Cuma Angka

Cuma Angka
Jaga Diri Lu


__ADS_3

"Nyatanya, perkataan yang tak disengaja tetap mampu melukai hati seseorang. Itulah sebaiknya, diam lebih baik daripada berbicara meskipun niatnya bercanda."


"Siapa cewek tadi?" tanya Arya memecah keheningan.


"Siapa?" tanya Dayana yang belum mengerti maksud Arya.


"Yang sama lu ke taman tadi."


"Oh, gak tau. Orang asing."


"Kok mau diajak sama orang asing? Kalo dijahatin, gimana?"


"Kan ada Allah," jawab Dayana enteng dan tersenyum ke arah Arya. Laki-laki itu langsung menatap ke arah kirinya dan mendapati senyuman Dayana.


"Bebal banget sih kalo dikasih, tau!"


"Ck, bukan bebal gue."


"Terus?"


"Ngejawab pertanyaan lu."


Mereka telah masuk ke komplek rumah Dayana, di depan pagar sudah ada laki-laki yang bersedekap dada dengan wajah yang marah menatap mobil Arya.


"Mampus, ngapa lagi tuh bocah?" gumam Dayana melihat Irga di depan rumahnya.


"Dia siapa, sih? Kenapa suka banget deket-deket sama kamu?" tanya Arya menatap Dayana.


Mobil telah berhenti, Irga berjalan ke jok depan dengan mengetuk kaca mobil. Dengan cepat, Dayana membuka sabuk pengaman dan membuka pintu.


"Dih, lu ngapain?"


"Mbak, jangan deket-deket sama dia. Dia itu jahat!" peringat Irga dengan menatap sinis ke arah Arya yang baru keluar dari mobil.


"Apaan, sih, lu Ga!" bentak Dayana yang bingung kenapa dengan Irga.


Irga berjalan ke arah Arya, "Gue peringatkan sama lu, jangan deketin dia lagi!"


"Kalo gue gak mau, gimana?


"Gue akan beri lu pelajaran, jangan mentang-mentang lu paling tua gue takut sama lu! Kita ... cuma beda angka, bukan kekuatan dan keberanian," desis Irga pergi meninggal Arya dan membawa tangan Dayana masuk ke dalam rumah.


"Ga, lu apa-apaan, sih?!" bentak Dayana dan menghempaskan tangan Irga agar melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Mbak, dia itu gak baik buat lu!" cakap Irga menatap Dayana yang tersulut emosi.


"Stop Ga! Stop sok ngurusin hidup gue, lagian gue heran sama lu. Kita ini cuma tetangga, gak lebih! Kenapa lu sibuk banget ngurusin hidup gue sih?" tanya Dayana dengan emosi yang naik-turun.


"Gue diem selama ini, lu pikir gue seneng? Enggak, Gak engga! Gue risih lu selalu ngikutin ke mana pun gue, kita cuma tetangga! Jadi, gue harap lu bersikaplah sebagai seorang tetangga!" sambung Dayana kembali.


Irga yang mendengar kalimat yang membuat matanya terbuka itu tersenyum dengan mata yang merah menahan tangis.


"Haha, baik Mbak. Kalo emang ternyata lu ngerasa gue ini cuma buat lu risih. Oke, fine! Gue akan berlagak sebagai seorang tetangga aja mulai dari sekarang. Gue akan datang ke rumah lu di waktu lu; bahagia dan terpuruk atau bahkan lu gak ada di dunia lagi," jelas Irga yang membuat Dayana membulatkan mata dan membiatkan bulir bening jatuh begitu saja.


"Tapi, satu gue ingetkan sama lu. Gak semua yang deketin lu, cuma mau hati lu Mbak. Bisa jadi mau diri lu itu, jadi jaga diri lu sendiri!" tekan Irga dan pergi meninggalkan Dayana.


Dirinya menyenggol bahu Arya yang masih terpatung melihat pertengkaran antara dirinya juga Dayana.


Dayana menutup mulutnya, saat melihat Irga melangkah pergi. Ketika Arya mencoba mendekat, Dayana menggeleng dan berlari masuk ke dalam rumah.


Orang tua Dayana yang berada di dapur sontak kaget kala melihat Dayana masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam.


"Ma, kenapa sama Yana?" tanya Papa yang langsung bangkit juga dengan Mamanya.


"Mama juga gak tau."


Mama Dayana masuk ke kamar untuk mencari tahu informasi penyebab anaknya masuk ke rumah dengan seperti itu.


"Kamu kenapa Nak?" tanya Mama melihat Dayana yang menangis dengan cara tengkurep.


"Yana, bicara Nak."


"Mobil siapa itu Yana? Apa dia yang buat kamu nangis?" tanya Papanya dengan nada emosi. Mama Dayana yang mendengar hal itu langsung menatap ke arah suaminya.


"Mobil siapa Pa?"


"Gak tau Ma, mobilnya pergi begitu aja."


"B-bukan Pa," kata Dayana dengan suara isakan dan duduk di ranjang. Sedangkan Mamanya duduk di sisi ranjang.


"Kamu kenapa?" tanya Mama dengan cemas.


"Dayana gak sengaja bentak Irga tadi dan dia marah sama Yana."


"Ya Allah, kamu bilang apa sama dia?"


"Yana bilang kalo Yana risih sama dia. Tapi, Yana takut kalo dia berpikir aneh-aneh Ma."

__ADS_1


Mama Dayana langsung membawa anaknya itu kedekapannya, dia ingin sang anak bisa tenang setelah mencurahkan tangisannya di dekapannya itu.


"Sayang, kamu tau 'kan gimana keluarga dia? Kamu tau 'kan kenapa selama ini dia sangat dekat sama kamu? Karena, gak ada keluarga dia yang seperhatian kamu. Jadi, ketika kamu datang tiba-tibe ke kehidupan dia. Dia ngerasa ada tujuan dia hidup kembali."


"Karena itu Dayana takut kalo dia mikir yang enggak-enggak Ma." Isak Dayana kembali terdengar.


"Nanti, kamu minta maaf sama dia, ya," kata Mama Dayana melepas pelukan dan menyapu wajah anaknya dari jejak-jejak air mata.


Dayana melihat ke arah mamanya dan mengangguk, "Yaudah, kamu mandi dulu sana. Baru kita makan atau kamu mau ngasih Irga makanan?"


"Gak usah Ma, biarin Irga sendirian dulu. Nanti yang ada dia makin marah kalau barusan dijahatin udah mau dibaikin aja," timpal Papa dan diangguki oleh istrinya.


"Mama sama Papa ke dapur, kamu cepet siap-siap, ya."


Dayana mengangguk, orang tuanya pun kembali ke dapur. Dengan langkah yang berat dirinya ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh yang dirasa lengket.


Irga, bukan dari keluarga yang harmonis. Meskipun dia hidup dalam kemewahan nyatanya dari kecil, ia tak pernah memiliki quality time bersama keluarga.


Mama dan Papanya selalu sibuk dengan dunianya, hingga suatu ketika dirinya bertemu dengan Dayana.


Dayana yang waktu itu juga sedang menjadi seorang guru, sungguh paham dengan apa yang Irga rasakan.


Dirinya mengajak Irga, dengan cara mendekati anak tersebut. Tak mudah, sering kali Irga memarahi Dayana ketika wanita itu menghampiri dirinya.


Tak jarang pula, Dayana ditinggal sendirian ketika dirinya ingin menemani Irga bermain atau menggambar.


Hingga akhirnya, anak laki-laki itu semakin dekat dengan Dayana dan bahkan menaruh perasaan pada tetangganya itu dan wanita yang dipanggilnya dengan sebutan 'Mbak'


Selesai makan malam, Dayana kembali ke kamarnya. Ia menuju meja belajar plus kerjanya itu.


Di buka satu lemari yang ada di meja, mengambil box dan mengeluarkan kertas yang berlempit dibuatnya.


"Ini buat Mbak, cantik 'kan? Karya pertama Irga buat wanita yang paling berharga di dunia setelah Mama," kata Irga memberikan kereta HVS yang berisi sketsa wajah dirinya.


"Yah, kok gak diwarnai?" tanya Dayana dengan wajah cemberut.


"Gak, ah."


"Kenapa?"


"Nanti, warna-warni itu iri semua sama Mbak. Kesian."


Dayana tertawa diikuti dengan Irga, ia langsung mengambil dan menatap ke sketsa wajahnya itu.

__ADS_1


"Maafin gue, Ga. Efek gue capek kerja emosi gue sampe gak terkontrol gini," gumam Dayana menatap lekat sketsa di tangannya.


__ADS_2