
Sedikit mengoloskan lipstik ke bibir dan memakai tas ransel, juga handphone yang kuletakkan di saku gamis.
Aku sudah siap dengan pakaian yang sudah cukup baik menurutku, kutemui kedua orang tuaku tadi yang masih di dapur.
Menyalimi mereka juga mengambil roti yang sudah dimasukkan Mama ke tempat bekal, "Ya, Yana?" tanya Papa lagi.
"No Pa no! Bye, Yana pergi dulu!" teriakku sambil berjalan keluar rumah.
Aku masih terlalu muda, kenapa harus di jodohkan? Lagian, nanti juga akan datang sendiri jodoh dari arah yang tak kusangka-sangka ketika aku benar-benar siap.
Huh ... sangat menyebalkan! Aku menatap orang yang sudah ada di halte, mengerutkan kening dan menyipitkan mata agar orang yang ada di halte terlihat jelas olehku.
"Dih, ngapain di sini lu?" tanyaku dan duduk di sampingnya.
"Nunggu bus, Mbak!" serunya menatap ke arahku.
"Kenapa gak minta antarkan aja?"
"Gak ada yang searah, yaudah minta turunkan di sini aja," katanya tersenyum.
"Lu kenapa? Kok lemah gitu?" tanyaku yang tak biasanya melihat Irga tak bersemangat, "nih, makan!" Kubuka bekal yang diberi Mama tadi.
Dia mengambil sepotong dan tersenyum ke arahku, "Gue mau PKL Mbak dan itu di luar daerah selama dua bulan, gue akan jauh dari lu," ungkapnya dan membuatku tertawa dengan cukup keras.
Irga melihatku yang tertawa di hadapannya kini, "Mbak kenapa lu?" tanyanya dengan mulut yang masih mengunyah roti.
Kusapu ujung mataku yang ternyata sedikit berair akibat tertawa, "Lu gosah lebay, deh! Emangnya kita apa sampe gak bisa jauh-jauhan?" tanyaku dengan sinis.
"Ntar, lu pasti rindu sama gue Mbak."
"Pede bener lu!" ketusku dengan tawa yang masih mengikuti.
Bus telah sampai, aku berdiri lebih dulu dan berjalan ke arah pintu bus. Melihat tak ada suara langkah yang mengikuti, kulihat laki-laki yang masih duduk di halte.
"Woy, hayuk!" seruku padanya. Ia pun segera bangkit dari tempat duduk.
"Masih ngunyah tadi gue Mbak," jelasnya memberi alasan.
Aku hanya mengangguk paham dan kami berdua masuk mencari bangku yang kosong untuk di duduki.
"Kalian adik-kakak, ya?" tanya penumpang yang duduk di seberang kami. Sepertinya, dia selalu melihat kami berduaan naik bus ini.
__ADS_1
"E ...." Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Irga lebih dulu membuka suara.
"Bukan Mbak, kami pacaran," timbrungnya dan membuat kakiku menginjak ke sepatunya. Dia langsung menatap ke arahku mungkin karena merasa sakit.
Bodo amat! Lagian, siapa suruh dia seenak jidat mengatakan hal itu ke orang. Sekarang, orang tersebut yang bertanya menatap ke arah kami dengan membekap mulutnya yang sepertinya tengah menahan tawa.
"Apa Mbak?" tanya Irga merapikan rambutnya. Apa dia baru pangkas rambut? Kenapa penampilannya sedikit berbeda.
"Kita bukan pacaran apalagi adek-kakak! Sebatas tetangga gak lebih!" gerutuku yang sudah emosi dibuat Irga.
"Cowoknya tinggal berapa tahun Mbak?" tanya orang itu lagi dan membuat Irga menatap ke arahnya kembali.
"Oh, saya gak pernah tinggal Mbak. Saya anak pintar soalnya," ucap Irga dengan bangga.
"Berarti lebih tua ceweknya, dong?"
"Meskipun lebih tua umurnya, tapi cantiknya melebihi teman-teman di sekolah saya bahkan Mbak."
"Iya, sih."
"Nah, itu!"
Tujuan Irga telah sampai, kubiarkan dia turun tanpa kutatap sedikit pun. Sungguh menyebalkan di hari Selasa ini.
"Pak, hati-hati ya. Di dalam bus ini ada calon masa depan, saya," kata Irga sebelum turun memberi tahu ke supir.
Aku hanya menutup wajah menggunakan tas yang kubuka tadi, entahlah sangat malu dibuat oleh anak itu.
Baru saja turun dari bus, handphone-ku telah berbunyi dan menampilkan nama Papa. Kuangkat sambil berjalan ke dalam gedung.
"Ada apa Pa?" tanyaku dan fokus pada jalan tanpa menghiraukan orang yang ada di sekitarku.
"Besok temani Papa ke salah satu sekolah, ya," ucap Papa yang sepertinya tadi lupa untuk memberi tahu hal ini.
"Jam berapa, Pa?"
"Jam 10 pagilah."
"Jadi, Yana gak ke kantor nih?"
"Ambil cuti sehari."
__ADS_1
"Papa yang bilang, ya," kataku takut jika tak diterima untuk mengajukan cuti. Kalau Papa, yang punya perusahaan 'kan teman dekatnya. Jadi, tak ada salahnya 'kan jika aku meminta beliau.
"Aman."
"Yaudah, oke Pa." Kumatikan panggilan dan masuk ke lift yang sudah terbuka, tak ada siapa-siapa aku segera masuk dan menutup pintu lift.
Pintu yang akan tertutup, kembali terbuka kala seseorang menahannya. Orang yang sepertinya berlari karena takut ketinggalan atau terlambat.
Aku hanya menatap datar ke depan tak berniat menyapa laki-laki yang kini ada di sampingku, "Apakah nomorku akan terus di blokir?" tanyanya.
Kulirik ke arahnya sekilas dan ternyata dirinya juga tengah menatapku, aku diam tak menjawab pertanyaan dan kembali menatap ke arah depan.
"Apakah kau merasa terganggu?" tanyanya kembali.
"Menurutmu?" tanyaku. Bukannya jawaban yang kuberikan malah kembali pertanyaan. Pintu terbuka dengan cepat aku keluar dan meninggalkan dirinya.
"Apakah aku semengganggukan itu?" tanyanya dengan memegang tanganku yang membuat aku terhenti dan menatapnya.
"Maaf, boleh lepaskan tangan saya?" Aku menatap ke arah tanganku yang di pegangnya, dia melepaskan tangannya dengan perlahan.
"Maaf."
"Berhenti sok dekat dan berhenti mengejar saya, kita tak pernah kenal dan jika kau ingin memiliki teman di sini maka carilah karyawan cowok juga banyak di sini. Tak perlu saya!" tegasku dan berniat melangkah pergi. Namun, ketika dua langkah menjauh darinya aku terhenti dan menatap ke arahnya yang menatap lantai.
"Satu lagi, kita tak pernah kenal. Dengan caramu yang ingin dekat seperti ini membuat aku curiga, apa jangan-jangan kau suruhan seseorang?" tanyaku menaikkan alis dan membuat dia menatapku.
Dia diam, tak menjawab pertanyaanku. Aku melanjutkan langkah ke meja kantorku, apakah aku keterlaluan?
Tentunya tidak, sangat tidak wajar orang yang baru masuk kerja dan kenal dengan kita tiba-tiba ingin begitu dekat padahal sebelumnya tak pernah kenal.
Sesuatu yang berlebihan itu tak baik, termasuk ingin dekat dengan orang yang baru dikenal. Jika ingin memiliki teman, maka pasti akan ada saatnya teman juga akan berdatangan pada waktunya.
Kududukkan punggungku ke bangku dan membuka tas, meletakkan ke meja yang ada. Membuka laptop dan sedikit merenggangkan jari-jari tangan.
Beberap berkas sudah ada di mejaku, huh ... pekerjaan yang tak ada habisnya. Aku bekerja di perusahaan salah satu kosmetik.
Setelah sekian menit, akhirnya laki-laki itu datang dan duduk di sampingku. Ia memberikan ice cream rasa cokelat di mejaku.
Aku melihat tangannya yang meletakkan ice cream itu, "Maaf, sudah membuatmu risih. Lain kali, tak akan kuulangi," ujarnya dan fokus ke layar monitornya.
Ada sedikit rasa bersalah. Namun, memang lebih baik seperti ini sepertinya. Ice cream pertanda maaf itu kubuka agar tak cair nantinya. Kumakan dengan roti tadi dan sesekali menatap ke arah laptop.
__ADS_1