
"Yaudah, Mbak. Lagian Irga udah maafin, kok. Kita pulang, yuk!"
"Kamu nunggu di gerbang, ya, saya mau ambil tas dulu."
"Oke Mbak."
Dayana pergi lebih dulu mengambil tas juga bekal yang tak sempat dimakan karena tak ada jadwal istirahat.
Tak semua anak langsung pulang, ada yang masih duduk di bangku koridor sedang menghubungi keluarganya atau lainnya.
Setelah selesai mengambil tas dan juga bekal, Dayana berjalan menghampiri Irga yang menatap ke arahnya.
"Kita naik apa?" tanya Dayana yang mulai berjalan ke luar halaman sekolah dengan Irga.
"Jalan kaki Mbak."
"Ha?" kaget Dayana dan menatap lekat wajah laki-laki yang ada di sampingnya sekarang.
"Kenapa Mbak?"
"Itu jauh banget lho Ga, dari rumah kita ke sekolahan ini itu jauh," keluh Dayana.
"Rumah kita?" tanya Irga sambil tersenyum.
"Dih, larat-larat. Maksudnya komplek rumah lu dan gue."
"Ya, gak papalah Mbak. Sesekali."
"Gak ada angkot emang?" tanya Dayana yang tetap berkeluh. Bagaimana tidak, 35 menit akan mereka habiskan di bawa terikan matahari pagi.
Meskipun katanya baik matahari pagi, tapi, tetap saja akan sangat panas rasanya jika harus berjalan.
"Gak ada Mbak, lagian 'kan jarang-jarang lu bisa jalan berdua sama cowok ganteng kek gue."
"Dih, plis deh Ga. Gosah sok kecakean dulu, nih masalah pulang aja belum tau naik apaan."
"Mbak, kita udah jalan dari tadi lho ini. Bentar lagi juga sampe," kata Irga memperingatkan.
Dayana yang baru sadar langsung berhenti dan melihat ke belakang, benar mereka sudah jalan cukup jauh hingga gedung sekolah tak lagi terlihat.
"Udah jauh 'kan?" tanya Irga yang paham bahwa Dayana tengah men-cek.
"Hmm," balah Dayana dengan deheman.
"Gojek gak ada Ga?" tanya Dayana lagi.
"Ya Allah, Mbak. Lu ini benar-benar, ya, gak boleh ngeluh tau," peringat Irga yang harus sabar mendengarkan keluhan dari mulut Dayana.
"Masalahnya Ga, gue gak kuat kalo harus jalan sejauh ini."
"Gak papa, nanti kalo gak kuat biar gue gendong lu Mbak."
Dayana memukul bahu Irga, "Dih, kenapa Mbak?" tanya Irga sok tak tahu.
"Bisa ae modus lu!" ketus Dayana menatap jalanan.
__ADS_1
"Zahra ngapain datang ke kantor lu Mbak?" tanya Irga menatap ke arah Dayana lekat.
'Ha? Kok dia bisa tau kalo Zahra kemarin datang ke kantor?' batin Dayana bertanya-tanya.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? Sini, ya, aku kasih tau ...."
"Mbak, gue serius," kata Irga dingin. Dayana yang niatnya mengalihkan pembicaraan mau tau mau harus memberi tahu.
"Hmm ...," ujar Dayana memikirkan jawaban apa yang tepat.
"Gue udah tau Mbak, gue cuma butuh kejujuran dari lu aja."
"Dia nyuruh gue jauhin Andi."
"Emangnya lu masih ada komunikasi sama dia?"
Dayana menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Terus, kenapa dia ngomong gitu?" tanya Irga menautkan alisnya.
"Nah, gue juga gak tau masalah itu. Gak paham juga gue, lagian 'kan simpanan tuh cowok bukan cuma satu bisa jadi selusin."
"Tapi, hebat juga dia bisa buat lu jadi salah satu simpanan."
"Heh, enak aja lu!" ketus Dayana tak terima dikatakan sebagai simpanan Andi.
"Lah, jadi apa? Lu yang sesungguhnya pacar dia, gitu?"
"Dahlah, ngapain bahas masa lalu gue, sih?" tanya Dayana kesal.
"Cie ... yang masih ada rasa," goda Irga menunjuk ke arah pipi Dayana.
"Kalo emang gak ada rasa, seharusnya Mbak itu gak masalah dong mau bahas dia atau enggak."
"Masalahnya, nih, ya, dia 'kan udah mau jadi suami orang. Ngapain bahas dia segala?"
"Ya, mau bahas siapa lagi?"
"Mmm ... eh, cewek yang lu demen tadi yang mana? Kok gue gak liat, sih?"
"Lu nyariin emang Mbak?"
"Enggak, sih. Wajahnya aja gue udah lupa."
"Yakin, sih, gue. Lu kan emang pelupa akut," ujar Irga menatap ke arah sekitar.
"Capek banget, ya, ampun. Lama lagi ya?" keluhan lagi-lagi keluar dari bibir Dayana.
Irga langsung melihat ke wajah lemas Dayana, padahal dirinya hanya membawa tas sedangkan tempat bekal diserahkan pada Irga.
Irga tersenyum kala melihat ada sesuatu yang akan membuat Dayana kembali semangat untuk berjalan.
Sekitar 15 menit lagi, sebenarnya akan sampai rumah. Kalau sesuatu itu bisa buat sampai di depan kompleks langsung, kenapa tidak?
Ide jahil pun hadir dalam otaknya, Irga mengambil batu dan mereka berjalan mendekat ke arah sesuatu itu.
Mata Dayana terbuka hebat kala melihat Irga melempar batu ke arah angsa yang berada di samping mereka.
__ADS_1
Angsa yang tengah mencari makan atau sekadar ingin berjalan-jalan, eh, tapi angsa ada adegan berjalan-jalan doang, emangnya? Wkwkwk
"Ga! Lu gila, ya?" teriak Dayana melihat angsa yang mulai berlari ke arah mereka.
Sedangkan Irga sudah lari lebih dulu dengan suara tawa, "Mbak, cepat! Hahaha!" teriak Irga yang berjarak cukup jauh dari Dayana dengan suara tawanya.
Dayana melepas sendal yang bertumit hanya 5cm itu, ia segera berlari dengan cepat agar tak merasakan patukan dari angsa yang entah apa jenis kelaminnya.
"Ga, gue sembelih lu!" rutuk Dayana dengan tetap berlari.
Suara angsa masih terdengar juga gelak tawa Irga, "Jadi, lebih cepat 'kan Mbak?" tanya Irga yang melambatkan larinya.
"Matamu!" omel Dayana dengan napas yang ngos-ngosan.
Mereka telah sampai di depan kompleks, benar kata Irga mereka akan sampai dengan cepat. Dayana memilih duduk lebih dulu di bangku halte depan kompleks.
Dirinya tak sanggup lagi berjalan, kakinya bergetar hebat, "Mangkanya, Mbak. Sering-sering olahraga!" saran Irga sambil memasangkan sendal Dayana kembali.
Wanita itu tak menolak, dirinya masih mengatur napas setelah diberi minum. Syukurnya ia sempat mengisi air minum di ruangan guru tadi.
"Mending lu diam Ga, gue sembelih beneran lu ntar!" Dayana mengibas tangannya di wajahnya agar mendapatkan angin yang lebih banyak.
Setelah terpasang sendal ke dua sisi, Irga duduk di samping Dayana dengan bibir menahan senyum.
"Kenapa lu?" tanya Dayana ngegas.
"Gak Mbak, lucu aja wajah lu tadi."
"Lucu-lucu, kalo tadi kena patuk angsa gue? Gimana?"
"Tapi, biar kita cepat sampe Mbak."
"Ya, gak gitu juga dong konsepnya, Ga!"
"Iya Mbak iya, maaf, ya."
"Yaudah, yuk, pulang!" ajak Dayana dan berdiri. Namun, saat dirinya hendak berdiri ada rasa sakit dari kakinya.
"Aww ...," kata Dayana dan duduk kembali.
"Kenapa Mbak?" tanya Irga dengan wajah khawatir melihat raut wajah Dayana yang kesakitan.
"Gak tau, kaki gue sakit, nih!" Dayana membuka kembali sendal dan kaos kaki warna hitam yang dikenakannya.
Terlihat telapak kakinya berdarah juga merah, entah apa tadi yang dirinya injak. Tapi sepertinya, sesuatu itu melukai kakinya.
"Mbak, darah."
"Iya, gue juga tau kali Ga!"
"Jadi, gimana?"
"Yaudah, jalannya jinjit aja. Gak papa, kok."
"Gue gendong aja Mbak."
__ADS_1
"Gak-gak-gak, apaan gaya beut! Udah, lu bawakan bekal gue itu aja."