela sebelum membuka pintu.


"Kenapa cepat beut lu ke sini!" ketusku yang melihat jam di ruang tengah baru menunjukkan pukul lima sore.


"Gak tau Mbak, orang Mama udah pergi tuh tadi," katanya sambil menunjuk ke arah mobil yang keluar dari halamannya menggunakan bibir yang dimonyongkan.


Kulihat ke arah yang dirinya maksud, benar saja mobil berwarna silver baru keluar dari halamannya, "Yaudah, lu duduk di sini aja bentar, ya," perintahku yang masih ada dua piring lagi belum kucuci.


"Oke Mbak!" Ia menampilkan jarinya yang dibentuk bulat.


Pintu tak kututup, masuk ke kamar terlebih dahulu untuk mengambil satu lembar berwarna merah. Aku tetap menggunakan kerudung di rumah meski model kerudung instan yang polos begitu saja.

__ADS_1


"Ga," panggilku sedangkan orang yang kusebut namanya sudah fokus dengan gadget yang sudah dimiringkannya itu.


Kepalaku langsung bergeleng dengan uang yang kukepal dan tangan kuletakkan ke pinggul, sudah sangat cocok seperti ibu-ibu yang bersiap-siap memarahi anaknya.


"Astaghfirullah Irga!" geramku dengan suara yang sudah besar kurasa. Orang yang kusebut namanya langsung memijit sesuatu di layar handphone-nya.


Apakah suaraku akan terdengar dengan teman mainnya? Bodo amatlah! Intinya, aku sedang ingin marah dengan kelakuannya kali ini.


"Kenapa Mbak?" tanyanya dengan wajah sok polos, sok gak tau apa-apa dan sok segalanya.


"Abang ... banting Dede Bang," ucapan seseorang yang berasal dari handphone miliknya. Ha? Lagu apa itu, Irga langsung buru-buru mematikan handphone-nya.


"Ga, gue gak habis pikir liat lu dah! Kelas 12 itu seharusnya fokus sekolah Ga, mau ujian ini lho! Lu kenapa gak pernah gue liat ngapain gitu," omelku yang masih terbilang pembukaan.


"Iya Mbak, bulan 12 nanti PKL kok."


"Nah, udah tau akan PKL seharusnya lu tuh belajar. Ini fokus mulu ke game, gak paham gue sama lu!" pikirku yang merasa Irga sangat terlalu banyak bermain.


Sebenarnya, malu ketika habis dimarahi masa langsung diminta tolong. Akan tetapi, jika aku marah terus-terusan yang ada kerjaan yang tinggal sedikit tak akan selesai.


"Ada-ada aja lagu begituan!" omelku dengan nada pelan sambil berjalan ke dapur kembali.


Sedangkan Irga melihat punggung Dayana yang semakin menjauh ke dalam dari pintu depan, ia menghidupkan kembali handphone yang dimatikannya tadi.


"Yah, kalah 'kan jadinya. Pake salah pencet pulak tadi!" kesal Irga yang menyadari kekeliruan.


Tak lama, lampu depan hidup. Dayana kembali keluar ketika merasa semua telah selesai tepat di jam lima lewat tiga puluh menit.


Kubuka lemari dan mengambil sarung, berpindah ke kamar ayah dan ibu untuk mencari peci. Ya, itukan perlengkapan salat laki-laki.


"Nih, shalat dulu nanti!" kataku dengan wajah yang tetap dipasang kesal.


Irga yang sedang menatap halaman yang dipenuhi dengan rerumputan hijau tetapi rendah itu memalingkan wajah dan melihat ke arah Dayana.

__ADS_1


"Makasih Mbak," jawabnya dengan mengambil uluran Dayan dengan wajah datar yang terpasang.


'Apakah aku keterlaluan?' batinku bertanya kala melihat Irga yang menjadi lebih diam.


Apakah aku salah berkata? Atau, ada kalimatku yang kasar tadi? Namun, rasanya tak ada yang salah pun tak berlebihan.


Berpindah ke hadapan Irga, "Lu kenapa?"


"Gak papa Mbak," jawab Irga dan tetap fokus ke halaman yang ada, "gojeknya lama, ya, Mbak. Gue udah lapar." Dengan wajah yang memelas dan memegangi perut.


Kubuang pandangan dari wajah laki-laki itu, kupikir dia akan marah atau lainnya ternyata laparnya sudah tak tertahan lagi rupanya.


Bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke dalam, membuka kulkas dan berharap ada makanan dan minuman yang bisa mengganjal perut Irga agar kuat untuk berjalan serta melaksanan salat Magrib nantinya.


"Nih," ucapku sambil memberikan; apel, anggur, jeruk juga 3 buah kurma yang kumasukkan ke dalam wadah. Sebelumnya sudah ku cuci bersih buah-buahannya sebelum memberikan ke Irga.


"Ini juga," sambungku memberikan botol yang berisi minuman.


"Ih, jus wortel, ya, Mbak?" tanya Irga yang sepertinya tak menyukai.


"Itu enak, minum aja! Bagus juga tuh buat mata lu," omelku lagi dan lagi pada laki-laki yang sudah ada di depanku.


Saat dirinya tengah asyik makan, aku membuka handphone yang sempat kuambil tadi. Melihat di mana gojek itu berada, ternyata gojek sudah mengabari aku bahwa dirinya akan sedikit terlambat.


Ban motornya tiba-tiba saja bocor, "Kesian banget," ucapku refleks begitu saja keluar ketika melihat ketikannya juga memberikan bukti berupa foto motornya yang tengah diperbaiki bannya.


"Kenapa Mbak?" tanya Irga yang langsung bangkit dan menuju ke tempat dudukku untuk melihat apa yang kulihat juga dengan mulutnya yang berisi jeruk.


Aku hanya menatap wajah laki-laki itu dengan mendongak, dasar tukang kepo! Batinku saat melihat dirinya begitu ingin tahu dengan apa yang kulihat.


Dia kembali ke tempat duduk setelah mendapatkan apa yang ingin diketahuinya, "Itulah mangkanya lu harus sekolah yang bener, liat bagaimana perjuangan seorang ayah untuk membiayai kehidupan anaknya. Tiba-tiba anaknya malah gak serius dan main-main. Kalo emang orang tua gak pernah ngapreasiasi apa yang kita buat, setidaknya berprestasilah untuk kehidupan diri sendiri," paparku menjelaskan. Irga hanya menunduk dengan menatap ke arah keramik.


Sesekali kulihat anggukan dari kepalanya, apakah kali ini nasihatku benar? Hingga anggukan diberikannya. Jadi, yang sebelum-sebelumnya apakah selalu salah?

__ADS_1


__ADS_2