Cuma Angka

Cuma Angka
Balas Budi


__ADS_3

Setelah selesai dengan makan baso yang membuat perut Dayana membuncit seketika, mereka akhirnya bubar.


Arhan kembali ke kelas begitu juga dengan Irga karena suara bel sudah berbunyi, guru mulai bermasukan ke ruangan.


"Lah, kok baru masuk ke sini dah?" gumam Dayana menatap satu per satu guru yang masuk.


Dirinya melihat jadwal kelas, "Lah, bukannya aku ada jadwal di jam terakhir? Kok malah udah gak ada? Yaudah, deh, mending pulang aja. Ngapain juga di sini lama-lama, jadi penjaga ruang guru ntar aku lama-lama," kataku sambil beberes peralatan mengajar.


Dayana telah memesan ojek online lebih dulu, dirinya tak mungkin harus berjalan sendirian dari sini ke rumah.


Memakai kembali ransel dan keluar dari ruangan, "Eh, Ibuk mau ke mana?" tanya Arhan yang berjalan di koridor.


"Mau pulang. Kamu kenapa gak masuk ke kelas?" tanya Dayana menatap Arhan.


"Mau ke WC, Buk. Ibuk gak ada jadwal lagi, ya?"


"Iya, saya salah liat kayaknya."


"Yaudah, nanti saya datang ke rumah Ibuk. Mungkin sore."


"Ngapain?"


"Belajar," jawabnya sambil berlalu meninggalkan Dayana yang masih diam.


"Lah, dia 'kan gak tau di mana rumahku?" tanya Dayana sambil melihat punggung Arhan yang semakin menjauh.


Dirinya hanya menggelengkan kepala dan terus berjalan ke arah gerbang sekolah, "Maaf, Pak. Udah lama nunggu?" tanya Dayana berdiri di depan tukang gojek.


"Hehe, enggak kok Buk. Baru aja, gak papa," jelasnya lembut sambil memberikan helm ke Dayana.


Merasa helm sudah terpakai dengan baik, Dayana naik ke jok belakang dengan menjaga jarak yang cukup jauh selayaknya sepasang kekasih yang tengah bermusuhan.


Saat tengah melihat-lihat jalanan, Dayana menyipitkan matanya agar lebih jelas melihat orang yang tengah dirinya liat.


"Kenapa tuh orang?" tanya Dayana dengan pelan.


"Pak, ke arah orang yang ramai itu, ya," tunjuk Dayana dan langsung diangguki oleh tukang gojek.


Aku langsung turun menghampiri kerumunan yang di isi oleh 5 orang dewasa, "Ada apa ini Pak?" tanyaku yang belum paham permasalahannya.


"Ini, Bapak ini nabrak gerobak saya tapi gak mau tanggung jawab," jelas pedagang bakso keliling menunjukkan gerobaknya.


"Saya mau ganti Pak, tapi tunggu sebentar anak buah saya sedang menuju ke sini untuk ngantar duitnya," ungkap laki-laki itu.


"Halah, gak usah sok kaya deh! Mobil aja yang bagus, pasti juga mobilnya pinjaman. Gaya sok keren!" ketus Bapak yang lainnya.


"Emangnya berapa kerugiannya, Pak?" tanyaku dan di tatap oleh semua orang yang ada di tempat kejadian termasuk orang tersebut.

__ADS_1


"Si adek emamgnya mau gantiin?" tanya si Bapak menatapku.


"Ya, tergantung Pak. Kalo uang saya cukup saya ganti, kalo enggak biar saya yang gesekkan kartunya si Bapak ini. Deket lagian ATM dari sini," kataku melihat ke arah ATM yang biasanya ada.


"5 juta aja dek. Udah termasuk sama mangkuk saya dan gerobaknya."


"Bentar, ya, Pak." Aku membuka dompet, seingatku ada 10 juta cash di dompet. Karena, aku memang jarang menggunakan uang hasil kerja kecuali memang butuh banget.


"Nih, Pak," tuturku memberikan uang sebesar 5 juta kepada tukang bakso tersebut.


"Yaudah, makasih, ya, dek."


Aku mengangguk dan tersenyum, bapak yang lainnya membantu tukang bakso untuk mendorong gerobaknya.


Syukurnya, baksonya memang sudah habis. Karena banyak anak sekolahan yang membelinya juga memang lapak jualan si bapak yang strategis.


"Mana nomor rekeningmu?" tanya orang tersebut dengan kacamata yang tak dibuka juga.


Aku menyebutkan nomor rekeningku, "Sudah ku-transfer," ucapnya dan berlalu meninggalkan aku.


Kutatap punggung manusia itu, bukan tanpa alasan aku membantunya. Dia adalah manusia yang tadi pagi menolongku.


Jadi, tak ada salahnya jika dianggap impas. Mobilnya melaju dengan cepat, "Pantasan aja kecelakaan, orang dianya juga seperti menantang!" ketusku dan kembali naik ke motor gojekku tadi.


"Maaf, ya, Pak. Jadi lama nunggu."


"Gak papa kok Dek."


"Waalaikumsalam," sahut Mama pelan. Aku langsung berjalan ke arah dapur.


"Wah ... banyak sekali cake dan makanan, mau ngapain Ma?"


"Temen SMA Mama akan main ke sini nanti, mumpung mereka lagi ada di Indonesia. Jadi, Mama suruh datang aja main ke rumah."


"Emangnya biasnya dia tinggal di mana Ma?" tanyaku menaikkan alis.


"Ngikut suaminya, kadang di Jerman, Malaysia, Singapura."


"Berarti Mama sama temen Mama itu emang sama banget, ya, kalo temen Mama suka pindah negara kalo Mama pindah kota," sindirku semoga beliau merasa.


"Kamu nyindir Mama?" tanya Mama menatapku tajam.


'Alhamdulillah,' batinku yang tersenyum karena melihat Mama merasa.


"Ya, emang gitu. Kira-kira anaknya juga ngerasa sendirian gak, ya? Selalu ditinggal sama orang tuanya?"


"Mama sama Papa gak akan pindah-pindah kita lagi, kok," ungkap Mama menatapku.

__ADS_1


"Ya, kalo pindah juga gak papa sih Ma. Yana 'kan udah biasa," ujarku melangkah ke kamar meninggalkan Mama yang masih bergulat dengan satu macam cake lagi.


Kurebahkan lebih dulu tubuh ini, rasanya sangat penat, "Yana, cepat ganti baju dan siap-siap. Mereka datangnya pagi bukan malam, bisa jadi sampe malam, sih."


"Iya, Ma, nanti. Mau tidur siang dulu, capek saolnya. Lagian, baru jam 10."


"Iya, mau makan siang di sini mereka."


"Emangnya mereka gak bisa makan di restoran, apa?"


"Ih, kamu ini! Guru apaan ngelawan mulu sama Mamanya!"


"Haha, Mama mah bawa profesi mulu. Yaudah, Yana bentar lagi keluar."


"Jangan lama-lama."


"Iya Mama sayang."


Segera kubuka lemari dan mengambil baju tak terlalu mewah dan wah, karena cuma mau di rumah saja.


Gamis berwarna hitam dan juga pasmina hitam, cukup sangat menarik bukan? Tak lupa kaos kaki juga sedikit handbody agar ada kesan wangi meski tak dari parfum.


"Banyak banget cakenya Ma," ujarku menatap hidangan yang lebih banyak cake.


"Iya, temen Mama suka cake. Jadi, ya, wajarlah."


"Yaudah, Yana ke ruang tamu dulu, ya, Ma. Sekalian mau nonton."


"Iya, jangan di kamar lagi, ya."


"Oke Ma."


Ketika ingin langsung duduk di sofa, aku berhenti lebih dulu, "Oh, iya, tadi 'kan ada roti dari si Arhan masih sisa satu. Aku makan sambil nonton TV aja deh."


Kuambil roti juga handphone dan berjalan ke arah sofa, kududuki sofa kini dan menyalakan televisi mencari siaran yang menarik.


Dari tadi, handphone belum kubuka bahkan belum melihat transfer-an orang tadi, "Hah?!" teriakku kaget melihat notifikasi masuk uang ke rekeningku.


"Ada apa Yana?" tanya Mama sambil berlari ke arahku dengan wajah panik.


Aku yang menyadari kesalahanku hanya menggeleng, "Hehe, gak ada Ma."


"Kamu ini, buat kaget orang aja!"


"Maaf, Ma."


"Yaudah, jangan teriak-teriak!"

__ADS_1


"Iya Ma," jawabku dengan cengegesan dan melihat Mama kembali masuk ke dapur. Kututup mulut dengan mata yang membulat.


"Gila nih orang kali, ya? Gue cuma ngasih si Bapak 5 juta malah ngasih gue 10 juta," kataku yang masih tak percaya.


__ADS_2